Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Bab 23 : Masalah Ibu Nila dan Papa Grey


__ADS_3

Rosaline menangkupkan kedua tangannya ke mulut begitu mendengar hakim di pengadilan menjatuhkan vonis hukuman Danni. Perasaan gadis itu tak menentu, antara haru, lega, bercampur gundah saat ibu memeluknya, saat Sheila dan Tika juga memeluknya, saat Grey menepuk bahunya memandangnya sambil tersenyum. Berarti usai sudah proses hukum yang begitu menekan batin ini...Rosaline memandangi Danni yang lesu digiring polisi keluar ruang pengadilan. Gadis itu menghela nafas, walau bang Danni sudah mendapat hukumannya...Tapi tetap saja aku masih menanggung akibatnya...Rosaline meraba perutnya, mengeluh. Janin ini... Janin anak bang Danni ini...Oh....Seandainya bisa kulenyapkan...


Rosaline memandang Grey yang selama ini setia menemaninya bolak – balik ke kantor polisi dan pengadilan beberapa hari ini. Kasihan Grey, harus menerima kenyataan aku mengandung anak Bang Danni, bukan anaknya...


“Sudah selesai, Rosaline... Kamu tidak perlu kuatir lagi...” bisik Grey sambil menggenggam tangan Rosaline, menguatkan hati karena melihat gadis itu memandangnya dengan gundah.


“Ya, Grey...”


Tapi diluar dugaan, ternyata Grey salah, masalah tidak selesai sampai sidang pengadilan saja. Karena hari itu, tepat sehari sesudah proses hukum itu selesai, Rosaline mendapat telepon dari Sheila.


“Gawat Ros, ternyata ibuku tidak bisa menerima vonis hukuman bang Danni yang harus dipenjara sekian lama...” Sheila heboh menelepon Rosaline, memberi tau kabar itu. “Sepulang dari pengadilan kemarin, ibu memang menangis terus...Yah, soalnya bang Danni anak kesayangan ibu sih...”


“Maksudmu?” Rosaline terbelalak mendengarnya.


“Ibu berkeras ingin datang ke rumahmu, memohon pada keluargamu untuk mencabut tuntutan terhadap bang Danni, Ros...” terdengar Sheila menyahut, Rosaline mendekap mulutnya. “Maafkan ibuku, Ros...Padahal ayah tidak merestui keinginan ibu karena ayah sangat marah dan malu karena perbuatan bang Danni...Tapi ibuku...”


Keluarga Rosaline tidak menyangka, ibu Nila, ibunya Danni dan Sheila datang ke rumah mereka, dengan penuh linangan air mata, memohon pada ayah dan ibu Rosaline agar mencabut tuntutan mereka terhadap Danni anaknya.


“Saya mohon...Cabut tuntutan bapak – ibu pada anak saya, Danni...Saya mohon...Saya bersedia memberikan apa saja asal bapak dan ibu mau mencabut tuntutan itu...Kasihanilah saya, Danni anak laki – laki saya satu - satunya, dia tumpuan hidup saya...” tangis ibu Nila mengiba – iba, membuat ayah dan ibu Rosaline tak bisa berkata – kata.


“Tapi itu tidak mungkin bu...Sidang sudah selesai...Lagipula ibu tidak memikirkan anak perempuan saya, Rosaline...Dia menanggung perbuatan anak ibu seumur hidupnya.” terdengar ayah menjawab.


“Saya tau pak, saya paham...Tapi kasihani Danni, dia sebenarnya bukan tipe anak bermasalah, dia khilaf waktu itu, pak...Danni mengadu dengan saya, bahwa dia sebetulnya sangat mencintai Rosaline dan sangat menyesal sudah menodai Rosaline.... Dia mau bertanggung jawab, pak...Dan kami juga setuju menikahkan Danni dengan Rosaline...Jadi saya mohon....”


Permintaan Ibu Nila, ibu dari Sheila dan Danni membuat Rosaline gundah. Walau ayah - ibunya menolak permohonan ibu Nila, tapi perempuan itu begitu gigih mendatangi rumah mereka hampir tiap hari, memohon kebebasan Danni anaknya. Sampai suatu hari Rosaline mendengar kebimbangan ayah – ibunya mengenai masalah Danni.


