ABANG KETEMU GEDHE

ABANG KETEMU GEDHE
CCTV


__ADS_3

Sore itu Gisel berdandan begitu cantik, biasanya gadis itu hanya akan menggunakan bedak tipis dan lipsglos dibibirnya. Namun, kali ini Gisel meminjam lipstick merah milik ibunya agar bibirnya terlihat lebih merona.


Dari depan rumah terdengar suara motor yang berhenti di halaman.


"Ah mungkin itu Alfa. Sebaiknya aku segera bergegas." Gisel kemudian setengah berlari ke depan rumah memeriksa siapa yang datang.


"Alfa.. Ayo masuklah. Tunggu sebentar ya, aku ambil tas dulu di kamar."


"Baiklah kalau begitu. Tapi, tunggu sebentar Gisel. Sepertinya aku melihat sesuatu. Kemarilah sebentar."


Gisel kemudian mengurungkan niatnya dan kembali pada Alfa yang masih berdiri di depan pintu.


Alfa terlihat sedang menahan tawanya.


"Ada apa memangnya Al..? Apakah ada yang salah dengan diriku..? Kenapa kamu jadi senyum-senyum ngak jelas seperti itu..?"


"Mendekatlah sedikit aku akan menunjukannya padamu."


Gisel yang merasa sedikit bingung kemudian menuruti apa kata Alfa barusan.


Alfa menatap Gisel dengan begitu tajam. Tiba-tiba tangan Alfa menyentuh pinggiran bibir Gisel dengan ibu jarinya.


Pikiran Gisel melayang-layang. Ia membayangkan adegan setelah seorang pria menyentuh bibir dengan tangannya, biasanya adegan berikutnya adalah menciumnya. Kira-kira begitulah adegan yang Gisel tonton di drama-drama Korea kesukaannya.


"Apa yang ingin kamu lakukan..? Jangan kurang ajar ya..!!" Gisel kemudian menepis tangan Alfa.


Bukannya takut, Alfa malah tertawa dengan sikap Gisel.


Gisel jadi semakin bingung dengan kelakuan cowok dihadapannya itu.


"Astaga Gisel. Kamu itu lucu sekali. Aku kan cuma mau membantumu."


"Membantu..?"


"Iya, membantu. Lihatlah tanganku ini."


Gisel kemudian melihat tangan Alfa yang di tunjukkan padanya. Disana terdapat noda merah seperti lipstik yang baru saja ia kenakan.


Gisel yang merasa malu langsung berlari ke kamarnya dan memeriksa wajahnya dan berkaca.


"Ya ampun, kenapa aku bisa ceroboh seperti ini. Pasti ini karena tadi aku begitu terbu-buru ingin membukakan pintu. Jadinya begini deh."


Gisel memperhatikan wajahnya di pantulan cermin. Ternyata ia memakai lipstik sampai belepotan di pinggir bibirnya.


"Astaga.. Aku malu sekali, apa yang harus aku lakukan..? Sebaiknya aku hapus saja lipstick ini."


Setelah dirasa wajahnya kembali normal. Gisel kemudian kembali ke depan menemui Alfa.

__ADS_1


"Maafin aku ya Alfa. Tadi aku sudah begitu kasar kepadamu. Padahal kamu...,"


"Sudah-sudah jangan dibahas lagi. Aku ngerti kok. Sekarang kamu terlihat lebih cantik Gisel. Tentu saja tanpa lipstik belepotan di bibirmu."


"Iih tuh kan. Aku kan jadi malu."


"Hehehe maaf-maaf Gisel. Kali ini aku serius kok. Kamu memang terlihat lebih vantik alami seperti ini."


Gisel jadi tambah malu dan pipinya semakin merona.


"Apakah kita jadi kerumahmu..?" Gisel kemudian mencoba mengalihkan perbincangan dengan membahas topik yang lain.


"Heemm, tentu saja. Apakah kamu sudah siap..?"


"Sudah kok, tapi aku bilang ke bik Inah dulu ya, Biar nanti kalau ibuku pulang kerja, tidak akan khawatir mencariku."


"Baiklah kalau begitu. Aku akan menunggu diluar saja kalau begitu."


Setelah berpamitan kepada bi Inah, Gisel kemudian kembali ke depan rumah. Disana Alfa sudah menaiki motor gedhenya. Alfa memang terlihat begitu mempesona dengan helm fullface dan jaket kulit yang dikenakannya.


"Ayo naik. Pegangan yang kuat ya. karna aku akan sedikit ngebut."


Alfa sedikit keheranan dengan Gisel yang hanya berpegangan pada ujung kain jaketnya. Tidak seperti cewek-cewek lain yang pernah diboncenya. Mereka akan langsung berpegangan dengan memeluk erat dirinya, menempel seperti perangko.


"Kamu yakin akan berpegangan seperti itu..? Apa kamu tidak akan takut terjatuh..?"


