
Akhirnya acara kemah bersama itu datang juga. Gisel sudah menyiapkan segala keperluannya semalam.
Pagi itu Gisel berangkat dengan diatar pak totok, supir keluarganya. Gisel juga menjemput Hanna terlebih dulu sebelum ia berangkat ke tempat perkemahan itu.
Ada lima orang perwakilan dari sekolah Gisel, termasuk dirinya dan juga Hanna. Sedangkan Anisa, Zahra, dan Nabila berangkat dengan satu mobil lainnya.
Setiba di kokasi, Gisel dan teman-temannya menuju ke stand registrasi. Disana mereka mendapatkan nomor dimana mereka akan mendirikan tenda.
"Blok K. 31, ah ini dia." Gisel menunjuk palang patok yang memuat keterangan itu didalamnya.
"Ayo! kita sebaiknya segera mendirikan tenda."
"Iya Gis, ternyata sudah banyak juga yang datang lebih awal dari kita. Kira-kira Marcel dan kawan-kawannya sudah datang bekum ya?" Tanya Hanna kepada Gisel.
"Huum, entahlah. Sedari tadi aku melihat kesekekiling tapi belum melihat mereka. Semoga saja tendanya tak jauh dari tempat kita."
Kelimanya mulai mendirikan tenda yang diberikan oleh panitia tadi sewaktu di tempat registrasi. Ternyata tendanya bukanlah tenda yang sudah otomatis tinggal pasang saja.
Mereka harus menggunakan tongkat untuk tiang pancang. dan tali hasduk sebagai pengikatnya.
"Kenapa tanahnya keras banget ya Gis. Bahkan besi patok saja tak mempan ditancapkannya." Zahra mengeluh dan meminta tolong Gisel untuk membantunya.
Gisel kemudian mencoba membatu dan memukul besi patok dengan palunya.
"Eh ternyata keras beneran ya. Haduh gimana ini. Kenapa orang-orang itu bisa mendirikan tendanya ya." Gisel tak gentar mencoba memukul lebih keras besi itu.
"Bukan begitu caranya, tentu saja kamu akan kesusahan jika seperti itu."
"Eh suara itu, bang Marcel. Bantu kami pasang tendanya dong. Hu hu hu dari tadi kami kesusahan mendirikannya."
"Iya-iya. Sini palunya! biar abang tunjukin caranya. Aku tunjukin cotohnya saja ya. Nanti kamu harus bisa melanjutkannya. Soalnya abang juga baru datang. Masih harus mendirikan tenda juga."
"Baiklah kalau begitu. Tenda abang dimana?"
"Huum sepertinya tepat di belakang tenda kalian," Jawab Marcel sambil menunjukan nomor yang ia bawa. Disana tertulis Blok K no. 41 yang letaknya memang di belakang tenda Gisel.
"Asik. Kebetulan sekali."
Marcel kemudian mengambil air dan menuangkannya ke tempat dimana ia akan memasang patok pancangnya.
__ADS_1
"Astaga, kenapa kita tidak kepikiran dari tadi ya. Dengan begitu kan kita sudah selesai bangun tendanya dari tadi."
Memang benar tanangnya menjadi sedikit lunak dan memudahkan untuk menancapkan besi itu.
"Nah sudah, gampang kan? Kalian lajutkkan lagi ya. Abang juga akan mulai mendirikan tenda."
"Ok bang trimakasih."
Akhirnya sesi mendirikan tenda itu selesai juga. Gisel kemudian menoleh ke tenda milik Marcel yang berdiri sangat rapi. Mereka juga membuat rak sepatu sederhana dari bilah bambu. Rak piring di bagian dapur dadakanya. Mereka hampir memanfaatkan semua alat dan bahan yang diberikan kepada mereka. Sangat berbeda dengan tenda Gisel yang sangat sederhana.
"Ya ampun bang. Rapi banget sih tenda kalian. Aku mau juga dong dibuatkan rak seperti itu. Aku juga ingin membuat dapur seperti punya kalian. Bantu kami ya bang!"
"Hah kamu ini menyusahkan saja. Ayo Alfa kita bantu Gisel dan Hanna sebentar. Lagi pula waktu untuk mendirikan tenda juga masih tersisa sepuluh menit lagi."
"Ah baiklah. Apapun akan kulakukan untukmu Gisel." Jawab Alfa yang sebenarnya sama sekali tak tahu menuhu soal kepramukaan dan mendirikan tenda.
Akhirnya Marcel dan Alfa menyempatkan waktunya untuk menbatu Gisel dan teman-temannya
Tentu saja tenda Gisel bisa sebagus dan serapi sekarang itu karna campur tangan Marcel yang banyak membantunya. Sedangkan Alfa hanya sedikit membatu mengambilkan peralatan yang Marcel butuhkan.
Mata Gisel tak lepas dari Marcel yang terlihat sangat serius dengan pekerjaannya. Tak sedikit peluh yang menetes dari wajahnya.
"Trimakasih Gisel." Marcel menenggak habis semua air dalam botol itu.
