
Belakangan Rosaline baru tau kenapa Grey kemarin hampir seminggu tidak masuk sekolah dan kenapa pergelangan tangannya luka, informasi itu didapatnya dari mbak asisten rumah tangga - yang bertugas membersihkan apartemen Grey dan memasak makanan untuk Grey setiap harinya - ketika pagi Minggu itu, Rosaline yang berjanji membawakan kue – kue cake buatan ibunya ke apartemen Grey. Sambil menunggu Grey mandi, si mbak asisten rumah tangga yang ramah itu mengobrol, menemani Rosaline.
Cerita Grey ‘kenapa' itu sungguh mengejutkan Rosaline, karena ternyata Grey masuk rumah sakit karena mencoba bunuh diri dengan mengiris nadinya sendiri! Kalau saja pak Hendro bodyguard Grey tidak menaruh curiga kenapa Grey tidak juga keluar kamar untuk sarapan dan berangkat sekolah pagi itu, mungkin nyawa Grey sudah melayang. Rosaline cuma bisa terpaku mendengarkan cerita si mbak asisten rumah tangga itu. Grey bilang dia sudah dinyatakan OK oleh dokter – dokternya, tapi kok dia bisa sampai melakukan percobaan bunuh diri? Berarti kan Grey belum OK seratus persen dong? Bagaimana bisa? Batin Rosaline bertanya – tanya galau.
Rosaline teringat artikel tentang penyakit Bipolar Disorder yang dibaca nya lewat situs Google malam kemarin, seperti yang dikatakan oleh Dr. dr. Nurmiati Amir, SpKJ (K) selaku Wakil Ketua Sie Bipolar dan Gangguan Mood menyatakan bahwa gangguan penyakit bipolar bersifat seumur hidup dan pasti akan selalu kambuh, jadi tidak bisa dikatakan sembuh total, namun dapat dikontrol. Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan dari seorang ahli gangguan jiwa dan psikiatri, dr. AAA Agung Kusumawardhani, SpKJ (K) yang menyatakan bahwa penderita gangguan penyakit bipolar tidak boleh menganggap dirinya sudah sembuh total dan lantas tidak kembali berobat. Penderita bipolar memang bisa hidup layaknya orang normal, namun mereka tetap harus rutin mengonsumsi obat setiap harinya ( Sumber : sahabatnestle.co.id )
Mungkinkah Grey seperti itu? Bisa dikatakan sudah OK, tapi selalu akan kambuh sewaktu – waktu? Rosaline masih mengerutkan kening berpikir – pikir ketika Grey selesai mandi dan sudah rapi berpakaian, muncul dari dalam kamar dan tersenyum pada gadis itu.
“Maaf kamu sudah lama menunggu ya?” tegur Grey yang langsung membuka kotak kue yang dibawa Rosaline. “ Wah keliatannya lezat sekali! These are my favorite cakes! Kok kamu tau favoritku?”
“Ah itu semua kan memang kue – kue cake favoritmu waktu dulu, sengaja aku bawakan, masa aku lupa?” cetus Rosaline sambil tertawa.
“Iya juga ya?” Grey juga ikut tertawa. “Kamu masih ingat saja favoritku, butterfly kecil...”
“Aku tak kan pernah lupa, Grey.”
“Oh shit, kenapa aku yang lupa...Please wait...” tiba – tiba Grey seperti teringat sesuatu, pemuda itu beranjak ke kamarnya, dan sebentar kemudian sudah keluar lagi. “Ini...”
Grey mengulurkan sebuah kotak mungil berwarna hitam.
“Apa ini Grey?” Rosaline menerima kotak yang diulurkan Grey.
“Bukalah...” kata Grey, membiarkan Rosaline segera membuka kotak mungil itu dengan penasaran.
“Wow...Kalung kupu – kupu?! Ini kan...Kalungku dulu!” kata Rosaline nyaris terpekik, menatap sebuah kalung berliontin sepasang kupu – kupu kecil, berkilau cemerlang dalam kotak tersebut. Itu cuma kalung imitasi tapi Rosaline begitu surprise menatapnya.
“Ingatkan? Kamu memberikannya kepadaku dulu, waktu aku mau berangkat ke Amerika...Katamu supaya aku terus mengingatmu...” terang Grey. “Dua kupu – kupu itu melambangkan aku dengan kamu, begitu katamu waktu itu...”
