
“Tadi katanya kamu ingin menunjukkan sesuatu padaku, what is that?” tanya Grey pada Rosaline, minggu siang ketika mereka sedang menikmati Iced Lychee Tea dan Spaghetti Bolognese di sebuah cafe kekinian yang hari itu bernuansa romantis, cafe pilihan Grey.
“Ohiya...Anu...Ini...Aku mau menunjukkan situs tentang bipolar ini padamu, aku baru ketemu situs ini tadi malam, aku pikir ini berguna untuk kita, agar tau lebih banyak tentang penyakitmu...Situs Bipolar Care Indonesia menarik bukan? Siapa tau kita bisa bergabung dengan komunitas mereka...” kata Rosaline sambil menunjukkan halaman situs - yang buru – buru di browsingnya dan terpampang di layar HP-nya - pada Grey.
“Oh itu? Lalu untuk apa kita bergabung dengan komunitas itu?” tukas Grey dengan nada kurang berminat.
“Ah kamu, Grey! Ya biar kamu bisa punya sahabat – sahabat yang benar – benar mengerti kamu...” terang Rosaline sabar.
“Untuk apa? Kan aku sudah punya kamu...” sahut Grey membuat Rosaline terbelalak.
“Haa?” gadis itu tak menyangka Grey akan berkata seperti itu.
“Aku tak perlu punya banyak sahabat, aku hanya butuh satu orang, dan itu adalah kamu, butterfly kecil...Cuma kamu yang mengerti aku...” senyum Grey mengembang saat mengatakan itu.
Ah Grey, aku ingin membantumu, tapi kamu justru berpikir lain, batin Rosaline sambil menghela nafas.Gadis itu mau tak mau membalas senyum Grey juga. Tapi kemudian setelah selesai makan, Grey akhirnya menuruti juga keinginan Rosaline untuk mengunjungi Komunitas Peduli Penyandang Bipolar yang ada di kota mereka.
Rosaline, sembari menunggu Grey yang sedang ke toilet, sebelum mereka beranjak dari cafe, gadis itu mengobrol dengan pak Hendro bodyguard Grey yang selalu setia mengikuti tuan mudanya itu kemana – mana.
“Pak Hendro sudah lama ya kerja dengan Grey?” tanya Rosaline dengan nada ramah.
“Belum lama nona...Baru beberapa bulan sejak tuan Darmawan dan keluarganya datang dari Amerika...” jawab pak Hendro sambil tersenyum.
“Ooh...” Rosaline mengangguk – angguk.
“Nona sendiri, kalau saya boleh menebak, sudah lama ya menjadi teman dekat tuan muda Grey?” tebak pak Hendro.
Rosaline tersipu malu mendengar kata – kata pak Hendro, ‘teman dekat'
“Ah pak Hendro bisa saja...Yah mau dibilang lama sih tidak juga, tapi saya memang sudah mengenal Grey sejak kami duduk di bangku TK, cuma kemudian berpisah karena Grey dan keluarganya harus pindah ke Amerika waktu itu.” terang Rosaline.
__ADS_1
“Oh begitu...Ehm...Maaf, bukannya saya mencampuri, tapi sepertinya tuan muda Grey sangat senang berteman dengan nona. Saya lihat, sejak kehadiran nona, tuan muda Grey sudah bisa sering tersenyum sekarang...” kata pak Hendro. “Kami yang kerja melayani tuan muda Grey, lega rasanya melihat perubahan itu, biasanya tuan muda tak pernah tersenyum.”
“Ah masa sih pak?” tukas Rosaline basa – basi. Tapi di dalam hatinya, Rosaline tak dapat membayangkan Grey yang tidak pernah tersenyum. Padahal seingat gadis itu, dulu, semasa kecilnya, Grey sangat mudah tersenyum dan selalu ceria. Miris rasanya memikirkan itu, batin Rosaline prihatin. Cerita pak Hendro tentang perubahan Grey membuat Rosaline teringat pada cerita bu Ida guru kelas 11.A, kelas Grey dengan bu Susi guru kelasnya yang tak sengaja didengarnya, ‘Grey Adinegoro sudah menunjukkan peningkatannya belakangan ini, dia sudah mulai rajin masuk sekolah, dan lihat ini...Nilai ulangan Matematikanya kemarin, dapat 95...Ini suatu hal yang mengejutkan! Biasanya nilai anak itu selalu berkisar 55 dan 60...’
Gadis itu diam – diam sangat bersyukur, jika benar keberadaannya membuat perubahan yang positif pada Grey. Itu suatu hal yang menggembirakan! Yang jelas itu berarti keputusannya memilih Grey ketimbang Danni adalah keputusan yang benar - untuk hal yang terakhir ini Rosaline sebenarnya menekankan untuk dirinya sendiri.
“Sebetulnya saya kurang paham kenapa tuan Darmawan tak ingin orang lain tau tentang penyakit tuan muda Grey, ini beliau belum tau saja tentang nona yang peduli dengan penyakit tuan muda Grey, apalagi katanya nona mau mengajak tuan muda Grey ke tempat Komunitas Peduli Penyandang Bipolar ya? Saya sedikit kuatir...” lanjut pak Hendro tampak sedikit curhat dengan Rosaline.
“Kuatir kenapa pak?” tanya Rosaline sambil memandang pak Hendro, penasaran.
“Kuatir tuan Darmawan marah...” jawab Pak Hendro.
“Lho kok marah?” Rosaline bingung.
“Karena jelas orang – orang di Komunitas itu akan mengenali kalau tuan muda Grey anaknya tuan Darmawan Adinegoro...Nanti takut terekspos ke media...Lalu...” pak Hendro menghentikan kata – katanya karena Grey sudah kembali dari toilet. Rosaline menoleh pada Grey.
