
Hari ini ada yang berbeda dengan SMU Harapan Bangsa, sekolah tampak lebih heboh dari biasanya, yang paling heboh terutama di bagian kelas sebelas - 11.A kelasnya Grey dan Danni, siswa - siswinya tampak lebih ceria, lebih sering cekikikan dan membicarakan sesuatu sambil melirik – lirik gerombolan yang lainnya. Walau ada juga wajah – wajah galau di sudut – sudut lain. Tapi tak perlu ditanyakan apa yang terjadi pada siswa – siswi kelas 11.A itu, apakah mereka sedang terserang wabah penyakit? Rosaline akan dengan mudah menjawab pertanyaan itu. Sejak kak Mira ketua OSIS, siswi kelas 11.A, siswi kelas sebelas paling borjuis di sekolah itu - mungkin cuma Grey Adinegoro yang bisa menyaingi tingkat keborjuisannya – menyebar undangan pesta Valentine Day yang akan diadakan di Villa nya, sejak itulah wabah ceria, cekikikan dan galau berjangkit di kalangan para siswa – siswi kelas 11.A itu. Hehehe....
Pesta itu akan diadakan Sabtu sore, walaupun hari Valentine jatuh pada hari Senin, tapi dengan alasan tidak boleh mengganggu hari sekolah, Mira mendapat izin orang tuanya Sabtu sore. Oke, fine! Kata teman – temannya tak ambil pusing, yang penting pestanya jadi.
Siswa – siswi kelas yang lainnya boleh berbesar hati, kecipratan heboh juga, karena ada beberapa yang mendapat undangan, terutama para anggota OSIS, atau teman – teman Mira dari kelas lain. Mereka dengan penuh kebanggaan memamerkan undangan itu dengan teman – temannya. Sisanya, yang merasa punya pacar siswa kelas 11.A sudah tentu berdebar – debar menunggu ajakan sang pacar untuk pergi ke pesta itu karena di undangan jelas – jelas tertulis, ‘bersama pasangan'
Seperti Sheila dan Tika misalnya, kedua gadis itu tampak heboh terkikik – kikik di sudut kelas, yang jelas – jelas Rosaline tau, pasti sedang membicarakan pacar masing – masing yang berasal dari kelas 11.A, si Rudy gendut – kesayangannya Tika, secara postur tubuh hampir menyerupai dalam tingkat kegendutan – hihihi....dan Arman si pendiam pacar Sheila, Rosaline tak habis pikir kok Arman bisa cocok dengan Sheila yang bawel ya? Hehehe...
“Hey, bu Susi datang tuh...” desis Rosaline mengingatkan teman – temannya. Sheila cuma menoleh sekilas pada Rosaline sebelum duduk di kursinya. Rosaline tau sejak dia menolak Danni, Sheila seperti menjaga jarak padanya. Bang Danni pasti sudah cerita macam – macam tentang dirinya pada Sheila, batin Rosaline tak enak hati.
Rosaline menghela nafas. Danni sudah sejak tadi mengirim WA pada Rosaline mengajak gadis itu untuk pergi bersamanya ke pesta tersebut, tapi ditolak Rosaline setelah lama berpikir, ‘Maaf bang, aku sudah lebih dulu diajak Grey...’ begitu balas Rosaline di WA. Walau kiriman WA Danni selanjutnya membuat hati Rosaline jadi galau, ‘Jangan berbohong, Grey sudah diundang spesial oleh Mira jadi tak mungkin dia mengajakmu.’ Entah apa maksud Danni mengatakan itu pada Rosaline. Tapi kebenarannya segera diketahui gadis itu dari Grey sendiri.
“Ya, aku memang di undang sebagai tamu VIP oleh Mira, memangnya kenapa?” Grey malah balik bertanya.
“Tapi setauku, kak Mira kan sudah punya pacar? Jadi untuk apa dia...” kata – kata polos Rosaline, membuat Grey tertawa.
“Dan aku juga sudah punya pacar kan?”
“Kamu?”
“Iya, kok nggak tau? My girlfriend named Rosaline...” Grey menyentuh dagu Rosaline, membuat Rosaline yang tadinya hendak merengut jadi berbalik tersipu malu.
Ketika tiba juga hari yang ditunggu – tunggu hampir sebagian siswa – siswi SMU Harapan Bangsa, termasuk Rosaline, sore Sabtu itu, Grey yang ternyata menjemput Rosaline lebih awal membuat gadis itu terbelalak, terkejut melihat apa yang dibawa Grey untuknya. Tidak, bukan buket bunga atau coklat seperti yang pernah dikirim Danni, tapi satu set baju pesta yang sangat indah, model terbaru dari rancangan designer terkenal dan sepasang sepatu yang tak kalah mewahnya. Rosaline cuma tercengang, tak mampu berkata – kata saat menerimanya.
__ADS_1
“Pakailah ini, butterfly kecil, kamu pasti cantik sekali jika memakai ini. Aku pesan khusus untukmu...” kata Grey.
“Tapi ini berlebihan, Grey...Lagipula darimana kamu tau ukuranku?” Rosaline mendekap mulutnya, begitu surprise.
“Dari kakakmu...” sahut Grey ringan.
“Apaa?! Dari kak Reyna?!” Rosaline menoleh ke arah kakaknya yang tersenyum – senyum muncul di belakangnya.
“Sumpah, kakak tidak tau maksud Grey menanyakan ukuran baju dan sepatumu tempo hari...Jadi kakak beri tau saja...” Reyna berkilah, sambil tertawa.
