
Sore itu Daniel membuka pintu rumahnya dengan malas dia baru saja pulang dari les musik hingga dia harus tiba di rumah sore hari kemudian dia duduk di sofa ruang tamu sambil menghembuskan nafasnya dengan berat.
Tak lama terdengar keributan dari arah ruang keluarga hingga suara barang-barang yang pecahpun ikut terdengar Daniel hanya bisa menghela nafas panjang dan melangkah ke arah ruang keluarga yang sudah kacau seperti kapal pecah lalu dia menatap ayahnya yang sedang memarahi bundanya.
"Kamu marah kalau aku baru pulang hari ini hah! Bilang kalau kamu memang marah biar sekalian aku usir kamu dari rumah ini," ucap Dion ayah dari Daniel.
"Bukannya gitu yah," ucap Lusi bunda dari Daniel namun langsung di potong oleh Dion.
"Kamu nggak usah mencari alasan! Kalau bukan karena Gina yang ngasih tau aku tentang sifat buruk kamu mungkin aku tetap terbius sama sifat sok baik kamu," ucap Dion dengan wajah yang memerah sedangkan Lusi hanya bisa menangis mendengar ucapan Dion.
"Sekarang kamu pilih tetap berada disini sama aku tapi kamu nggak boleh ngelarang-ngelarang aku apalagi dekat sama Gina atau kamu pergi dari rumah ini dan bawa anak pembawa si@l itu," ucap Dion pada Lusi sedangkan dari arah tangga terdapat seorang gadis yang berlari ke arah Dion dan Lusi.
"Ayah! Udah cukup! Apa ayah nggak capek tiap hari marahin bunda hanya karena tante Gina! Harusnya ayah itu sadar bahwa tante Gina lah yang terus-terusan ngeracunin fikiran ayah supaya benci sama bunda!" Bentak gadis itu di hadapan Dion dengan air mata yang mengalir di pipinya ya dia adalah kakak dari Daniel namanya Danira Grasellia Dirgantara biasa di panggil Nira.
"Diam kamu!" bentak Dion pada Nira dengan tatapan tajam.
"Kenapa aku harus diam di saat bunda aku di bentak-bentak kaya gitu, sadar ayah cara ayah kaya gini ngelukain kita semua! Ngelukain ayah sendiri, bunda, aku sama Daniel. Apa ayah nggak pernah mikirin perasaan kami sebagai anak ayah? Kalau ayah emang benci sama bunda setidaknya jangan ribut di hadapan kami yah, sakit! Sakit ngeliat kalian kaya gini!" ucap Nira sambil menatap Dion dengan sedih air matanya terus mengalir seakan enggan untuk berhenti.
"Ayah nggak peduli sama perasaan kalian!" ucap Dion dengan tegas seolah mengatakan bahwa Nira dan Daniel bukanlah hal penting baginya, Daniel yang mendengar hal itu merasakan hatinya sangat sakit ayahnya seperti tidak menganggap dirinya dan kakaknya ada di hidupnya.
"Iya gimana ayah mau perduli, ayahkan sibuk sama tante Gina! Apa sih baiknya tante Gina di banding bunda yah? Apa?" ucap Nira sedangkan Dion yang mendengar Gina di banding-bandingkan amarahnya memuncak dia paling tidak senang jika ada orang yang berani membicarakan Gina apalagi itu tentang hal buruk, Dion mengangkat tangannya bersiap untuk menampar Nira sedangkan Nira hanya bisa memejamkan matanya bersiap untuk merasakan tamparan itu lagi.
__ADS_1
*PLAKK*
Nira heran mengapa dia tidak merasakan apapun harusnya saat ini pipinya sudah terasa panas dan perih akibat tamparan dari ayahnya lalu Nira membuka mata ternyata Daniel dengan sigap melindungi kakaknya itu sehingga dialah yang terkena tamparan.
