
Sesampainya di kelas 11 IPA³ Daniel dan Arin duduk di kursi mereka ya mereka duduk sebangku.
"Dan, cewek tadi siapa gue jadi penasaran soalnya cuman gue cewek yang akrab sama lo," ucap Arin sambil menatap Daniel yang terlihat malas untuk menjawab pertanyaan dari Arin.
"Gue gak kenal dia Rin, udah deh nggak usah ngebahas dia gak penting juga lagian lo kenapa sih kayak penasaran banget sama tuh cewek?" tanya Daniel sambil menatap Arin dengan sedikit kesal.
"Ya-ya gue kan cuma penasaran aja," ucap Arin terbata-bata.
"Kalau lo mau tau lo tanya aja sendiri sama tuh cewek jangan tanya ke gue," ucap Daniel dengan ketus sambil membaca komik miliknya.
"Dih, kok malah ngegas sih lo, gue kan nanya baik-baik," ucap Arin dengan cemberut namun Daniel tak menghiraukannya.
Sedangkan di kelas 10 IPA³ Arni memasuki kelas lalu duduk di kursinya Ratna dan Putri menatap Arni dengan seksama.
"Gimana Ni' PDKT nyaa?" tanya Ratna sambil tersenyum.
"Iya, lancar jaya kan?" tanya Putri lagi.
"Gak tau yah, dia susah banget di luluhin kayak batu es tau nggak sih," ucap Arni sambil menghela nafas panjang.
"Yaelah batu es kalau terus menerus kena air juga bakalan cair ya gak Put," ucap Ratna sambil menatap Putri.
"Bener tuh, yang penting semangat sayang," ucap Putri sambil mencubit pipi Arni.
"Sakit ihh," ucap Arni sambil memegangi pipinya yang sedikit memerah.
"Ya habis gue gemes banget sama lo pengen gue cubit terus," ucap Putri dengan gemas.
"Emang gue apaan pengen lo cubit terus," ucap Arni dengan cemberut yang membuat Putri semakin gemas.
"Eh, btw emang bener abang lo bakalan tunangan sama mak lampir itu?" tanya Ratna sambil menatap Arni dengan serius.
"Kayanya sih bener tapi gue belum nanya sih sama abang gue kejelasannya gimana," ucap Arni mendengar ucapan Arni terlihat raut wajah dari Ratna langsung berubah dan Arni menyadari itu.
"Eh, lo kenapa?" tanya Arni yang heran.
"Enggak, ya gue heran aja kenapa sih setiap orang yang gue suka gak pernah balik suka ke gue, pertama si Rasya gue suka dia tapi dia suka sama adek kelas kita, terus kedua si Vino gue suka dia tapi dia nolak gue mentah-mentah, terus ketiga si Alvin gue suka dia tapi dia suka sama Arni, keempat si Dito gue suka dia tapi dia suka sama sepupu gue dan sekarang orang yang gue suka malah bakal tunangan sama musuh gue sendiri miris banget kisah percintaan gue," ucap Ratna sambil tersenyum miris mengingat semua orang yang dia suka tidak ada yang menyukainya, Arni dan Putri saling pandang.
"Rat, belum tentu mereka jodohkan gue akan usahain sebisa gue untuk menghentikan pertunangan ini ataupun perjodohan ini, gue janji akan berusaha sebisa gue. Dan senoga aja mereka nggak berjodoh," ucap Arni berusaha membuat Ratna tersenyum.
"Iya Rat kok lo jadi patah semangat gini sih," ucap Putri yang tidak menyukai sifat Ratna ini.
"Iya Rat, mana nih Ratna yang bawel bukan Ratna yang mellow," ucap Arni sambil menatap Ratna yang membuat Ratna tersenyum.
"Gini dong kan cantik," ucap Putri sambil merangkul kedua sahabatnya itu.
----
Arni sudah pulang dari sekolah saat ini dia sedang menunggu kedatangan kelima abangnya itu di sofa ruang tamu, setelah menunggu 1 jam lamanya akhirnya kelima abang nya pun pulang bersamaan.
"Akhirnya abang pulang juga," ucap Arni dengan tersenyum melihat kedatangan para abangnya.
"Kenapa? Lo nungguin kita?" tanya bang Reyhan sambil duduk di samping Arni.
__ADS_1
"Iya," jawab Arni seadanya.
