ABANG KETEMU GEDHE

ABANG KETEMU GEDHE
MAKAN MALAM


__ADS_3

Marcel terlihat begitu menyesali perbuatannya. Ia langsung meminta maaf kepada Gisel.


"Maafkan aku Gisel. Tadi aku begitu terbawa suasana."


"Gisel masih terdiam, tak terasa butiran bening mengalir dari ujung matanya."


"Aku benar-benar minta maaf Gisel. Aku tak keberatan jika setelah ini kamu marah kepadaku. Atau bahkan kamu tak mau lagi bertemu denganku. Aku akan menerimanya."


"Aku sadar perbuatanku memang tak mudah untuk dimaafkan. Aku akan menerima apapun itu keputusan yang akan kamu ambil."


Marcel bahkan sampai bersimpuh dihadapan Gisel.


"Aku mau pulang, ucap Gisel dengan suara lirihnya."


"Baiklah kalau begitu. Tapi ijinkan aku mengantarmu kali ini saja. Ini sudah cukup larut Gisel. Aku tak mau kamu pulang sendirian."


"Baiklah." Gisel menjawab tanpa memandang ke arah Marcel.


"Aku akan mengantarmu menggunakan mobil saja. Kamu boleh duduk di belakang kalau mau. Aku hanya akan bersikap sebagai sopir saja."


Kemudian Marcel mengeluarkan mobil dari garasinya. Ia membukakan pintu mobil belakang untuk Gisel. Marcel memang sengaja mengantar Gisel dengan mobilnya karna mungkin Alisya akan menjadi canggung jika harus berboncengan motor dengannya. Bahkan Marcel tak meminta Gisel untuk duduk di depan untuk menemaninya. Ia lebih memilih membukakan pintu belakang agar Gisel merasa lebih nyaman.


Sepanjang perjalanan tak ada perbincangan antara mereka berdua. Gisel hanya menatap nanar kaca jendela, sedangkan Marcel begitu fokus dengan kemudinya, walau sesekali Marcel melirik Gisel dari kaca sepion. Marcel hanya ingin memastikan Gisel baik-baik saja.


Setiba dirumah Gisel, mereka disambut hangat oleh Liliana, Ibunya Gisel, atau Marcel sering memanggilnya dengan sebutan tante Lia.


"Malam tante Lia, Apa kabar..? tanpa basa-basi Marcel langsung bersalaman dan mencium tangan Liliana."


"Selamat malam juga Marcel, Tante baik. Wah ternyata sekarang Marcel tambah Ganteng ya..!!" Ucap Liliana sambil menepuk bahu Marcel.


"Ah tante bisa aja."


"Yuk masuk, tante udah masak banyak dan enak-enak. Gisel sudah bilang kan kalau tante memintamu ikut makan malam dirumah..?"


Bahkan Marcel lupa kalau Gisel tadi bilang Ibunya memintanya ikut makan malam bersama. Marcel melirik ke arah Gisel yang berdiri di sebelah Ibunya. Gisel sengaja membuang muka ketika Marcel menatapnya.

__ADS_1


"Oh iya tante, tapi sepertinya Marcel harus sehera pulang. Ada PR yang belum Marcel kerjakan," Ucap Marcel yang merasa kebingungan harus menjawab apa. Ia takut jika nanti ikut makan malam, Gisel akan merasa canggung karenanya."


"Ah kamu ini, masih saja selalu begitu sopan. Jangan membuat alasan klasik untuk menolak tante. Tante yakin Marcel itu kan anak yang cerdas. Pasti hanya akan membutuhkan watu sebentar untuk menyelesaikan Pekerjaan rumahnya."


Liliana memaksa Marcel dengan menggeret tangan Marcel untuk ikut masuk kedalam rumahnya.


"Ayo ikutlah dulu makan malam bersama. Lagi pula ini juga tidak akan lama. Mubazir nanti masakan tante kalau tak ada yang memakannya."


"Baiklah kalau begitu tante. Marcel akan ikut Makan."


"Nah gitu dong. Ayo sekarang kalian cuci tangan dulu. tante akan menyiapkan makanannya dengan segera."


Akhirnya Marcel ikut sesi makan malam di keluarga Gisel. Selama makan Marcel dan Gisel diam saja tanpa ada yang menyapa.


"Kalian lagi berantem ya..? Kok diem-dieman aja dari tadi. nggak kaya biasanya yang bikin pusing tante karna selalu berisik."


"Eeh Enggak kok tante. Iya kan gisel..?" Marcel mengedipkan mata kepada Gisel.


