5 ABANG TAMPANKU

5 ABANG TAMPANKU
PART 17 [RATNA P. O. V]


__ADS_3

"Udah mau malem nih kayanya kita berdua balik dulu deh Ni'," ucap Putri yang melihat keadaan luar sudah mulai gelap.


"Yaudah deh, nanti dianter sama supir gue," ucap Arni yang diangguki oleh kedua sahabatnya lalu mereka turun ke ruang tamu yang mana disana masih ada bang Revan, bang Reyhan, Adelia, Alira dan kini di tambah bang Rendy, bang Risky dan bang Raffi.


"Mau kemana?" tanya bang Raffi yang melihat mereka bertiga turun.


"Mau pulang bang," jawab Ratna.


"Mau abang anterin?" tanya bang Rendy sambil menatap Ratna dan Putri.


"Nggak usah bang tadi Arni udah nyuruh pak Seto kok buat nganterin," jawab Putri seramah mungkin.


"Oh yaudah hati-hati ya kalian berdua," ucap bang Rendy.


"Oke bang pulang dulu," ucap Ratna lalu mereka berdua menyalimi bang Rendy, bang Raffi, bang Risky namun saat akan menyalimi bang Revan dan bang Reyhan.


"Gak usah pegang-pegang lo modus banget," ucap Adelia yang masih kesal akibat ulah bang Revan tadi di kolam renang sambil memegang tangan bang Revan dengan erat.


"Van," ucap bang Raffi menatap bang Revan dengan tajam.


"Iya-iya bang, sorry yang," ucap bang Revan dan melepas pegangan tangan Adelia lalu membiarkan Ratna dan Putri menyalimi tangannya begitu pula dengan bang Reyhan.


"Eh, gue lagi," ucap Arni sambil memberikan tangannya.


"Dih, inget ya yang harusnya itu lo Salim sama kita secara kitakan lebih tua daripada lo," ucap Putri sambil menjulurkan lidahnya.


"Dih biarin aja, ayo gue anter ke depan," ucap Arni lalu mereka pergi ke depan rumah yang mana pak Seto sudah menunggu mereka di dalam mobil lalu Ratna dan Putri masuk ke dalam mobil.


"Pulang dulu Ni'," pamit keduanya pada Arni.


"Hati-hati lo berdua," pesan Arni.


"Siap bos," ucap keduanya lagi kemudian mobilpun pergi.


Sedangkan di dalam rumah bang Raffi menatap intens bang Revan dan bang Reyhan.


"Kenapa sikap kalian kaya tadi ke Ratna dan Putri?" tanya bang Raffi tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa sih bang malah belain mereka," ucap Alira dengan kesal.

__ADS_1


"Gue lagi gak ngomong sama lo ya, walaupun lo itu sahabatnya cewek gue bukan berarti gue juga harus nurut sama lo, lo lupa gue pernah bilang apa sama lo berempat?" tanya bang Raffi sedangkan bang Revan dan bang Reyhan hanya bisa menunduk.


"Arni pengen kita nganggep Ratna dan Putri seperti adek kita juga jadi mulai sekarang gue mau kalian berempat memperlakukan Ratna dan juga Putri seperti kalian memperlakukan Arni karena gue nggak mau gara-gara ulah kalian Arni jadi marah lagi," ucap bang Raffi sambil menatap adiknya satu persatu sedangkan Arni mendengar semua ucapan bang Raffi dia tersenyum dan menghampiri mereka lalu duduk di samping bang Raffi.


"Dan kalian gue tau kalian takut kehilangan mereka tapi ya nggak kaya gini juga, awas aja kalau gue ngeliat kejadian yang kaya gini lagi," ucap bang Raffi.


"Makasih abang udah mau nerima permintaan Arni," ucap Arni sambil memeluk bang Raffi dengan erat sedangkan bang Raffi hanya mengacak rambut Arni dengan sayang.


Saat ini Ratna sudah tiba di rumahnya dia menatap rumahnya itu yang terlihat sepi lalu dia masuk dan mendapati abangnya sedang duduk sambil mer0k0k di sofa ruang tamu.


"Mamah sama papah mana bang?" tanya Ratna yang tak melihat kehadiran orang tuanya.


"Mereka pergi ke New York tadi siang rencana sih nungguin lo dulu tapi lo bilang lo pulang malem makanya mereka langsung berangkat," ucap bang Nando lebih tepatnya Fernando Putra Alcantara abang dari Ratna kira-kira seumuran dengan bang Rendy.


"Bang, bisa gak sih gak usah ngerokok itu nggak baik tau buat kesehatan," ucap Ratna hati-hati karena biasanya jika Ratna ikut campur dalam urusan atau kegiatan bang Nando dia akan di bentak habis-habisan.


"Lo mau gue nggak ngerokok lagi?" tanya bang Nando sambil menatap Ratna sedangkan Ratna hanya bisa mengangguk dengan ragu.


"Emang lo siapa hah! Berani-beraninya ngatur-ngatur gue, lo inget ya lo itu emang adek gue tapi bukan berarti lo bisa ngatur-ngatur gue kayak lo ngatur hidup lo, lo mau ngapain juga terserah lo jangan libat-libatin gue dalam masalah lo begitupun sebaliknya lo paham!" bentak bang Nando tepat di hadapan Ratna yang hanya bisa memejamkan matanya.


"Tapi gue adek lo bang gue gak mau terjadi apa-apa sama lo," ucap Ratna setelah abangnya terdiam.


"Nggak bang gue pengen lo berubah gak kaya gini lagi, mana bang Nando yang gue kenal? Mana bang Nando yang lemah lembut? Kemana bang?" tanya Ratna yang kini sudah menangis.


