
Arni, Ratna dan Putri sedang berbincang di meja makan tadi mereka sempat makan masakan dari Ratna yang menurut mereka berdua sangat enak, setelah puas duduk di meja makan mereka beralih ke sofa ruang tamu untuk menonton televisi.
"Rat, remotnya mana nih?" tanya Putri yang sedang mencari remot TV di laci-laci meja TV itu.
"Mata lo kemana sih Put, itu loh remotnya ada di depan jidat lo," ucap Arni yang gereget dengan sikap sahabatnya yang satu i
ni biarpun barang yang ada di dekatnya pun dia tidak bisa melihatnya.
"Putri-putri, makanya otak itu di konsenin dikitlah nyari sesuatu yang ada di depan mata aja lo nggak liat," ucap Ratna di selingi tawanya.
"Ya sorry abis gue serius banget nyarinya," ucap Putri lalu mengambil remot itu dan duduk di samping Arni, lalu dia menyalakan televisi itu dan memilih channel untuk anak-anak muda.
"Eh, itu Kenzo Ananta bukan sih?" tanya Arni sambil menatap orang yang ada di TV itu.
"Eh iya itu Kenzo," ucap Putri histeris.
"Huaa laki gue setelah sekian lama gue nunggu akhirnya dia kelihatan lagi," ucap Ratna yang tak kalah histerisnya dari Putri.
"Hekh, cowok gue itu," ucap Arni tak mau kalah.
"Pacar gue," ucap Putri.
"Laki gue,"
"Cowok gue,"
"Pacar gue woii,"
*BRAK*
Sedang asyik-asyiknya memperebutkan Kenzo Ananta hingga tiba-tiba ada yang membuka pintu rumah Ratna dengan kasar semua mata tertuju pada arah pintu di sana ada bang Nando yang sudah babak belur dan berjalan dengan salah satu kakinya di seret.
"Bang, lo kenapa?" tanya Ratna dengan khawatir dan langsung menghampiri bang Nando.
"Gak!" ucap bang Nando dengan ketus,
"Ini kenapa bisa luka-luka kaya gini?" tanya Ratna lagi sambil menyentuh pipi bang Nando namun dengan keras bang Nando menepisnya.
"Gak usah sok perhatian sama gue! Mending lo sana sama temen-temen alay lo itu! Gue gak butuh dikasihani sama lo!" ucap bang Nando dan berjalan kearah kamarnya yang berada di lantai 2.
"Tapi bang ini gak bisa di biarin gitu aja, gue obatin ya," ucap Ratna sambil mengejar bang Nando ke arah kamarnya sedangkan Putri dan Arni hanya bisa menonton drama adek abang itu.
"Duh, gue cemas nih Put takutnya bang Nando bertindak kasar sama Ratna," ucap Arni sambil menatap Ratna dan bang Nando dengan was-was.
"Gue juga Ni'," ucap Putri yang merasakan hal yang sama dengan Arni.
"Gak usah sentuh-sentuh gue!" bentak bang Nando sambil menepis tangan Ratna lagi.
"Kenapa sih bang? Emang gue ada salah apa sama lo? Seakan-akan lo benci banget sama gue," ucap Ratna sambil menatap bang Nando dalam.
"Gak ada alasan, sekali gue benci sama orang akan tetap begitu," ucap bang Nando.
"Tapi gue adek lo bang," ucap Ratna sambil menggenggam tangan bang Nando.
"Gue bilang gak usah pegang-pegang!" bentak Nando sambil menepis tangan Ratna dengan kasar namun karena Ratna tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya akhirnya dia terjatuh dari tangga saat sudah sampai di tangga paling bawah kepalanya terbentur ke pegangan tangga dengan lumayan keras hingga membuat kepala Ratna berdarah, semua yang ada disana terkejut termasuk bang Nando namun dia mencoba menetralkan rasa terkejutnya.
"Lo apa-apaan sih bang! Ratna ini tuh adek lo! Bisa nggak lo jangan nyakitin dia terus-terusan kayak gini! Sebenci-bencinya lo sama dia nggak harus lo kayak gini sama dia! Dia juga mau yang terbaik buat lo!" bentak Arni sambil menghampiri Ratna lalu menatap bang Nando dengan tajam.
"Urusannya sama lo apa hah!" bentak bang Nando balik sambil menatap Arni dengan tajam juga.
"Urusan dia ya urusan gue juga! Lo bener-bener udah gak punya hati bang!" ucap Arni yang tetap menatap bang Nando dengan tatapan membunuh jika membunuh itu bukan dosa mungkin Arni sudah membuatnya pergi dari dunia ini untuk selamanya.
Bang Nando malah tampak acuh dan meninggalkan mereka bertiga di bawah tangga.
