Abaddon Skuad Penghancur

Abaddon Skuad Penghancur
Sebuah Kisah


__ADS_3

... Sepulangnya dari bertemu Naga Thea langsung mendiskusikan tentang Selena yang hendak bekerja paruh waktu di cafe milik mereka dengan Lisa. Keesokan paginya Naga, Marco, Orson dan Primrose kembali ke Jakarta yang langsung bekerja di tempat mereka masing - masing ketika sedang tidak bertugas sebagai Abaddon. Sementara Selena datang ke cafe milik Thea untuk melakukan interview sesuai dengan yang direncanakan oleh Naga dan Thea kemarin malam....


“Selamat pagi Selena perkenalkan aku Thea dan ini Lisa!” kata Thea memperkenalkan diri sambil menunjuk Lisa yang tersenyum mengangguk menyapa Selena yang sudah duduk di depan mereka.


“Selamat pagi kak Thea, kak Lisa!” balas Selena sambil tersenyum ramah menatap Thea dan Lisa silih berganti.


“Secara garis besar aku dan Thea sudah mendiskusikan deskripsi pekerjaan kamu selama menjadi pekerja paruh waktu di cafe milik kami. Kita langsung saja kamu ingin dibayar berapa sebagai pekerja paruh waktu di cafe kami?” tanya Lisa sambil menatap Selena fokus.


“Kak Thea dan kak Lisa cukup membayarku seribu rupiah per tamu yang ada dan jika tamunya sudah di atas seratus orang kak Thea dan kak Lisa cukup membayarku seratus ribu perhari.” jawab Selena sambil tersenyum ramah penuh percaya diri.


“Cafe kami tidak setiap hari ramai sekalipun ramai belum tentu sampai diatas seratus orang loh!” kata Lisa mengingatkan berusaha menutupi keterkejutannya.


“Tidak masalah kak, bagiku kak Thea dan kak Lisa mau membayarku ketika aku bekerja paruh waktu disini juga sudah bersyukur.” jawab Selena sambil tersenyum ramah menatap Lisa dan Thea.


“Kalau begitu kamu bisa mulai bekerja hari ini!” kata Lisa sambil tersenyum bahagia menatap dan menjabat tangan Selena.


“Terima kasih kak Thea dan kak Lisa!” jawab Selena sambil tersenyum lega sambil menjabat tangan Lisa.


“Kak Thea apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Selena penuh harap.


“Ada apa Selena?” tanya balik Thea penasaran.


“Apakah kak Thea sadar bahwa kak Naga mencintai kak Thea?” tanya Selena sambil tersenyum bahagia menatap Thea yang membuat Thea dan Lisa terkejut.


“Apa Naga bercerita kepadamu tentang perasaannya?” tanya Lisa yang langsung menatap Selena penasaran.

__ADS_1


“Tidak sama sekali, kak Naga bersikap dingin kepadaku bagaimana mungkin dia mau menceritakan tentang perasaannya.” jawab Selena santai.


“Lalu bagaimana kamu tahu bahwa Naga masih mencintai Thea?” tanya Lisa semakin penasaran.


“Aku mungkin tidak mengenal kak Naga selama kak Thea ataupun kak Lisa, tapi ayahku cukup mengenal kak Naga dan aku pernah mendengar cerita tentang kak Naga dari beberapa orang. Kak Naga adalah orang yang dingin dan terkesan kejam karena tidak pernah menunjukan rasa belas kasihan, tapi kak Naga akan menampilkan sisi manusiawinya seperti kasih sayang dan perhatian kepada orang - orang yang berharga baginya.” jawab Selena penuh percaya diri.


“Kemarin untuk pertama kalinya aku melihat kak Naga tersenyum dan berbicara begitu ramah kepada kak Thea. Aku sangat yakin kak Thea bukan keluarga kak Naga, jadi satu - satunya alasan kenapa kak Naga bersikap seperti itu karena kak Naga mencintai kak Thea.” lanjut Selena penuh percaya diri.


“Bagaimana Thea?” tanya Lisa menatap Thea sambil tersenyum bahagia.


“Tentu aku senang mendengarnya, selama aku bisa terus mencintai, melindungi, menjaga, dan menjadi tempat Naga untuk pulang aku sudah sangat bahagia karena kebahagiaanku adalah setiap detik yang aku habiskan bersama Naga.” jawab Thea sambil tersenyum bahagia.


“Jangan bilang pesanan kak Naga kemarin adalah sebuah kode?” tanya Selena teringat pesanan Naga kemarin yang membuat dirinya terkejut.


“Maksudnya?” tanya Lisa kebingungan.


“Benarkah? Jadi yang kamu cerita bahwa Naga meminta Selena bekerja di cafe kita itu bukan lewat chat? Tapi kalian ketemu berdua kemarin malam?” tanya Lisa yang menatap Thea dengan tatapan tidak percaya.


“Iya.” jawab Thea sambil tersenyum bahagia.


“Wah ikatan batin kak Thea dan kak Naga benar - benar luar biasa sampai bisa membuat janji hanya bermodalkan pesanan makanan.” puji Selena sambil tersenyum kagum menatap Selena.


