Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Bab 15 : Sore yang Na'as


__ADS_3

Rosaline berangkat sekolah pagi itu dengan perasaan yang berbeda, karena di depan pagar, Grey sudah menunggunya diatas motor sport Kawasaki Ninja H2Rnya, tersenyum manis padanya sebagai ucapan selamat pagi untuk Rosaline. Hari itu mereka berdua bagai menulis lembaran baru dalam hidup mereka, karena kini mereka pergi bersama tidak lagi sebagai dua sahabat, melainkan sepasang kekasih. Perasaan Rosaline begitu lega saat naik ke boncengan motor Grey, melesat menuju sekolah, tidak menyangka juga hubungan mereka akhirnya berubah, ibaratnya menjadi love story seperti dalam novel – novel roman. Diam – diam Rosaline tersenyum geli teringat dengan kata – katanya dulu pada Sheila dan Tika, saat pertama kali bertemu Grey, ‘Ih siapa yang mau dengan orang sok seperti itu? Kurang ajar lagi! Kaya sih kaya, mati deh aku kalau punya pacar seperti dia!’ Tapi sekarang? Dia justru jadi pacar Grey...Hehehe...Terkena karma dia! Ah biarlah aku tak peduli, yang penting sekarang aku bahagia, batin Rosaline cuek.



Dibiarkannya Grey yang menggandeng tangannya saat mereka tiba di sekolah, berjalan meninggalkan pelataran parkir sekolah. Rosaline mencuri – curi pandang kearah Grey yang tersenyum – senyum berjalan disampingnya, ini bukan persoalan karena aku mau memperbaiki salahku padamu, Grey, batin Rosaline, tapi karena aku menyadari cinta sejatiku adalah dengan Grey, bukan dengan bang Danni. Awalnya aku memang meragukan perasaanku sendiri, terlena akan kemilau bang Danni yang ganteng, bintang basket, juara kelas, idola semua gadis, dan juga karena bang Danni menyatakan cintanya lebih dulu sebelum aku tau perasaan Grey yang sesungguhnya padaku. Tapi sekarang aku sadar, Grey, tanpa memandang segala kekurangan psikisnya, adalah yang terbaik untukku. Grey yang mau memaafkan segala kesalahanku, Grey yang membuatku menjadi merasa sangat berharga. Grey yang mengajariku bahwa keegoisan adalah sikap seorang pecundang, yang tidak akan mendapatkan apa – apa pada akhirnya. Terima kasih Grey, yang membuatku bermetamorfosa menjadi lebih baik, aku berjanji ikrar kita akan aku pegang teguh, ‘Grey – Rosaline, setia dalam susah dan senang.’ Tak kan pernah kukhianati lagi.



“Sampai jumpa jam istirahat, Grey...” pamit Rosaline saat bell masuk berbunyi, dan mereka harus masuk ke kelas masing – masing.



“Ok...” senyum itu terus mengembang sampai pemuda itu menghilang masuk kedalam kelasnya. Rosaline menghela nafas. Begitulah hari – hari mereka kini. Hari – hari yang mereka lalui dengan cepat, secepat hubungannya dan Grey yang kian dekat, kian erat.



Mereka bagaikan sepasang kupu – kupu yang setia becanda dengan bunga – bunga di taman, dimana ada Rosaline disitu ada Grey. Seolah mereka sudah tak bisa dipisahkan lagi. Bahkan tak jarang keduanya kepergok berjalan bergandengan tangan di sekolah. Bercanda mesra dipojokan kantin. Berbisik – bisik seru dibalik rak – rak buku di perpustakaan. Seolah indahnya dunia cuma untuk mereka berdua. Membuat iri, orang lain yang memandang.



Perkembangan psikis Grey pun lambat – laun sudah menuju perubahan yang positif. Kembali rajin masuk sekolah, mulai fokus dengan pelajarannya, dan sudah mulai mampu sedikit demi sedikit mengendalikan emosinya berkat kebersamaannya dengan Rosaline yang selalu menjadi penyemangatnya.

__ADS_1



Mungkin cuma satu orang yang sakit hati melihat kemesraan Rosaline dengan Grey, dan orang itu adalah Danni. Pemuda itu masih menyimpan perasaan pada Rosaline, walau Rosaline sudah jelas – jelas menolaknya tempo hari tapi melihat kemesraan itu, mau tak mau bergejolak juga api kecemburuan itu. Rosaline masih bisa merasakan Danni yang seolah terus membayangi dirinya dimana – mana seperti masih penasaran dengan penolakan gadis itu.



Seperti saat ini, sore menjelang maghrib, Rosaline tengah bersiap – siap pulang usai mengikuti kegiatan extrakurikuler seni teater di sekolahnya. Hari ini dia memang pulang sedikit telat dari biasanya karena klub teater sedang bergiat latihan untuk pementasan minggu pagi di gedung kesenian. Gadis itu melihat Danni duduk di bangku depan aula sekolah tempat klub teater berlatih. Menunggu siapa bang Danni sampai sesore ini masih di sekolah? Secara hari ini seingatku tidak ada extrakurikuler basket, batin Rosaline heran.