"Kenapa?" tanya bang Revan yang juga ikut duduk di samping Arni.
"Gue mau tanya apa bener kalian di jodohin sama kelima mak lampir itu?" tanya Arni sambil menatap abangnya satu persatu dia berharap itu semua hanya hayalan Tania dan kawan-kawannya.
"Emang kenapa?" tanya balik bang Risky.
"Ihhh, abang suka gitu kalau Arni nanya pasti balik nanya," ucap Arni.
"Ya abis lo aneh banget orang mah baru pulang itu kasih minum kek ini malah pertanyaan gimana sih lo," ucap ban Rendy.
"Ck! Udah deh tinggal jawab aja ribet lo," ucap Arni dengan kesal.
"Gak sopan," ucap bang Raffi sambil menatap Arni.
"Ya makanya jawab pertanyaan Arni," ucap Arni lagi.
"Iya rencana tahun depan kami mau nikah tapi ayah sama bunda maunya di percepat jadi kemungkinan 6 bulanan lagi," jawab bang Revan dengan lembut namun nyatanya Arni malah terkejut dengan mata yang melotot.
"Nggak, nggak gue kayanya mimpi deh cubit gue bang cubit," ucap Arni yang masih tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Akhh, sakit bang," ucap Arni mengaduh kesakitan setelah di cubit oleh bang Reyhan.
"Ya lo minta di cubit gimana sih lo," ucap bang reyhan dengan gemas.
"Ya gak gitu juga kali bang sampai merah nih abang cubit," ucap Arni kesal.
"Yaudahlah, btw ini serius kan bang ya?" tanya Arni lagi pada kelima abangnya yang mereka jawab dengan anggukan.
"Tapi bang lo kan baru kelas 2 masa iya udah mau nikah?" tanya Arni sambil menatap bang Reyhan.
"Gapapa kok lagian sekolah juga gak akan ada yang berani ngeluarin kami," ucap bang Reyhan.
"Dan kalian semua terima?" tanya Arni dengan sedih sambil menunduk yang membuat kelima abangnya saling pandang.
"Ya-- iya," jawab bang Risky sambil mengangguk.
"Tapi Arni gak mau bang," ucap Arni yang meneteskan air matanya.
"Arni gak mau abang nikah sama mereka, Arni sangat tau mereka bang, mereka itu cuman mau manfaatin abang cuman mau morotin abang dan keluarga mereka-" ucapan Arni belum selesai namun sudah di potong oleh bang Risky.
"Cukup Ni' mau sampai kapan lo benci terus sama mereka mau sampai kapan?" tanya bang Risky yang mencoba menahan emosinya.
"Mereka bisa kok memperbaiki diri yang penting lo juga bisa memperbaiki diri lo untuk menerima mereka," ucap bang Raffi namun Arni menggeleng dengan kuat.
"Nggak bang sampai Arni matipun Arni nggak akan pernah ngerestuin hubungan kalian," ucap Arni dengan lantang bukan karena Arni semata-mata ingin abangnya menghentikan pernikahannya dengan Tania dan kawan-kawannya dan menjodohkan Ratna dan Putri dengan bang Revan dan bang Reyhan, namun ada alasan lain di balik itu semua yang pasti mereka berlima tidak akan percaya akan hal itu.
"Cukup Arni! Lo harus bersikap dewasa nggak kekanak-kanakan terus kaya gini rasa benci Lo nggak bisa dong menjadi penghambat kebahagiaan kami," ucap bang Reyhan dengan kesal.
"Abang harusnya percaya sama Arni karena Arni tau semua tentang abang dan Arni juga tau semua tentang pacar kalian itu," ucap Arni dengan tangisan ya begitulah Arni kepada abang-abangnya dia paling susah untuk menahan tangisnya apalagi kalau sudah masalah kepercayaan.
"Terus gimana sama gue? Yang jadi teman sekelas mereka dari kelas 1 sampai sekarang, apa gue nggak tau apa-apa tentang mereka? Bahkan satu incipun lo nggak tau apa-apa tentang mereka karena rasa benci lo sama mereka yang membuat lo buta!" bentak bang Reyhan kepada Arni yang menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Bukan gue yang nggak tau apa-apa tapi kalian," ucap Arni masih dengan tangisannya.
"Abang, tolong dengerin Arni sekali ini aja Arni mohon," ucap Arni pada kelima abangnya.
