
"Wah selamat ya. Kalian peserta kedua yang kelompoknya berhasil menyelesaikan tantangan ini. Kami bangga kepada kalian, selain memendapatkan lima bahan yang kami siapkan, kalian juga berinisiatif untuk memanfaatkan kekayaan alam di sekitar kita untuk mendapatkan bahan tambahan makanan."
Panitia yang bertugas kali ini mengungkapkan rasa bangganya kepada kelompok Gisel yang juga mengambil daun pakis sebagai sayuran yang tak mereka dapatkan di bahan makanan mereka.
"Hehehe, sebenarnya diantara kami berlima hanya Anisa yang pernah mencoba sayuran ini ka. Karna kami tak menemukan sayuran di bahan-bahan makanan yang kami dapat, jadi Anisa mengusulkan untuk memanfaatkan tamanan ini. Katanya tamanan pakis bisa dibuat untuk sayur dan aman untuk dikonsumsi."
"Kalian benar. Tanaman pakis yang masih muda memang bisa dimakan, atau dimanfaatkan dengan dimasak terlebih dahulu sebagai sayur. Tadi kelompok pertama yang tadi mendahului kalian bahkan bisa menangkap ikan di sungai untuk bahan tambahan lauk mereka."
"Waw. Benarkah? hebat sekali mereka. Dari sekolah mana mereka ka?"
"Dari sekolah SMK X, sekolah yang hanya menerima siswa laki-laki saja itu."
"Huum pantas saja."
"Eh Gis, bukankah itu tempat dimana Marcel bersekolah?" Tanya Hanna kepada Gisel dengan membisikannya di telinga Gisel.
"Heem bener banget. Pantesan bisa nangkep ikan. Pasti bang Marcel yang melakukannya."
"Baiklah kaka-kaka pembina, kami akan segera memasak. Apakah kami bisa mendapatkan peralatan masaknya?"
"Oh tentu saja. Ingat ya! sebelum jam makan siang berakhir kalian harus sudah selesai dengan makan siangnya. Mengerti?"
"Siap ka. Kami mengerti."
"Bagus. Silahkan bawa peralatan masak kalian."
"Trimakasih kaka pembina."
Kemudian Gisel dan teman-temannya bergegas kembali ke tenda mereka untuk segera mengolah bahan makanan yang mereka dapatkan.
Mereka hanya mendapatkan seikat kayu bakar, panci penggorengan, panci pengukus, satu pisau, Korek dan tungku kecil untuk mereka gunakan untuk memasak.
Setiba di tenda. Gisel melihat kelompok Marcel sudah memulai untuk menyalakan api dan yang lainya menyiapkan bahan yang akan dimasak.
"Wah bang Marcel dapet bahan apa aja tuh bang? Kami denger kelompok abang juga berhasil menangkap ikan di sungai juga ya bang?"
"Kami hanya mendapat Jagung, Tahu, seikat bayam, bumbu dapur, dan minyak saja. Makanya kami berinisiatif untuk menangkap ikan."
"Wah bagaimana caranya tuh bang?"
__ADS_1
Gisel sangat penasaran dengan cara yang Marcel gunakan untuk menangkap ikan. Karna mereka benar-benar tak berbekal alat pancing atau alat lain apapun yang menurut Gisel bisa digunakan untuk menangkap ikan.
"Aku memanfaatkan tanaman Gadung yang masih banyak tumbuh di tempat ini. Aku mencampurnya dengan sedikit tahu yang kami dapatkan dan digunakan untuk memberi makan ikan di bendungan yang sudah kami buat sebelumnya. Beberapa ikan yang memakannya akan merasa pusing dan mengapung dengan sendirinya. Dengan begitu kami tinggal mengambilnya saja dan tak perlu pusing-pusing mencari jaring atau alat pancing untuk menangkap ikannya."
Sambil bekerja menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Gisel terus mendengarkan penjelasan dari Marcel dengan begitu seksama. Tenda mereka memang berdekatan, jadi mereka dapat mengobrol dengan leluasa.
"Apa itu tanaman Gadung bang? Memangnya tanaman itu beracun ya? kok bisa bikin ikan-ikan pada pusing?" Gisel menghujani Marcel dengan pertanyaannya.
"Gadung itu tanaman berjenis umbi-umbian. Umbi Gadung ini sebenarnya bisa dikonsumsi manusia bila benar cara mengolahnya. Karna mengandung Alkaloid di dalamnya, maka jika tidak diolah dengan benar akan mengakibatkan pusing dan muntah jika memakannya."
"Waduh, Serem juga ya bang."
"Iya, memang seperti itu. Kali ini aku memanfaatkannya untuk menangkap ikan. Tentu saja ini tidak akan berbahaya bagi kita dan ekosistem air. Karna sebenarnya ikannya juga tidak mati. Mereka hanya akan meeasa pusing dan mengambang ke permukaan. Ikan yang ditangkap juga langsung dibersikan dan diolah."
"Abang memang top banget deh kalau soal bertahan hidup di alam bebas. Gisel salut sama abang."
"Iya Gis. Aku juga heran dengan temanku yang satu ini. Apakah kamu tau? tadi sebagian besar bahan makanan yang kami dapatkan ini, Marcel yang berhasil menemukan dari tempat persembunyiannya." Alfa juga ikut membeberkan kekagumannya akan temannya itu.