Rosaline terkesima mendengar kata – kata itu, tak menyangka Grey masih ingat dengan kata - kata perpisahan antara dia dan Grey dulu. Gadis itu tak terasa tersenyum haru mengingatnya. Membayangkan sosok dirinya dan Grey ketika masing - masing baru berusia 7 dan 8 tahun, saat harus berpisah karena Grey dan keluarganya akan pindah ke Amerika. Gadis itu ingat betapa sedihnya dia dulu sehingga dia melepas kalung kupu – kupu kesayangannya dan memberikannya kepada Grey sebagai kenang – kenangan.
“Sekarang simpanlah lagi kalung itu, karena aku sudah kembali...” kata Grey dengan senyum kembali mengembang dibibirnya.
“Baiklah Grey, aku ambil lagi kalung ini, terima kasih karena kamu sudah begitu baik menyimpannya selama sembilan tahun ini. “ sahut Rosaline terharu.
“Ya sebaik harapanku dulu untuk bertemu kembali denganmu, dan membuat masa – masa kecil yang indah itu kembali.” sahut Grey pelan, matanya menerawang jauh seolah membayangkan kembali betapa saat dia berada di Amerika, hampir setiap hari saat kesepian dia memandangi kalung itu dan berharap sebuah keajaiban terjadi, dia kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Rosaline sahabatnya. Dan keajaiban itu tak pernah terjadi hingga sembilan tahun lamanya. Karenanya dia merasa seperti sedang bermimpi bisa bertemu Rosaline lagi sekarang.
“Ah, sahabatmu kan bukan cuma aku saja, di Amerika pasti banyak sahabat – sahabatmu yang dapat menyenangkanmu, Grey...” tukas Rosaline. “Di sini, di Indonesia juga pasti sudah banyak sahabatmu.”
“Mereka semua cuma sahabat – sahabat semu,follow me everywhere because of money!” Grey mendengus meremehkan sahabat – sahabatnya yang di Amerika juga yang di Indonesia, selain Rosaline. “Kadang aku rasanya ingin sekali terlahir di keluarga seperti keluargamu, born in a simply family with a father, mother and sibling who love you all the time...”
“Kamu kan juga punya keluarga...Kamu masih punya papa kandungmu, Grey, walau bagaimanapun beliau pasti sangat menyayangimu.” Rosaline berusaha membesarkan hati Grey.
“Ugh, bullshit dengan papaku! Jangan sebut – sebut papaku!" Grey tiba - tiba menatap tajam ke arah Rosaline. "Papa tidak pernah menyayangi aku, dia hanya memikirkan perempuan bule itu dan Monica! Baginya aku dianggap tidak ada!”
“Mungkin itu hanya perasaanmu saja Grey...” kata Rosaline tak percaya, setengah terkejut juga sebenarnya ditatap sedemikian rupa oleh Grey.
“Perasaan bagaimana?! Rosaline, you know nothing!!” Grey tiba – tiba berdiri sambil menuding Rosaline, membuat gadis itu terjengah. Pemuda itu kemudian mondar - mandir di depan Rosaline dengan sikap begitu gusar.
“Grey...Aku...” Rosaline sampai tak dapat berkata – kata karena tak menyangka reaksi Grey jadi seperti itu.
”Rosaline, listen, aku pernah ditinggal berminggu - minggu sendirian karena mereka pergi liburan ke Hawaii, dan mereka bahkan tidak memberitau aku kapan mereka pergi, tiba – tiba saja aku bangun tidur, mereka sudah tak ada!! Can you imagine that?!" cerita itu meluncur begitu saja dari mulut Grey. "And I still remember, waktu usiaku 14 tahun aku kabur dari rumah karena bertengkar dengan papa, sampai berhari – hari, tapi tak ada satupun yang berusaha mencariku, sampai akhirnya justru guru private ku yang menemukan aku dan dia yang mengantarku pulang. Apa itu yang dikatakan ‘cuma perasaanku saja'?!!...Shit!! Mereka, kurasa bahkan tak pernah ingat kalau aku sudah kelas berapa sekarang?!”
Grey mendadak tertawa keras, mentertawakan kata – katanya yang terakhir, tapi tawanya terdengar begitu getir.
“Maaf, bukan begitu maksudku, Grey...” Rosaline berusaha sabar.
“Sejak mamaku tak ada, semua seperti sengaja melupakan aku! Mereka...” Grey masih tertawa. "Mungkin mereka sebenarnya ingin aku juga mati bersama mama!!"
"Grey!! Bicara apa sih kamu?!” Rosaline mendekap mulutnya, mendengar Grey menyebut ‘mati.’