“Bagaimana ini ayah? Ibu Nila datang ke sini terus – menerus memohon pada kita...” Ibu berkata risau.


“Ya mau bagaimana lagi? Si Danni itu memang seharusnya dihukum. Lagipula anak kita sudah memilih Grey, dan Grey juga sudah lebih dulu menyatakan kesediaannya...”


“Tapi sampai sekarang, kenapa orang tua Grey belum juga datang?”


“Mungkin pak Darmawan sedang sibuk...”


“Ayah...Terpikir oleh ibu...Dulu Rosaline pernah cerita, kalau Danni itu selalu juara kelas, dan bintang basket di sekolah...Berarti anaknya pintar juga ya?”


“Apa maksud ibu? Ingat bu, anak itu sudah menghancurkan masa depan anak kita!”


“Tapi kata ibu Nila, Danni bersedia menikahi Rosaline...Apalagi Danni adalah ayah dari janin yang dikandung Rosaline...”


“Ya...Tapi bu...”


“Bukannya ibu mengecilkan Grey atau kasihan dengan ibu Nila...Tapi yang ibu pikirkan, Danni...Anak yang sehat...Tidak memiliki kelainan jiwa seperti...”


Rosaline melihat dari celah pintu kamarnya, betapa ayah kemudian memandang ke arah ibu, mendengar kata – kata itu. Kebimbangan terlihat jelas dimata mereka. Rosaline menggigit bibirnya, begitu kuatir....Kuatir ayah – ibunya berubah pikiran...


********


Sore itu di taman tempat dimana mereka biasa bertemu, Rosaline menceritakan kekuatirannya terhadap permintaan ibu Nila pada Grey. Kedua remaja itu duduk berselonjor kaki menghadap pohon besar dimana ukiran ikrar mereka masih setia mengingatkan mereka, ‘Grey – Rosaline, setia dalam susah dan senang'.


“Aku kuatir ibu Nila bisa merubah keputusan ayah – ibuku, Grey...” kata Rosaline terdengar ketakutan. “Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana, apakah kamu sudah bicara dengan papamu tentang masalah kita?”


“Papa baru saja berangkat ke Paris dengan perempuan bule itu...” sahut Grey datar, membuat Rosaline terkesiap.


“Ooh...”


“Mungkin minggu depan papa baru pulang...”


“Jadi kamu belum sempat bicara dengan papamu, Grey?”


“Sudah...”


“Lalu apa tanggapan papamu? Kapan papamu..Maksudku, papamu mau datang kan? Papamu setuju kan dengan pernikahan kita?” tanya Rosaline penuh pengharapan. Grey tidak langsung menyahut, pemuda itu memandangi Rosaline dengan mata coklat mudanya dengan pandangan yang sukar ditebak artinya. Tangan Grey mempermainkan smartphonenya dengan gelisah. Beberapa kali smartphone itu terjatuh ke tanah sebagai akibatnya. Rosaline begitu heran melihatnya, kenapa Grey memandangiku seperti itu? Kenapa dia tampak begitu gelisah? Gadis itu tidak tau apa yang tergambar dimata Grey saat itu.


Grey masih memandangi Rosaline tapi di mata pemuda itu bagai terbayang saat dia memaksakan diri untuk datang ke rumah besar papanya, melewati pandangan – pandangan heran para bodyguard dan pelayan karena tak biasanya Grey, tuan muda mereka datang ke rumah besar itu - terakhir mereka melihat Grey ada di rumah besar itu, saat keluarga Darmawan Adinegoro baru tiba dari Amerika berapa bulan yang lalu. Melewati Britney, adik tiri Grey yang memandang Grey dengan sikap ketakutan dari balik tubuh mamanya, Alicia, istri kedua papa Grey yang juga memandang Grey dengan pandangan tidak senang. Grey berusaha untuk tidak peduli akan semua itu. Dia memang tak pernah menerima kehadiran Alicia dan Britney di rumah papanya. Rasa bencinya menggelegak setiap kali melihat mereka, yang sudah menyakiti mamanya.


