
Sehari sebelum pesta ulang tahun Alfa, Gisel begitu disibukan dengan pilihan baju-bajunya. Kali ini Gisel ingin tampak cantik di depan Alfa. Begitulah kira-kira harapannya agar laki-laki yang begitu dikaguminya itu bisa melihat keberadaannya.
Berulang kali Gisel bergonta-ganti baju. Namun ia rasa tak ada yang cocok, dan semua bajunya terbilang adalah baju yang begitu sopan dan tertutup, tidak seperti kebanyakan teman sesama wanitanya yang sering memakai baju seksi dan minim bahan.
"Kenapa semua bajuku seperti ini sih." Gisel menggerutu sendiri karna begitu kesal dengan semua baju dalam almarinya yang sudah ia coba satu-persatu tetapi tidak ada yang cocok.
"Sepertinya aku harus membeli gaun baru. Tapi aku harus membeli gaun yang seperti apa..? bisa-bisa nanti aku diketawain semua orang karna memakai gaun yang aneh atau terlalu kuno. Sepertinya aku harus meminta bantuan Hanna untuk membantuku mencari gaun yang pas."
Kemudian Gisel mengambil ponselnya hendak menghubungi sahabatnya itu.
"Tidak-tidak, aku tidak boleh meminta bantuan Hanna dalam masalah ini. Nanti yang ada dia bakalan marah-marah karna aku membeli gaun khusus untuk pergi ke pesta Alfa. Hanna kan nggak suka aku kejar-kejar Alfa."
Gisel kemudian mengurungkan niatnya. Ia kemudian berpikir lagi, siapa yang bisa ia mintai bantuan.
"Aha, kenapa aku tak minta bantuan bang Marcel. Dia kan teman dekatnya Alfa, dia pasti tau seperti apa selera gaun wanita yang disukai Alfa."
Gisel kemudian menghubungi Marcel.
"Hallo bang, lagi apa..? Lagi sibuk nggak bang..?"
"Lagi santai aja nieh, sambil baca buku. Ada apa Gisel..?"
"Bang aku main ke rumahmu ya..!!"
"Tumben banget mau main kerumah, sudah lama sekali kamu nggak pernah main setelah kita SMA, pasti ada maunya ini, iya kan..?"
"Hehehe, tau aja sih bang Marcel. Nanti bilangnya pas dirumah aja ya bang. Gisel OTW sekarang."
Gisel lansung mematikan panggilannya. Ia serega berpamitan kepada ibunya.
"Buk, Gisel main ke rumah bang Marcel ya. Gisel naik taksi aja. nanti biar pulangnya di ater sama bang Marcel."
"Baiklah sayang, pulangnya jangan sampai larut ya. Kalau bisa pulang sebelum makan malam, nanti sekalian ajak Marcel makan malam dirumah. Sudah lama ibuk nggak ngobrol sama anak itu."
"Eh, baiklah kalau begitu. Gisel berangkat ya buk." Gisel kemudian mencium tangan ibunya dan bergegas ke depan rumah untuk mencari taksi.
Beberapa saat kemudian sebuah taksi datang. Gisel melambaikan tangan dan taksi itu menghampiri Gisel.
"Ke jalan Balaputradewa ya pak."
"Baik non." Supir taksi itu kemudian melajukan kembali kendaraannya.
Setiba di depan rumah Marcel, Gisel kemudian mengisyaratkan driver taksi untuk berhenti.
__ADS_1
Gisel kemudian menyerahkan beberapa lembar uang kertas kepada driver taksi itu.
"Kembaliannya untuk bapak saja."
"Terima kasih Nona. Anda baik sekali."
Gisel membalas dengan senyuman diikuti dengan membukukkan badannya.
Gisel kemudian berlalu dan menuju gerbang rumah Marcel.
"Bang, Gisel udah di depan gerbang nih, bukain dong..!!" Gisel berbicara kepada Marcel lewat telefon selularnya.
Tak butuh waktu lama, Marcel kemudian datang dan membukakan gerbang.
"Yuk masuk." Gisel mengekor di belakang Marcel.
"Mau minum apa Gis..? Biar abang ambilin."
"Nggak usah bang, nanti kalau Gisel haus, biar Gisel ambil sendiri aja."
"Bailah kalau begitu."
"Kenapa sepi sekali bang, memangnya paman dan tante kemana..?"
"Mereka sedang keluar kota."
"Hehehe, Sory-sory aku nggak denger tadi. Oh iya ada apa nih, tumben banget main kesini."