__ADS_1
Ada juga ya abang macam ini guyss 😒😒
"Ratna lo bertahan ya kita ke ke puskesmas," ucap Putri yang sudah menangis karena Ratna sudah mulai melemah lalu mereka membawa Ratna ke puskesmas terdekat.
Sesampainya di puskesmas Ratna di tangani oleh dokter di puskesmas tersebut dan dia mendapatkan beberapa jahitan di pelipisnya.
"Tega banget abang lo Rat," ucap Arni dengan sedih melihat kondisi sahabatnya itu.
"Udah gue gapapa kok udah biasa ini mah," ucap Ratna dengan senyuman khasnya.
"Tapi ini tuh udah keterlaluan tau gak sih kenapa coba lo nggak ngadu aja sama bokap nyokap lo soal abang lo ini," ucap Putri sambil menatap Ratna.
"Udahlah lagian gue gak mau urusannya jadi panjang," ucap Ratna dengan pasrah.
"Yaudahlah yang penting lo kuat aja," ucap Putri sambil menghela nafas panjang.
"Ternyata sejahat-jahatnya abang gue gak sejahat abang kalian gue jadi nyesel udah bersikap keras kepala begini," ucap Arni sambil menatap kedua sahabatnya.
"Gue kan udah bilang lo harusnya bersyukur punya abang kayak mereka gak kayak kita berdua, dan soal jodoh mungkin Tania cs itu jodohnya abang lo," ucap Ratna.
"Nggak, nggak pokoknya soal jodoh gue gak akan pernah setuju kalau jodohnya si Tania cs," ucap Arni sambil menggeleng dengan kuat.
"Ck, serah lo deh susah ngomong sama batu," ucap Putri mendelik sedangkan Arni malah senyum pepsodent.
----
Akhirnya bang Revan sampai di rumah dia memarkirkan motornya di garasi lalu dia masuk ke dalam rumah sambil membawa belanjanya.
"Akhirnya pulang juga lo bang," ucap bang Reyhan lalu celingak-celingukan.
"Kenapa lo?" tanya bang Revan yang heran melihat tingkah bang Reyhan.
"Arni mana?" tanya bang Reyhan.
"Kok bisa," ucap bang Reyhan.
"Tau deh," ucap bang Revan lalu dia pergi ke kamarnya.
"Kayanya kesel tuh anak habis di copet," ucap bang Raffi sambil menatap kepergian adiknya itu.
"Apa mungkin Arni ada di rumah Ratna atau Putri ya," ucap bang Rendy.
"Bisa jadi sih," ucap bang Reyhan.
Pukul 19.30 Arni baru sampai di rumahnya dengan di antar oleh Putri mereka berhenti tepat di depan gerbang.
"Thanks ya Put," ucap Arni.
"Sama-sama btw gue balik dulu ya udah malem soalnya," ucap Putri.
"Oke, hati-hati ya," ucap Arni lalu Putri berlalu dari rumah Arni, Arni membuka gerbang lalu masuk dan menutupnya kembali lalu dia membuka pintu rumahnya.
Keadaan di dalam rumahnya agak gelap mungkin karena yang lain sudah pada tidur, Arni memasuki rumah dengan santai.
*CTAK*
Bunyi saklar lampu dinyalakan Arni melihat kearah tangga ada bang Risky disana menatapnya dengan tajam.
"Darimana lo?" tanya bang Risky dengan tajam.
"Gue dari rumah Ratna," jawab Arni seadanya.
"Halah, ngej@l@ng kan lo makanya tengah malam baru pulang," ucap bang Risky dengan sengit dan menatap Arni dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
"Lo ada masalah apa sih bang sama gue! Lo benci sama gue gara-gara gue ga ngerestuin lo sama Agnes iya!" sentak Arni dengan lantang hatinya terasa sakit mendengar tuduhan abangnya itu.
"Lo mau ngerestuin atau nggak gue nggak perduli lagian lo nggak penting juga," ucap bang Risky.
"Gue punya salah apa sih sama lo bang sampai-sampai lo kayaknya gak suka banget sama gue padahal lo dulu nggak pernah kayak gini sama gue," ucap Arni yang sedang berusaha menahan air matanya agar tidak keluar.
"Apa gara-gara mak lampir itu bang iya! Dari awal gue emang gak pernah suka kalau kalian sama mereka tapi kalian tetap ngeyel, asal lo tau bang mereka itu bawa pengaruh buruk buat kalian," ucap Arni dengan lantangnya sambil menatap bang Risky yang kini sudah berada di hadapannya.
*PLAK*
Wajah Arni tertoleh ke samping pipinya terasa panas dan perih kini air matanya benar-benar sudah tidak bisa dia bendung lagi ini kedua kalinya bang Risky menampar dirinya hanya karena Tania cs sedangkan para abangnya sudah melihat itu semua dari atas tangga namun tiada yang bergeming termasuk bang Raffi dan bang Revan yang selalu membelanya kini hanya diam menatap semua itu.
