
Cedera kaki Gisel cukup parah, kali ini Gisel bahkah belum bisa berjalan karenangya. Setelah di obati dan diberi perban. Gisel dipapah Marcel kembali ke tenda untuk beristirahat.
Teman-teman Gisel begitu terkejut dengan keadaan Gisel saat ini. Hanna lasung berlari mendatangi Gisel dan membantu memapah sahabatnya yang juga sedang dipapah Marcel dengan kaki yang terpincang-pincang.
"Kenapa bisa seperti ini Gisel?" Tanya Hanna dengan khawatir.
"Sepertinya aku kurang hati-hati dan tak memperhatikan jalan hingga harus terperosok kedalam lubang dan membuat kakiku terkilir." Ucap Gisel sendu.
"Coba aku lihat kakimu." Pinta Hanna setelah membantu Gisel duduk di dalam tenda. "Ya ampun Gisel kebapa bisa bengkak seperti ini? Sekarang kamu istirahat saja terus sampai kakimu benar-benar merasa pulih. Aku akan menggantikan tugas-tugasmu dan memintakan ijin kepada kaka-kaka pembina untukmu agar tak mengikuti kegiatan terlebih dulu." Celoteh Hanna yang begitu mengkhawatirkan Gisel sahabatnya.
"Aku baik-baik saja Hanna, yang sakit itu kan kakiku. Aku masih bisa membantu kalian memasak. Lagi pula aku yakin nanti cenderaku juga akan segera sembuh." Kata Gisel tak ingin menjadi beban untuk teman-temannya.
"Benar apa kata Hanna. Sebaiknya kamu istirahat dulu Gisel. Jangan terlalu memaksakan. Bisa-bida cederamu nanti akan semakin parah jika kamu tetap keras kepala." Tutur Marcel dengan sedikit memaksa.
Teman-teman yang lain juga ikut mengangguk menyetujui saran dari Hanna. "Kalau begitu kami akan lanjut masak ya Gis, kamu istirahat saja disini. Jika masakan sudah siap kami akan membawakannya juga untukmu." Ucap Nabila mengajak teman-teman yang lainnya.
"Iya Gisel, biar aku yang mengambil kayu bakarnya. Ayo Marcel, tunjukan padaku dimana tadi Gisel meninggalkan kayu bakarnya." Ucap Hanna kepada Marcel.
"Ok, ayo Hanna. Aku juga ingin mengambil kayu bakar yang tadi aku tinggal begitu saja di atas bukit." Akhirnya Hanna dan Marcel juga meninggalkan Gisel seorang diri untuk beristirahat.
Tak lama kemudian Alfa datang dengan membawakan air minum untuk Gisel. "Bagaimana keadaanmu Gisel? Aku dengar dari Marcel bahwa kamu baru saja terjatuh dan membuat kakimu terkilir." Tanya Alfa dengan menyodorkan air minum dalam kemasan kepada Gisel yang sedang duduk di dalam tenda.
"Trimakasih sudah mengkhawatirkan aku Alfa. Sekarang kakiku jauh lebih baik dan tak begitu sakit lagi. Terimakasih juga untuk minumnya." Jawab Gisel dengan senyuman.
__ADS_1
"Maaf tadi aku sedang pergi menemui ayah dan ibuku yang datang kemari untuk menjengukku saat kamu sedang terluka. Jika saat itu aku ada di dekatmu maka aku akan segera menolongmu Gisel." Kata Alfa yang merasa tak berguna saat gadis yang saat ini jadi incarannya itu terluka dan dirinya malah tak ada disampingnya untuk memberi perhatian kusus kepadanya.
"Tidak masalah Alfa, lagi pula kejadiannya juga sudah berlalu. Untung saja tadi ada bang Marcel yang melihatku terjatuh dan langsung membawaku ke tenda pusat medis."
"Oh. Iya Gisel, syukurlah kalau sekarang kamu merasa jauh lebih baik. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu boleh memanggilku Gisel. Aku akan membantumu dan melakukannya untukmu. Kamu kembalilah beristirahat agar lekas sembuh. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Ucap Alfa memberi semangat.
"Terimakasih Alfa."
Alfa kemudian kembali ke tendanya untuk melihat aoa yang sedang dikerjakan oleh teman-temannya. Alfa memang baru pertama kali ini ikut kegiatan seperti ini. Orang tuanya begitu khawatir jika anaknya itu kelaparan atau tak bisa tidur dengan nyenyak karena harus tidur di dalam tenda yang sesak dengan teman-temannya. Hari itu orang tua Alfa khusus berkunjung untuk mrmbawakan makanan dan juga kasur angin untuk Alfa. Dayangnya semua fasilitas itu ditolak oleh panitia karena panitia sudah menyediakannya untuk mereka. Panitia juga meminta orang tua Alfa agar jangan terlalu khawatir dengan anak mereka. Dengan kecewa orang tua Alfa akhirnya membawa oulang kembali semua barang dan makanan yang telah mereka bawa.
Alfa jadi sedikit malu karena perbuatan orang tua mereka yang terlalu memanjakannya itu. Apalagi tadi ada beberapa siswa lain yang tertawa dan terlihat membicarakannya karena oemandangan langka tersebut.