Pemuda itu menemui sang papa di ruang kerja, dengan tubuh mendingin. Kepalanya berdenyut melihat sosok papanya yang duduk menghadap meja kerjanya sedang menatap serius laptop yang terbuka dihadapannya, sosok seorang papa yang sudah mengkhianati mamanya, sosok yang sudah menyebabkan kematian mama! Bagai berderak tulang jemari tangan Grey karena terlalu kuat dikepalkan, saat akhirnya pemuda itu bicara dengan papanya.


“Pa...” Grey menyapa. “May I talk...With you?”


“Grey??” papa Grey mengangkat wajahnya, tercengang melihat kedatangan Grey, yang bisa dikatakan seperti sebuah moment langka dalam hidup konglomerat itu. “Well, well, what a surprise, apa yang menyebabkan anak papa yang satu ini datang menemui papa hari ini?”


Grey terdiam beberapa saat, memikirkan bagaimana dia memulai percakapan itu.


“What’s up, son? Uangmu sudah habis? Don’t worry, nanti papa transfer lagi ke rekeningmu, kamu mau berapa?” lanjut papanya melihat Grey tampak ragu – ragu untuk bicara.


Grey hampir saja meludah, mendengar papanya berbicara seperti itu padanya. Jadi papa pikir dia datang cuma karena minta uang? Cih! Sampai kapan papanya bersikap seperti itu? Papa pikir cinta dan kasih sayang bisa diganti dengan uang? Grey menekan perasaannya dalam – dalam.


“Bukan itu maksud Grey datang kesini...” sahut Grey datar.


“So?....Oh I see, motor mu rusak...Mau diganti yang baru? Kebetulan papa ditawari motor Harley Davidson oleh rekanan papa, kamu berminat?”


“Papa...Bukan itu maksud Grey datang kesini!” ulang Grey dengan suara sedikit keras. Papanya menutup laptop yang sedari tadi terbuka dihadapannya selagi dia berbicara dan mulai mengalihkan pandangannya pada Grey.


“Ada apa Grey?”


“Papa ingat dengan Rosaline?”


“Rosaline? Temanmu yang di Amerika atau di Indonesia? Temanmu banyak, nak...Papa tidak ingat...Hmm...Rosaline...Wait..I remember! Rosaline...Gadis yang datang ke rumah sakit tempo hari ya?”


“Yeah right...She is my best friend, pa, sahabat Grey sejak kecil, sebelum kita pindah ke Amerika dulu...Sembilan tahun yang lalu...”


“Oh I see...”

__ADS_1


“I want to marry her...”


“What?!”


“I want to marry her..”


“Maksudmu?”


Papa Grey sekali lagi tercengang memandang Grey. Lelaki itu tampak mengerutkan kening ketika mendengarkan Grey menceritakan duduk persoalan kenapa dia mau menikahi Rosaline.


“God...Kamu benar – benar out of mind, Grey, untuk apa kamu berkorban demi gadis itu? Papa bisa mencarikan banyak gadis – gadis cantik yang selevel dengan kita, jika kamu ingin menikah kelak!” komentar papa Grey setelah selesai mendengarkan cerita Grey.


“Apa maksud papa dengan ‘selevel’?!” tanya Grey gusar.


“Kita berasal dari keturunan yang terhormat, tak mungkin menikahi sembarang gadis. Apalagi gadis itu adalah korban perkosaan katamu...No, Grey, no...Papa tidak setuju!”


“Tapi Grey cuma mencintai Rosaline, pa, dan tak ingin gadis lain! Grey tak peduli dia selevel dengan kita atau tidak, Grey mencintai orangnya, bukan tingkat status sosial ekonominya!”


Tapi papanya cuma menggeleng. Tetap pada pendiriannya.


“Papa rasa kamu menikahinya karena kasihan pada gadis itu, right? No, Grey, pernikahan tidak bisa berdasarkan itu...”


“Pa? Grey mau menikahi Rosaline bukan berdasarkan rasa kasihan, Grey mencintai Rosaline pa, sangat mencintainya dan Grey cuma ingin Rosaline bahagia... ”


“Sudahlah Grey, jangan berpikir yang aneh – aneh. Jawaban papa tetap tidak. Lagipula kamu masih sekolah, fokuskan dengan pelajaran sekolahmu dulu, okay son?”


