
Rosaline merasa hatinya bagai teriris sembilu, menyaksikan keluarganya begitu gundah mengetahui dirinya hamil. Di dapur, Ibu duduk menyendiri, tapi Rosaline tau ibu sebenarnya sedang menangis. Kakaknya Reyna tampak begitu geram dengan Danni. Sedangkan ayah duduk di ruang tamu sambil menghisap rokoknya dalam - dalam – padahal ayah hampir tidak pernah merokok, tapi saat itu dia merokok, menandakan lelaki itu sudah begitu sedih.
Aku mengira keluargaku akan benci padaku, aku mengira keluargaku akan marah padaku mengetahui aku hamil, tapi ternyata aku salah, keluargaku tetap menerimaku, justru aku yang sudah menyebabkan keluargaku sedih, oh Tuhan, aku merasa bersalah...Aku merasa berdosa...Aku memang anak sial, aku anak yang sudah menyusahkan! Rosaline menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ini semua gara – gara bang Danni!...Mungkin sebaiknya kugugurkan saja kandunganku ini...Aku jijik, aku muak! Aku benci bang Danni yang sudah menghancurkan hidupku! Gadis itu memukuli perutnya sendiri, berharap janin itu tiba – tiba menghilang.
“Rosaline, hentikan Rosaline!” Reyna yang ternyata sudah berdiri dihadapan Rosaline buru – buru menahan tangan Rosaline. “Apa yang kamu lakukan?!”
“Biarkan saja kak! Biarkan! Aku benci ! Aku benci!” tangis Rosaline meledak, berusaha melepaskan tangannya dari pegangan kakaknya, “Aku ini cuma menyusahkan saja, aku benciii!”
“Sudahlah, sudahlah, Rosaline...Itu bukan salahmu...” kata Reyna yang lantas memeluk Rosaline, tak dapat menahan rasa gundah melihat keadaan adiknya.
“Kak...” Rosaline menangis sejadi – jadinya dipelukan kakaknya. “Apa yang harus kulakukan, kak?”
Reyna membelai kepala adiknya tanpa tau harus menjawab apa.
“Kakak tak mengira ternyata Danni pelakunya, padahal Danni adalah abang teman dekatmu, Sheila kan? Kakak benar – benar tak mengira...Bahkan kemarin Danni lah yang memberitau kami bahwa kamu bersama Grey...” kata Reyna penuh penyesalan. “Kakak, juga ayah dan ibu sudah salah mengira dengan Grey selama ini...”
“Grey sangat baik, kak, dia selalu menjaga kehormatanku, dia mau menerimaku padahal aku sudah ternoda begini..Dia..Dia bahkan mau menjadi ayah dari anak yang bakal ada diperutku ini, padahal ini jelas – jelas bukan anaknya...” tangis Rosaline perih. “Grey tulus mencintaiku, kak!”
“Iya, iya dek...Kakak minta maaf sudah berprasangka buruk dengan Grey...” Reyna mencium kepala adiknya, mencoba menghibur. ”Tapi Grey tak jadi ditangkap polisi kan?”
“Tentu saja tidak jadi, Grey tidak bersalah! Ayah sudah mencabut tuntutannya...Memang harus begitu...” Rosaline mengangkat wajahnya, menatap kakaknya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu sebuah mobil Mercedes Benz tampak berhenti di depan pagar rumah Rosaline. Bunyi pintu – pintu mobil yang dibuka dan ditutup, dan langkah kaki tergesa beberapa orang membuat ayah berteriak dari ruang tamu.
“Lihat! Siapa itu yang datang?!”
“Rosaline! Rosaline!” tak lama terdengar suara Grey membahana dari luar.
“Grey?” Rosaline melepaskan pelukan kakaknya dan segera berlari keluar, tindakannya diikuti oleh seluruh keluarganya.
