
Sedangkan di sebuah rumah sakit seorang gadis sedang duduk manis di ruangan dokter dia datang untuk memeriksakan dirinya karena beberapa minggu terakhir kepalanya selalu sakit dan sakitnya itu seperti di tusuk-tusuk jarum kadang hingga membuatnya pingsan.
"Jadi gimana dok hasilnya?" tanya gadis itu sambil menatap dokter dia berdoa di dalam hatinya bahwa semoga saja itu hanya karena dia masuk angin dan tidak ada penyakit serius di dalam tubuhnya, lama dokter melihat hasil pemeriksaannya lalu dokter menatapnya dengan intens.
"Kamu datang bersama keluarga kamu?" tanya dokter itu tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
"Nggak dok," ucap gadis itu sambil menggeleng.
"Bisa kamu telfon mereka soalnya apa yang kamu rasakan selama ini adalah sebuah penyakit dan penyakit ini harus segera diatasi karena ini penyakit yang bersangkutan dengan nyawa, maka dari itu saya perlu berbicara pada keluarga kamu," ucap dokter itu yang membuat gadis itu terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nggak perlu dok nanti biar saya saja yang sampaikan, memang saya sakit apa dok?" tanya gadis itu pada dokter perasaannya sudah ketar ketir mengingat kira-kira penyakit apa yang dia idap sehingga bersangkutan dengan nyawa.
"Kamu mengidap penyakit kangker darah atau biasa disebut dengan leukimia stadium 2," ucap dokter itu yang membuat gadis itu langsung meneteskan air mata dia tidak menyangka penyakit yang pernah membunuh tantenya kini bersarang di dalam tubuhnya, bagaimana perasaan orang tuanya nanti setelah mengetahui penyakitnya?
"Kamu harus sabar dan kuat untuk menjalani penyakit kamu kalau kamu mau beri pengertian pada kedua orang tua kamu untuk membawa kamu ke negara B karena hanya disanalah alat-alat medis terlengkap untuk penyakit kamu ini," ucap dokter lagi yang mengerti bagaimana perasaan sang pasien.
"Terima kasih dok," ucap gadis itu dan pergi dari ruangan dokter.
"Gimana ini? Gue nggak mungkin bilang ke mamah sama papah bisa-bisa mereka tambah sedih, tapi gue juga gak mau mati sia-sia gara-gara penyakit ini," ucap gadis itu pada dirinya sendiri dengan air mata yang setia menemani kesedihannya.
------>
"Arni," panggil bang Risky dengan geram sambil menuruni tangga menuju ruang tamu yang mana di sana ada bang Raffi, bang Revan, bang Rendy, bang Reyhan dan Arni yang sedang menonton chanell anak remaja.
"Apa sih bang," ucap Arni dengan malas.
"Lo bilang apa sama Agnes sampai-sampai dia marah sama gue?" tanya bang Risky yang membesarkan suaranya dengan kesal hal itu membuat bang Raffi, bang Revan, bang Rendy dan bang Reyhan menatap bang Risky.
__ADS_1
"Emang gue bilang apa? Orang gue cuman bilang jauhin abang gue karena dia itu nggak pantes buat lo orang yang jahat, ratu bully," ucap Arni dengan santainya sambil menonton televisi tanpa ada niat untuk menatap abangnya itu.
"Gue kan udah sering bilang sama lo jangan pernah ikut campur dalam masalah gue sama cewek gue karena lo itu nggak ada hak," ucap bang Risky meninggikan suaranya sangking kesalnya Arni yang mendengarnya pun langsung menatap bang Risky dengan nyalang.
"Gue nggak ada hak?" tanya Arni dengan sengitnya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Jelas lo nggak ada hak, ini urusan pribadi gue lo paham!" ucap bang Risky membentak Arni hingga membuat Arni meneteskan air matanya sambil mengangguk.
"Gue adek lo bang! Inget! Gue adek lo! Gue sebagai adek lo nggak mau kalau lo di sakitin sama orang lain termasuk pacar lo itu! Gue sayang sama lo gue nggak mau liat Lo sedih gara-gara cewek itu! Lo nggak tau kan apa alasan gue ngomong kaya gitu ke dia!" bentak Arni pada bang Risky dengan air mata yang terus mengalir, bang Raffi yang melihat itu mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras sangking emosinya namun coba dia tahan.