"Iya nih nang, besok kan acara ulang tahunnya Alfa, aku bingung mau pakai baju yang seperti apa. semua baju yang aku punya sudah kucoba, tapi nggak ada yang cantik. Temani aku beli gaun ya bang. Abang kan temannya Alfa. Pasti abang tau seperti apa model baju yang sekiranya disukai Alfa jika aku memakainya."
"Hah sudah kuduga. Pasti masalah Alfa lagi."
"Ayo lah bang..!! Please..!! nanti abang kasih tau gaun mana yang cocok aku pakai. Oh iya tante Devi kan buka butik baru. Kita kesana saja bang."
Marcel terdiam sejenak mempertimbangkan permintaan Gisel. Tante Devi adalah tantenya Marcel dan dia adalah desaigner terkenal dan baru pulang ke Indonesia.
"Okey kalau begitu ayo kita kesana. Lagian aku juga suntuk seharian di rumah."
Saking senangnya Gisel melompat lompat dan reflek memeluk Marcel.
"Makasi ya bang."
Saat menyadari pelukannya, Gisel langsung melepaskan pelukan itu. Gisel begitu malu dengan kelakuannya sendiri.
__ADS_1
"Maaf bang, Gisel nggak sengaja," Ucap Gisel dengan wajah tertunduk karna saking malunya.
"Ah mimpi apa aku akhir-akhir ini, sudah yang kedua kali ini kamu memelukku."
"Satu kali ya, waktu itu kan abang yang memaksaku untuk memelukmu."
"Ah sama saja. Intinya kan kamu memelukku."
Gisel jadi grogi dan salah tingkah.
"Udah yuk bang, berangkat sekarang, nanti keburu sore, lagi pula ibu memintaku untuk mengajak abang makan malam dirumah. Katanya ibu kangen, udah lama nggak ngobrol sama abang."
"Oh ya.. Benarkah..? beruntung sekali aku hari ini. Mama juga lagi nggak di rumah jadi aku harus beli jika ingin makan."
"Ya sudah ayo, Tunggu apa lagi."
Kemudian mereka menuju butik milik tante Devi yang letaknya hanya beberapa blok dari rumah Marcel. Jadi mereka cukup berjalan kaki untuk sampai disana.
Setiba dibutik, Gisel kemudian dibantu tante Devi untuk memilih gaun yang pas untuknya. Gisel membawa tiga buah gaun menuju kamar pas untuk mencobanya. Sementara Marcel dan tante Devi menunggu di luar siap untuk memberikan penilaian.
Gaun pertama Gisel pakai, kemudian ia keluar dari ruang ganti.
Marcel dan tante Devi menggeleng bersamaan. Gaun kedua juga sama, keduanya juga tidak suka dengan model baju yang membuat Gisel terlihat seperti tenggelam karenanya.
Kini giliran gaun terakhir pilihan dari Marcel dan tante Devi.
Mata kedua orang itu terbelalak melihat Gisel yang baru keluar dengan balutan gaun berwarna merah itu. Gisel nampak begitu cantik dan anggun karenanya.
"Kamu cantik sekali Gisel, gaun itu sangat cocok denganmu, lihatlah Marcel sampai tak berkedip terpesona dengan kecantikanmu."
"Eh, iya. Maksudku benar kata tante. gaun itu cocok sekali denganmu."
"Trimakasih semuanya."
"Oh iya, tante tau sepatu mana yang cocok dengan gaun itu, ayo kemari. Biar tante tunjukan padamu."
Tante Devi kemudian mengambil High Heel berwarna merah senada dengan gaun yang dikenakan Gisel. Tentu saja membuat penampilan Gisel semakin cantik dan menawan.
Pandangan Marcel tak bisa lepas dari gadis yang kini menjelma seperti bidadari yang turun dari langit. Penampilan Gisel kali ini memang begitu berbeda dari biasanya. Pasti semua orang akan tercengang jika melihatnya. Bahkan mungkin mereka tidak akan percaya jika itu adalah Gisel yang selama ini mereka kenal.
"Aku yakin besok kamu akan jadi pusat perhatian semua orang Gisel. Dan aku berani taruhan untuk itu."
"Ah masak sih bang, aku jadi tak sabar untuk menanti hari esok, semoga Alfa juga suka dengan penampilanku kali ini."
__ADS_1
Hati Marcel begitu sakit ketika Gisel menyebutkan nama sahabatnya itu.
《《To Be Continued》》