“Mungkin memang sebaiknya aku mati saja, untuk apa aku hidup?! Toh tak ada yang peduli?!" Grey terduduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lama, sampai – sampai Rosaline mengira pemuda itu sedang menangis.
“Grey?” tegur Rosaline hati – hati, tangannya terjulur hendak menyentuh bahu Grey. Tapi gadis itu justru terperangah karena Grey mendadak mengangkat wajahnya dan bangkit dari sofa tempat duduknya, pemuda itu perlahan berjalan menuju jendela apartemen, dan membukanya lebar - lebar.
__ADS_1
"Grey? Kamu mau apa?" Rosaline memandang Grey dengan perasaan tidak enak. Segera didekatinya pemuda sahabatnya itu dan menepuk bahunya sedikit keras, maksudnya untuk menegur Grey yang kelihatan seperti melamun didepan jendela.
"What?!" Grey seperti tersentak terkejut, menoleh ke arah Rosaline seolah baru menyadari kalau gadis sahabatnya itu sedang berdiri didekatnya. "Rosaline? Kamu..."
"Eh, anu, Grey...Please, Aku minta maaf ya, aku nggak tau kalau kamu nggak suka dengan papamu dan keluargamu..." kata Rosaline berusaha menenangkan Grey, lebih tepatnya menenangkan dirinya sendiri yang masih bingung dan terkejut melihat sikap Grey, dalam hati gadis itu menyesal membicarakan masalah keluarga dengan Grey. Rosaline lupa kalau Grey tak harmonis dengan keluarganya. Tapi tidak pula menyangka keluarga Grey sampai setega itu dengan Grey. Ada apa sebenarnya dengan keluarga Grey?
"Oh shit, sorry...Apa yang sudah kulakukan?...No..Sepertinya aku yang harus minta maaf..." kata Grey salah tingkah, seperti baru sadar kalau sikapnya sudah diluar kendali. "Sorry, please...Very sorry but talking about my family selalu membuatku emosi. Aku minta maaf ya?"
"Iya, nggak masalah, Grey...Aku paham..." sahut Rosaline sabar.
"Aku...Aku pasti sudah mengejutkanmu ya?" tanya Grey kuatir.
"Tidak...Tidak kok..." jawab Rosaline sambil mencoba tersenyum pada Grey.
Ya Allah, Grey pasti sangat tertekan jiwanya karena kepergian mamanya dan menganggap papanya sebagai penyebab kematian mamanya sehingga dia jadi begini setiap kali ada yang berbicara tentang papa atau keluarganya, batin Rosaline prihatin.
Saat itu si mbak asisten rumah tangga Grey, datang menyuguhkan minuman pada mereka, membuat percakapan mereka terhenti. Si mbak itu juga kemudian membawa nampan lain yang berisi obat - obatan dan segelas air putih.
"Ini obatnya, untuk pagi ini belum tuan muda minum..." kata si mbak sopan.
"Oh thanks..." kata Grey.
Sembari menunggu Grey minum obatnya, Rosaline menyibukkan diri, memotong kue cake bawaannya tadi membantu si mbak menyuguhkannya di meja.
"Ehm...Rosaline...Aku pasti sudah berbuat aneh - aneh ya? I'm very sorry..." Grey mulai, setelah selesai minum obatnya, tapi Rosaline segera menempelkan jari telunjuknya pada bibir Grey memberi isyarat agar pemuda itu tak usah lagi mempermasalahkan kejadian tadi.
"Sudah, nggak apa kok...Kita...Hmm..Lebih baik kita makan kuenya yuk?" usul Rosaline berusaha mengalihkan percakapan.
"Oh, oke...Tapi..." Grey sedikit sungkan menerima piring kecil berisi potongan kue yang disodorkan Rosaline padanya, karena merasa bersalah dan malu sudah berbuat diluar kesadarannya di depan gadis sahabatnya itu.
“Eh...Sebenarnya aku harus berbelanja stock bahan – bahan kue untuk ibuku lho? Setelah dari apartemenmu...” kata Rosaline mencairkan rasa bersalah dan malu Grey.
“Ooh...Ehm...Bagaimana kalau aku temani?” usul Grey setengah memaksakan diri untuk terlihat bersemangat. “Kalau barang belanjaanmu banyak, kan aku bisa bawa mobilku.”
Yah beginilah rasanya kalau jalan dengan orang kaya...Batin Rosaline mau tak mau salting juga dibuntuti sesosok lelaki kekar walau minus kaca mata hitam - tak seperti bodyguard yang di film – film yang identik selalu memakai kaca mata hitam – hehehe...
