
"Astaga, aku lupa. Sore ini kan aku sudah ada janji belajar bersama Hanna, Lalu bagaimana dengan nonton konsernya Alfa..?"
Gisel menggaruk kepalanya sendiri yang tak terasa gatal.
"Pasti Hanna akan marah jika aku ingkar janji. Tapi kan ini kesempatanku untuk lebih dekat dengan Alfa."
Gisel mencoba mencari ide untuk masalahnya tersebut. Hanna adalah sahabat dekat dan teman sebangkunya Gisel. Hanna tidak suka jika Gisel terus mengejar Alfa yang dikenal cowok play boy itu.
Saat itu masih jam istirahat. Hanna baru saja kembali dari toilet kemudian kembali duduk di bangkunya.
"Hanna, apakah kamu bisa memafkanku..? Nanti sore aku diminta bang Marcel untuk menemaninya nonton konsernya Alfa. Apakah kita bisa mengganti besok saja belajar bersamanya..?" Pinta Gisel dengan mata kelincinya.
"Ini bukan idemu kan Gisel, Aku tak mau jika kamu dekat-dekat dengan cowo buaya itu."
"Tidak Hanna, bang Marcel yang memohon padaku. Dia kan teman dekatnya Alfa, Katanya dia tak ada kawan untuk menemaninya. Kamu nanti juga ikut ya Hanna..!!"
"Baiklah kalau begitu, besok jangan ingkar janji lagi," Tutur Hanna dengan menajamkan tatapannya.
"Tapi aku tak bisa ikut, karna aku harus menjaga adik kecilku," Imbuh Hanna yang sebenarnya ingin sekali ikut tapi tak bisa.
"Baiklah Hanna, Tapi nanti aku akan tetap ke rumahmu, karna aku sudah terlanjur bilang sama Ibu kalau aku akan belajar bersamamu. Nanti biar bang Marcel menjemputku di rumahmu saja. Boleh kan Hanna..?"
"Huh dasar anak nakal. Kau mau membohongi Ibumu..?"
"Sekali ini saja, Tolong jangan bilang ke Ibu ya..!! Pliss...!! Ibu pasti akan marah kalau aku tak jadi belajar hanya untuk nonton konser. Aku benar-benar lupa Hanna."
"Iya-iya, aku akan membantumu kali ini saja," Ucap Hanna sambil mencubit kedua pipi Gisel. Hanna sangat tau jika sebenarnya Gisel tak suka berbohong.
****
Sore itu Gisel dijemput Marcel di rumah Hanna menggunakan sepeda motornya. Kemudian mereka berboncengan menuju Lapangan di Taman Kota.
"Awas tutup kaca helmu Gisel. Di depan kita truk pembawa pasir, nanti matamu bisa kelilipan."
Gisel tak begitu mendengar perkataan Marcel sehingga Gisel menyondongkan kedepan kepalanya agar bisa mendengar lebih jelas.
"Ada apa bang..? Gisel nggak denger."
Baru saja Gisel mendekatkan kepalanya ke samping. Matanya terkena pasir yang terbang tertiup angin.
"Aaw.. Mataku pedih bang, Sepertinya aku kelilipan."
"Tuh kan, Baru juga aku bilang untuk menutup kaca helmu. Ehh beneran kelilipan."
__ADS_1
Marcel kemudian menepi, Ia turun dari motornya kemudian membuka helmnya. Marcel memperhatikan Gisel yang mengucek matanya yang kini terlihat sedikit memerah.
"Jangan di kucek, nanti bisa iritasi. Sini coba Abang lihat."
Marcel melepaskan pelindung kepala itu kemudian mengapit kepala Gisel dengan kedua tangannya. Marcel mengamati mata gisel dengan begitu seksama.
Marcel melebarkan kelopak mata Gisel dengan Ibujari dan telunjuknya.
"Bhuuuuuf..."
Marcel meniup mata Gisel dengan mulutnya.
"Apakah sekarang sudah lebih baik..?" Marcel meniup sekali lagi kemudian memastikan tidak ada pasir di dalam mata gadis dihadapannya itu.
Gisel mengerjapkan matanya berulang kali. "Sudah lebih baik bang terimakasih."
"Bentar biar aku lihat lagi, Jangan-jangan pasirnya ngumpet."
"Udah kok bang udang mendingan," Ucap Gisel yang kini menjadi canggung dengan wajah mereka yang berdekatan.
Dalam beberapa saat mereka saling bertatapan.
"Kalau diperhatikan ternyata bang Marcel itu ganteng juga ya. Udah gitu orangnya juga penuh perhatian. Ehh tapikan bang marcel udah aku anggep abang aku sendiri, tapi kenapa jantungku berdebar seperti ini sih..? Gawat-gawat, nanti bang marcel bisa denger detak jantung aku.
"Hey Gisel, Kenapa malah jadi bengong. Kenapa..? Terpesona ya dengan kegantengan aku..?"
Akhirnya mereka sampai di lapangan taman kota, Disana sudah begitu ramai dan acara juga sudah dimulai.