"Nggak! Udah cukup gue nurutin semua kemauan lo sekarang lo yang harus nurutin gue kali ini, gue cuman mau lo restuin kami dan lo dateng pernikahan kami setelah itu terserah lo," ucap bang Risky kemudian pergi dari sana meninggalkan Arni dan saudaranya yang lain sedangkan Arni? Jangan di tanya dia masih menangis.
"Gue setuju sama Risky sekarang kita udah sama-sama dewasa jadi gue harap lo fikirin ini baik-baik," ucap bang Rendy yang juga meninggalkan Arni yang di susul bang Reyhan tanpa mengucapkan sepatah katapun namun hanya menatap arni dengan kesal.
"Bang," panggil Arni pada bang Raffi dan bang Revan, biasanya kedua abangnya ini yang akan percaya padanya dalam keadaan apapun dan akan menenangkannya.
"Sorry dek, kayaknya gue butuh nenangin diri dulu," ucap bang Raffi yang juga meninggalkan Arni sedangkan bang Revan? Dia juga pergi tanpa berkata apa-apa.
"Apa segitu pembohongnya gue? Sampai-sampai mereka nggak percaya sama gue soal Tania dan kawan-kawannya," ucap Arni sesegukan.
Malam harinya kelima abangnya Arni sudah duduk di meja makan untuk makan malam namun mereka menunggu kedatangan Arni yang tak juga menampakkan dirinya.
"Arni mana ya? kok belum nongol padahal udah laper banget," ucap bang Reyhan sambil menatap tangga berharap Arni muncul.
"Lo liat gih bang," ucap bang Raffi pada bang Revan lalu bang Revan pergi ke kamar Arni yang berada di lantai 2.
"Apa dia masih marah ya gara-gara tadi siang?" tanya bang Rendy sambil menatap keempat saudaranya.
"Gak usah difikirin bang emang dianya aja yang baperan," ucap bang Risky sambil memainkan ponselnya.
"Jangan gitu Ky," ucap bang Revan sambil menatap bang Risky.
Sesampainya bang Revan di depan kamar Arni dia mengetuk pintu kamar itu berkali-kali namun tak ada jawaban akhirnya dia membuka pintu kamar Arni yang tak di kunci namun tiada Arni di dalam sana.
"Tuh bocah kemana?" tanya bang Revan sambil melihat sekeliling lalu dia melihat pintu balkon kamar Arni terbuka lalu dia kesana dan mendapati Arni sedang duduk di atas atap sambil memandangi langit malam.
"Dek," panggil bang Revan.
"Emm?" Jawab Arni dengan deheman tanpa menatap abangnya itu.
"Ayo makan malam," ucap bang Revan.
"Nanti deh bang gue belum laper," jawab Arni.
"Lo ngapain disini? Udara malam nggak baik buat kesehatan lo," ucap bang Revan kepada Arni.
"Iya bentar lagi gue masuk bang," ucap Arni tidak seperti biasanya Arni menjawab dengan membelakangi abangnya.
"Lo gak mau natap abang?" tanya bang Revan.
"Kasih gue waktu bang gue lagi gak mood ngeliat kalian," ucap Arni tanpa semangat namun tatapannya tak pernah lepas dari langit disana ada sebuah bintang yang paling terang Arni tersenyum melihat itu, bang Revan menghela nafas berat dia tau apa yang membuat Arni menjadi seperti ini.
"Yaudah abang ke bawah dulu jangan lupa makan," ucap bang Revan lalu keluar dari kamar Arni.
"Arni tau abang selalu ada di samping Arni, Arni tau abang selalu ngeliat apa yang Arni lakuin, maafin Arni bang," ucap Arni yang kini air matanya menetes entah mengapa akhir-akhir ini Arni sangat cengeng.
"Arni minta maaf kalau sikap Arni kayak gini sama abang-abang yang lainnya, Arni cuman nggak mau mereka nyesel nantinya bang karena pilihan mereka salah, mereka nggak tau apa yang udah di lakuin sama Tania dan kawan-kawannya karena mereka sudah di butakan oleh cinta mereka," ucap Arni sambil menatap langit.
"Abang bantu Arni untuk ngebuka jalan fikiran mereka, Arni gak mau mereka nyesel," ucap Arni dan dia tetap berada di sana untuk menenangkan dirinya hingga larut malam.
__ADS_1