
Setelah menemukan gaun yang pas, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk kembali kerumah Marcel dengan melewati jalan yang berbeda saat mereka pergi.
"Bang.. Beli eskrim dulu yuk!! aku pengen yang seger-seger nih."
Kemudian Marcel dan Gisel masuk ke supermarket memilih eskrim yang mereka sukai. Gisel dengan eskrim Durian dan Marcel dengan Eskrim Vanila.
Mereka berjalan dengan makan eskrim di sepanjang perjalanan.
"Aku yakin besok kamu akan jadi pusat perhatian di pesta itu Gisel, bahkan mungkin Alfa akan memilihmu menjadi pasangan dansanya."
"Apa..? Dansa..? Kenapa bang Marcel tidak memberitahuku dari kemarin..? Aku kan belum pernah berdansa bang. Bagaimana ini..?"
"Mudah saja, kamu tinggal lihat vidio diyoutube dan mempraktekannya. Gampang kan..?"
"Tapi aku benar-benar belum pernah berdansa bang, bagaimana kalau nanti aku melakukan kesalahan. Pasti akan sangat memalukan. Ajari aku berdansa ya bang. Please..!! Setidaknya aku bisa berlatih dengan benar jika ada pasangannya."
"Kau ini, selalu saja menyusahkanku. Aku mau istirahat. Capek."
"Bagaimana kalau sebagai imbalannya aku akan membelikan voucher data untuk ngegame. Ayo lah bang. Ajari aku!! ya.. ya.. ya..!!"
"Baiklah kalau begitu aku setuju."
Sesampai di rumah, Gisel mencari alunan musik yang pas untuk berdansa, kemudian memutar musik itu keras-keras
Marcel sudah berdiri, bersiap memberi kelas dansa untuk Gisel.
"Tunggu bang, Aku ganti baju dengan gaunku dulu. Aku kan harus menjiwai ketika berdansa nanti."
"Hah kau ini, begitu bersemangat dan totalitas jika sudah menyakut dengan Alfa. Sudahlah terserah kamu saja. Cepatlah..!! Aku tidak mau menunggu terlalu lama."
Gisel kemudian mengganti bajunya dengan gaun yang telah ia beli. Gisel juga mengenakan high heels dan berdandan minimalis memakai bedak dan lipstik yang ada dilalam tasnya.
"Sepertinya akan lebih cocok jika aku menggerai rambutku saja." Gisel kemudian melepas ikat rambut di kepalanya dan menyisir rambutnya."
"Aaaaaa kenapa Gisel jadi cantik sekali." Marcel hampir terjatuh ke belakang saat melihat Gisel keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Bagaimana bang..? apakah penampilanku sempurna..? Apakah temanmu itu bisa jatuh cinta padaku jika aku berdandan seperti ini.?"
"Entahlah, aku juga tidak tau. Aku tak yakin Alfa akan menyukaimu walau kamu sudah berdandan dan terlihat cantik. Karna sebenarnya Alfa itu..."
"Alfa kenapa bang..?" Gisel begitu takut jika apa yang dipikirkan selama ini tentang Alfa adalah sebuah kebenaran.
"Sudah lah lupakan saja."
"Alfa kenapa bang..? cepat katakan padaku..!! apa abang mau membuatku mati penasaran..?"
Marcel menatap Gisel dengan keraguan dihatinya, apakah ia akan mengatakan yang sebenarnya kepada gadis itu.
"Apa kamu yakin ingin mendengarnya..?"
"Tentu saja." Gisel memohon dengan penuh harap.
"Sebenarnya Alfa itu suka sama cewek yang nakal dan jago kissing. Selama ini aku tidak pernah mau mengatakannya padamu karna aku tak mau kamu jadi cewek yang nggak bener."
Dengan pesona Alfa yang membuat banyak gadis terpikat itu membuat Alfa jadi gelap mata. Alfa sering pergi clubing, bergonta-ganti pacar hanya untuk memuaskan jiwa mudanya. Alfa merasa tidak pernah puas hanya dengan satu gadis. Walaupun demikian sebenarnya Alfa belum pernah sampai ML dengan setiap pacarnya. Alfa janya ingin mencari sosok gadis yang bisa membuat hatinya bergetar.
