
Keempat remaja itu begitu serius memperhatikan vidio cara membuat pancake di layar televisi.
"Hayuk mulai saja. Hanna, kamu mixer putih telurnya ya! Alfa, kamu bagian siapin teflon ya! panasin dulu aja di atas kompor. Bang Marcel ayak tepungnya, sementara aku akan mengocok kuning telur dan terigunya."
Sudah layaknya seorang ketua mavia, Gisel memberi instruksi teman-temannya. Karna memang mereka semua belum pernah bikin pancake. Alhasil mereka turuti saja semua perintah dari Gisel.
Muncul niatan usil dari Marcel yang sedang mengayak tepung.
"Bang Marcel udah belum ayak tepungnya? gitu aja lama banget sih. Ini kuning telurnya udah aku kocok. Ayo cepat buruan."
"Iya-iya ini sudah siap kok."
Marcel memberikan ayakan tepung itu kepada Gisel. Namun ia juga mengambil sedikit tepung itu dan mengoleskannya di pipi Gisel.
"Nih buat bedakan, biar tambah cantik."
"Ih bang Marcel, Jail deh." Gisel igin membalasnya tapi Marcel dengan gesit pergi menghindar.
"Awas ya! Lihat saja nanti."
"Hei hei hei. Teflonya udah panas nih. Udah aku oles mentega juga. Ayo mana adonannya?" Alfa yang cemburu dengan kedekatan mereka, berusaha membuat Gisel fokus kembali pada pekerjaannya.
"Putih telurnya juga udah ngembang nih. Sampek putih berjejak."
"Oh iya-iya. Gisel kembali ke jobdesk nya. Ia kemudian mencampurkan adonanya dengan telur yang di mixer Hanna. Ia juga menambahkan susu cair, sedikit garam dan vanili."
"Adonannya siap" Gisel membawa adonan itu ke pada Alfa.
"Aku tuang ke teflon ya. Kamu yang bagian bolak-balik biar nggak gosong. "
"Siap bos."
Semua adonan telah habis. mereka menata pancake itu di piring saji dan menuangkan sedikit syrup maple, coklat leleh dan di atasnya mereka beri toping satu scop eskrim.
"Heem kayaknya enak nih. Kita foto dulu ya! lumayan untuk konten instagram."
"Humm dasar manusia dunia maya." Marcel geleng-geleng melihat dua gadis yang begitu antusias berfoto itu.
"Hehehe nggak papa dong. Ngikutin jaman loh. Ayo kita ambil foto bersama juga. Di timer ya."
Gisel kemudian meletakkan ponselnya di atas meja untuk memfoto mereka.
"Gisel dengan membawa pancakenya. Hanna dengan sup buah yang sudah mereka buat juga sebelumnya. Marcel berdiri di belakang Gisel dan menaruh tangannya di atas kepala Gisel. Hal Itu membuat Gisel seperti mempunyai sepasang tanduk. Sementara Alfa, berdiri di belakang Hanna dengan wajah konyolnya."
Satu, Dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan.
Cekrek.
"Ayo sini-sini coba kita lihat bagaimana hasilnya."
__ADS_1
Gisel mengambil ponselnya dan melihat foto di galeri.
"Astaga, bang Marcel. Kau ini usil sekali."
Hana juga ikut menggerutu kepada Alfa yang sengaja membuat wajah jelek untuk mengerjai nya.
Tadinya Hanna memang begitu tak suka kepada Alfa, namun setelah ia bertemu langsung dan sedikit bersenda gurau ia juga bisa sedikit memakluminya. Hanna tak lagi begitu anti atau ilfeel kepada laki-laki. Semua ini berkat Gisel yang mengajaknya datang kerumah.
Mereka bersenda gurau sambil menikmati pancake dan sup buah yang mereka buat.
"Heem yummi. Enak juga ya ternyata pancake buatan kita. Kapan-kapan kita masak bareng lagi ya! kayaknya seru. Misal barbeque an gituh." Alfa yang jarang bergaul dengan cara seperti itu merasa begitu senang. Kebahagiaan itu berbeda, tidak seperti saat Alfa bergaul dengan teman-teman clubingnya."
Hari semakin sore. Langit juga semakin gelap. Liliana baru saja pulang dari kantornya.
"Hi semua. Selamat sore. Wah kelihatannya lagi pada asyik ngumpul nih?"
"Sore tante Lia, hehehe buat seru-seruan aja tan," Saut Marcel yang masih memegangi gitar di tangannya. "
"Eh Ibuk sudah pulang ya. Kenalin mah ini teman Gisel namanya Alfa. Dia baru pertama kali kesini."
"Wah ternyata teman kamu ganteng-ganteng semua ya nak. Berungtung sekali kamu."
"Hanna nggak dianggep nih tan? Gisel kan juga beruntung punya teman secantik aku." Hanna menyaut dengan argumennya.
"Tentu saja Hanna, tante bahkan sudah menganggap Hanna seperti anak tante sendiri."
" Oh iya, nanti kalian makan malam bareng disini saja ya. Tante akan siapkan masakan yang enak untuk kalian."
