ABANG KETEMU GEDHE

ABANG KETEMU GEDHE
RUMAH GISEL


__ADS_3

Sepulang sekolah Gisel langsung meminta tolong kepada bi Inah agar membantunya menyiapkan bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat sup buah dan pancake bersama teman-temannya nanti.


"Bi Inah, pernah buat pancake?"


"Tentu saja non Gisel. Apa kali ini mau di ajari juga cara membuatnya?"


"Tidak usah bik. Gisel sudah menonton vidionya di youtube kok. Kayanya sih gampang. Tolong siapkan bahan-bahanya saja ya bik. Gisel mau ngerjain tugas dulu. Gisel takut nanti malem kecapekan jadi langsung molor deh."


"Siap non. Bibik bangga sama non Gisel. Pantas saja Tuan dan nyonya begitu menyanyangi non Gisel. Bibi pasti juga akan sangat bahagia jika punya anak semanis non Gisel yang baik hati,cantik, pandai, bertanggungjawab, pokoknya non Gisel itu begitu sempurna dimata bibik."


"Tidak juga bik. Gisel bahkan tak tau yang mana itu merica dan mana yang ketumbar jika tak di beritahu bik Inah. Gisel juga payah dalam hal percintaan. Semua teman sebayaku sudah mempunyai pacar semua. Banyak juga yang sudah bergonta ganti pasangan. Sedangkan Gisel...."


"Belajar memasak itu butuh proses non, Lagi pula selama ini non Gisel tak pernah memegang panci dan penggorengan kan juga karna ada bibi yang mengerjakan semuanya. Non gisel berinisiatif untuk belajar memasak itu sudah hebat non."


Bi Inah tersenyum dan membelai rambut gadis berambut hitam legam nan lurus itu dengan lembut. Selama ini bi Inah memang sudah menganggap Gisel seperti anaknya sendiri. Dari kecil Gisel sering menghabiskan waktu bersama bi Inah karna Ibunya harus bekerja.


"Percayalah non, cinta sejati itu akan datang tepat pada waktunya. Non Gisel hanya perlu mendengarkan kata hati untuk bisa menemukannya. Lagipula non Gisel kan masih begitu muda. Sebaiknya non Gisel fokus dengan sekolah dulu saja."


"Benar juga ya bik. Gisel tidak boleh mengecewakan ibuk dan ayah yang sudah bekerja keras untuk Gisel."


Bi Inah tersenyum mendengar jawaban dari nona mudanya.


"Non Gisel makan siang dulu ya. Bibi masak sayur asem dan ayam goreng kesukaan non. Jangan sedih lagi non, senyum dong. Kan non Gisel punya teman yang selalu menemani dan sayang sama non Gisel."


Bi Inah mencoba menghibur Gisel yang tampak murung dan wajahnya tak seceria biasanya.


"Baiklah bi trimakasih selalu jadi teman curhat Gisel."


Gisel menuruti apa kata bi Inah. Ia segera menghabiskan makan siangnya dan kembali ke kamarnya untuk mengerjakan tugas.


Gisel masih sempat tidur satu jam sebelum ia dibangunkan bi Inah yang memberi tahu temannya Hanna sudah datang.


Hanna yang sudah terbiasa ke rumah sahabatnya itu langsung nyelonong masuk ke kamar dan ikut membangunkan Gisel yang masih ogah-ogahan bangun.


"Hei kebo betina, ayo bangun. Kau ini menyuruhku datang kemari tapi malah ditinggal tidur."

__ADS_1


Hanna mengguncang tubuh sahabatnya itu cukup kencang hingga membuat Gisel tak tahan dan langsung bangun tak ingin tubuhnya semakin digoyang-goyangkan lebih keras lagi.


"Iya-iya aku bangun. Kau ini mengganggu saja. Padahal aku baru saja bermimpi akan dicium oleh sorang pangeran. Semua gagal gara-gara kau yang tak sopan membangunkanku."


"Hah dasar halu. Ayo sana mandi. Apa kamu mau nanti para cowo itu pingsan mencium baumu yang kecut."


"Cerewet sekali sih. Kupingku jadi panas mendengar ocehanmu. Aku juga akan mandi tanpa kau perintah. Tapi aku masih ngantuk. Lima menit lagi ya."


Gisel kembali memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di kasurnya.


