
"Gimana tadi boncengannya Gis..?" Tanya Marcel lewat sambungan telefonnya.
"Ih nyebelin. Pokoknya Alfa nyebelin, Tau nggak sih bang Kalau tadi itu Aku diajak mampir ke toko bunga. Tadinya Gisel udah seneng banget, ternyata Alfa beli bunga buat pacarnya, dan parahnya lagi dia itu beli 3 buket bunga yang sama persis. Dasar cowo buaya. Pokoknya Gisel lagi sebel banget bang, Pengen aku sisir tuh rambut klimis Alfa pake sisir sawah."
"Hahahahaha.. ada-ada aja kamu itu. Lagian kan Kamu juga sudah tau kalau pacar Alfa itu banyak, Eh kamu malah pengen jadi kadidat pacarnya yang entah keberapa."
"Abis Alfa itu kan ganteng banget bang, Popular lagi. Pasti seneng deh kalau jadi pacarnya. Akan aku buntikan kalau Alfa itu bisa jadi cowo yang setia dan hanya punya satu cewek, dan cewek itu adalah aku."
"Astaga Gisel, Kamu mulai berhayal lagi ya, Sedangkan Alfa saja saat ini tidak melirik sedikitpun kepadamu. Bagaimana kamu bisa jadi pacarnya."
"Makanya bantuin Gisel bang. Bang Marcel kan sahabatnya, pasti abang tau seperti apa sebenarnya tipe ceweknya Alfa. Kalau dia sudah menemukan cewek yang dia cari, pasti Alfa nggak bakalan gonta-ganti cewek kaya sekarang."
"Sok tau kamu ini. Jadi kamu mau berusaha menjadi cewek seperti yang Alfa inginkan..? Cinta itu tidak seperti itu Gisel. Kalau Alfa benar-benar cinta padamu dia akan menerimamu apa adanya. Jadi kau tak perlu jadi orang lain untuk bisa bersamanya."
"Ihh bang marcel kenapa malah jadi belain Alfa."
"Aku tidak sedang membelanya Gisel. Aku hanya tak ingin kamu jadi salah jalan. Lagi pula kamu ini masih begitu polos. Belum pernah pacaran pula."
"Ya udah kalau bang Marcel nggak mau bantuin lagi. Gisel ngambek."
"Astaga Gisel,Kamu ini kekanakan sekali."
Tak ada sautan lagi dari Gisel, namun telefonnya tidak dimatikan.
"Gi... Gisel..." Tetap tak ada jawaban dari Gisel. "Jadi ceritanya ngambek nieh..?"
Marcel hanya bisa menahan tawanya dengan tingkah kekanakan Gisel, Ia tau jika sebenaenya Gisel masih mendengarkan namun tak mau menjawap pertanyaannya.
"Besok aku mau Survey untuk acara Survifal Pecinta Alam di sekolahku. Apakah kamu mau ikut..? Acaranya seru loh, karna kami bakalan ke Air Terjun Selo Griyo. Katanya tempatnya cantik banget. Pasti kamu suka."
"Jam berapa bang..?" Saut Gisel seketika, Gisel memang sangat suka dengan keindahan alam.
"Karna itu acara dari Sekolah, Kami akan berangkat pagi, Lagi pula kan saat ini disekolah juga sedang Class meeting. Tak masalah jika harus meminta ijin sehari."
"Yah kenapa harus pagi, Aku kan harus sekolah. Aku nggak mau bolos, tapi aku juga pengen ikut."
"Bukannya disekolahmu juga UTS sudah selesai..? Palingan juga sama, lagi Class Meeting."
"Iya sih bang, Tapi kan sama aja. Bisakah Abang datang kesekolahanku untuk memintakanku ijin bang..? Gisel pengen banget ikut, tapi Gisel nggak mau kalau harus bolos sekolah."
__ADS_1
"Kamu bercanda ya, Sekolahmu itu kan sekolah Khusus cewek, Nanti bisa-bisa aku dilihatin semua murid sekolahmu itu. Lagian bagaimana juga aku harus memintakanmu ijin."
"Ayolah bang, Plis.. Pikirkan caranya. Nanti kalau sudah ketemu kabari Gisel. Aku mau tidur dulu, ngantuk. Good night bang Marcel." Tanpa menunggu jawaban dari Marcel, Gisel sudah mengakhiri Panggilannya.
****
Keesokan paginya Gisel bersiap-siap untuk pergi ke sekolah seperti biasanya.
Ponselnya bergetar, kemudian muncul pop up pesan masuk dari Marcel
"Gis ntar aku bakalan jadi jemput kamu ke sekolah dan ijinin kamu buat ikut Survey di acara Mapala sekolahku, Siap2 ya..!! Bentar lagi aku jemput kamu kerumah."
"Yes yes yes, Makasih abangku yang paling ganteng."
Gisel kemudian memilih memakai sepatu ketsnya agar memudahkannya jika harus melewati jalan yang terjal. Gisel juga sengaja membawa jaket dan beberapa roti isi untuk bekalnya nanti.