Arni menatap sendu pada keempat abangnya yang ada di atas tangga namun semuanya seperti acuh sebenarnya ada apa itulah fikiran Arni.
"Lo yang jadi pengaruh buruk buat kami!" bentak bang Rendy yang sudah menuruni tangga bersama dengan abangnya yang lain.
"Yang ada di fikiran lo itu sebenarnya apa sih sampai-sampai lo tega nyelakain Tania cs," ucap bang Reyhan dengan tajam.
"Maksud lo bang?" tanya Arni yang tak tau apa-apa.
"Gara-gara lo Tania sama temen-temennya hampir mati tau gak! Gue tau lo benci banget sama mereka tapi nggak kaya gini," ucap bang Raffi dengan emosi baru kali ini bang Raffi terlihat marah terhadap Arni.
"Ini sebenarnya ada apa sih? Gue gak tau apa-apa," ucap Arni yang masih terlihat bingung dengan arah pembicaraan mereka tentang Tania.
"Gak usah sok polos lo! Lo sengaja kan mutusin rem mobilnya Tania biar mereka kecelakaan dan m@ti, itu kan yang ada di fikiran lo gak nyangka gue sama lo yang udah jadi jahat kaya gini," ucap bang Reyhan sambil menatap Arni dengan tatapan kebencian.
"Gue nggak ada ngelakuin itu semua bang sumpah demi Tuhan," ucap Arni.
"Gak usah sok-sokan bawa-bawa nama Tuhan deh lo munafik!," ucap bang Risky.
"Bang," panggil Arni pada bang Revan yang dengan tatapan memohon karena hanya bang Revan yang diam saja tidak memarahinya dia lebih memilih menatap keluar dengan tatapan kosong.
Namun saat mendengar Arni memanggilnya dia menatap Arni sebentar kemudian dia pergi dari sana dia lebih memilih pergi ke kamarnya.
"Gak ada yang percaya lagi sama cewek pembohong kayak lo," ucap bang Rendy.
"Gue nggak ada ngelakuin itu semua bang itu semua fitnah," ucap Arni mencoba meyakinkan para abangnya.
"Terus menurut lo Tania cs sengaja mutusin rem mobil mereka untuk nyelakain diri mereka sendiri gitu?" tanya bang Raffi sambil menatap Arni tajam sedangkan Arni hanya mengangguk.
"Terus menurut lo ini apa hah!" ucap bang Risky sambil memperlihatkan sebuah video yang berlatarkan parkiran di sekolah mereka lalu tak lama muncul seorang cewek yang berpenampilan sangat mirip dengan Arni namun wajahnya tidak terlihat sedang memutuskan rem mobil Tania.
"Itu belum cukup buat lo ngaku hah!" bentak bang Reyhan.
"Itu bukan gue!" bentak Arni karena Arni merasa dia memang tidak salah bahkan dia tidak mengetahui apa-apa tentang hal ini.
"Gue udah gak percaya sama lo mulai sekarang lo pindah ke rumah ayah bunda gue gak sudi satu rumah sama seorang pembohong kayak lo," ucap bang Raffi dengan lantang yang membuat Arni mengangguk.
"Oke, gue bakal pergi dari sini gue akan buktiin ke kalian semua kalau itu bukan gue," ucap Arni lalu dia pergi ke kamarnya dan mengemasi semua barang-barang miliknya.
Beberapa menit kemudian Arni turun dari kamarnya membawa sebuah koper dan tas kecil di lengannya.
"Arni pergi," ucap Arni dan berlalu pergi tanpa menatap abang-abangnya rasanya cukup sakit melihat mata keempat abangnya yang terlihat marah, kecewa, bahkan melihat dirinya dengan tatapan kebencian namun keempat abangnya hanya diam hingga Arni tak terlihat lagi di pandangan mereka.
"Kita kejam gak sih sama dia?" tanya bang Reyhan.
"Udahlah lagian dia juga yang nyari gara-gara gimana kalau anak orang sampai kenapa-kenapa gara-gara dia," ucap bang Risky yang membuat bang Reyhan terdiam lalu mereka pergi ke kamar masing-masing.
----
Kini Arni sedang berjalan di pinggir jalan sambil menangis dia tidak bisa meminta bantuan siapapun karena ponselnya mati sedangkan kendaraan jarang ada yang lewat karena hari sudah malam.
"Kenapa engkau memberikan cobaan seberat ini Tuhan aku nggak sanggup," teriak Arni di tengah jalan itu tak lama hujan turun dengan lebatnya Arni menjadi basah kuyup di buatnya.
__ADS_1