“Can we go now?” ajak Grey dengan senyum mengembang.
Didalam mobil, Rosaline tau kalau pak Hendro masih melirik ke arahnya berulang kali, mengharapkan dirinya membatalkan niat pergi ke tempat Komunitas Peduli Penyandang Bipolar itu. Sebenarnya kasihan juga dengan pak Hendro, jelas dia yang akan kena marah papanya Grey jika sampai hal yang ditakutkan pak Hendro tadi terjadi, terekpos ke media, Rosaline mengeluh, berpikir – pikir.
“Oh iya, Grey...Sepertinya aku lupa belum membeli bahan – bahan untuk tugas kelompok kami besok!” kata Rosaline membuat pak Hendro lega dan melontarkan pandangan berterima kasih padanya.”Maaf, Grey, sepertinya kita tunda dulu pergi ke tempat komunitas yang aku maksud itu...”
“Oh, I see...No problem, butterfly kecil....” sahut Grey ringan. “ Kalau begitu kita pergi membeli keperluanmu saja sekarang, oke?”
Rosaline mengangguk. Tapi dalam hati, gadis itu mulai mencari akal bagaimana caranya agar bisa mengajak Grey berkunjung ke komunitas itu tanpa pak Hendro. Rosaline ingin Grey memperluas pergaulannya berkenalan dengan orang – orang yang terlibat dengan penyakit bipolar, karena itu sangat bermanfaat dalam membantu Grey meningkatkan kualitas hidupnya, dengan berbagi perasaan dengan sesama penyandang bipolar, melakukan terapi atau kegiatan bersama yang dapat meringankan penyakitnya dan lain sebagainya. Rosaline menghela nafas, niatnya untuk membantu Grey memang tidak mudah selama keluarga Grey tidak mendukung. Kadang orang dewasa itu aneh, karena harta dan status, suka lupa bahwa membesarkan seorang anak adalah dengan perhatian dan kasih sayang bukan dengan harta, dan kenapa harus malu jika anak itu tidak sesuai seperti yang diinginkan? Batin Rosaline tidak pernah mengerti.
Saat itu mobil mereka sedang bergerak menuju daerah pertokoan tempat Rosaline akan membeli bahan - bahan untuk tugas sekolahnya, gadis imut itu diam – diam melirik Grey yang duduk disampingnya, pemuda itu tampak tersenyum – senyum sendiri entah sedang memikirkan apa.
__ADS_1
Ah, Grey, Grey sahabatku, merana benar nasibmu, seandainya ada tongkat peri ajaib yang dapat menyembuhkanmu kembali normal seutuhnya, ke gunung pun akan ku ambil tongkat itu dan menyulapmu jadi sembuh! Supaya kamu tak dikucilkan keluargamu lagi dan senyummu itu adalah senyum yang sesungguhnya, Rosaline membatin penuh rasa iba.
**********
Sore ketika Rosaline baru masuk ke dalam rumah, pulang dari berpergian dengan Grey, Reyna menegur gadis itu.
“Rosaline, tuh ada kiriman buat kamu, kakak letakkan diatas meja belajarmu ya.” kata Reyna sambil tersenyum penuh arti, membuat Rosaline penasaran.
“Ih kenapa sih kak? Kok kakak senyum – senyum begitu?” sudut bibir Rosaline tertarik ke bawah, karena kakaknya seolah sedang menggodanya.
Rosaline masuk ke kamar dan mendapatkan sebuket bunga mawar berwarna merah yang indah menawan telah bertengger dengan manis di atas meja belajarnya. Mata gadis itu langsung membulat melihatnya, apalagi disebelah buket bunga mawar itu terdapat sebuah kotak berwarna pink transparan lengkap dengan pita mungilnya, yang dari jarak jauhpun pasti akan terlihat kalau isinya adalah batangan – batangan coklat Toblerone.
“Hayoo...Dari Grey ya?” goda Reyna yang mengikuti adiknya masuk ke dalam kamar.
Dengan wajah merah padam Rosaline mengambil buket bunga mawar itu dan membuka kartu berbentuk love yang tersemat di buket tersebut. Masa sih dari Grey, kan aku barusan pergi bersama Grey, dan Grey tidak ada bilang apa – apa masalah buket bunga mawar dan kotak coklat ini, jadi ya tak mungkin lah...rutuk Rosaline. Kak Reyna ada – ada saja...
Tapi Rosaline kemudian cuma tercengang membaca isi kartu tersebut.
Untuk Rosaline, Aku tau kamu suka coklat Toblerone, dan aku juga tau kalau hari Valentine itu besok. Tapi aku tak sabar menunggu besok, jadi kubelikan beberapa untukmu hari ini. Semoga suka...Happy Valentine Day duluan ya?
D A N N I
Dari bang Danni? Hari Valentine? Oh tidak! Aku bahkan lupa kalau besok adalah hari Valentine! Pantas tadi disepanjang perjalanan, di cafe, di toko – toko mulai banyak bertebaran pernak – pernik bernuansa pink dan gambar hati. Ta..Tapi Grey kok tidak menunjukkan tanda – tanda ya? Rosaline merasa jantungnya berdebar – debar halus, Ah hari Valentine kan besok, masa Grey harus bilang sekarang sih? Hehehe...Tapi Rosaline merasa ada gejolak aneh yang menyelimuti hatinya, kebimbangan itu tiba – tiba muncul tanpa kompromi.
Kalau masalah romantis, memang bang Danni lah jagonya. Gadis mana yang tak tersanjung dikirimi bunga dan coklat seperti ini? Rosaline menggigit bibirnya. Seandainya Grey itu normal...
__ADS_1