“Please help Rosaline, pa...She’s my everything..” Grey setengah mati menekan rasa bencinya terhadap papanya, lidahnya bagai kelu tapi dipaksakannya untuk mengucapkan nada permohonan pada sang papa.


“No, Grey...”


“Apapun akan Grey lakukan, asal papa setuju...”


“Grey, jangan memaksa papa.”


“Please...Papa?”


Papa Grey terperanjat melihat Grey tiba – tiba berlutut dihadapannya. Pemuda itu menggigil menahan perasaannya. Tangannya dikepalkan kuat – kuat, rasanya bagai gila dia melakukan itu, tapi rasa cintanya yang amat sangat pada Rosaline membuat Grey mengalahkan segala rasa itu dan sanggup melakukannya.


“Hey, apa yang kamu lakukan, Grey?”


“Grey tak akan berdiri sebelum papa setuju Grey menikahi Rosaline.”


“Kamu...” Papa Grey tampak gusar.


Saat itu Alicia, istri kedua papa Grey, masuk ke ruang kerja itu. Alis perempuan bule itu terangkat melihat Grey berlutut dihadapan papanya.


“What’s going on here?” tanya Alicia pada papa Grey.


“Nothing important, honey...” papa Grey cuma mengibaskan tangan ke arah Grey.


“Oh God...I'm totally losing it! The dentist! I am so sorry...”


“We have made an appointment with the dentist in ten o'clock, darling...” Alicia menunjuk jam dinding yang ada di ruang kerja itu - lima belas menit sebelum pukul sepuluh. “Tomorrow we will go to Paris so we have to go to Britney's dentist today, we don't have much time...”


“Ok, ok, we will go to the dentist right away, honey...”


Papa memandang Grey yang masih berlutut.


“Grey, papa harus pergi mengantar adikmu ke dokter gigi...”


Grey menatap dingin papanya dengan mata coklat mudanya.


“Grey menunggu jawaban papa...”


“Grey...Listen, you know my answer...Bagaimanapun papa tidak akan setuju, please think again, son...”


“Pa...”


Grey cuma terhenyak melihat papanya keluar begitu saja dari ruang kerja, meninggalkan dirinya yang masih berlutut, meninggalkan dirinya demi untuk mengantar Britney ke dokter gigi bersama Alicia, perempuan bule itu...


“Grey?” suara Rosaline menyentakkan Grey dari lamunannya.


“Ya?”


“Apa tanggapan papamu?” ulang Rosaline.


“Belum ada tanggapan dari papa...” sahut Grey tanpa memandang Rosaline.


“Belum ada?” Rosaline begitu galau mendengar jawaban Grey.


“Yeah..”


“Grey, ibu Nila mendesak ayah – ibuku hampir tiap hari, dia datang ke rumahku sambil menangis...Aku takut, Grey....”


“Tapi ayah – ibumu tak pernah menyetujui permintaan ibu Nila kan?”


“Ya, tidak sih...Atau saat ini...Belum. Tapi aku takut lama – kelamaan bisa saja ayah – ibuku menjadi luluh juga..”


Kedua alis Grey tampak saling bertaut mendengar itu.


“Rosaline...”


“Aku takut, Grey...Takut kita dipisahkan lagi....Aku cuma sayang kamu, Grey...Aku tak bisa membayangkan jika harus dengan bang Danni...”

__ADS_1


Rosaline gundah melihat sikap Grey yang cuma memandanginya saja tanpa menanggapi kata - katanya. Apalagi Grey kemudian membelai rambut Rosaline, tangan Grey dingin dirasakan gadis itu.


“Mungkin..Mungkin kamu bisa mencoba menelepon papamu...Aku yakin papamu pasti punya waktu untuk mendengarkanmu...” Rosaline mencoba memberi usul.


“Percuma saja...little butterfly...Aku tau papa nggak akan mungkin sebaik itu, menerima telepon dan mendengarkanku, saat dia sedang bersama perempuan bule itu...” Grey akhirnya bersuara lagi.


