ABANG KETEMU GEDHE

ABANG KETEMU GEDHE
RINDU


__ADS_3

Malam itu Gisel baru saja selesai mengerjakan PR nya. Gisel juga sudah menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari. Semua sudah tertata rapi didalam tasnya.


"Semua sudah siap. Sepertinya aku langsung tidur saja deh. Semoga besok bang Marcel ke sekolah naik bis, jadi aku bisa bertemu dengannya."


Gisel yang sudah berbaring di kasurnya tersenyum sendiri membayangkan besok pagi bisa berangkat sekolah bersama dengan Marcel. Sampai-sampai gadis itu tak sadar memeluk guling sambil ketawa sendiri mirip orang yang kurang waras.


"Astaga Gisel, kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa aku jadi mikirin bang Marcel terus ya? Bahkan sepertinya aku sekarang begitu kangen dan rindu kepadanya. Padahal baru beberapa hari tidak bertemu."


Gisel mendadak merasakan kesedihan didalam hatinya. Ia merasa kehilangan dan kesepian. Akhir-akhir ini sepertinya Marcel menghindar darinya. Sepertinya Marcel masih merasa tak enak hati dan masih merasa bersalah dengan tindakannya waktu itu.


Biasanya Marcel akan berkali-kali mengirim pesan singkat untuk Gisel. Entah itu hanya untuk memastikan Gisel sudah makan atau belum, Menanyakan PR sudah dikerjakan atau belum, menanyakan sudah ngantuk atau belum, dan masih banyak sekali hal-hal kecil yang begitu diperhatikan pemuda tampan itu untuk Gisel.


"Apa aku kirim pesan dulu saja ya, kepada bang Marcel. Tapi aku kan malu kalau ketahuan aku merindukannya. Tidak-tidak aku tidak boleh menghubunginya."


Gisel kemudian mengurungkan niatnya dan hendak meletakan ponselnya kembali di atas meja.


"Oh iya, aku kan masih punya beberapa foto bang Marcel saat survey kemarin."


Gisel tak jadi menaruh ponselnya. Ia membuka Galeri dan mencari foto-foto kenangan saat dirinya ikut survey ke bumi perkemahan waktu itu.


"Bang Marcel itu sebenarnya Ganteng, dia juga baik hati kepada semua orang. Perhatiannya kepada teman-temannya memang tak diragukan lagi. Beruntung sekali aku bisa dekat dan mempunyai abang seperti dia."


Gisel memperhatikan satu-persatu foto Marcel dengan begitu seksama. Ada juga foto saat Marcel mandi bersama teman-temannya dibawah air terjun. Foto itu adalah hasil jepretan Gisel yang sengaja mengambil foto Marcel secara diam-diam.


"Bang Marcel, kenapa aku jadi begitu merindukanmu? aku sangat takut jika harus kehilanganmu. Aku suka sekali menggantungkan berbagai masalahku kepadamu. Kamu pasti akan selalu membantuku. Tapi sekarang, Aku merasa jauh darimu."


"Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa dekat kembali denganmu seperti dulu lagi."


Gisel kemudian berusaha mengingat kembali kejadian yang membuat abangnya itu merasa bersalah dan akhir-akhir ini menghindar darinya.


Entah mengapa Gisel malah teringat dengan adegan ciuman itu. Ciuman pertamanya yang membuat jantungnya mendadak jadi begitu berdebar. Bahkan sampai saat ini Gisel masih bisa merakan getaran di hatinya. Sebuah kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sangat berbeda dengan kehangatan yang diberikan seorang ibu kepada anaknya.


Yang Gisel tau, waktu itu ia merasa begitu nyaman. Rasa yang membuatnya seperti berpindah ke alam lain yang begitu indah seperti di negeri dongeng.


Gisel memang gadis yang masih begitu polos, seorang gadis yang tadinya mengira ciuman itu hanya sekedar kecupan di bibir seperti saat ibunya memberikan kecupan di dahinya saat ingin tidur.


Tapi ciuman yang diberikan Marcel saat itu begitu berbeda dan sangat jauh dari bayangannya selama ini.

__ADS_1


Kecupan Marcel dibibirnya itu begitu lama dan disertai dengan lumatan lembut dan tarian lidah di dalam mulutnya. Awalnya Gisel sangat terkejut dengan semua itu. Namun, hatinya membimbingnya untuk menikmati setiap luapan emosi cinta yang menggairahkan itu.


Ciuman yang sepertinya dipenuhi dengan hasrat yang begitu menggebu. Kecupan yang bisa membangkitkan keinginan untuk semakin memiliki dan melampiaskan semua nafsu didalam diri.