"Ya ampun itu kan Alfa bang. Ouh keren banget." Teriak Gisel yang langsung berlari di kerumunan penoton, ikut bersorak sorai menyemangati Band favoritnya.
Marcel mendekati Gisel dan bilang jika ia akan menunggu di stand sambil ngopi. Marcel memang bukan tipe orang yang suka dengan keramaian. Ia memang sering ikut menemani Alfa jika sedang manggung, tapi seperti kali ini, Marcel akan lebih memilih menunggu di cafe terdekat atau tenda-tenda stand yang tersedia.
Setelah dirasa capek melompat-lompat dan bersorak-sorai, Gisel menghampiri Marcel yang sedang asik memaikan ponselnya.
"Bang haus nih, capek juga." Ucap gisel dengan kedua tangannya bertumpu pada lututnya."
"Nieh minum dulu."
Marcel membuka segel air minum dalam botol yang memang ia persiapkan untuk Gisel. Marcel kemudian menyodorkan botol itu kepada Gisel.
Gisel meneguk habis air dalam kemasan itu, rasanya ia begitu haus setelah begitu semangat belompat ria menyemangati Alfa.
"Pelan-pelan Gisel, Nanti kamu bisa tersesak. Sini duduk. Ada yang mau aku omongin." Ucap Marcel sambil menepuk bangku yang ada disampingnya, mengisyaratkan Gisel untuk duduk disana.
__ADS_1
"Ada apa bang?" tanya Gisel yang sudah duduk disamping Marcel
"Nanti pas pulang, aku akan bilang ke Alfa kalau aku ada urusan mendadak. Jadi nanti aku akan meminta Alfa untuk mengantarmu pulang. Bagus kan ide aku..?"
"Berarti nanti, Gisel bakalan boncengan sama Alfa dong bang..?"
"Ya iya lah, jadi mau boceng sama siapa lagi..?"
"Asik-asik. Makasih abangku yang paling ganteng dan baik hati. Pinter banget sih abang." Tutur Gisel yang kini kegirangan seperti anak kecil yang baru saja dibelikan es krim.
Adai saja kamu tau Gisel. Aku melakukan ini semua karna aku sangat mencintaimu. Aku sadar kalau aku bukan cowo yang kamu suka. Dengan begini setidaknya aku merasa bahagia jika melihat kamu juga bahagia.
"Kau ini, seperti anak kecil saja. Ini semua tidak gratis. Kamu harus mentraktirku makan Mie ayam sepuluh kali. Bagaimana..? setuju nggak..?"
"Kalau cuma traktir mie ayam mah kecil, nanti Gisel tambah traktir baksonya juga deh."
"Heem gitu ya.. Percaya deh sama orang kaya. Ingat, jangan sia-siakan kesempatan ini. Aku sudah bersusah payah memikirkan ide brilian ini."
******
Waktu yang dinantikanpun tiba. Acara konser musik itu sudah selesai. Alfa tampak dikelilingi wanita-wanita cantik yang sedang memintanya untuk berfoto bersama.
"Yakin tuh, kamu kuat ngeliat banyak cewek yang selalu nempel kaya perangko sama Alfa..?" Tanya Marcel pada Gisel yang sedari tadi mengerucutkan bibirnya melihat pemandangan yang tak menyenangkan itu.
"Entahlah bang, Gisel juga nggak tau."
Terlihat Alfa menghampiri Gisel dan Marcel.
"Hey, Sory ya. Pasti kalian lama nunggunya. Makasih ya bro. Kau memang sahabat sejatiku." Tutur Alfa dibarengi dengan tepukan dibahu Marcel.
"Santai aja bro, kali ini aku nggak suntuk kok ada Gisel yang nemenin." Marcel menyenggol lengan Gisel yang sedari tadi terlihat meleleh dengan kegantengan Alfa.
"Eh iya Alfa, Tadi kamu keren banget. Salut deh sama kamu," Ucap Gisel dengan mengacungkan jempolnya.
"Ah itu biasa aja, Semua cewe juga bilang begitu."
Sesuai rencana, akhirnya Gisel berboncengan dengan Alfa. Marcel megikuti dari belakang sebelum nanti mereka akan berpisah di perempatan karna perbedaan arah jalan.
Berkali-kali Gisel menoleh ke belakang karna merasa kikuk, Bodyguard yang selama ini selalu membuatnya merasa nyaman tak ada disampingnya.
Marcel melihat mereka dengan api cemburu, tapi mau bagaimana lagi, gadis yang ia cintai malah menyukai sahabatnya.
"Ayo peluk Alfa dengan erat. Marcel mengisyaratkan dengan tangannya gerakan memeluk pada Gisel yang sedang menoleh ke belakang.
__ADS_1
Gisel menggelengkan kepalanya. Karna memang Gisel belum pernah memeluk cowok sebelumnya. walaupun itu untuk berpegangan ketika sedang berboncengan.
《《To Be Continued》》