ABANG KETEMU GEDHE

ABANG KETEMU GEDHE
BERTERIMA KASIH


__ADS_3

Seperti saran dari Hana di dalam percakapannya di telepon. Akhirnya Gisel memutuskan untuk memaafkan Marcel dari perbuatannya waktu itu. Gisel juga berencana untuk berterimakasih pada Marcel yang sudah menyelamatkan dirinya itu.


Sebaiknya besok aku berterimakasih secara khusus kepada bang Marcel, dia kan sudah menyelamatkan nyawaku. Tapi, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan bang Marcel..? aku nggak mau kalau harus datang kerumah bang Marcel.


Semoga bang Marcel berangkat ke sekolah naik bis, dengan begitu aku bisa berterimakasih padanya. Besok aku akan membuatkan roti isi sanwich atau nasi goreng untuk bang Marcel.


Sebelum tidur, Gisel sudah memikirkan cara untuk berterimakasih kepada Marcel yang belum sempat ia ucapkan dengan baik. Hal itu membuat Gisel merasa bersalah karenanya.


Paginya Gisel sengaja bangun lebih pagi. Ia pergi ke dapur dan meminta bantuan pembantunya untuk mengajarinya membuat Sandwich. Hal yang belum pernah dilakukan Gisel selama ini.


"Biar bibi saja non yang membuatkannya. Non Gisel duduk saja." Bik Inah berusaha untuk mengambil alih perkerjaan yang dilakukan majikannya itu. Apalagi baru kali ini nona mudanya mau membuat masakan sendiri.


"Tidak bik Inah. Gisel mau membuatnya sendiri. Bibi tolong ajari Gisel ya."


"Tapi non...."


"Nggak papa bik. Ini kan Gisel sendiri yang mau."


"Baiklah kalau begitu non."


Pagi itu Gisel baru tau caranya memggunakan pisau dan juga alat dapur yang lainnya. Gisel membuat Sandwich special dengan isian telur, keju, dan juga sosis. Gisel juga menambahkan daun selada, tomat, dan juga mayonise sebagai isiannya.


"Semoga bang Marcel Suka." Gisel melebarkan senyumnya saat roti isi itu sudah jadi.


Gisel berangkat ke sekolah dengan naik bus. Ia pergi ke terminal lebih pagi dari biasanya. Ia menunggu seorang yang tak kunjung datang.


"Kenapa bang Marcel tak kunjung datang, bisa-bisa nanti aku telat nih. Atau jangan-jangan bang Marcel ke sekolah naik sepeda motor atau mobilnya. Ya sudahlah, aku berangkat dulu saja."


Gisel berangkat sekolah dengan menelan kekecewaannya. Sandwich yang sudah ia buat dwngan susah payah kemudian ia berukan kepada sahabatnya Hanna.


"Nih buat kamu saja. Hari ini aku tidak bertemu dengan Bang Marcel." Gisel meletakan kotak bekal itu di depan meja Hanna dengan mengerucutkan bibirnya.


"Jangan cemberut gitu dong Gisel. Kan masih ada hari esok. Mungkin besok Marcel akan Naik bis juga. Ayo dong semangat..!!"


Hanna berusaha memberikan semangat kepada sahabatnya itu dengan memengang tangan Gisel dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Huum... Baiklah. Besok aku akan membuatkan Nasi goreng untuk bang Marcel. Semoga besok aku bisa bertemu dengannya."

__ADS_1


Hari esok pun tiba. Gisel bangun lebih awal dari kemarin. Karna pagi ini Gisel ingin belajar membuat Nasi Goreng. Mungkin hal itu membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang membuat roti isi.


Saking paginya, Bahkan bik Inah sedikit kaget. Karna ia juga baru saja bangun.


"Ya ampun non, kenapa bangun sepagi ini..? dan kenapa sudah nerada di dapur..? Ada yang bisa bibi kerjakan untuk non Gisel..?"


"Iya bik. Ajari aju bikin nasi goreng ya..!!"


"Baiklah non. Bibi ajari."


Gisel membuat nasi goreng itu dengan penuh perjuangan. Bahkan ia harus menangis tersedu-sedu saat mengiris bawang. Tangannya juga ikut terluka saat ingin memotong bawang yang dirasa begitu kecil-kecil dan cukup licin ditangan. Ditambah air mata yang menggenang dan begitu pedih, membuat Gisel jadi tak bisa fokus mengirisnya.