“Pulang sendirian, Ros? Tidak bersama Grey?” tegur Danni ketika Rosaline melewatinya saat keluar aula.




“Mau kuantar? Sudah hampir maghrib lho, lagipula sekarang musim penghujan, lihat langit gelap saja dari siang, nanti kamu kehujanan. “ tawar Danni.



“Ah nggak apa – apa bang, aku bisa pulang naik angkot jadi tidak kuatir kehujanan...” tolak Rosaline halus. “Aku duluan ya bang?”

__ADS_1



Rosaline menganggukkan kepala pada Danni tanda dia mau pamit pergi. Dia tak ingin membuat masalah lagi jika menerima ajakan Danni, memang Grey tak ada, tapi kan siapa tau? Rosaline merasakan mata Danni masih mengawasi kepergiannya, dia tak berani menoleh, karena pasti akan bertemu dengan tatapan teduh Danni yang selalu membuat jantung setiap gadis berdebaran jika membalas tatapannya, tak terkecuali dia.



Ah sial, bang Danni benar...Hujan sudah mulai turun...Rutuk Rosaline dalam hati sambil buru – buru mencari tempat berteduh. Mana angkot yang ditunggu – tunggu tak juga muncul...Ppfhhh! Apa sebaiknya aku kembali ke sekolah, dan menerima ajakan bang Danni ya? Ah tidak, tidak, yang benar saja! Aku tidak mau mengkhianati Grey lagi. Rosaline mendekap tasnya erat – erat, hujan sore menjelang maghrib itu dingin juga. Suasana begitu sepi, seolah manusia cuma tinggal Rosaline sendiri yang tinggal diluar. Yang lain sudah meringkuk hangat dirumah masing – masing. Angkot, oh angkot cepatlah datang, batin Rosaline merana.



Sebuah sepeda motor tiba – tiba berhenti mendadak di dekat tempat berteduh Rosaline, hampir menyerempet gadis itu, membuat Rosaline terjengah. Orang yang berada di boncengan motor dengan gerakan mendadak, menyambar tas yang didekap Rosaline.



“Hei, tasku!! Jambreet!!” Rosaline terpekik dibuatnya. Gadis itu mempertahankan tasnya mati – matian, terjadi tarik – menarik antara Rosaline dengan orang yang ternyata jambret itu. Tapi dengan tenaga si penjambret yang lebih kuat dari Rosaline, satu hentakan kasar mengakibatkan gadis itu terhuyung kebelakang, tersandung batu trotoar dan terhempas jatuh. Hal itu membuat si penjambret leluasa menarik tas Rosaline dan melompat naik ke motor yang segera menggerung dipaksa melesat oleh teman si penjambret yang mengemudi, kabur meninggalkan Rosaline yang tergeletak pingsan ditengah hujan. Kalau saja Danni tidak berinisiatif menyusul gadis itu dengan motor Hondanya dari sekolah, mungkin tak ada yang tau apa yang terjadi dengan Rosaline di sore menjelang maghrib yang na’as itu. Tempat berteduh Rosaline dipinggiran warung yang kelihatannya sudah lama terlantar ditinggalkan pemiliknya, sepi tidak ada satu orangpun disitu.



“Rosaline!!” Danni segera turun dari motornya, terkejut melihat keadaan Rosaline. Sesaat Danni bingung apakah harus mengejar jambret yang sekilas dilihat olehnya itu atau menolong Rosaline lebih dahulu. Tapi sepertinya pilihannya segera pada Rosaline, karena sudah percuma untuk mengejar jambret yang sudah melesat jauh tak terkejar. Pemuda itu mendekati Rosaline, sepertinya gadis itu pingsan karena terhentak sesuatu yang keras ditrotoar atau mungkin juga karena shock akibat peristiwa jambret itu. Gadis itu tergeletak di trotoar, basah karena curahan hujan yang kian melebat, membuat pakaiannya melekat pada tubuhnya membentuk lekuk – lekuk yang membuat Danni risau ketika memandangnya. Pemuda itu buru – buru berusaha menepis pikiran jelek yang menghantui, di angkatnya tubuh terkulai Rosaline dan menggendongnya masuk ke dalam warung kosong itu agar terlindung dari hujan. Danni berusaha mengingat – ingat pelajaran melakukan pertolongan pertama untuk orang pingsan yang didapatnya di kegiatan palang merah sekolah. Dia tidak memiliki minyak angin atau minyak kayu putih untuk menyadarkan Rosaline. Jadi bagaimana? Karena tidak tau apa yang harus dilakukan, Danni membenarkan letak pakaian Rosaline yang acak – acakan, sambil berpikir – pikir. Sesaat pikiran jelek itu datang lagi mengusik pemuda itu, selama ini dia tidak pernah berhasil mendapatkan Rosaline yang begitu dicintainya, cuma sakit hati yang didapatnya, sakit hati ditolak, sakit hati melihat kemesraan Rosaline dengan Grey didepan matanya. Tapi kini gadis itu terbujur pasrah di hadapannya, dan tidak ada siapapun disitu kecuali dia. Danni melihat keluar, langit mulai gelap, dan hujan seolah lupa kata berhenti. Suasana itu begitu mengundang hasratnya.


__ADS_1




__ADS_2