"Kau sudah kembali Marcel?" Tanya Alfa yang melihat sahabatnya itu baru saja datang dengan membawa sebongkok kayu bakar.
"Kamu kan tau sendiri aku tidak bisa memasak Marcel. Tadi orang tuaku datang membawa makanan tapi sayangnya panitia tak mengijinkan aku memngambilnya. Aku sudah lapar sekali nih."
Teman-teman yang lain malah tertawa mendengar perkataan dari Alfa.
"Kemarin kan aku sudah bilang kepadamu untuk mempertimbangkan sekali lagi jika ingin ikut acara ini. Kamu itu kan anak yang pergaulannya sering datang ke Mall, Kafe, atau tempat clubing. Karena kemarin kamu yang memaksaku untuk ikut, jadi sekarang aku terpaksa harus memintamu untuk ikut berpartisipasi dalam semua kegiatan di sini. Setidaknya bantu kami mencuci bahan-bahan makanannya jika kamu ingin ikut makan." Ancam Marcel yang sebenarnya juga tak tega memaksa sahabatnya yang dari dulu tak pernah melakukan hal-hal seperti sekarang ini.
"Iya-iya. Semua ini juga aku lakukan karena aku punya misi mulia untuk mendapatkan cinta sejati yang selama ini aku cari-cari. Semangat, ayo Marcel! Pekerjaan apa yang bisa aku lakukan untuk kelompok kita."
"Oh iya Alfa aku baru ingat jika nanti malam akan ada kegiatan api unggun dengan pertunjukan bakat. Setiap kelompok harus menampilkan satu pertunjukan untuk berpartisipasi dalam acara itu. Jadi aku minta kepadamu untuk mewakili kelompok kita mengisi acara itu. Lagi pula kamu kan sudah sering tampil dan manggung dimana-mana. Pasti tidak akan menjadi masalah besar bagimu." Kata Marcel sambil menyalakan api di dalam tungku.
__ADS_1
"Ah aku kira apa. Baiklah, akhirnya aku merasa senang akhirnya bisa mengeluarkan bakatku di tempat seperti ini. Tadinya aku berpikir bahwa aku tak bisa melakukan sesuatu yang berguna di acara ini." Ucap Alfa dengan bangganya.
Akhirnya jam makan siang telah tiba. Kali ini panitia juga sengaja memberikan penjurian untuk masakan yang dibuat oleh setiap kelompok dan memberikan poin tambahan kepada lima kelimpok yang masakannya memiliki citarasa paling enak diantara semua kelompok.
Kelompok Marcel dan Kelompok Gisel juga termasuk dalam kualifikasi lima besar kelompok yang mendapat point tambahan. Dikeleompok Marcel yang semua adalah laki-laki itu tetap bisa menang karena ada Marcel yang sudah biasa memasak dan tidak diragukan lagi kemampuannya. Sedangkan di kelompok Gisel ada Hanna yang juga jago masak, tak seperti Gisel yang baru akhir-akhir ini belajar memasak.
Setelah sesi makan siang selesai, panitia memberikan sepuluh menit kepada setiap kelompok untuk beristirahat sejenak. Kesemoatan itu digunakan Marcel dan juga Alfa untuk melihat keadaan Gisel yang masih belum bisa berjalan dengan normal kembali.
"Bagaimana kakimu Gisel? Apakah sekarang lebih baik?" Tanya Alfa setiba di tenda milik kelompok Gisel.
"Masih seperti tadi Alfa. Lagi pula kan belum ada satu jam yang lalu kamu juga menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku." Jawab Gisel dengan meringis.
Hal itu membuat semua orang yang ikut berkumpul di sana tertawa karenanya.
"Coba kemarikan kakimu Gisel. Aku akan membubuhkan salep lagi dan memijitnya agar lekas sembuh." Kata Marcel yang kala itu langsung memposisikan kaki Gisel yang cedera di atas pangkuanya.
Semua orang merasa terharu dengan perlakuan Marcel kepada Gisel yang begitu perhatian. Akan tetapi tidak begitu dengan Alfa. Alfa jadi sedikit curiga dengan perhatian Marcel terhadap Gisel. Walaupun selama ini Alfa tau hubungan Gisel dan Marcel sudah seperti kakak adan adik, tapi Alfa melihat sesuatu yang berbeda dari tatapan Marcel terhadap Gisel kala itu.
Gisel sendiri tak merasa keberatan dengan perlakuan Marcel kala itu. Sepertinya Gisel masih menganggap Marcel adalah abang yang selalu ada dan perhatian kepadanya.
"Setelah ini aku yakin kakimu akan semakin mudah untuk digerakan dan tidak sakitnya akan berangsur menghilang. Aku kihat kakimu juga sudah tak bengkak seperti tadi Gisel. Semoga besok pagi kamu sudah bisa berjalan dengan normal kembali." Ucap Marcel dengan tetap mengurut dengan lembut pergelangan kaki kiri Gisel dengan membubuhkan sedikit minyak urut sebagai pelicin.
"Terimakasih bang Marcel. Kamu memang abangku yang tiada duanya." Jawab Gisel dengan senyuman sejuta watt nya.
__ADS_1
《《 **To Be Continued**》》