Rosaline serasa menjelma jadi Cinderella dadakan ketika memakai baju dan sepatu mahal yang dibelikan Grey, gadis itu melangkah canggung memasuki Villa Mira bersama Grey, yang sore itu sudah seperti pangeran dengan busana kekinian yang sangat trendy, tersenyum – senyum bangga sambil menggandeng tangannya. Bangunan Villa milik orang tua Mira yang megah itu, sudah ditata sedemikian rupa sehingga menjadi semarak akan nuansa pink dan ungu, ruangan – ruangan di dalamnya sudah penuh dengan tamu – teman – teman sekolah mereka. Rosaline sadar 100 % kalau semua mata tertuju pada mereka saat itu, tak terkecuali Danni. Gadis itu melihat Danni datang dengan Fita, tapi mata Danni tak lepas memandanginya, mengikuti kemana dirinya melangkah bersama Grey. Ada kobar api kecemburuan dimata itu. Rosaline tau.
Bang Danni, maafkan aku...Rosaline membatin dengan perasaan tak menentu.
Rosaline berharap dia tak pernah berpapasan sendirian dengan Danni di pesta itu, karena dia tak akan sanggup menahan perasaannya, tapi ternyata justru semakin ditakutkan, hal itu malah benar – benar terjadi, Rosaline berpapasan dengan Danni saat hendak keluar dari toilet. Rosaline merasa jantungnya sebentar lagi pasti jatuh ke lantai karena berdebar begitu kencang. Semoga, bang Danni tak menegurnya, semoga...batin Rosaline.
“Hai, Ros...” tapi Danni justru menegurnya.
“Oh...Hai juga..” Rosaline salah tingkah, terpaksa menjawab.
“Kamu cantik sekali sore ini, Ros...” puji Danni sambil tersenyum, tanpa mempersoalkan penolakan Rosaline padanya waktu di WA. “Btw sudah terima kan kirimanku, yang hari Minggu kemarin? Semoga kamu suka...”
__ADS_1
Rosaline yakin yang dimaksud Danni adalah buket bunga mawar dan kotak coklat itu. Gadis itu mengangguk.
“Ya, terima kasih bang...” jawab Rosaline sambil menunduk, menyembunyikan semu merah wajahnya. Tapi gadis itu terjengah, ketika tiba – tiba saja Danni sudah berada dekat sekali dengan dirinya. Entah bagaimana. Dingin rasanya tubuh Rosaline saat mendongakkan kepalanya dan mendapatkan Danni sedang menatapnya dengan sorot mata yang begitu teduh, begitu lembut. Tatapan itu sangat mengusik lubuk hati Rosaline sampai bagian yang terdalam.
“Maafkan aku, Ros, tapi melihatmu selalu membuatku tak dapat menahan diri...Kamu terlalu cantik untukku...” bisik Danni masih menatap Rosaline, pemuda itu kemudian perlahan mengangkat tangannya, membelai lembut pipi Rosaline. Nafas gadis itu nyaris berhenti, apalagi saat Danni menunduk sehingga wajahnya dekat sekali dengan wajah Rosaline. Nafas pemuda itu memburu, hangat diwajah Rosaline, ketika tiba – tiba ciuman itu tak dapat dihindarkan mendarat lembut dibibir merah mudanya Rosaline. Cuma beberapa detik, tapi sanggup membuat seluruh tubuh Rosaline serasa melayang.
“Danni?! Rosaline?! What the hell are you doing here?!!” tiba – tiba seseorang berseru keras. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, orang itu dengan kasar menarik Danni agar menjauh dari Rosaline, lalu melayangkan tinjunya ke tubuh Danni berkali - kali tanpa memberi kesempatan sedikitpun pada Danni untuk bertanya.
“Grey?!!” jerit Rosaline begitu terkejut, orang itu adalah Grey, gadis itu tak menyangka Grey tiba – tiba muncul disitu, dan sudah berapa lama sahabatnya itu melihatnya berdua Danni.
Grey sendiri, jelas tampak begitu terkejut dan gusar melihat apa yang sudah diperbuat Danni pada Rosaline. Kalau saja tidak dipisahkan oleh teman – teman yang datang berkerumun akibat kejadian itu, Danni mungkin sudah habis babak – belur dipukuli Grey.
“Rosaline, aku...Aku kecewa dengan kamu!” Grey memandang Rosaline, raut wajahnya tampak begitu frustasi.
“Grey, tunggu!!” Rosaline bagaikan sedang menyaksikan film slow motion, sia – sia hendak menahan Grey, karena pemuda bermata coklat muda itu sudah berbalik, dan kemudian berlari menerobos kerumunan teman – temannya, menepis Mira yang mencoba menghalangi, dan menerjang kejalanan. Grey berlari dan terus berlari, seolah lupa dia pergi ke Villa Mira dengan naik mobil Mercedes Benz nya bersama pak Hendro. Bodyguard itu mencoba mengejar tuan mudanya yang sedang kalap itu, diikuti oleh Rosaline dari belakang. Gadis itu merasa sangat bersalah dengan Grey. Oh Tuhan, kenapa aku ini? Membiarkan bang Danni menciumku? Aku benar – benar sudah terlena oleh bang Danni! Batin Rosaline hampir menangis. Aku...Aku sudah menghancurkan Grey! Betapa bodohnya aku, sudah tau Grey sangat rapuh jiwanya karena penyakit bipolarnya, tapi aku sudah tega – teganya menyakiti perasaannya!
“Grey!! Berhentilah, Grey!” pekik Rosaline. “Aku minta maaf, Grey!! Itu terjadi diluar kemauanku!!”
“Tuan Grey! Awaass!!“ sia – sia pak Hendro berteriak memperingatkan, sebuah sedan Altis yang melaju di jalanan menyerempet Grey yang sedang berlari bagai kesetanan, hingga pemuda itu terpelanting ke aspal jalanan yang keras.
“Grey!!!” Rosaline berhambur ke jalanan menubruk tubuh Grey.
__ADS_1