
Gisel ikut terlebih dulu ke sekolahan Marcel, kini giliran para cowok yang memandangi gadis cantik yang datang ke sekolah khusus cowok itu.
"Kenapa aku seperti masuk ke sarang penyamun ya, tatapan mereka menyeramkan, seperti tak pernah melihat cewek cantik saja." Gisel menggerutu dalam hatinya.
"Gisel, Kamu tunggu di sini dulu ya..! aku akan mengambil tas dan mengajak teman-teman yang lain."
"Oh iya bang, jangan lama-lama ya..!"
Tak selang waktu lama, Marcel kembali dengan kelima temannya. Di kantin itu terlihat Gisel yang mulai tak nyaman dikerubuti cowok-cowok yang kepo dan sesekali menggoda Gisel, membuat gadis itu mulai tak nyaman.
"Hei jangan ganggu adikku, awas kalau kalian berani mengganggunya."
"Eh bang Marcel, sory-sory bang kami nggak tau. Kerumunan cowo itu langsung membubarkan diri setelah kedatangan Marcel."
"Kamu nggak papa kan Gis..?"
"Ehh enggak kok bang, maksudku aku baik-baik saja."
"Syukurkah. Oh iya kenalkan, ini teman-temanku yang akan ikut survey."
Marcel kemudian memperkenalkan satu persatu temannya.
Mereka berangkat menggunakan sepeda motor, hanya Gisel satu-satunya cewek yang ikut dalam acara itu.
"Abang kok nggak bilang sih kalo nggak ada cewek lain, aku kan jadi malu."
"Udah nggak papa, mereka semua anak yang baik kok."
"Oh ya kak, Alfa nggak ikut ya..?"
"Mana mau Alfa ikutan kegiatan seperti ini."
Gisel terlihat sedikit kecewa karena tak bertemu dengan Alfa.
Akhirnya mereka sampai di lokasi setelah memakan waktu, kurang lebih Dua jam.
Mereka kemudian menyusuri jalan yang cukup terjal untuk sampai di lokasi tempat yang akan mereka gunakan untuk mendirikan kemah nantinya.
"Sepertinya tempat ini memang cocok untuk mendirikan tenda," Ucap Marcel pada teman-temannya. "Tak salah kita memilih lokasi ini."
Pemandangan disana memang begitu Indah, disekeliling mereka dipenuhi dengan rindangnya pohon cemara nan hijau yang menyejukan mata.
Kemudian mereka melanjutkan survey ke Air terjun yang letaknya tak jauh dari tempat perkemahan.
Untuk sampai ke Air Tejun, mereka harus menyusuri jalan menurun dan beberapa anak tangga yang sengaja dibuat untuk memudahkan pengunjung yang datang.
"Hati-hati Alisya, jalannya cukup licin." Beberapa kali Marcel membatu Gisel berjalan dengan menggandeng tangan Gisel.
__ADS_1
"Apakah Gisel ini beneran adikmu Cel..? Tanya Albert salah satu temannya."
"Ada apa memangnya..? Jangan harap kamu bisa merayunya..!" Ucap Marcel dengan mengacungkan bogemnya.
Albert memang salah satu temannya yang paling suka ngegombal dan caper kepada setiap wanita.
"Hehehe, mana berani aku menggoda adikmu. Aku kan cuma nanya, abis wajah kalian itu tidak mirip. Satunya imut-imut eh yang satu amit-amit. Lagian aku lihat perhatianmu ke Gisel itu seperti bukan layaknya kakak beradik."
"Hus diamlah, ocehanmu membuat kepalaku pusing."
Kini susana kembali menjadi hening.
"Ah indah sekali bang." Gisel langsung mendatangi pancuran air yang jatuh dari ketinggian itu."
Marcel tersenyum melihat kebahagian yang tersirat di wajah Gisel.
"Sini bang, airnya dingin banget."
Marcel kemudian menghapiri Gisel, ia juga ikut bermain-main dengan Air Terjun yang membuat pemandangan di sekitar tampak begitu indah. Tak lupa mereka juga mengambil beberapa foto untuk mengabadikan momen itu.
Suara deru air dan kicauan burung memanjakan telinga mereka. Disana juga terlihat beberapa monyet bergelantungan di pohon menambah suasana begitu damai dan membuat mereka enggan meninggalkan tempat itu.
Marcel dan kawan-kawannya sepakat untuk berenang di kolam yang tepat berada di bawah Air terjun itu. Mereka melepas pakaian dan hanya menggunakan celana pendek saja.
Gisel tak ikut berenang, Ia memilih untuk duduk di sebuah gubuk kecil takjauh dari sana.
Gisel mengalihkan pandangan dengan memainkan ponselnya karna malu, sesekali ia melirik ke arah Marcel yang terlihat begitu tampan dengan rambut basahnya. Diam-diam Gisel mengambil foto Marcel dengan ponselnya.