"Yey Asik." ~Hanna.
"Jadi ngerepotin tante dong."~Marcel
"Trimakasih banyak tante."~Alfa.
"Ya sudah, tante masuk dulu ya! Lanjutkan saja keseruan kalian. Tante mau mandi dulu."
Liliana kemudian meninggalkan Gisel dan teman-temanya yang sedari tadi sedang asyik bernyayi bersama dengan diringi petikan gitar. Ia menuju kamarnya untuk mandi dan melepas penatnya setelah seharian bekerja.
"Oh iya tante Lia, silahkan."
"Ibumu baik juga ya Gis. Super ramah," Tutur Alfa sambil memetik gitarnya.
"Ayo kita nyanyi lagi! Mau ganti lagu apa nih? "
"White Lion, When the childeen cry" saut Hanna kemudian.
Alfa dan Marcel berkolabirasi memainkan gitarnya.
Mereka bernyanyi dengan begitu menghayati lagunya.
__ADS_1
"Bang Marcel ternyata jago main Gitar juga ya. Kenapa abang nggak ikut gabung dengan band nya Alfa saja. Pasti abang juga bakalan se popular Alfa yang selalu dikerumuni fansnya." Ucap Gisel dengan memberikan tepuk tangannya.
Gisel ternyata sedaritadi terpesona dengan permainan Gitar Marcel. Ia tak menyangka abangnya itu juga nggak kalah piter mainin alat musik petik itu.
Selama ini Gisel selalu mengagumi sosok Alfa yang sangat lihai memankan alat musik gitar,biola,dan drum. Gisel juga sering bela-belain nonton konsernya Alfa saat sedang manggung.
Tapi, entah kenapa sore itu Gisel justru dibuat terkagum-kagum oleh Marcel.
"Elah Gis. Kamu kan tau sendiri, Marcel itu tak menyukai keramaian. Aku sudah berkali-kali mengajaknya ngeband. Tapi tetap saja hasilnua nihil."
"Hehehe, aku nggak mau dikejar-kejar fans fanatik. Mereka itu menyusahkan saja. Mendingan aku naik Gunung dan menikmati keindahan alam dari ketinggian."
"Huum, Sesekali Gisel juga pengen ah naik Gunung. Tapi kira-kira Ibuk nhijinin nggak ya?"
"Wah ide bagus tuh. Aku juga sesekali pengen ah mendaki Gunung. Sahabatku ini sudah ratusan kali menemaniku saat konser. Kali ini aku juga ingin menemaninya mendaki. Boleh kan Cel?"
"Tentu saja boleh. Aku pasti sangat senang jika kalian bisa ikut mendaki."
"Bagaimana kalau nanti saat makan malam aku minta ijin ke ibuk. Bantu aku ya!! dan kamu Hanna, kamu pasti juga akan di perbolehkan ikut jika pergi bersamaku."
"Wah ide yang bagus tuh. Setuju." Ucap Hanna yang juga bersemangat bisa pergi dengan sahabatnya itu.
"Aku juga setuju." Saut Alfa yang ingin mencari kesempatan agar lebih dekat dengan Gisel.
Selama ini Alfa memang tak pernah naik Gunung. Ia lebih suka ngeband dan pesta-pesta dengan temannya yang lain.
"Baiklah, kalau begitu aku ngikut saja rencana kalian." ucap Marcel menyetujui teman-temannya.
"Oh iya bang, besok tanggal 3 April ada kegiatan kemah bersama se kabupaten. Abang pasti kepilih jadi perwakilan sekolah kan?"
"Tentu saja. Aku kan ketua Mapala, Apa kamu juga pergi kesana Gis?"
"Iya. Aku dan Hanna juga ikut."
"Wah kebetulan sekali, pasti seru bisa keremu kalian lagi disana. Tapi aku juga masih mencari dua anggota lagi untuk melengkapi timku nanti."
"Kalau begitu ajak aku saja Marcel. Aku juga mau ikut kegiatan itu." Alfa tertarik dengan acara itu karna ada Gisel juga disana. Tentu ia tidak akan melewatkan kesempatan itu."
"Kamu yakin Alfa? Kamu kan dari dulu nggak pernah ikut kegiatan seperti ini."
"Iya, aku serius kok. Lagi pula disana kan juga ada kalian bertiga. Sepertinya sekarang aku mulai nyaman dengan kalian semua. Sesekali aku ingin merasakan serunya kegiatan pramuka."
"Ya sudah kalau begitu, aku akan memasukan namamu kedalam timku." Saut Marcel yang sebenarnya sudah tau jika itu adalah strategi Alfa untuk mendekati Gisel.
Seperti rencana mereka sebelumnya. Gisel meminta ijin kepada ibunya untuk ikut dengan Marcel saat mendaki Gunung. Tak disangka ternyata Liliana mengijinkannya.
Kemudian Gisel juga meminta bantuan kepada Ibunya agar ia bisa memintakan injin juga untuk Hanna. Tentu saja agar orang tua Hanna mempeebolehkan putrinya ikut Hiking.
《《To Be Continued》》
__ADS_1