ABANG KETEMU GEDHE

ABANG KETEMU GEDHE
GAME


__ADS_3

Gisel dan teman-temannya berusaha mencari lagi ke beberapa tempat yang menurut mereka cocok untuk menyembunyikan bahan makanan.


Dari kejauhan mereka juga dapat melihat kelompok lain yang tampak kesulitan seperti mereka.


"Aku capek nih teman-teman. Aku istirahat bentar ya," Ucap Anisa yang sudah duduk di tanah sambil menyelonjorkan kakinya.


"Baiklah. Jangan lama-lama. Nanti bisa-bisa kita cuma makan dua singkong ini kalau tak terus mencarinya." Nabila memperingatkan teman dekatnya itu.


"Iya-iya. Aku bangkit lagi nih." Anisa yang merasa tersindir kemudian mengumpulkan kembali tenaganya dan berdiri.


"Eh liat ini teman-teman. Sepertinya tanah ini bekas galian." Anisa yang melihat tanah dihadapannya seperti bekas galian langsung menggalinya dengan ranting yang ia temukan di dekatnya.


"Tuh kan beneran. Aku hebat kan!" Ucap Anisa dengan bangga. Padahal sebenarnya ia tak sengaja melihatnya saat ingin beranjak dari duduknya.


Ternyata benar, di dalam tanah itu ada bahan makanan lain yang dibungkus dengan plastik.


"Coba buka apa isinya?" Tanya Gisel yang sangat penasaran.


"Ahai... Isinya berbagai macam bumbu dapur. Disini ada bawang merah, bawang putih, cabe, garam, dan juga gula."


"Wah bagus sekali kalau begitu. Ayo Kita cari lagi. Bahan-bahan ini belum cukup untuk kita makan berlima." Gisel memberi semangat lagi untuk teman-temannya.


"Kemana lagi kita akan mencari? Dari tadi aku melihat ke atas pepohonan tapi sepertinya mereka tidak menyembunyikannya diatas sana. Yang ada aku hanya melihat sarang burung saja" Hanna mulai frustasi karena dia belum menemukan bahan makanan yang dicari.


"Hei Hanna. Mungkin saja mereka menyembunyikan bahan makanan di sarang burung itu. Ayo coba kita cek. Sedari tadi kita menemukannya di tempat-tempat yang aneh bukan?" Tiba-tiba Gisel menemukan gagasan yang mungkin saja itu benar.


"Ah benar juga ya. Kalau begitu aku akan memanjat dan mengeceknya." Hanna jadi semangat kembali.


"Wah kamu benar-benar jenius Gisel. Dari mana kamu tau kalau di dalam sarang burung ini ada bahan makanan. Coba lihat ini, aku menemukan apa." Hanna mengambil telur yang berada disarang burung itu dan memperlihatkan pada teman-temannya.


"Hehehe, aku hanya asal tebak aja kok. Ada berapa telur yang kita dapatkan?"


"Tunggu sebentar, Aku juga akan mengecek sarang yang ada diatas." Hanna naik lebih tinggi melihat sarang burung yang letaknya lebih tinggi.


"Wah disini juga ada dua lagi. Tadi yang dibawah ada tiga. Berarti pas kita kebagian satu-satu. Tapi bagaimana cara membawa telur ini kebawah. Aku kan tak mungkin melemparkannya kebawah."

__ADS_1


"Bagaimana kalau memakai plastik ini saja Hanna. Aku akan memindahkan bumbu-bumbu ini dulu ke kotak singkong. Kamu bisa mengumpulkan telur itu kedalam plastik ini dan kamu bisa membawanya dengan lebih mudah."


Anisa kemudian memindahkan bumbu kedalam kotak yang berisi singkong. Kotak itu cukup besar. Jadi bisa memuat beberapa barang lagi.


"Baiklah. Bawa kemari plastiknya."


Hanna kemudian mengumpulkan telur-telur itu dan membawanya turun dari atas pohon.


"Wah.. Sekarang kita sudah mempunyai tiga bahan makanan. Kita tinggal mencari dua lagi." Ucap Gisel dengan penuh semangat.


"Kalian lihat lubang dalam pohon itu? Mungkin saja mereka juga menyembunyikannya disana. Ayo kita cek." Gisel memberi tahu peluang baru kepada timnya.


"Sekarang biar aku saja yang naik ke atas pohon. Aku kan belum menemukan bahan makanan," Tutur Zahra yang langsung segera memanjat pohon berlubang itu dan mengeceknya.


"Beruntung sekali kita. Kali ini kita menemukan Minyak goreng. Lihat ini. kita bisa gunakan untuk menggoreng telur itu."


Zahra mengambil minyak goreng dalam kemasan botol berukuran setengah liter itu dan langsung membawanya turun dari pohon.


"Baiklah, Kalau begitu kita tinggal menemukan satu bahan makanan lagi." Ayo semangat! Sebentar lagi kita bisa masak dan makan siang.