Cekrek cekrek cekrek
"Yes.. berhasil." Gisel kemudian melihat kembali beberapa foto hasil jepretannya. Gadis itu tersenyum sendiri menyadari Marcel itu sebenarnya cowo ganteng yang begitu ramah, baik, dan perhatian dengan teman-temannya.
Kalian itu tampak seperti bidadari yang sedang turun ke bumi untuk mandi, bedanya ini versi cowoknya. aku jadi teringat cerita Jaka Tarup. Gisel berimajinasi dalam benaknya.
"Gisel, kamu ngapain senyum-senyum sambil lihatin ponsel, seperti orang tidak waras saja," Ucap Marcel yang sudah berdiri tepat di hadapan Gisel.
"Eh bang Marcel, ya ampun bang pakai dulu bajunya, aku kan malu," Ucap Gisel sambil menutup mata dengan tangannya.
"Iya-iya aku pakai bajuku." Marcel dan teman-temannya kemudian mengenakan seragam mereka kembali.
"Aku laper bang, kita kembali ke atas yuk..!! barangkali diatas ada yang jualan. Bekal yang aku bawa juga udah habis." Pinta Gisel dengan suara manjanya.
"Tenang saja, aku bawa mie instan kok. Aku akan membuatkannya untukmu."
"Hah mie instan..? Bagaimana memasaknya..? Disini kan tak ada dapur."
"Tenang saja, serahkan urusan masak-memasak kepadaku. Ayo kita kembali ke atas dulu." Ajak Marcel dengan mengulurkan tangan membantu Gisel untuk berdiri.
__ADS_1
Setiba di tempat lokasi perkemahan, Marcel mengeluarkan sebuah kotak seperti Tupperware berbahan aluminium dengan kuping di kedua sisinya, lebih tepatnya seperti sebuah rantang kotak yang ternyata bisa Marcel gunakan untuk memasak mie.
"Ini namanya Nesting dan yang ini namanya kompor parafin." Ucap Marcel sambil mengeluarkan satu persatu peralatan yang ia bawa.
Gisel terlihat begitu terkagum-kagum melihat para cowo itu masak dengan peralatan seadanya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Beberapa menit kemudian aroma wangi khas Mie instan goreng menari-nari di hidung Gisel yang tengah kelaparan.
"Gisel, karna tak ada tempat lain kita makan berdua ya..!"
Marcel menghampiri Gisel dengan membawa mie yang sudah masak dengan tempat yang sama ketika memasaknya.
"Bagaimana kita memakannya bang, kenapa tak ada sendok atau garpu..?"
"Tunggu sebentar ya..!"
Marcel mengeluarkan lagi alat ajaipnya. Kali ini adalah sebuah pisau kecil yang bisa dialihfungsikan menjadi beberapa alat yang berbeda.
"Aha, jika kamu pecinta alam, setidaknya kamu harus memiliki pisau ini." Marcel memamerkan pisau itu kepada Gisel.
Gisel kemudian mengutak-atik pisau itu. ia begitu tercengang ketika pisau itu bisa digunakan sebagai gunting, tang, obeng, pisau bergerigi dan beberapa model lain yang tak dipahami oleh Gisel seorang anak manja yang bahkan tak pernah disibukkan dengan kegiatan masak didapur.
"Apa kita akan makan menggunakan pisau ini bang..? Iiih ngeri deh. Gisel nggak mau," Gisel menggelengkan kepala sambil menutup mulut dengan tangannya.
Marcel dan teman-temannya tertawa melihat tingkah Gisel yang terlihat imut dengan kepolosannya.
"Mana mungkin aku membiarkanmu makan dengan pisau, bawa kemari pisaunya. Aku akan menunjukan bagaimana caranya."
Marcel kemudian menuju ke pepohonan. Sedangkan Gisel hanya melihat setiap gerak yang dilakukan Marcel. Gisel benar-benar tidak tau apa yang akan dilakukan laki-laki bertubuh atletis itu.
Terlihat Marcel mencari beberapa ranting bercabang dari pohon yang memikiki banyak ranting kecil-kecil itu. Marcel kemudian membersihkan ranting itu dengan menguliti kulitnya dengan pisau yang ia bawa.
Marcel kemudian kembali menghampiri Gisel dan menunjukan bagaimana ia menggunakan ranting itu layaknya sebuah garpu.
"Ahh genius sekali kamu bang" Gisel memberikan tepuk tangan.
Marcel tersenyum gembira mendapat pujian dari Gisel. Padahal itu adalah hal biasa bagi para pecinta Alam sepertinya.
"Ayo cepat makan Mie nya, Nanti keburu dingin."
Mereka kemudian menyantap Mie instan masing-masing. Teman-teman Marcel juga mengikuti cara yang sama dengan yang dilakukan Marcel.
《《To Be Continued》》
Bantu semangati author dengan memjadikan novel ini favorit kalian ya..!! jangan lupa like, komen, vote dan juga lima bintangnya..
♡♡♡♡♡♡♡ Terimakasih ♡♡♡♡♡♡
__ADS_1