"Hehehe, Kalau itu aku juga sudah bisa menebaknya," Tutur Gisel dengan menyunggingkan senyumannya.
"Ah kalian itu berlebihan. Aku hanya mempraktekan ilmu yang aku dapatkan dari kegiatan pecinta Alam di sekolah. Aku juga masih banyak belajar kok."
Selama ini Alfa memang bisa dibilang juara dibidang akademis, olahraga, dan seni musik. Alfa juga begitu terkenal dikalangan para gadis karna penampilannya yang selalu memukau di atas panggung. Ia merasa selalu jadi pusat perhatian. Tetapi kali ini Alfa merasa dirinya tak ada apa-apanya dibanding Marcel sahabatnya itu.
Marcel juga sangat setia kawan. Terbukti dari kesetiaanya menemani Alfa disetiap acara manggungnya. Walaupun Marcel lebih memilih untuk sekedar menunggu di stand atau mencari cafe terdekat sampai acara manggung sahabatnya itu selesai.
Ini adalah kali pertama bagi Alfa mengikuti kegiatan berbau dengan alam seperti ini. Karna biasanya Alfa lebih memilik untuk ikut ngeband, futsal, basket, atau ekstra kulikular lain yang sesuai hobinya.
"Gisel, sepertinya kayu bakan yang diberikan panitia tidak akan cukup untuk kita gunakan memasak. Sebaiknya kita meminta ijin untuk mencari kayu bakar tambahan disekitar sini."
"Sepertinya memang kurang ka. Kayu bakar yang diberikan terlalu sedikit. Baiklah kalau begitu, Ayo kita minta ijin kepada panitia."
Gisel mengikat tali sepatunya yang terlepas dan menyerahkan sementara tanggung jawab memimpin kelompoknya kepada Hanna.
"Hanna, aku akan mencari kayu bakar tambahan bersama bang Marcel. Kamu dan yang lainnya mulai memasak dulu saja. Aku akan kembali sebelum kayu bakarnya habis."
"Baiklah kalau begitu. Hati-hatinya Gis."
"Siap. Ayo bang."
__ADS_1
"Yuk. Kamu juga handle sementara kelompok kita ya Alfa. Aku tidak akan lama kok."
"Ok bro. Santai saja."
arcel dan Gisel kemudian pergi ke panitia untuk meminta ijin. Mereka diperbolehkan untuk mencari kayu bakar tambahan. Dengan catatan mereka tetap tidak boleh bekerjasama antar kelompok. Jadi mereka harus mencari sendiri-sendiri kayu bakarnya.
"Ayo Gis, Sebaiknya kita bergegas agar mereka jangan sampai kehabisan kayu bakar."
"Iya bang. Siap."
Mereka menyusuri perbukitan itu kembali. Bahkan mereka juga masih melihat beberapa kelompok dari sekolah lain yang masih mencari bahan makanan.
Saat mereka akan kembali ke tenda. Salah satu kaki Gisel tak sengaja terperosok ke dalam lubang yang mengakibatkan kakinya keseleo.
"Aaww sakit...."
Marcel yang mendengar teriakan Gisel langsung menghampirinya. Marcel begitu panik dan tak peduli dengan aturan game itu. Ia tak masalah jika harus dihukum karna dianggap bekerjasama dengan kelompok lain.
"Aduh bang Marcel, kakiku sakit sekali. Sepertinya aku tidak bisa berjalan nih. Bagaimana ini?"
"Coba sini aku lihat dulu." Marcel membuka sepatu yang dikenakan Gisel dan memeriksa kakinya.
"Ya ampun Gisel, kenapa bisa jadi bengkak seperti ini? pasti rasanya sakit sekali. Ayo aku gendong kamu kembali ke tenda. Aku akan memintakan obat ke panitia untukmu."
"Kamu yakin kuat gendong aku bang? Aku kan berat."
"Sudah jangan banyak bicara. Sekarang ini keselamatanmu lebih penting. Jika tak segera diobati, bisa-bisa kamu tidak akan bisa berjalan sampai beberapa hari kedepan."
"Baiklah kalau begitu. Aku juga tidak mau kalau aku sampai tak mengikuti kegiatan yang lain dan harus tinggal di tenda sendirian."
"Kalau begitu, ayo cepat naik. Tinggalkan saja kayu bakarnya disini. Nanti aku akan kembali untuk mengambilnya."
Marcel berjongkok dan meminta Gisel untuk naik ke punggungnya.
Gisel merasa gugup ketika digendong Marcel. Jantungnya berdegup sangat kencang saat tubuhnya itu menempel di bahu Marcel. Bahkan wajahnya berasa sangat dekat dengan pipi Marcel.
Marcel juga merasakan hal yang sama. Ia dapat merasakan sesuatu yang empuk menempel di bahunya. Bahkan Marcel dapat merasakan detak jantung dari gadis yang sedang digendongnya itu. Sesekali marcel juga merasakan hembusan nafas Gisel di leher dan tengkuknya. Membuat bulu kuduknya merinding kegelian.
Rasa berat yang dirasakan Marcel tak di hiraukannya. Marcel terus menggendong Gisel sampai ke tenda khusus untuk pertolongan medis.
__ADS_1
Petugas yang melihatnya langsung ikut membantu dengan mempersiapkan tempat untuk membaringkan Gisel.
《《To Be Continued》》