Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Bab 25 : Surga Kami


__ADS_3

Sudah tengah hari saat Rosaline dan Grey tiba di pulau dewata itu. Sebelum meneruskan perjalanan ke villa papanya, Grey mengajak Rosaline untuk menikmati makan siang di sebuah restoran di tepi pantai. Rosaline melihat Grey seperti sudah terbiasa dan mengenal baik pulau Bali. Oh pastilah Grey sudah biasa, hartanya yang melimpah membuat Grey dengan mudah pergi kemanapun yang dia mau, batin Rosaline


“Little butterfly...Setelah beristirahat di Villa, sorenya kita survey gaun pengantin untukmu di boutique kenalan papa...” kata Grey setelah meneguk habis Mango Juicenya.


“Ga..Gaun pengantin?!” Rosaline terbelalak mendengarnya. “Untuk apa?”


“Untuk apa katamu? Silly girl, kamu kan harus terlihat cantik di hari pernikahan kita!” sahut Grey tergelak melihat wajah polos Rosaline yang tak mengerti maksudnya survey gaun pengantin.


“Grey, kamu serius?” Rosaline mendekap mulutnya.


“Very...” sahut Grey sambil tersenyum. “Very serious..”


“Pernikahan kita?”


Pernikahan kata Grey? Rosaline serasa tak pecaya dia akan menikah dengan Grey. Itu berarti dia akan hidup selamanya dengan Grey, tak akan berpisah lagi. Darah Rosaline terasa mendesir, saat matanya beradu pandang dengan mata coklat muda Grey, membiarkan pemuda itu meraih tangannya dan menggenggam tangan itu.


“Ya, pernikahan kita. Kamu mau menikah denganku kan? Yeah...Tapi jika kamu tidak mau, kita bisa kembali lagi ke...” Grey tak bisa melanjutkan kata – katanya karena Rosaline menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya.


“Tak akan ada kata ‘tidak mau' di hatiku, Grey! Tak akan!” kata Rosaline segera. “Mimpi terindahku adalah menikah dan hidup bersamamu, Grey...”


“Thank you, Rosaline...I believe you...“ Grey tersenyum dan mencium lembut kening Rosaline.


Villa papa Grey begitu indah dan asri, selama ini selalu dijaga dan dirawat baik oleh sepasang suami – istri yang sudah bekerja bertahun – tahun dengan papa Grey. Suami – istri itu, biasa dipanggil Bli Made dan mbok Ginanti, mereka begitu terkejut melihat kedatangan tuan muda mereka yang begitu mendadak. Suami – istri itu langsung terbungkuk – bungkuk menyatakan permintaan maaf tidak menyiapkan Villa itu untuk menyambut kedatangan tuan muda mereka.


“It’s ok, tak perlu minta maaf...Sekarang tolong siapkan kamar untuk nona ini dan air mandi hangat, karena nona ini pasti lelah ingin mandi dan beristirahat.” kata Grey sambil mengibaskan tangan ke arah Rosaline.


Rosaline cuma ternganga saja dengan segala kemewahan villa papa Grey yang begitu kental dengan nuansa Bali. Gadis itu membelai sprei tempat tidurnya yang begitu halus dan indah setelah selesai mandi air hangat yang dipersiapkan mbok Ginanti. Aroma therapy lavender yang merebak dikamar itu membuatnya nyaman dan mengantuk. Perjalanan mereka memang cukup mendebarkan dan melelahkan karena perjalanan mereka bukanlah perjalanan pergi berlibur melainkan kabur, Rosaline tersenyum miris mengingatnya. Ah, ayah, ibu, kak Reyna maafkan aku...Tapi aku ingin bersama Grey...


Gadis itu sedang merebahkan diri di tempat tidur ketika smartphonenya berbunyi. Di layar smartphone terpampang tulisan ‘Ibu'. Tulisan itu bagai menghentikan degup jantung Rosaline saat itu juga.


