
Hari semakin sore, keindahan langit senja berwarna jingga menjadi pemandangan perjalanan pulang mereka.
Namun tiba-tiba langit berubah menjadi gelap dan suara gemuruh guntur dan petir membuat Gisel menjadi sedikit takut. Ditambah angin yang bertiup cukup kencang dan pepohonan meliuk-liuk bagaikan mau tumbang membuat Gisel berpegangan dengan erat di pinggang Marcel.
Dalam sekejap, hujan lebat mengguyur mereka yang baru menempuh setengah perjalanan pulang.
Sebelum air hujan membuat baju mereka basah kuyup, akhirnya Marcel dan teman-temannya sepakat untuk berteduh dulu di sebuah kedai kopi kecil yang letaknya paling dekat dari jangkauan mereka.
Penjaga kedai menyambut mereka dengan ramah.
"Kopi Hitam enam ya pak," kata Marcel yang telah duduk di bangku panjang berdesakan dengan teman-temannya. Kedai kopi itu memang kukup kecil, ditambah dengan pengunjung yang banyak membuat mereka harus rela berbagi tempat. Sepertinya mereka juga pengunjung yang sengaja berteduh karna hujan, terlihat dari pakaian mereka yang sedikit basah saat menerobos derasnya hujan.
"Kamu nggak suka kopi hitam kan Gis..? Jadi kamu mau pesan apa..?"
"Wedang Jahe ada nggak pak..?" Gisel bertanya sendiri kepada bapak penjual kopi yang sedang sibuk meracik pesanan.
"Ada non, tapi adanya wedang jahe kemasan instan. Apa nona mau..?"
"Ah tak masalah pak, Buatkan saya satu ya..!! yang penting bisa buat hangatin badan," Ucap Gisel dengan melebarkan senyumnya.
Gisel duduk dibangku paling ujung tepat di sebelah Marcel.
"Apakah kamu kedinginan Gisel..? Pakailah jaketku. Nanti kamu bisa masuk angin." Marcel melepas jaketnya dan hendak memakaikannya kepada Gisel.
"Tak usah bang... Lagian kan Gisel juga udah pakai jaket."
Namun Macel tetap memaksa dan mengenakan jaketnya kepada Gisel seperti memakaikan jubah di punggung gadis yang berada persis di sebelahnya itu. Karna posisi mereka yang duduk berdesakan, Marcel terlihat seperti memeluk Gisel saat mencoba memakaikan jaketnya.
"Ehem Ehem.."
Suara teman-teman Marcel membuat Gisel jadi salah tingkah.
"Aku bisa pakai sendiri bang." Gisel pura-pura membetulkan posisi Jaket yang sudah menempeh di bahunya.
Marsel memandangi temannya satu persatu dengan tatapan tajamnya. Membuat temannya tak berani bertingkah lagi.
Tak lama kemudian kopi pesanan mereka datang, begitu juga dengan wedang jahe milik Gisel.
Karena masih merasa canggung dengan situasi tadi, Gisel langsung menyeruput wedang jahe di cangkirnya.
__ADS_1
"Ahhh Panas." Tekiak Gisel sambil mengusap lidahnya yang kini terasa menjadi kasar.
"Astaga Gisel, Kenapa kamu ceroboh sekali. Ini kan masih panas, harusnya kamu meniupnya terlebih dulu."
Marcel terlihat begitu panik. " Apakah kamu baik-baik saja Gisel..? Apa perlu kita kerumah sakit..?"
"Gi, Gisel nggak papa kok kak. Gisel cuma kaget aja."
Gisel semakin malu dengan tindakan bodihnya. Ia takut ketahuan jika jantungnya tadi berdegup begitu kencang saat Marcel membatu mengenakan jaketnya. Waktu itu wajah Marcel memang begitu dekat dengan Gisel, bakhan Gisel mampu merasakan hembusan nafas Marcel di wajahnya. Aroma parfum marcel juga begitu lembut dan wangi membuat Gisel menjadi begitu terhipnotis dalam beberapa saat.
"Maaf-maaf ya..!! bikin kalian jadi panik, aku kira ini sudah dingin," Tutur Gisel dengan pipi yang memerah.
"Sini biar aku tiupkan dulu."
Marcel kemudian mengambil cangkir milik Gisel dan meniupkan minuman itu untuk Gisel.
Gisel memandangi Marcel dengan tatapan penuh simpati. Ia begitu tertegun melihat Marcel yang begitu sabar dan telaten meniup minumannya dengan setiap hembusan mulutnya.