Hanna yang merasa geram langsung menutup hidung Gisel agar kesulitan bernafas dan segera bangun.


"Lepaskan Hanna. Sakit tau. Lihat ini aku sudah bangun."


Gisel akhirnya bangun dan berusaha mengumpulkan nyawanya yang beberapa masih tamasya entah kemana.


"Cepat mandi sana." Hana menarik Gisel agar segera beranjak dari tempat tidurnya.


Sedangkan Gisel berjalan menuju kamar mandi di kamarnya dengan jalannya yang masih terhuyung.


"Ternyata kamu sudah ngerjain tugas Matematikanya ya Gis. Ah kebetulan sekali. Aku nyontek ya."


Hana tak sengaja melihat buku yang masih tebuka di meja belajar milik sahabatnya itu.


"Hei, Mana boleh. Nanti bakalan ketahuan. Kita kan satu meja, masak pengerjaannya bisa sama persis."


"Tenang saja. Hanya beberapa yang sulit saja kok. Kau tau kan? Sebenarna temanmu ini genius, tapi cuma males aja, Hehehehe"


"Hah dasar kau ini alesan aja."


"Non di depan sudah ada Den Marcel dan Temannya. Mereka sudah bibi persilahkan duduk di ruang tamu."


"Oh iya bik. Trimakasih ya. Abis ini Gisel dan Hanna segera turun deh."


Mendengar penjelasan dari nona mudanya bi Inah kemudian pamit undur diri. Gisel dan Hanna juga segera turun menemui Marcel dan Alfa yang sedang menunggu di ruang tamu.

__ADS_1


"Hi Gisel. Hi Hanna. Lihat ini, kami membawakan beberapa permainan untuk kita mainkan nanti," Ucap Alfa dengan menunjukan beberapa permainan yang sedang viral saat ini.


"Baiklah-baiklah. Nanti kita akan mencobanya setelah selesai dengan jus buah dan pancakenya."


"Aku sudah menyiapkan bahan-bahanya di dapur. Kalian para cowo ikut juga ya. Pasti menyenangkan belajar memasak bersama." Gisel berkata dengan penuh semangat.


"Ya sudah. Tunggu apa lagi? Aku juga udah laper," Saut Marcel yang dikikuti dengan berdiri dari tempatnya duduk tadi.


Keempat remaja itu bergegas pergi ke dapur. Sesampai didapur, memang semua bahan-bahan yang mereka butuhkan sudah ada di atas meja, tertata dengan rapi.


"Aku yakin bukan kamu kan yang menyiapkan semua ini Gisel?" Tanya Marcel yang tau betul jika Gisel belum hapal semua nama bumbu dan bahan-bahan yang tersedia disana.


"Hehehe abang kan tau sendiri. Gisel baru belajar masak akhir-akhir ini. Tentu saja Gisel butuh bantuan bi Inah untuk menyiapkannya."


"Huum sudah kuduga. Oh iya, nih kotak bekal yang kamu minta. Aku sudah membawakannya. Nanti bisa-bisa aku tak bisa tidur karena dihantui kamu yang menagih kotak bekal ini."


"Hehehe. Gisel begitu girang kotak bekal kesayangannya dibawakan Marcel kembali. Padahal waktu itu cuma alasannya saja untuk bisa mengibrol dengan Marcel."


Hanna dan Alfa hanya saling tatap melihat perdebatan kedua temannya itu.


"Eemm, apakah kalian pernah membuat pancake? " tanya Gisel dengan memandangi wajah temannya satu-persatu.


Ketiganya menggeleng.


"Kalau begitu kita tonton sekali lagi vidionya ya. Kemarin udah aku download juga."


Gisel kemudian menyambungkan layar ponselnya ke Televisi yang ada di dapur itu dan memutar vidio tutotial membuat pancake simpel ala dapur rumahan.


Semua menonton vidio itu dengan begitu seksama.


"Kelihatannya sih nggak terlalu sulit. Ayo kita mulai saja memasaknya." Alfa mengambil frypan dan bergaya mengikuti salah satu artis ceft terkenal yang sering lalu -lalang di Televisi.


Hal itu membuat mereka tertawa bersama dengan tingkah konyol Alfa yang justru membuat panci yang di mainkannya terjatuh dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.


《《To Be Continued》》

__ADS_1


__ADS_2