"Eh Marcel aja nih yang diambilin minum, aku nggak? ya walaupun cuma dikit, tapi aku kan juga ikut bantuin." Alfa juga datang dan merengek seperti anak kecil.
"Iya, aku juga ambilin buat kamu kok. Nih." Gisel kemudian menyodorkan botol yang satunya lagi kepada Alfa.
"PENGUMUMAN: KEPADA SELURUH PESERTA, DIMOHON SEGERA BERKUMPUL DILAPANGAN UNTUK MENGAMBIL JATAH MAKANAN."
Mendengar pengumuman itu seluruh peserta langsung berlari dan berbaris dengan rapi di lapangan. Tenyata disana mereka harus bermain game agar bisa mendapatkan bahan makanan.
Setiap kelompok harus mencari sendiri bahan makanan yang sudah disembunyikan oleh panitia di bukit yang terletak di samping perkemahan itu.
Mereka hanya diperbolehkan mengambil lima bahan makan yang berbeda-beda jenisnya. Jika mereka menemukan bahan makanan yang sama, mereka harus menyembunyikan lagi di tempat yang berbeda.
Jika sudah mendapat lima bahan yang berbeda, mereka baru bisa kembali ke panitia untuk mengambil peralatan masak yang disediakan. Mereka juga tidak boleh bekerjasama dengan kelompom lain. Jika ketahuan maka hak makanan itu akan disita paniti dan mereka tidak dapat jatah makan siang.
Memang sudah di beritahukan sebelumnya jika mereka tidak boleh membawa bahan makanan dari rumah kecuali air mineral saja.
__ADS_1
Dalam game kali ini mereka juga harus pintar-pintar memilih bahan makanan yang mereka ambil. Agar semua anggota kelompoknya bisa makan dengan kenyang dan bahan itu juga bisa diolah dengan baik.
"DALAM HITUNGAN KETIGA SETIAP KELOMPOK HARUS BERLARI KE BUKIT DAN MENCARI BAHAN MAKANAN."
"SUDAH SIAP? SATU, DUA, TIGA"
Setiap kelompok yang terdiri dari lima orang anggota itu berhamburan berlari ke bukit dan menyusuri setiap tempat yang berpotensi untuk menyembunyikan bahan makanan yang mereka cari.
Sitidaknya Tiga Puluh kelompok dari sekolahan yang berbeda ikut dalam acara itu. Mereka juga harus berlomba dengan waktu agar mereka juga mendapat waktu yang cukup untuk mengolah dan memasak makanan untuk kelompok mereka sendiri.
Panitia tidak menanggung jika kelompok mereka hanya mendapat beberapa bahan makanan saja. yang jelas setiap kelompok harus saling bekerjasama dan memikirkan seluruh anggotanya agar bisa makan kenyang semua. Jika jam makan siang sudah berakhir dan mereka belum selesai, panitia juga tidak mau menanggungnya.
"Ayo Gisel, kita harus segera bergegas agar mendapatkan bahan makanan yang kita inginkan."
"Iya. Benar juga, kita harus semangat. Ayo semuanya kita cari dengan sungguh-sungguh."
Gisel, Hanna, Anisa, Zahra dan Nabila mulai mencari ke balik pepohonan di balik rerumputan, di ranting-ranting pohon, di balik batu dan semak-semak belukar, tapi mereka belum juga menemukan bahan makanan di perbukitan yang cukup luas itu.
"Hah kenapa susah sekali menemukannya." Keluh Zahra sambil mengelap keringat didahinya.
"Ayolah Zahra, Semangat. Mungkin kita belum teliti dalam mencarinya," Ucap Hanna memberi semangat.
"Iya deh. Aku ciba cari lagi."
"Nah. Gitu dong, Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk kelompok kita." Imbuh Gisel membakar semangat kelompoknya.
Mereka berusaha mencari lagi ke tempat-tempat yang lain.
"Eh coba lihat kotak hitam di dalam sungai itu. Aneh kan, kenapa kotak itu ditindih oleh batu. Mungkin saja didalamnya ada bahan makanan yang kita cari. Ayo coba kita cek." Ucap Gisel sambil menunjuk ke arah kotak yang dimaksud.
"Aliran sungainya cukup deras. Sebaiknya kita saling bergadengan tangan agar kita cukup aman mengambilnya," Ucap Gisel memberi instruksi.
"Iya aku setuju. Karena tubuhku yang paling besar dan kuat aku yang akan terap di pinggir sungai sebagai pegangan kalian," Tutur Nabila yang merasa dirinya akan mampu menahan teman-temannya yang akan masuk ke sungai.
Dengan kerjasama yang solid, akhirnya mereka bisa mengambil kotak yang ada di dasar sungai itu. Mereka membawanya ke darat dan membukanya.
"Wah isinya singkong," celetuk Hanna yang membuka kotaknya.
"Lumayan juga nih. Ayo kita cari bahan lainnya." Ajak Gisel tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada.
__ADS_1
《《To Be Continued》》