Akhirnya mereka meluncur ke toko bahan – bahan kue langganan ibu Rosaline dengan naik mobil Mercedes Benz milik Grey, yang hari itu disupiri oleh pak Hendro. Rosaline membayangkan betapa tercengangnya nanti ibu Endah pemilik toko langganan ibunya ketika melihat dia turun dari mobil mewah, karena biasanya juga dia turun dari angkot. Hehehe...Rosaline terkikik sendiri dibuatnya.
“Kenapa? Kok tertawa?” tegur Grey membuyarkan lamunan Rosaline.
“Haa?...Eh enggak kenapa – kenapa kok....” jawab Rosaline dengan wajah merah padam, memandang Grey, dan gadis itu terkikik lagi.
“What? Ada yang aneh dengan aku?”
“Ah enggak kok, bukan mentertawai kamu...Entah kalau mentertawai hidungmu?”
“Hidungku? Kenapa hidungku?”
“Tuh!" Rosaline memencet hidung Grey dengan jarinya keras - keras, membuat Grey terjengah.
“Kamu...” tapi Grey tak jadi meneruskan kata – katanya karena melihat Rosaline tertawa. Begitu ceria tampaknya tawa gadis itu, seolah sanggup menularkan keceriaan itu kepada siapa saja yang memandangnya. Grey mau tak mau jadi ikut tertawa.
“Nah gitu dong, ketawa...Kan enak dilihat wajahnya, daritadi aku lihat wajahmu serius saja.” kata Rosaline disela - sela gelak - tawanya, secara berusaha menghibur Grey yang tadi masih kelihatan tak bersemangat.
“Bisa saja kamu....Aku justru tertawa karena melihat wajahmu...See? Sampai matamu pun ikut tertawa! I miss that happy face of yours!” kata Grey sambil membalas menarik hidung Rosaline.
“Grey! Sakit, tau!” pekik Rosaline sambil mengusap – usap hidungnya, gadis itu lalu memukuli tubuh Grey karena gemas, membuat pemuda itu justru makin keras tertawa. Grey menangkap tangan Rosaline menahan pukulan gadis itu di tubuhnya, tapi tarikan tangannya terlalu keras sehingga Rosaline hampir terjerembab ke depan menimpa tubuh Grey. Gadis imut itu terbelalak menatap Grey yang ternyata juga sedang menatapnya.
Oh tidak, aku belum pernah sedekat ini dengan Grey...Batin Rosaline tersipu malu. Mata coklat mudanya itu...Kenapa dia menatapku seperti itu? Kok aku jadi berdebar – debar seperti ini ya?
“Ehm...Ehm...Tuan...Nona...Kita sudah sampai...” tiba – tiba pak Hendro mendehem – dehem mengingatkan kedua remaja yang duduk di belakangnya itu.
“Eh benar, kita sudah sampai...” kata Rosaline tersadar. Sementara Grey juga buru – buru melepas pegangan tangannya dari Rosaline.
__ADS_1
Begitu pak Hendro sudah menghentikan mobil mercedes benz itu tepat di depan toko, kedua remaja itu segera turun dari mobil dan masuk ke dalam toko.
Grey menawarkan jasa membantu Rosaline membawakan bahan – bahan kue yang diambil gadis itu dari rak – rak toko. Rosaline senang – senang saja dibantu Grey karena pesanan ibunya memang lagi banyak hari itu. Gadis itu tampak sudah paham betul dengan seluk – beluk toko itu, dengan cekatan mengambil kantung – kantung besar tepung terigu, gula, kaleng – kaleng besar mentega, berkotak – kotak Cocoa Powder, kismis, buah cherry kering, membuat Grey yang tak biasa mengangkut barang – barang sebegitu banyaknya hampir saja terhuyung – huyung jatuh, seandainya tidak ada pak Hendro yang dengan sigap membantunya. Rosaline sembunyi – sembunyi menahan tawa melihat kejadian itu.
Saat mereka berdiri di depan kasir, giliran bu Endah pemilik toko yang tersenyum – senyum melihat kedua remaja itu berdebat, antara Grey yang hendak membayarkan belanjaan Rosaline sementara gadis itu mati – matian menolaknya.
“Ini belanjaan ibuku Grey, masa kamu yang membayar?” kata Rosaline dengan rasa segan.
“Tak apa, aku ingin menyenangkan ibumu....Karena ibumu mengingatkan aku pada mama...” balas Grey membuat Rosaline tertegun. “Mama pasti senang kalau aku membantu ibumu tetangga dekatnya dulu...”
“Ah Grey....” Rosaline tak tau harus berkata apa.