Di teras depan, Rosaline langsung mendekap mulutnya, tak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Danni tampak terbelenggu dibawah cengkraman pak Hendro bodyguard Grey. Dengan masih mengenakan seragam sekolah dan wajah biru lebam seperti habis dipukuli, pemuda itu nyaris terseret – seret karena dipaksa berjalan memasuki halaman rumah Rosaline. Sementara Grey berjalan disampingnya dengan wajah begitu gusar.
“Om, tante...” kata Grey pada ayah – ibu Rosaline yang sedang terpana memandangnya. “Saya pernah berjanji dengan Rosaline, akan menyeret pemerkosanya ke hadapan om dan tante...Sekarang saya tepati janji itu...Ini pemerkosa Rosaline, saya serahkan pada om dan tante...”
Rosaline yang masih terpaku menyaksikan semua itu, tersentak dan menoleh pada Danni yang tampak berusaha memberontak dari cengkraman pak Hendro tapi jelas bodyguard itu lebih kuat darinya. Sekilas gadis itu merasakan Danni membalas tatapannya dengan sorot mata penuh ancaman. Dingin tangan Rosaline dibuatnya.
“Bagaimana Rosaline? Kenapa kamu tidak menjawab?” suara ayah bagai menggelegar ditelinga Rosaline. “Apa benar dia pemerkosamu? “
“Bukan saya yang memperkosa Rosaline, om!” tanpa diduga, Danni yang mendahului Rosaline menjawab. “Bahkan saya baru tau Rosaline diperkosa setelah si Grey bodoh ini tiba – tiba menghajarku tanpa alasan saat pulang sekolah dan memaksaku kesini...”
Rosaline cuma ternganga mendengar kata – kata itu. Bang Danni? Ke..Kenapa dia berbicara seperti itu?
Ayah menaikkan alisnya mendengar itu. Sementara Grey begitu gusar menoleh pada Rosaline, seolah berkata, ‘kenapa diam saja?’
__ADS_1
“Apa maksudnya ini?” tanya ibu bingung. “Mana yang benar, Rosaline? Katakan siapa sebenarnya pemerkosamu? Danni atau Grey?”
“Dek, katakan saja...” Reyna memeluk adiknya mencoba menguatkan Rosaline yang tampak ketakutan.
“Be..Benar dia!” Rosaline dengan gugup mengacungkan telunjuknya pada Danni
“Rosaline?” ditunjuk seperti itu, Danni tampak bagai tersengat. “Aku tidak pernah memperkosamu, Ros... Kenapa kamu begitu tega menuduhku?! Aku abang teman dekatmu Sheila, dan aku...Aku mencintaimu, Ros, jadi tak mungkin aku mencelakai kamu...”
Kata – kata itu membuat Rosaline terjengah. A..Apa? Tidak pernah memperkosaku?! Ta..Tapi sosok yang aku lihat itu? Jelas – jelas bang Danni...Yah walau aku...Walau aku cuma melihat punggungnya...
“Bang Danni mungkin mengira aku masih pingsan waktu itu, tidak bang, aku sudah siuman dan melihat bang Danni meninggalkan aku...Di warung kosong itu...Tak ada siapapun disana kecuali bang Danni!!” Rosaline akhirnya berbicara. Walau kata – kata Danni sudah membuat perasaan gadis itu tiba tiba menjadi goyah dan kembali penuh keraguan. Apakah waktu itu aku salah lihat? Ah rasanya tidak...Tapi...
“Sungguh aku tidak pernah memperkosamu, Ros!”
“Bang Danni bohong! Bohong!!” Rosaline mulai histeris.
“Anak muda, jangan mempermainkan kami?” tegur ayah Rosaline tak sabar.
“Sungguh om...Tanyakan pada Rosaline, apakah ada saksi yang membuktikan kalau saya yang sudah memperkosanya?” sahut Danni tak dapat menyembunyikan wajah penuh kemenangannya.
Rosaline langsung pucat – pasi mendengar itu. Saksi? Ta..Tapi di warung itu tidak ada siapapun waktu itu, kecuali dirinya dan...Bang Danni...
__ADS_1