Butuh waktu cukup lama bagi mereka untuk memukan bahan kelima. Akhirnya mereka menemukan kembali bahan makanan dari balik bebatuan. Tapi ternyata itu adalah bumbu dapur seperti yang mereka temukan sebelumnya. Jadi mereka menyembunyikan kembali bumbu dapur itu di tempat yang berbeda agar kelompok lain kesusahan dalam mencarinya.


"Teman-teman, sepertinya aku menemukan sesuatu. Coba lihat kemari. Sanyangnya aku tak bisa mengambilnya sendiri." Nabila berteriak memanggil teman-temannya.


Ternyata Nabila menemukan sebuah kaleng biscuit yang letaknya ada di bawah lereng yang cukup curam.


"Wah itu mungkin saja berisi bahan makanan yang kita butuhkan. Tapi siapa yang akan turun kesana dan mengambilnya," Kata Anisa sedikit pesimis.


"Mungkin kelompok lain juga sudah melihatnya. Tapi mereka juga kesulitan dalam mengambilnya." Zahra memberi pendapatnya.


"Benar juga. Kita tak bisa mengambil resiko menuruni lereng yang cukup curam ini." Gisel membenarkan pendapat teman-temannya.


"Eh lihat. ada tali tambang yang disembunyikan disini." Hanna menunjukan tali tambang yang ditemukannya di balik semak-semak.


"Sepertinya kita bisa memanfaatkan tali ini untuk mengambilnya. Kita bisa membuat simpul dan mencoba mengalungkannya pada kaleng itu dan menariknya pelan-pelan." Gisel mengemukakan ide yang cukup sulit untuk direalisasikan.

__ADS_1


"Kamu yakin dengan idemu itu?"


"Entahlah. Aku juga tidak yakin, tapi kita bisa mencobanya kan?"


Gisel kemudian mencoba mengambil kaleng biskuit itu dengan tali yang ujungnya sudah dibuat simpul pengait. Sehingga jika ia berhasil mengalungkan tali itu ke leher kaleng, mungkin saja ia bisa menariknya perlahan. Ikatan simpul itu akan mengunci dengan sendirinya jika ditarik talinya.


"Ayo Gisel sedikit lagi. Kamu pasti bisa melakukannya. Ayo Gisel semangat." Teman-teman Gisel memberikan semangat untuk gadis yang dari tadi belum menyerah dengan usahanya itu.


Berkali-kali Gisel mencobanya namun belum berhasil juga. Namun dengan kesabaran dan usaha yang terus dilakukan Gisel, akhirnya usahanya tak sia-sia.


Gisel berhasil mengalungkan simpulnya dan menarik perlahan kaleng biscuit itu.


"Huah akhirnya." Setelah kaleng itu berhasil diambil, Gisel segera membukanya. Dan ternyata isinya adalah beras.


"Wah kita beruntung sekali. Kelompok kita "Yah benar sekali, sayangnya kita tak menemukan sayur untuk kita jadikan pelengkap makan siang kita." Tutur Gisel yang tak pernah absen makan tanpa sayuran hijau di piringnya.


"Yah benar sekali, sayangnya kita tak menemukan sayur untuk kita jadikan pelengkap makan siang kita." Tutur Gisel yang tak pernah absen makan tanpa sayuran hijau di piringnya.


"Bolehkah kita mengambil bahan yang tidak disediakan panitia," Ucap Anisa ragu-ragu.


"Maksudmu?"


"Iya, maksudku kalau kita bisa memanfaatkan alam dan mengambil bahan darinya. Kita bisa memanfaatkan tanaman pakis yang banyak tumbuh disekitar sini. Ketika aku sedang libur dan pergi ke rumah nenek yang rumahnya di pegunungan, Ibuku sering membuatkan sayur pakis untuk kami."


"Benarkah? Bagaimana rasanya?"


"Cukup enak kok. Asalkan kita mengambil bagian daun muda dari tanaman pakis itu."


"Wah, ide bagus tuh, sepertinya kita bisa mencobanya. Ayo kita mencarinya. Mungkin saja panitia akan mengijinkannya. Lagi pula kita kan juga mempunyai bumbu yang cukup lengkap untuk memasaknya."


"Aku setuju padamu Gisel. Ayo kita mencarinya!" Ucap Hanna yang juga belum pernah memakan tanaman yang dikatakan Anisa tadi. Tapi Hanna memang pernah mendengar jika tanaman pakis bisa dikonsumsi.


Setelah mengumpulkan bebapa daun pakis muda. Mereka bergegas kembali ke panitia. Ternyata kelompok mereka adalah kelompok kedua yang berhasil menyelesaikan misi setelah kelompok Marcel yang lebih dulu sampai pertama kali mendatangi panitia.


《《 To Be Continued》》

__ADS_1


__ADS_2