"Tentu saja. Jika nanti kamu berani ngebut, aku akan langsung mencubit pinggangmu. Jangan mentang-mentang masih anak muda, kamu jadi kebut-kebutan dijalan. Aku tidak setuju."


"Nah gitu dong. Ayo berangkat..! Lagi pula aku juga sekalian mau mengembalikan baju milik Nadia."


Gisel tersenyum menyadari Alfa menuruti kemauannya. Cowo itu bahkan melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


"Ngomong-ngomong kamu ngajak aku kerumah mau nunjukin apa sih..? Aku jadi penasaran."


"Sudahlah, jangan cerewet.. Nanti kamu juga akan tau."


"His nyebelin. Apa bedanya memberitahu sekarang dan nanti. Kurasa sama saja." Gisel mengerutu dengan suara pelan berharap Alfa tak mendengar ucapannya.


"Apa kamu bilang..?" Alfa sebenarnya mendengar semua yang diucapkan Gisel.


"Tidak-tidak.. Aku hanya bilang aku kepingin makan eskrim yang waktu itu ada di pesta ulang tahunmu. Rasanya enak sekali."


"Ooh eskrim itu.. Tentu saja, Eskrim itu memang sangat enak karna dibuat khusus oleh koki kekuarga kami. Jika kamu mau lagi, nanti aku akan meminta chef Budi untuk membuatkan eskrim itu untukmu."


"Ah tidak-tidak. Aku hanya bercanda kok."


"Astaga Gisel, kenapa kamu membuat malu dirimu sendiri lagi. Apakah kamu tidak bisa mencari pengalihan bembicaraan yang lain..? Kenapa harus es krim. Kamu ini bodoh sekali."

__ADS_1


Sesampai di rumah Alfa, Gisel tak henti mengagumi kemewahan setiap sudut rumah itu. Alfa memang anak dari pengusaha kaya di kota itu. Jadi tak heran jika rumahnya begitu megah seperti istana.


Waktu itu Gisel bertamu saat malam hari, jadi ia tak bisa melihat dengan jelas begitu besar dan indahnya rumah yang Alfa tempati.


Pantas saja banyak cewek yang antri jadi pacarnya Alfa. bahkan mungkin ada yang akan rela jika dijadikan pacar keduanya.


Gisel tak henti-hentinya memandangi setiap sudut rumah itu. Ia juga melihat ke arah kolam tempatnya terjatuh waktu itu.


Gisel jadi sedikit bergidik dan trauma. Ia segera mengalihkan pandangannya agar tak tertuju pada kolam yang nyaris menghabisi nyawanya itu.


"Ayo Gisel. Kita langsung ke ruang monitoring saja. Pasti kamu takut kan jika harus milihat kolam itu lagi..?"


"Apa..? Ruang monitoring..?"


"Iya, Ayolah. Jangan banyak tanya."


Gisel yang begitu penasaran hanya menurut dan mengikuti setiap langkah dari Alfa dan mengekor dibelakangnya.


Setelah tiba di suatu ruangan yang penuh dengan layar LCD kemudian Alfa duduk di kursi dan mengambil sikap santainya.


Di ruangan itu ada sorang laki-laki dan sepertinya orang itu adalah operatornya.


"Pak Gun, ayo cepat tunjukan rekaman CCTV saat gadis ini tercebur di kolam, agar dia tau apa yang sebenarnya terjadi."


"Baik tuan muda."


"Lihatlah dengan seksama nona. Nona pasti akan menemukan sesuatu yang janggal."


Walaupun sedikit takut karna trauma, Gisel akhirnya memberanikan dirinya. Ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


Di vidio itu terlihat, sepertinya Rina sedang berbincang-bicang dengan seserang yang menabraknya waktu itu. Anehnya saat Rina ditanya perihat laki-laki yang menabraknya itu, Rina bilang bahwa dia tak mengenalnya.


Kemudian Vidio itu juga memperlihatkan saat laki-laki itu seperti sengaja berlari dan menabrak Rina. Anehnya lagi sepertinya Rina memberi kode kepada pria itu agar segera menjalankan perintahnya.


Gisel melanjutkan menonton vidio itu dengan begitu seksama. Gisel tercengang saat melihat dirinya terjatuh dari tempatnya berdiri waktu itu. Terlihat dengan jelas jika Rina dengan sengaja mendorongnya kedalam kolam.


"Rina... Kenapa dia tega sekali sengaja mendorongku..? Padahal sepertinya dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya."


Tak terasa butiran bening keluar dari sudut mata Gisel.


"Tentu saja karena Rina cemburu melihat ada cewe lain yang mendapat perhatian khusus dariku."


"Lalu apakah kamu sudah memberi tahu Rina tentang vidio ini Alfa..?"


"Tentu saja sudah..?"


"Lalu..? Bagaimana dengan dirinya sekarang..? Apakah Rina sudah mengakui perbuatannya..?"

__ADS_1


"Tenanglah dulu Gisel. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu."


《《To Be Continued》》


__ADS_2