“Papamu tidak seperti yang kamu pikirkan, Grey...Aku melihatnya waktu kamu kritis kemarin, Grey, sungguh! Aku lihat papamu terus menunggui di ICU, aku lihat kalau papamu juga sangat mengkuatirkanmu...Papamu sayang padamu, Grey...” kata Rosaline berusaha memberi semangat. walau Rosaline tau betapa pak Hendro yang justru minta bantuannya untuk menjenguk Grey waktu itu, karena papa Grey terlalu sibuk untuk memperhatikan anaknya. Walau papa Grey sebenarnya cuma datang saat Grey kritis saja. Maafkan aku sudah berbohong, Grey...batin Rosaline. Tapi aku cuma ingin memberimu semangat...


“Rosaline...”


“Aku serius, Grey...Kamu bisa tanya pak Hendro kalau kamu tak percaya!” Rosaline mencoba meyakinkan Grey.


“Sudahlah, Rosaline... “ Grey tersenyum sedih melihat Rosaline begitu menggebu meyakinkan dirinya tentang papanya.


“Apa maksudmu dengan sudahlah?” Rosaline bertanya risau.


“Kamu tak usah menyemangatiku soal papa...Aku tau betul siapa papaku, Rosaline...”


“Grey...Jadi kita harus bagaimana? Menyerah begitu saja? Membiarkan bang Danni menikahiku??”


“Rosaline...Bukan begitu...”


“Lalu?!”


“Sudah kukatakan, aku sudah bicara dengan papa...Tapi belum ada tanggapan..”


“Dicoba lagi dong, Grey, siapa tau mungkin waktu itu papamu sibuk jadi belum sempat menanggapi. Please, Grey? Aku tau kamu dan papamu tidak harmonis, tapi sebuah pernikahan butuh persetujuan kedua belah pihak orang tua, Grey...Jadi kumohon, berusahalah...”


“Aku kan sudah berusaha, tapi papaku belum menanggapi..”


“Karena papamu belum menanggapi lalu kamu diam saja? Tak mau berusaha lagi?! Kamu sayang nggak sih sama aku sebetulnya?!” Rosaline mulai tak sabar.


Grey terjengah mendengar kata – kata Rosaline.


“Rosaline...It’s easy for you to talk!” Grey menaikkan alisnya.


“Apa?!”


“Kamu...Kamu tidak tau bagaimana aku berjuang..” Grey bangkit dari duduknya. “Aku menekan segala pedihku setiap kali melihat wajah papaku, orang yang sudah begitu tega menyakiti mamaku, orang yang sudah menyebabkan kematian mama! Setengah mati aku berusaha untuk bicara padanya tentang kita, tapi apa?! Semua bullshit! A big bullshit! Dia cuma bilang, ‘kamu benar – benar out of mind, Grey, untuk apa kamu berkorban demi gadis itu?’ Dia juga bilang kita tidak selevel...You see it now, Rosaline? Aku sebetulnya tidak mau mengatakannya, cuma kamu sudah memaksa!”


Rosaline terhenyak mendengar itu.


“Ja..Jadi papamu tidak...”


“Ya, dia tidak setuju!” ucap Grey tandas.


“Ba..Bagaimana bisa?” Rosaline bagai tak percaya.


“Ugh, bagaimana bisa?!”


Braak!!


Grey melempar smartphone yang ada digenggaman tangannya sekuat tenaga seolah melampiaskan segala gundah yang selama ini tersimpan dihatinya, hingga smartphone itu hancur berantakan menghantam pohon yang ada di depan mereka. Rosaline hampir terlompat kaget dibuatnya.


“Grey?!”


“Bagaimana bisa katamu? Ya, begitu lah papaku! Kalau kamu mau tau the real fact, Rosaline! Papa yang katamu sayang padaku? Perhatian padaku?...Bullshit!! Papaku just a bullshit!” Grey bagai menggeram kesal.


“Maksudku...Maksudku, bagaimana...” Rosaline tak bisa meneruskan kata – katanya karena tersentak melihat Grey menghantamkan kepalan tangannya keras – keras ke pohon yang ada didepannya. Sorot mata pemuda itu begitu berkobar penuh kebencian. “Grey...Apa yang kamu lakukan?!”