"Emang apa alasan lo hah! Apa?" tanya bang Risky masih dengan bentakan yang sama tanpa dia sadari hanya karena perempuan dia sudah berani membentak adik perempuan satu-satunya.
"Dia nyelingkuhin lo bang, dia nyelingkuhin lo! Gue liat dengan mata kepala gue sendiri dia lagi peluk-pelukan sama seorang cowok! dan lo mau tau cowok itu siapa? Cowok itu bang Arga bang sahabat lo sendiri! Gila nggak tuh cewek!" balas Arni membentak walau air mata tidak pernah berhenti keluar dari matanya, baru kali ini ada abangnya yang berani membentaknya dengan keras hanya karena perempuan.
"Gak mungkin dia ngelakuin itu!" ucap bang Risky.
*PLAK*
Bang Risky menampar Arni dengan sangat keras hingga sudut bibir Arni mengeluarkan darah, kini hati Arni benar-benar sakit bukan hanya bentakan yang dia dapat tapi juga sebuah tamparan.
"Berani lo ngomong kaya gitu tentang cewek gue hah!" ucap bang Risky yang masih tersulut emosi sampai dia lupa bahwa di sana ada abangnya.
"Emang kenapa bang? Mau nampar Arni lagi kalau Arni ngomong, tampar, tampar sepuas abang, Arni nggak nyangka abang bakalan nampar Arni cuman karena perempuan itu Arni kecewa sama abang jangan deketin Arni lagi Arni benci sama bang Risky!" ucap Arni dan berlari menuju kamarnya.
*BUGH*
*BUGH*
__ADS_1
*BUGH*
3 pukulan mendarat di perut bang Risky membuat bang Risky terjatuh di lantai sambil memegang perutnya yang sakit akibat pukulan dari bang Raffi terlihat bahwa bang Raffi sangat emosi wajahnya memerah.
"Siapa yang ngijinin lo nampar adek gue si@l@n! Siapa!" bentak bang Raffi dengan emosi yang berapi-api dia ingin memukul bang Risky lagi namun langsung di tahan oleh bang Revan dan bang Rendy sedangkan bang Reyhan menjaga bang Risky agar tidak di pukul lagi oleh bang Raffi.
"Gara-gara cewek brengsek itu lo udah berani nampar Arni!" bentak bang Raffi yang ingin terus menyerang bang Risky namun selalu di tahan oleh bang Revan dan bang Rendy.
"Sabar bang kontrol emosi lo," ucap bang Revan.
"Sekali lagi gue liat lo kasar sama Arni habis lo di tangan gue," ancam bang Raffi dan berlalu pergi dari sana.
"Lo bego' banget sih, kalau mamah sama papah tau soal ini gue nggak ikut-ikutan," ucap bang Rendy dan pergi mengikuti bang Raffi.
"Gue udah pernah bilang sama lo jangan pernah main-main sama abang, apalagi soal Arni bang Raff nggak akan pernah biarin lo kasar sama dia, termasuk gue tapi untung aja gue masih bisa nahan emosi gue kalau nggak udah gue bikin lo babak-belur," ucap bang Revan yang juga meninggalkan bang Risky bersama bang Reyhan.
"Bego' banget sih lo bang," ucap bang Reyhan.
"Gue kelepasan Rey gue emosi," ucap bang Risky dengan tertunduk menyesal.
"Lo minta maaf gih sama Arni dan bang Raffi," ucap bang Reyhan dan ban Riskypun mengangguk lalu pergi ke depan kamar Arni diikuti bang Reyhan di belakangnya.
"Dek, abang minta maaf abang khilaf nampar kamu," ucap bang Risky di depan kamar Arni namun tidak ada jawaban.
"Dek, maafin abang," ucap bang Risky lagi namun tetap sama tiada jawaban.
"Udah bang biarin dia tenangin diri dulu nanti kalau udah baikan baru deh lo ajak bicara," ucap bang Reyhan yang diangguki oleh bang Risky.
__ADS_1