"Nah sekarang sudah hangat, kamu boleh meminumnya." Marcel meletakkan kembali minuman itu di hadapan Gisel.
Hari ini aku begitu bahagia Gisel, Karna hujan telah menahan kita disini. Aku bersyukur karna hujan memberikanku waktu yang lebih lama untuk bisa bersamamu.
Hujan berangsur-angsur reda, kemudian mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka.
"Benarkah..? Asyik akhirnya aku bisa lebih deket lagi sama Alfa. Makasih ya bang, aku pasti tak bisa mendekati Alfa jika tanpa bantuanmu."
"Bersyukurlah karna kau memiliki abang yang begitu baik sepertiku. Makanya kau harus besikap baik padaku."
"Memangnya selama ini aku jahat kepadamu bang..? Oh iya bang, sebenarnya Alfa itu suka sama cewek yang seperti apa sih bang..?"
"Entahlah, aku juga tidak tau."
"Masak sih abang tidak tau, bang Marcel kan sahabat dekatnya."
"Jangan memaksaku, kalaupun aku tau aku tidak akan mengatakannya padamu. Kamu percayalah padaku saja..!! ini juga demi kebaikanmu."
"Memangnya kenapa bang, apakah ada yang salah..? Gisel kan cuma pengen tau. Atau jangan-jangan Alfa itu...."
"Hus.. jangan ngaco, sudah-sudah jangan bahas itu lagi."
__ADS_1
Akhirnya Gisel membungkam mulutnya, dan tak bersuara lagi. Ia sedikit kesal dengan Marcel yang tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Gis, Gisel..? kenapa kamu jadi diam saja. Ngambek ya..?"
Tak ada jawaban dari wanita yang sedang diboncengnya itu. Marcel kemudian fokus kembali dengan kemudinya.
Dhuk Dhuk..
Suara benturan helem Gisel membuat Marcel kaget. Jangan-jangan dari tadi Gisel diam saja itu karna ketiduran.
Marcel kemudian menepikan sepeda motornya dan menoleh ke belakang.
"Astaga Gisel. Kenapa bisa sampai ketiduran, pasti dia kelelahan."
Marsel tak tega membangunkan Gisel. Ia kemudian merubah posisi tubuh Gisel menjadi bersandar di bahunya agar nyaman dengan tidurnya. Marcel juga melingkarkan tangan Gisel di perutnya. Marcel memegangi tangan Gisel agar gadis itu tak terjatuh, kemudian marcel mulai mengemudi dengan lebih hati-hati dan melambatkan laju motornya yang dia kendarai dengan satu tangannya.
Berulang kali Marcel mengusap lembut tangan Gisel. Namun tak membuat gadis itu terbangun dari tidurnya.
Andaikan laki-laki yang kamu sukai adalah aku Gisel, aku pasti akan jadi laki-laki paling beruntung dimuka bumi ini.
Beberapa saat kemudian Gisel terbangun, ia mengerjapkan matanya berulang kali.
"Astaga, kenapa aku bisa ketiduran. Gisel kemudian tersadar jika ia sedang memeluk Marcel dengan tangannya. Sontak Gisel menarik tangannya karna merasa malu."
"Ehh kamu sudah bangun ya..? Tenang saja, bukan kamu kok yang sengaja meluk aku. Tadi aku yang melakukannya karna abang takut kamu tiba-tiba jatuh dan terjerembab karna tertidur pulas."
Gisel merasa sedikit lega, ia pasti sangat malu jika memang dirinya yang secara sengaja memeluk Marcel.
"Maafin Gisel ya bang, Gisel tadi ngantuk banget. Sampai nggak sadar kalau ketiduran."
"Iya nggak papa, lagian aku juga seneng kok, kan jadi dapet pelukan dari kamu." Marcel tertawa dengan girangnya.
"Ih bang Marcel ada-ada aja." Gisel mencubit pinggang Marcel.
"Aw aw aw. Sakit..!! ampun-ampun. Abang kan cuma bercanda."
Keduanya kemudian bersenda gurau kembali, mengusir kejenuhan dalam perjalanan mereka. Segala hal yang bisa dijadikan topik pembicaraan mereka perbincangkan.
Akhirnya sampailah mereka di rumah Gisel. Marcel memang sudah sering berkunjung kerumah Gisel untuk sekedar bermain atau sesekali antar jemput Gisel kesekolah.
__ADS_1
Orang tua Gisel juga sudah tau kalau Marcel itu anak yang baik dan bertanggungjawab. Jadi mereka tidak khawatir jika putri sematawayangnya pergi dengan pemuda itu.
《《To Be Continued》》