“Ibu?!” Rosaline terpaku menatap smartphone itu bertepatan saat Grey masuk ke kamar.


“What’s up Rosaline? Are you ok?” tegur Grey segera.


“Ibu menelepon...Dia pasti mencariku, Grey...Bagaimana ini?” Rosaline menunjukkan smartphonenya pada Grey dengan gugup. Pemuda itu mengambil smartphone itu dan segera menekan tombol off.


“Untuk sementara kita tidak bisa menerima telepon ibumu atau siapapun...Mungkin nanti setelah kita menikah, baru kita bisa menjelaskan semuanya pada mereka.” kata Grey sambil menatap Rosaline.


“Ta...Tapi Grey? Kamu yakin ini tidak akan bermasalah? Aku takut, Grey...Aku tak mau dipisahkan lagi darimu,” Rosaline masih kuatir tapi Grey duduk disisinya dan membelai rambutnya dengan lembut.


“Don’t you worry, Rosaline, everything gonna be alright, believe me...Sekarang tidurlah, Rosaline, beristirahatlah.” Grey mencium kening Rosaline berusaha menenangkan gadis itu.


Dalam keraguan, Rosaline akhirnya kembali merebahkan diri ke tempat tidur dengan Grey masih disisinya.


“Grey?”


“Ya?”


“Boleh aku tidur sambil menggenggam tanganmu?” pinta Rosaline.


******


      Sore itu begitu cerah ketika Grey menggandeng tangan Rosaline turun dari Taxi yang sudah membawa mereka ke sebuah boutique milik seorang designer baju pengantin ternama, kenalan papa Grey. Rosaline dengan takjub memandang gaun – gaun pengantin yang dipajang dalam boutique itu. Ada yang putih berkilau bagai bertabur permata, ada yang begitu pinky menggoda, bersayap indah membuat pemakainya bagai bidadari, ada yang krem berbrokat bagai bertabur bunga – bunga mawar. Oh Tuhan, aku pasti bermimpi jika bisa memakai salah satu gaun ini, batin Rosaline.


“Tuan Grey ingin yang mana? Atau mau saya buatkan rancangan khusus?” tawar sang designer sendiri yang saat itu langsung melayani karena mengetahui yang datang adalah Grey Adinegoro putra sulung konglomerat Darmawan Adinegoro.


“Hmm, biarkan nona ini yang memilih,” sahut Grey sambil menggamit Rosaline yang masih terbengong – bengong menatap pajangan gaun – gaun pengantin dalam boutique itu.


“Eh, oh, aku?” Rosaline terjengah, apalagi saat sang designer menyodorkan album foto gaun pengantin koleksinya, meminta gadis itu memilih.


“Ya, kamu suka yang mana?”


“Ah tak perlu semewah ini, Grey, kita kan cuma...”


“Ssh...Pokoknya aku ingin kamu terlihat cantik pada hari pernikahan kita, okey?” perkataan Grey tampaknya tidak bisa disanggah lagi, karenanya Rosaline dengan gugup menunjuk salah satu foto gaun pengantin di dalam album, yang sebetulnya cuma asal tunjuk, karena gadis itu kebingungan melihat begitu banyak foto gaun pengantin yang begitu mempesonanya. Gaun panjang berbrokat bunga – bunga bernuansa pink lembut. Grey tertawa.


“Good choice, Rosaline...I also like it!” komentar pemuda itu, sambil langsung memberi isyarat pada sang designer agar mengukur badan Rosaline dan membuatkan gaun seperti yang ditunjuk Rosaline.


Gadis itu bagai mimpi menjadi putri Cinderella yang sedang bersiap – siap untuk menghadiri pesta sang pangeran saat designer itu sibuk mengukurnya. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah Rosaline.

__ADS_1


Wajah bahagia itu masih berseri saat berdua dengan Grey melangkahkan kaki menyusuri pantai Bali yang indah, setelah selesai dari boutique. Rosaline menggenggam erat tangan Grey yang menggandengnya. Sembunyi – sembunyi gadis itu melirik Grey yang sedang tersenyum – senyum berjalan disampingnya. Tampak pemuda itu juga sangat bahagia.