"Jangan berani-beraninya ayah nampar kak Nira apalagi bunda," ucap Daniel dengan dingin dan menatap Dion dengan tajam.
"Anak pembawa si@l ini ternyata sudah berani melawan sekarang, udah punya nyawa berapa sampai-sampai kamu berani melawan saya hah! Kamu itu nggak beda jauh sama bunda kamu!" ucap Dion sambil menatap nyalang Daniel sedangkan Daniel berusaha agar amarahnya tidak memuncak apalagi mengingat Dion adalah ayahnya yang telah membesarkannya.
"Cukup ayah!" ucap Daniel.
"Harusnya kamu itu sadar kalau bukan karena saya kamu tidak akan pernah merasakan hidup enak seperti saat ini, dan kamu harusnya tau diri kalau kamu udah nggak diperlukan lagi dirumah ini, masih taukan caranya tau diri," ucap Dion lagi sambil menatap Daniel, Nira dan Lusi dengan tatapan tajamnya.
"Sudah berani kamu membentak saya! Sudah berani!" bentak Dion lalu tanpa aba-aba Dion langsung memukul Daniel berkali-kali.
*BUGH*
*BUGH*
*BUGH*
*BUGH*
__ADS_1
Namun Daniel tidak ada niatan untuk membalas ayahnya walau sekalipun, Dion masih memukuli Daniel walau Lusi dan Nira berteriak untuk menghentikan aksi ayahnya itu namun semuanya sia-sia karena Dion bagai orang kesetanan memukuli Daniel.
"BERHENTI AYAH!" ucap Nira dan dengan sekuat tenaga Nira mendorong ayahnya itu agar menjauh dari Daniel yang sudah lemas luka lebam ada di sekujur tubuhnya bahkan sampai tubuhnya pun di penuhi oleh darah namun Dion tidak merasa khawatir akan keadaan Daniel yang seperti itu malah dia merasa puas karena sudah memukuli Daniel.
"Kamu rasakan itu, sekali lagi kamu sok jagoan di depan saya saya habisi kamu, dan kamu ingat ucapan saya tadi," ucap Dion sambil menatap Daniel lalu menatap Lusi kemudian dia pun berlalu pergi dari sana lalu Lusi mendekati Daniel dan membantunya untuk berdiri dengan di bantu oleh Nira.
"Kamu nggak seharusnya bentak ayah kamu kayak tadi nak, liat sekarang kamu jadi kaya gini," ucap Lusi yang menangis melihat kondisi Daniel yang memprihatinkan.
"Daniel gapapa kok bun, Daniel kan kuat masa luka gini aja Daniel takut sih," ucap Daniel sambil tersenyum.
"Bunda nggak tahan liat anak-anak bunda menderita kaya gini kita pergi ya dari rumah neraka ini?" tanya Lusi sambil menatap kedua anaknya.
"Tapi kita mau kemana bun? Kita gak punya siapa-siapa disini," ucap Nira lalu merekapun larut dalam fikiranan masing-masing.
"Udah-udah kalian nggak usah mikirin apa-apa dulu sekarang kalian harus fokus sama sekolah kalian," ucap Lusi.
"Sayang, kamu ambilkan obat buat ngobatin adik kamu ya," ucap Lusi kepada Nira.
"Iya Bun," ucap Nira lalu pergi mengambil obat untuk mengobati Daniel.
Ya begitulah kira-kira kehidupan Daniel jika dilihat dari dalam, banyak rasa sakit yang Daniel, bundanya dan kakaknya rasakan namun tak ada yang mengetahui itu karena Dion diluar sana dikenal sebagai seorang direktur yang cukup terkenal, sangat menyayangi anak-anak dan istrinya bahkan sangat berwibawa tidak pernah dia memperlihatkan amarahnya ketika berada diluar, namun saat sudah sampai rumah semua orang rumah akan terkena dampak yang dia bawa dari luar terlebih pada Daniel yang sering dia sebut sebagai anak pembawa si@l.
__ADS_1