"Iya Buk, mana mungkin kami berantem."


Liliana sebenarnya sudah menyadari kecanggungan antara putri dan teman lelakinya itu. Namun Liliana tak mau ikut campur lebih dalam masalah mereka.


"Ah palingan mereka sendang ngambek saja,lagi pula tak akan butuh waktu lama, pasti mereka juga akan berbaikan lagi."


Begitulah perkiraan Liliana melihat Gisel dan Marcel yang dari tadi tak saling bertegur sapa.


"Bagaimana Marcel..? Masakan tante enak tidak..?"


"Enak sekali tante. Marcel nggak bohong. Masakan tante emang juara," Ucap Marcel sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Oh iya, Marcel dengar Om Wisnu sedang pergi ke luar Negeri ya tan..?"


"Iya Marcel, Om wisnu sedang mengerjakan projek Apartemen elit di Singapura. Mungkin Om wisnu akan menetap disana terlebih dulu selama projeknya belum selesai."


"Ah benar juga ya tan, Sudah satu bulan ini papa nggak mancing karna katanya temannya sedang sibuk di luar Negeri."

__ADS_1


Ayahnya Gisel adalah Designer konstruksi sekaligus Manager di perusahaan kontruksi ditempatnya bekerja. Ia cukup terkenal sampai ke luar negeri, jadi tak heran jika seorang Wisnutama sering tak ada di rumah.


Setelah selesai makan malam Marcel kemudian pamit untuk pulang kerumahnya. Tante Lia dan Gisel mengantar Marcel sampai di teras depan rumah. Mereka baru masuk setelah mobil Marcel tak terlihat lagi ditelan oleh jalanan.


"Ibuku sayang, Gisel langsung ke kamar ya..!! Capek."


"Baiklah kalau begitu, jangan tidur malam-malam ya..!!" ucap ibu Lia yang kemudian mencium kening putri kesayangannya.


Gisel langsug menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan posisi tengkurap. Ia membenamkan wajahnya kedalam batal.


Bayangan ciumannya dengan Marcel tiba-tiba muncul lagi berputar-putar dikepalanya. Termasuk saat situasi berubah menjadi canggung saat Gisel merasakan pijatan lembut di dadanya yang membuat dirinya seperti mendapat kejutan arus listrik yang menyengat dengan hebatnya.


"Bagai mana ini..?" Gisel mengacak-acak rambutnya sendiri. Kemudian merubah posisi tidurnya menghadap ke langit-langit.


Apakah aku harus marah kepada bang Marcel dan mendiamkannya..? Tapi kejadian itu juga bukan sepenuhnya kesalahan Marcel.


Gisel begitu bingung dengan situasi pelik yang akan mempengaruhi persahabatannya dengan laki-laki yang bahkan sudah begitu dekat dan dianggap sebagai kakak laki-lakinya itu.


Semua bayangan-bayangan itu kembali memenuhi kepalanya seperti sebuah film yang nampak begitu nyata dibenaknya, hingga membuat Gisel terlelap sendiri karna begitu lelah memikirkannya.


Sementara Marcel baru saja sampai dirumahnya. Baru saja ia membuka pintu untuk masuk, Bayangan Gisel masih begitu jelas di tempat mereka berciuman tadi.


Marcel jadi begitu gugup saat memikirkannya lagi. Ia begitu menyesali perbuatannya. Kenapa ia bisa begitu kelewatan dan tak bisa menahan dirinya sendiri.


Marcel kemudian mandi untuk menghilangkan kekalutan hati dan pikirannya.


"Bagaimana ini, kenapa aku berbuat kesalahan yang mungkin tak akan dimaafkan oleh Gisel. Dan kini aku sendiri yang telah menciptakan jurang pemisah antara aku dan Gisel."


Sehabis mandi, Marcel mencoba menenangkan hatinya dengan memutar lagu kesukaannya. Tapi usahanya itu tak berhasil malah membuat marcel jadi semakin tenggelam dalam kekalutannya. Marcel kemudian mematikan musiknya dan mencoba untuk tidur.


Marcel naik ke ranjangnya dan berharap bisa terlelap. Namun tak bisa juga. Rasa bersalahnya masih menghantui dirinya.


"Bagaimana besok saat aku harus bertemu lagi dengan Gisel di pesta ulang tahun Alfa." Marcel kemudian memutuskan untuk menjaga jarak dengan Gisel. Ia tidak akan sedekat seperti biasanya saat bersama gadis itu. Mungkin itu akan sedikit mengurangi rasa bersalahnya.


《《 To Be Continued》》

__ADS_1


__ADS_2