Andai ini mimpi


Kebahagiaan ini


Jangan bangunkan aku, Tuhan


Biarkan aku terus terlena


Terbuai


Tanpa putus


Karena tak ada kebahagiaan lain yang kuinginkan


Kecuali berada terus disisinya


Dan melihatnya juga bahagia


Ini lah surga kami, Tuhan


Surga kami berdua


“Grey?” kata Rosaline saat mereka berdua berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pantai.


“Ya?”


“Kenapa sih kamu selalu menggandengku?”


“Supaya kamu bisa membimbing jalanku.”


“Ih apa sih, memangnya tuna netra?” Rosaline tergelak mendengar jawaban Grey. Pemuda itu cuma mengangkat bahu.


“Soalnya jalanku bakal hilang arah tanpa kamu...”


“Masa sih?” Rosaline tersipu, tapi Grey sudah menarik tangannya untuk menyambut deburan ombak yang bergelora indah menyapu pantai.


“Free?”


“Ya, di sini, kita bebas menghilangkan segala beban pikiran kita...Seperti ini..” Pemuda itu lalu berlari ke arah laut, seolah hendak menantang ombak yang sedang berlomba – lomba mendebur pantai. Grey lalu berdiri tegap membiarkan deburan itu membasahi kaki – kakinya, menarik nafas dalam – dalam, dan berteriak sekuat yang dia bisa.


Rosaline mula – mula cuma tertawa melihat tingkah Grey, tapi lama - kelamaan, entah kenapa gadis itu tiba – tiba saja merasa miris. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Grey, teriakan – teriakan itu, sepertinya Grey sedang berusaha melepaskan segala yang menyesakkan pikirannya, perasaannya, selama ini. Teriakan itu mungkin ungkapan rasa kesal pada papanya, mungkin ungkapan kerinduannya dengan kasih sayang mamanya, mungkin ungkapan...


“Grey? Sudah dong teriaknya,” gadis itu mulai kuatir melihat teriakan Grey tampak mulai berlebihan. Rosaline menyusul Grey dan memegang lengan pemuda itu. ‘Grey, berhentilah!”


“Rosaline...” Grey berhenti berteriak, menoleh, dan tiba – tiba saja memeluk gadis itu erat – erat. Rosaline merasakan deru nafas Grey seperti tertahan, seolah pemuda itu sedang menahan sesak perasaannya yang hendak meluap – luap keluar.


“Grey, kamu menangis?” Rosaline berusaha melepas pelukan Grey agar bisa memandang wajah pemuda itu, karena dirasakannya ada isak tertahan yang mengusik.


“Ugh, no, I am not crying, aku cuma... “Grey buru – buru memalingkan wajahnya ke arah lain, mengusap matanya dengan lengan bajunya. ”Aku cuma tiba – tiba saja merasa bad feeling about you...”


“Bad feeling kenapa?”


“Promise me, please don't leave me, okay?”


“Leave bagaimana? Aku disini sekarang, Grey, sedang bersamamu, dan kita akan segera menikah!” Rosaline tercengang mendengar Grey tiba – tiba mengkuatirkannya. “Lagipula, siapa yang akan memakai baju pengantin itu kalau aku pergi? Silly boy!”


Rosaline berusaha tertawa agar raut muram terhapus dari wajah Grey. Gadis itu sudah paham tabiat kekasihnya itu, yang gampang berubah – ubah mood. Bipolar Disorder yang diderita, menyebabkan Grey seperti itu.


“Benar juga? Silly me,” Grey memaksakan diri untuk ikut tertawa. “Aku mungkin terlalu kuatir...”


“Ya, Grey, kamu tak perlu kuatir...Kita sedang bersenang – senang disini...”