“Damn!!...Mengagungkan keturunan terhormat??! Persetan dengan segala yang terhormat itu! Terhormat tapi tak punya perasaan! Membuat mama bunuh diri, apa itu yang dinamakan perilaku keturunan orang terhormat??! Fool you!!” Grey menghantamkan kepalan tangannya berkali – kali ke pohon, tak peduli kepalan tangannya jadi memerah dan lecet. Seolah sedang memuaskan hatinya yang penuh amarah dengan sang papa, Grey terus memukuli pohon itu hingga nafasnya terengah – engah, membuat pemuda itu akhirnya terpaksa menopangkan tangannya ke pohon karena kelelahan dan menyembunyikan wajahnya dibalik topangan tangan tersebut, mengatur nafasnya.


“Grey, tenanglah Grey...Please..Jangan membuatku takut...” Rosaline tak terlalu paham dengan kata – kata Grey yang baginya terdengar bagai tidak berujung – pangkal. Gadis itu mulai panik, melihat Grey begitu emosional. “Aku juga tak menyangka papamu ternyata tidak setuju... Aku...”


Sepertinya percuma berbicara dengan Grey saat itu, Rosaline melihat Grey seperti sedang berada dalam dunianya sendiri.


“Papaku...Kenapa dia tak pernah peduli denganku, kenapa dia tidak pernah mengerti aku...Yang ada dipikiran papa cuma perempuan bule itu, dan anaknya...Britney...“ kata Grey hampir – hampir seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri. “Yeah, right! Anak mereka cuma Britney sepertinya...Sedangkan Grey Adinegoro tidak pernah ada, Grey Adinegoro tidak perlu didengar... bagi mereka Grey Adinegoro sudah mati...”


Grey tiba – tiba tertawa, walau tawanya terdengar begitu sedih.


“Yeah, mati, mungkin seharusnya aku ikut mati bersama mama...”


“Grey...” Rosaline begitu kuatir melihat emosi Grey yang berubah – ubah, tadinya terlihat begitu marah dan benci dengan papanya, kini tiba – tiba saja terdengar seperti begitu frustasi dan merindukan perhatian papanya. Gadis itu dengan hati – hati mendekati dan menyentuh bahu pemuda itu. “Grey? Please... Kamu mau mendengarkan aku?”


“Go away!!” tapi secara tak terduga pemuda itu tiba - tiba menyentakkan tangan Rosaline dengan kasar.


“Aaww!!” tindakan Grey membuat Rosaline terkejut dan kehilangan keseimbangan, gadis itu terhentak ke belakang dan terhempas ke tanah.


“Rosaline?! “ Grey terperangah melihat itu, seperti baru tersadar, seperti batu terbangun dari mimpi.


“Grey...Aduh... “ Rosaline merintih, gadis itu meringkuk memegangi perutnya. “Perutku...Sakit...”


Grey berlutut panik, segera memeriksa Rosaline.


“Oh, no! What have I done? Rosaline...Maafkan aku... Maafkan aku..“


“Perutku sakit...”


“Kita ke dokter ya?” Grey segera menggendong Rosaline, dan berteriak memanggil pak Hendro yang sedang menunggu di dalam Mercedes Benz yang terparkir di luar taman.


Di klinik dokter, ayah – ibu Rosaline yang menyusul mereka, tampak saling berpandangan. Rosaline tau arti pandangan ibu pada ayah, ‘Nah benar kan kata ibu? Belum lagi menikah, anak kita sudah celaka karena Grey’. Gadis itu menggigit bibirnya galau, ayah dan ibu pasti menuduh aku terjatuh gara – gara Grey...Aku tau...


“Aku tak apa – apa, ayah, ibu...Dokter bilang kandunganku juga tak apa – apa...” kata Rosaline mencoba membuat ayah – ibunya tidak berpikir negatif tentang Grey. “Aku tadi jatuh tersandung di taman karena tidak hati – hati...Untung ada Grey yang memegangiku...Iya kan Grey?”

__ADS_1


“What?” Grey terjengah, disikut Rosaline agar membenarkan kata – katanya.


Rosaline menghela nafas sedih, kejadian ini...Semoga tidak membuat ayah – ibu semakin meragukan Grey. Dan masalah papa Grey...Oh Tuhan, Kenapa? Kenapa papa Grey tidak setuju? Gadis itu memandang Grey yang sedang duduk membisu disampingnya. Oh kenapa semua menjadi begini sulit? Kenapa cinta tulus kami selalu mendapat begitu banyak rintangan?


__ADS_2