“Tunggu aku masih penasaran bagaimana Naga mengirimkan sebuah kode kepada kamu untuk bertemu kemarin malam dengan hanya memesan makanan?” tanya Lisa yang masih kebingungan dan penuh rasa penasaran.


“Ketika Naga memesan dia langsung bilang 1 americano itu artinya Selena yang datang bersamanya bukan seperti yang terlihat maksudnya bukan seorang kekasih meskipun mereka datang hanya berdua. Lalu Naga memesan pai stroberi untuk menunjukan tempat kita akan bertemu baru melengkapi pesanan americanonya dengan berkata 1 sendok teh kopi dan 2 sendok teh gula.” jawab Thea sambil menatap Lisa penuh percaya diri.

__ADS_1


“Satu sendok teh kopi dan 1 sendok teh gula maksudnya bahwa americanonya tidak memiliki arti lain dalam ajakan pertemuan Naga. Satu sendok teh lagi maksudnya dikombinasikan dengan pai stroberi dimana bentuk pai merepresentasikan suatu tempat terbuka yang luas. Sedangkan stroberi dan 1 sendok gula merepresentasikan bendera merah putih yang mengindikasikan suatu tempat kenegaraan di Surabaya.” jelas Thea sambil menatap Lisa.


“Monumen tugu pahlawan?” tanya Lisa memastikan.


“Iya betul.” jawab Thea sambil tersenyum manis.


“Jam nya?” tanya Lisa yang masih penasaran.


“Kamu tahu Naga selalu duduk di meja yang dekat dengan kaca tapi kemarin Naga duduk di meja nomer 7. Kemudian Naga meletakan nomer 7 nya di sebelah kanan garis lurus Naga yang maksudnya jam 7 malam.” jawab Thea sambil tersenyum bahagia penuh percaya diri diikuti tepuk tangan oleh Lisa dan Selena.


“Kalian benar - benar luar biasa!” puji Lisa dan Selena sambil bertepuk tangan kagum mendengar penjelasan Thea.


...


... Sejak mengetahui dokter Ruan adalah kakaknya Naga, Barnard selalu menyapa dengan penuh hormat kepada dokter Ruan setiap kali mereka bertemu. Ruan tidak curiga akan hal tersebut dan membalas sapaan Barnard dengan penuh hormat juga begitupun dengan Rizki yang sudah menjadi kakak ipar Naga. Pada siang harinya mereka makan siang bersama dalam satu meja termasuk Ruan, Rizki, Barnard beserta beberapa dokter dan perawat rekan kerja mereka....


“Dokter Leroy anda pernah bekerja di berbagai tempat dan berbagai kondisi pernahkah anda bertemu dengan suatu kasus dimana pasien mengalami kondisi yang tidak lazim?” tanya kepala perawat penasaran.


“Terlalu sering menemukan kasus yang tidak lazim pada akhirnya membuat kasus yang tidak lazim menjadi wajar ditemukan. Namun jika berbicara tidak lazim ada satu kejadian yang selalu menjadi posisi paling atas terkait kasus tidak lazim yakni aku pernah melihat 3 mayat yang dibunuh dengan menggunakan pensil.” jawab Barnard santai sambil menatap kepala perawat.


“Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Benar - benar menyeramkan, apakah itu ulah pembunuh berdarah dingin yang sangat kejam dokter Leroy?” tanya salah satu perawat penasaran dengan ekspresi ketakutan.


“Bukan, pelakunya adalah seorang penegak hukum yang bertugas dengan sangat baik dalam pekerjaannya. Tiga orang yang tewas karena sebuah pensil merupakan penjual senjata yang bertanggung jawab atas terjadinya konflik senjata api di sebagian besar tanah Afrika. Beberapa hari sebelum mereka tewas, mereka memperkosan sekurangnya dua puluh wanita dengan rentang usia 20 hingga 40 tahun.” jawab Barnard yang kembali sedih mengingat cerita tersebut.


“Pemerintah dan aparat setempat tidak menangkap para pelaku karena pelaku menjual senjata dan memilik anggota yang cukup banyak. Sehingga pemerintah khawatir jika mereka mengusut kasus tersebut korban yang jatuh akan semakin banyak. Mungkin sekitar 3 hari kemudian berita tersebut terdengar oleh seseorang yang langsung pergi ke sebuah bar tempat 3 orang ini biasa menghabiskan waktu malamnya. Tanpa basa basi dia membunuh 3 orang ini dengan pensil serta membunuh bawahan ketiga orang tersebut yang berusaha menyerangnya.” lanjut Barnard yang lega keadilan bisa ditegakan oleh orang tersebut.

__ADS_1


“Setelah melihat hal itu aku mengenal sang penegak hukum yang melakukan hal itu kepada tiga orang tersebut dan mengetahui reputasinya kepada manusia yang berperilaku seperti ketiga orang tersebut. Di dunia medis kita mengenal bahwa ketika seorang pasien berada di meja operasi maka pasien tersebut mempercayakan nyawanya kepada sang dokter. Hal itu berlaku juga untuk orang ini dimana ketika kita di medan perang dan dia menjadi orang yang mendampingi kita maka kita mempercayakan nyawa kita kepadanya, bahkan bersamanya adalah tempat paling aman yang pernah aku ketahui ketika sedang berada di medan perang.” tambah Barnard sambil tersenyum ramah menatap Ruan.


__ADS_2