"Aww.. tangan aku ikut teriris bik, Sakit."


"Ya ampun non. sebaiknya bibi lanjutkan saja masaknya. Non Gisel duduk saja ya..!"


"Nggak papa kok bik. ini cuma luka kecil. Gisel masih bisa melanjutkannya."


Setelah luka Gisel diobati dan di plaster oleh bik Inah. Gisel melanjutkan memasaknya. Namun kali ini tugas memotong-motong dengan pisau di berikan kepada bi Inah. Gisel tinggal melanjutkan sisanya.


"Ah bibi, mau tau aja deh. Gisel kan belum punya pacar bik."


"Kalau begitu pasti untuk orang yang istimewa ya non..?"


"Apaan sih bik. Bibik kepo banget deh. Ini itu buat bang Marcel. Bibi sudah kenal kan..? cowo yang sering main kerumah ini..?"


"Ya kenal lah non. Den Marcel itu orangnya baik lho non. Ganteng lagi. Kenapa non Gisel nggak jadi pacarnya Den Macel saja..?"


"Tuh kan bik Inah mulai ngelantur lagi. Mana mungkin lah bik. Bang Marcel itu udah Gisel anggep seperti abangnya Gisel sendiri."


"Huum.. Padahal bibik setuju banget tuh non, kalau non Gisel pacaran sama Den Marcel. Tapi masak sih non, Gadis secantik non Gisel belum punya pacar. Kalau bibik punya anak cowo seumuran sama non Gisel pasti dia sudah jatuh hati sama non Gisel."


"Ah bibi ini, mulai ngawur bicaranya. Udah ah, Gisel mau siap-siap berangkat sekolah. Nanti bisa-bisa Gisel telat gara-gara keasyikan ngobrol sama bibik."


Gisel kemudian berlalu meninggalkan dapur dan segera mandi, bersiap-siap untuk berangkat kesekolah.


Ibunya juga cukup heran dengan tingkah anaknya akhir-akhir ini. Namun karna yang dilakukan Gisel itu baik. Jadi ibu Liliana juga tak melarang putri kesayangannya itu.

__ADS_1


Sungguh kurang beruntung nasib Gisel. Kali ini Marcel juga tak berangkat sekolah naik bis. Namun ia malah bertemu dengan Alfa.


"Gisel, Bagaimana kabarmu..? Apakah kamu sudah baik-baik saja..?"


"Ah iya Alfa, Aku sudah baikan kok."


"Oh iya Gis, apakah nanti sehabis pulang sekolah kamu ada waktu..? Aku ingin menunjukan sesuatu kepadamu."


"Eem bisa kok. Memangnya apa yang ingin kamu tunjukan padaku."


"Sudahlah, pokoknya nanti sore aku jemput kamu ya..!! Nanti kamu juga akan tau."


"Ba.. baiklah kalau begitu."


Gisel menjawab dengan sedikit terbata-bata. Ia merasa begitu senang Alfa mengajaknya bertemu nanti sore. Nahkan Alfa akan menjemputnya ke rumah.


"Oh iya Alfa, tumben bang Marcel nggak berangkat sekolah bareng kamu. Dia nggak papa kan..? "


"Oh Marcel, Akhir-akhir ini sepertinya dia berangkat dengan motornya. Dia sedang disibukkan dengan kegiatan pecinta alamnya. Sepertinya Marcel juga pulang lebih sore. Jadi mungkin ia memilih untuk bersepeda motor."


"Hemm begitu ya. Apakah aku boleh minta tolong padamu Alfa..??"


"Minta tolong..? Apa..?"


"Titip nasi goreng ini untuk bang Marcel bisa kan..? Tolong ucapkan kepadanya ini sebagai ucapan terimakasihku, karna kemarin dia sudah menolongku."


"Baiklah. Bukan hal yang sulit. Nanti pasti aku akan memberikannya kepada Marcel."


"Trimakasih ya Alfa."


"Sama-sama."


Untuk pertama kalinya Gisel dan Alfa duduk bersebelahan di dalam bis. Mereka mengobrol cukup lama.


Sepertinya Alfa mulai tertarik dengan gadis itu. Walaupun penampilannya tak seperti mantan-mantannya yang super seksi dan berdandan full make up. namun, jika diperhatikan dengan jelas, Gisel sebenarnya tampak begitu cantik dan manis.


《《To Be Continued》》

__ADS_1


__ADS_2