"Abang Nando lo yang lemah lembut itu udah m@t1 jadi jangan harap abang lo yang lemah itu bisa kembali lagi," ucap bang Nando dan pergi ke kamarnya meninggalkan Ratna sendirian di ruang tamu, sedangkan Ratna dia terduduk di atas sofa mengingat ucapan bang Nando.


"Nggak, bang Nando gue yang lemah lembut gak pernah pergi dia cuman terkubur oleh rasa benci, amarah akibat mamah dan papah yang selalu menuntut dia menjadi apa yang mereka mau, nggak mungkin dia ninggalin gue kaya gini dan menggantikannya dengan orang yang egois," ucap Ratna yang sudah sesegukan dia menekuk kedua kakinya kemudian menelungkup kan wajahnya dikedua lututnya, sedangkan dari lantai atas bang Nando sedang menatap Ratna kemudian dia pergi ke kamarnya memilih untuk tidur.


Pagi haripun tiba Ratna terbangun setelah jam di atas meja belajarnya berbunyi dengan nyaring kemudian dia duduk dan mengusap wajahnya.


"Udah pagi aja," ucap Ratna lalu dia mengambil handuk kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah 15 menit berada di kamar mandi akhirnya dia keluar dengan seragamnya.


Setelah menyisir rambutnya dan sudah siap dia pun turun untuk sarapan pagi, di meja makan sudah ada abangnya yang sedang sarapan.


"Abang ini sarapan nggak ngajak-ngajak," ucap Ratna sambil tersenyum dan duduk di kursi meja makan.


"Ngapain gue manggil lo kurang kerjaan banget," ucap bang Nando sambil mendelikkan matanya dengan malas.


"Dih, sama adek sendiri gitu banget," ucap Ratna sambil mengoleskan selai coklat ke roti yang sudah dia siapkan.

__ADS_1


"Lo tau nggak sih kalau lo itu nggak ada penting-pentingnya sama sekali," ucap bang Nando yang akan berdiri.


"Ehh, abang mau kemana?" tanya Ratna sambil menatap abangnya itu.


"Ya mau kuliah lah emang mau kemana lagi," ucap bang Nando dengan ketusnya.


"Santai aja dong bang, hari ini anterin gue ke sekolah ya," ucap Ratna dengan semangat harapan untuk berangkat bersama abangnya sangatlah besar.


"Gue punya banyak kerjaan gak ada waktu buat nganterin lo udah deh gak usah manja biasanya juga naik motor sendiri," ucap bang Nando yang akan pergi namun lagi-lagi Ratna menghentikannya.


"Kok abang nggak perduli sih sama gue? Gue ini kan adek lo, gimana kalau gue kenapa-kenapa di jalan," ucap Ratna.


"Ya gue nggak perduli lah, mau lo m@t1pun gue nggak perduli ngerti lo! Udah deh nggak usah gangguin gue terus urus aja hidup lo sendiri gue cabut bay," ucap bang Nando kemudian pergi tanpa mengetahui perasaan Ratna yang sekarang sangatlah sakit, segitu bencinya abangnya sama dia sampai-sampai abangnya tidak perduli sedikitpun kepadanya bahkan seandainya dia m@t1pun abangnya tidak akan peduli, tak lama air mata Ratna menetes mengingat ucapan bang Nando.


"Non, kok masih belum berangkat nanti telat loh," ucap bik Sum pembantu di rumah Ratna yang membuat Ratna tersadar dari lamunannya.


"Non yang sabar ya, den Nando udah tertutupi oleh amarah dan kebencian makanya dia kaya gitu, tapi yakin sama bibik suatu saat nanti dia pasti bakal sadar," ucap bik Sum menyemangati Ratna agar tidak terus-terusan bersedih.


"Iya bik, semoga aja bang Nando bisa berubah seperti dulu lagi," ucap Ratna sambil tersenyum manis kepada bik Sum.


"Yaudah sana berangkat nanti terlambat," ucap bik Sum kemudian Ratna berpamitan kepada bik Sum lalu pergi ke sekolah menggunakan motor miliknya.


Sesampainya di sekolah Ratna berjalan di koridor sambil terus mengingat ucapa bang Nando.


°Seandainya gue nggak sayang sama lo bang, sama mamah dan papah, sahabat-sahabat gue, mungkin gue bakalan nyerah buat ngejalanin hidup ini bang, gue berjuang keras untuk bisa sama-sama kalian terus walau gimana pun cara lo memperlakukan gue bang, gue akan terus berusaha agar bisa menjadi adek yang baik buat lo, jadi anak yang baik buat mamah papah dan juga jadi sahabat yang baik buat Arni dan Putri,° batin Ratna tak terasa air matanya menetes.


"Ratna," ucap Arni dan Putri yang tiba-tiba datang merangkul Ratna entah muncul darimana mereka Ratna langsung menghapus air matanya agar kedua sahabatnya tidak melihatnya menangis.


"Lo kenapa kok kaya sedih gitu?" tanya Arni yang melihat raut wajah Ratna yang murung.


"Gue gapapa kok," ucap Ratna setenang mungkin.


"Gak usah bohong deh sama kita, masa lo mau bohongin kita yang udah senior bohong daripada lo," ucap Putri yang diangguki oleh Arni.


"Beneran guys gue gapapa kok tenang aja," ucap Ratna sambil tersenyum.


"Yaudah deh kalau lo belum mau cerita, tapi pada saat lo butuh temen cerita lo panggil gue sama Putri oke," ucap Arni yang terus menatap Ratna.


"Iya-iya bawel bet dah lo," ucap Ratna kemudian pergi meninggalkan Arni dan Putri.

__ADS_1


"Eh s1@l@n kita ditinggalin tungguin woyy," ucap Putri kemudian mereka berdua mengejar Ratna ke dalam kelas.


__ADS_2