“So please, let me do this...” kata Grey memohon.
Akhirnya gadis itu hanya bisa berterima kasih dan membiarkan Grey yang membayar semua belanjaannya.
Setelah membayar semua bahan – bahan kue yang dibeli, kedua remaja itu kembali ke mobil. Karena hari ini hari Minggu, Grey mengajak Rosaline untuk pergi berekreasi ke sebuah taman hiburan outdoor yang ada di kota mereka.
"Benar, kamu nggak capek, Grey?" tanya Rosaline ketika Grey mengajukan ajakan tersebut.
"No problem, I'm fine...Pokoknya kita having fun, okey?" bujuk Grey.
"Oke deh..." kata Rosaline akhirnya, maka setelah mengantarkan belanjaan bahan – bahan kue pesanan ibu, mereka segera meluncur ke sebuah taman hiburan yang luas dan asri, penuh dengan kebun bunga yang indah berwarna – warni, dilengkapi dengan area permainan outdoor seperti flying fox, sky bike, lapangan basket mini dan lain – lain.
Bagaikan kembali ke masa lalu, Rosaline dan Grey merajut kembali kerinduan mereka setelah sembilan tahun yang memisahkan persahabatan mereka, kedua remaja itu tampak begitu bahagia berkejaran, bercanda bersama, ceria mencoba semua permainan outdoor yang ada, gelak – tawa Grey dan pekikan – pekikan Rosaline membahana setiap kali mereka mencoba salah satu permainan.
Tuhan, biarkan hari ini tak pernah berakhir
Biarkan kami merajut kembali rindu kami
Yang pernah terkoyak oleh waktu
Yang pernah terputus oleh jarak
Tuhan, jangan biarkan rindu itu terulang
Karena kami tak kan sanggup
Izinkan tangan kami saling meraih
Izinkan mata kami saling bertatap
Agar teduh jiwa ini bahagia selalu
Ketika mereka menemukan area lapangan basket mini di taman hiburan itu, Rosaline menantang Grey untuk bermain basket dengannya – setidaknya berlomba memasukkan bola ke dalam keranjang. Grey cuma tertawa menanggapi tantangan Rosaline, secara dia tau kaliber permainan basket Rosaline bagaimana. Pemuda itu lebih banyak mengalah dan membiarkan Rosaline bebas melakukan shoot bola sesukanya. Grey lebih menikmati moment memandangi keceriaan gadis sahabatnya itu melompat, berputar dan tertawa ceria saat mendribble bola dan shoot jump. Rosaline tampak bagaikan seekor kupu – kupu yang begitu indah, begitu cantik, dengan baju baby doll pink-nya yang melambai - lambai mengikuti gerak badannya, kaki – kaki langsingnya yang berbalut celana jeans ketat begitu lincah berlari kesana kemari. Tanpa sadar, Grey tersenyum - senyum sendiri tak dapat menahan kekagumannya pada Rosaline.
Lelah menjajal permainan outdoor, kedua remaja itu beristirahat di bangku yang ada di kebun bunga, sambil menikmati es krim yang mereka beli di stand jajanan yang ada di area taman hiburan itu.
Sembunyi – sembunyi Rosaline juga mengintip wajah Grey, melihat betapa cemerlangnya raut wajah itu, tertawa, bercanda seolah sudah begitu lama pemuda itu tidak merasakan keceriaan seperti ini dalam hidupnya, seolah lupa dia akan kegalauannya saat di apartemen tadi pagi. Kasihan Grey, mudah – mudahan kebersamaan kami bisa membuat tekanan jiwanya berkurang, batin Rosaline iba.
Tak terasa sore menjelang, ketika Grey mengantarkan Rosaline pulang ke rumahnya.
“Nanti malam aku kirim WA ya?” kata Grey ketika pemuda itu ikut turun dari mobil dan mengantarkan Rosaline sampai ke depan pagar. Rosaline belum sempat menjawab kata – kata Grey, karena ada hal lain yang menyita perhatian gadis itu.
Seseorang tampak duduk di kursi teras rumah Rosaline. Danni! Ya Danni, abang Sheila. Gelas teh yang ada di meja kecil disampingnya, tampak sudah hampir kosong isinya, menandakan pemuda itu sudah lama menunggu Rosaline disitu. Spontan, Rosaline melirik HP nya, benar saja, ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab dari Danni.
“Bang Danni?” kata Rosaline terjengah.
Raut wajah Danni tampak begitu gusar memandang Rosaline yang berdiri di depan pagar berdua dengan Grey.
__ADS_1