Gisel bernapas lega karna anggapan tentang Alfa yang selama ini mengganggu pikirannya tidak jadi kenyataan. Tapi Gisel juga merasa kecewa mendengar kenyataan yang sebenarnya.
"Astaga bang, aku merasa lega mendengarnya. Aku kira Alfa itu homo." Gisel mengelus dadanya sendiri.
Marcel tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Gisel.
"Sekarang harapanku sudah pupus, sepertinya aku tak akan jadi kekasinya Alfa. Aku kan anak yang begitu polos, pacaran saja belum pernah. Apalagi ciuman."
"Makanya kan abang juga sudah bilang dari dulu."
"Atau aku belajar ciuman saja sekarang. Ajari aku ya bang..!!"
Mata Marcel terbelalak sempurna. Ia begitu kaget dengan kata-kata yang diucapkan Gisel.
"Kamu bercanda ya. Ciuman itu dilakukan dengan penuh perasaan. Mana bisa dibuat bercandaan. Apalagi sampai pelajaran ciuman. Mana ada, kau ini ada-ada saja. Aku menolak untuk membantumu kali ini."
__ADS_1
"Iya-iya. Aku tau, aku kan hanya ingin tau ciuman itu seperti apa."
"Dasar bucin. Ayo jadi latihan berdansa tidak..? sebelum moodku hilang dan memilih untuk berenang saja."
Marcel kemudian menyalakan kembali musik dansa dari ponselnya. Terlebih dulu Marcel memberi contoh kepada Gisel bagaimana gerakannya.
Gisel berlatih begitu serius, ia mengikuti setiap intruksi yang diberikan Marcel kepadanya. Tak butuh waktu lama, akhirnya Gisel bisa mengikuti setiap gerakan dengan begitu anggun. Akhirnya mereka terhanyut dalam alunan musik dansa.
Begitu dekat, begitulah kata yang menggambarkan situasi untuk mereka berdua saat ini.
Mereka saling tatap, Entah apa yang ada di dalam hati dan pikiran mereka saat ini. Yang pasti tak ada rasa canggung diantara mereka berdua walaupun wajah mereka begitu dekat.
Kini mereka terbuai dengan suasana yang semakin romantis, Marcel tak dapat menahan hasrat yang telah memuncak di dalam hatinya. Laki-laki itu mendaratkan ciumannya dibibir Gisel. Suasana jadi begitu hening, mereka berdiri terpaku tak lagi mengikuti alunan musik yang mendadak sirna ditelinga mereka.
Marcel mencium bibir Gisel dengan begitu lembut. Sedangkan Gisel terlihat menikmati setiap kecupan bibir Marcel yang terasa begitu hangat dan penuh perasaan, hingga tak sadar mata mereka terpejam bersamaan dengan hasrat yang semakin menggebu.
Semua anggapan abang dan adik sepertinya tak berlaku kali ini. Entah mengapa Gisel mendadak amnesia dan melupakan semua prinsip yang menggangunya selama ini.
Yang Gisel tau saat ini, pria yang sedang menciumnya adalah pria yang selalu ada untuknya. pria yang selalu menemaninya dan selalu mendukung apapun yang Gisel inginkan.
"Haruskah aku menolak ciuman ini dan bilang tidak, tapi kenapa hati ini berkata lain. Hatiku terus meronta menemukan jalannya sendiri."
Walaupun Gisel belum pernah ciuman, tapi ia belajar dari setiap serangan yang Marcel beeikan. Dan Entah dapat bisikan dari mana Gisel akhirnya membalas ciuman dari Marcel.
Marcel sempat tak percaya Gisel membalas ciumannya. Ia membuka matanya dan melihat gadis yang masih terpejam itu sepertinya begitu menikmati luapan perasaannya.
Marcel memejamkan kembali matanya. Mereka berciuman dengan begitu lama, seolah mereka ingin menumpahkan semua isi hati mereka.
Tangan Marsel merengkuh tubuh Gisel dengan pelukan hangatnya. Tanpa sadar tangannya bergerilya menuruti kemauan hasratnya. Saat tangannya menyentuh benda bulat yang begitu empuk disitulah Gisel terbelalak dan membuka matanya, ia reflek menjauhkan tubuhnya dari Marcel.
Marsel jadi tersentak ikut kaget. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Kini suasana berubah jadi begitu kikuk. Lebih hening dari tengah malam yang mencekam.
《《 To Be Continued》》
__ADS_1