Gisel memejamkan matanya berusaha untuk tidur, namum bayangan itu selalu mengganggunya.


Rasa rindunya mengalahkan semua gengsi didalam hatinya. Gisel mulai mengetikan beberapa kata yang mungkin bisa ia gunakan untuk alasannya mengirim pesan untuk Marcel.


Bang Marcel gimana kabarnya? Apakah kemarin abang sudah menerima nasi goreng buatanku? bagaimana rasanya? ~Gisel.


Gisel hendak mengirimkan pesan itu namum ia urungkan kembali.


"Aduh.. Bagaimana ya. Kelihatannya akan sangat memalukan jika aku mengirim pesan seperti itu."


Gisel kemudian mencoba merangkai kata-kata lain untuk Marcel.


Hei bang. Kenapa akhir-akhir ini tak menghubungiku sama sekali. Abang macam apa kamu ini?


"Tidak-tidak, yang ini kelihatan terlalu galak."


"Hapus... Hapus... Hapus... yang ini kelihatan terlalu alay."


Bang.....


"Aaarrrrhhhh.... Kenapa sulit sekali menemukan kata-kata yang pas untuk aku kirimkan pada bang Marcel. Ah... Sudahlah aku tak jadi kirim pesan saja."


Gisel berniat mengurungkan niatnya mengirim pesan dan membanting ponselnya di atas kasur karna begitu kesal dengan dirinya.


Tanpa sengaja ternyata tangannya menyentuh tombol send untuk mengirim pesan.


Tak lama kemudian ponselnya berbunyi tanda notivikasi pesan masuk.


Ada apa Gisel? kenapa cuma bilang abang saja? ~Marcel.


"Astaga ternyata pesanku terkirim. Untung saja yang terkirim hanya tulisan Bang saja."


Gisel merasa begitu lega, karna pesan yang tak sengaja terkirim itu hanya pesan yang belum sempat ia lanjutkan tadi.

__ADS_1


Nggak papa kok bang. Tadi cuma penasaran aja, abang sudah tidur atau belum. ~Gisel.


Ternyata sedari tadi di sebrang sana Marcel juga sedang memikirkan Gisel. Ia juga ingin mengirim pesan untuk gadis manja yang selalu mengganggu pikirannya itu.


Saat membuka kotak pesannya, Marcel begitu terkejut. Ada satu pesan dari gadis yang sangat dirindukannya itu. Tapi Marcel sedikit bingung karna Gisel hanya mengirim pesan yang begitu singkat.


"Ada apa ya? mungkinkah Gisel sedang terdesak masalah."


Karna khawatir, Marcel langsung membalas pesan Gisel. Tak disangka gadis itu justru membalas denhan pertanyaan dirinya sudah tidur atau belum.


Marcel jadi begitu kegirangan. Ia langsung menekan tombol panggilan vidio.


"Hi adiku sayang. Ada apa? kamu pasti sangat merindukanku ya?"


"Ih pede banget kamu bang. Salah minum obat ya?"


Terlihat Gisel begitu grogi karna Marcel sepertinya bisa membaca pikirannya.


"Tumben banget nanyain kabarnya abang. Jadi kalau bukan kangen apa dong jadinya?"


"Eeem ini, Gisel cuma mau bilang jangan lupa abang balikin kotak nasi yang Gisel pakai untuk tempat nasi goreng kemarin. Abang terima nasi goreng itu kan?"


"Oh itu. Iya-iya besok abang balikin. Kotak nasi aja sampai dibela-belain kirim pesan malem-malem gini."


"Eits jangan salah bang. Kotak nasi itu, kotak bekal yang paling Gisel sayangi. Gisel nggak mau kalau sampai nggak di balikin sama abang. Nanti dikiranya buat kenang-kenangan."


"Iya-iya tenang saja. Besok abang balikin. BTW makasih ya nasi gorengnya. Tapi kok rasa nasi gorengnya aneh ya. Pasti kamu yang bikin kan."


"Ihh nyebelin, padahal aku sudah berusaha dengan keras dan penuh perjuangan untuk membuatnya. Ternyata rasanya nggak enak. Gisel nggak mau belajar masak lagi."


"Hahahahaha.. Abang bercanda kok. Rasanya enak banget. Sumpah.. Pokoknya udah kaya nasgor di resto ternama. Kapan-kapan kamu harus buatkan masakan lagi untuk abang."


"Masak sih bang? Serius nih? Kalau gitu mulai besok Gisel akan belajar masak lagi. Gisel bakalan belajar menu masakan yang lain. Bang marcel jadi jurinya ya!"


"Siap...!!"


《《 To Be Continued》》

__ADS_1


__ADS_2