Bel istirahat pertama sudah berbunyi, Gisel menunggu kabar dari Marcel dengan harap-harap cemas.
"Kira-kira nanti aku diijinin ikut nggak ya..?" Batin Gisel dalam hatinya sambil beberapa kali mengecek ponselnya.
"Ah akhirnya" Gisel segera menggeser icon berwarna hijau untuk menerima panggilan dari Marcel.
"Ok bang tunggu ya..!!" Gisel bergegas berlari ke depan gerbang sekolahnya. Pak Budi ijin keluar bentar ya, Temen aku ada yang dateng kesini. Ada perlu bentar sama Bu Gina (Nama Guru BP Sekolah Gisel)
Baik non, Satpam yang bernama Budi itu kebudian membukakan pintu gerbang sekolah.
Gisel kemudian mengajak Marcel menuju Ruang BP sekolahnya. Rasa deg-degan memenuhi mereka berdua.
Tok Tok Tok..
Gisel masuk ke Ruangan itu diikuti Marcel di belakangnya.
"Ada apa Gisel..?" Bu Gina menyapa muridnya yang terbilang siswi berprestasi itu. Gisel memang anak yang cerdas, ia selalu jadi juara pertama di kelasnya, Gisel juga termasuk siswa yang aktif di sekolah, Ia ikut dalam Organisasi kesiswaan selain itu Gisel juga menjadi ketua Palang Merah Remaja (PMR) di sekolahnya.
Bu gina mempersilahkan Keduanya untuk duduk, Guru bertubuh tambun itu memandang Gisel dan Marcel bergantian dengan tatapan penuh selidik.
"Ada yang bisa Ibu bantu..?"
"Begini Bu, Kenalkan saya Marcel abangnya Gisel, Saya bersekolah di SMK X. Kedatangan saya kesini untuk memintakan ijin untuk Gisel."
__ADS_1
Bu gina mendengarkan Marcel dengan begitu seksama, ia begitu penasaran dengan kedatangan murid itu. Baru kali ini ada siswa Laki-laki datang ke sekolahan itu bahkan berani memintakan ijin untuk salah satu muridnya.
"Kebetulan di sekolah saya akan mengadakan Survival di kawasan perkemahan Bumi Ayu. Dan saya sebagai ketua Mapala harus mengadakan survey tempat terlebih dulu. Saya ingin mengajak Gisel untuk ikut serta Miss. Saya harap Ibu bisa mengijinkannya."
"Huum begitu, Kenapa Surveynya tidak mengajak teman yang satu sekolahan saja..?" Tanya bu Gina dengan sedikit dingin.
Saya juga bersama teman-teman saya kok Miss, Tadi karna saya dan Gisel berangkat sekolah berboncengan, jadi saya pikir nanti biar Gisel sekalian pulang juga bareng saya.
Bu gina manggut-mangut tanda memahami ucapan Marcel.
"Kalau boleh Ibu Tanya, Ini abang beneran atau Abang ketemu gedhe..?"
Gisel dan Marcel saling tatap, mereka bingung mau menjawab apa, keduanya hanya membalas pertanyaan Bu Gina dengan senyum-senyum malu.
"Baiklah, Ibu sudah mengerti, Saya ijinkan Gisel untuk ikut acara itu, tapi ingat, kalian harus hati-hati. Jangan sampai bikin masalah dan membuat nama sekolahan tercemar."
"Trimakasih bu Gina," Ucap Gisel yang sedari tadi diam saja. "Bu gina kan tau kalau saya nggak bakalan berbuat yang aneh-aneh"
Bu Gina hanya terdiam dengan wajah datarnya.
"Ada yang bisa dibantu lagi..?"
"Ooh tidak Miss, trimakasih banyak kalau begitu kami pamit undur diri."
Keduanya berpamitan dan mencium tangan guru BP itu.
Saat Gisel dan Marcel keluar, sudah banyak siswa lain yang berkerumun di sepanjang koridor jalan menuju Ruang BP karna kepo dengan kedatangan murid ganteng tersebut.
Ka Gisel, Gisel, beberapa anak menyapa gisel. Bahkan banyak juga para siswi yang berteriak histeris melihat kegantengan Marcel.
Banyak juga yang berbisik-bisik entah apa yang mereka bicarakan. Hal itu membuat Marcel merasa sedikit risih.
Gisel kemudian bergegas mengambil tas di kelasnya.
"Kamu mau kemana sama Marcel..?" Tanya Hanna dengan tatapan keingintahuannya.
"Aku mau ikut bang Marcel ke Bumi Ayu, Bye bye" Tutur Gisel yang susah bergegas meninggalkan sahabatnya itu.
Di sekolah Gisel memang sedang mengadakan Class Meeting dan tidak ada kegiatan belajar mengajar. Banyak anak-anak yang tidak masuk sekolah karna memang dalam seminggu itu adalah hari bebas. Hanya murid-murid yang rajin dan yang mengikuti perlombaan saja yang berangkat kesekolah.
__ADS_1
《《 To be Continued》》