“Aku kuatir karena aku terlalu mencintaimu...”


“Aku tau kok,” Rosaline terkekeh, bercanda mendorong Grey.


“Aku serius, Rosaline,”

__ADS_1


“Kalau serius, coba, aku ingin tau keberanianmu?”


“Keberanian apa?”


“Nih...” Rosaline menunjuk pipinya, membuat Grey membelalakkan mata coklat mudanya.


“Maksudmu?”


“Ya ini...Pipiku..” Rosaline tertawa renyah.


“Pipi? Oh yah...Okey, kalau begitu...Hmm, mau langsung atau diwakilkan?” Sesaat Grey tampak kebingungan ditantang oleh Rosaline.


“Diwakilkan bagaimana?”


“Diwakilkan dengan bibir...Like this...” Grey mencium lembut pipi Rosaline, membuat gadis itu semakin tergelak.


“Lho, kalau begitu yang langsung bagaimana?” tanya Rosaline penasaran.


“Begini...” tanpa disangka, Grey merengkuh kepala Rosaline dan langsung mencium gadis itu tepat dibibirnya, membuat gadis itu bagai berhenti bernafas, ganti terbelalak menatap Grey.


Grey...Grey menciumku dibibir! Oh God, Grey memang sulit ditebak! Rosaline membatin, tak mengira Grey begitu nekad mencium bibirnya. Beribu rasa menggelora dihati Rosaline. Surprise, bahagia, semua bercampur jadi satu. Gadis itu meraba bibirnya yang baru dicium Grey, bagai tak percaya.


“Grey...Kamu?”


“Keberanian mana lagi yang kamu ragukan? Seandainya kamu minta jantungku saat ini pun,  pasti akan kuberikan...” kata – kata Grey terhenti karena Rosaline menutup mulut Grey dengan jemarinya.


“Jangan! Nanti kamu bisa mati, kalau jantungmu diberikan padaku...Horror ih kamu!”


“Maafkan aku, Rosaline...Maksudku, apapun akan kuberikan demi untukmu, asalkan  kamu tidak meninggalkan aku...Karena tak ada yang mampu membuatku yakin aku bisa merangkak keluar dari jerat bipolar disorder yang menyakitkan ini, kecuali kamu..”


Sesaat hanya terdengar suara deburan ombak diantara keduanya, yang sedang saling menatap. Dan membiarkan deburan ombak itu membasahi kaki – kaki mereka yang tak bersepatu.


“Aku tidak akan meninggalkanmu, Grey... Selama ikrar kita masih terukir di pohon itu, kita akan selalu bersama...”


“Sungguhkah?”


“Ya Grey, sungguh!”


“Grey - Rosaline, setia dalam susah dan senang...Untuk selamanya, right?”


“Ya...Untuk selamanya!”


“Tapi kalau kamu dipaksa menikah dengan Danni? Bagaimana?”


“Itu tak akan terjadi, Grey, karena aku tak akan mau! Sampai kapanpun, walau jantung ini berhenti berdetak, walau darah ini berhenti mengalir, aku tak akan pernah mau, karena aku dilahirkan cuma untukmu, Grey, aku yakin...”


“Tapi kamu kan tau kita tidak mungkin terus – menerus bersembunyi disini? Suatu saat kita harus kembali juga...”


“Aku tak mau kembali, Grey. Biarlah kita disini untuk selamanya. Disini surga kita, Grey. Karena jika kita kembali pasti akan sulit...”


“Rosaline...”


“Please, Grey?”


Grey tak menjawab, pemuda itu memegang wajah Rrosaline, membelainya, seolah ingin meyakinkan gadis itu benar – benar miliknya. Rosaline cuma menatap Grey tanpa kedip. Cintaku padamu, harapanku, semua membuatku tak pernah peduli segala kekuranganmu, Grey...Karena kutau cintamu begitu suci untukku, disaat orang lain mencibirku, hanya kamu yang justru datang merangkulku dan menarikku dari keterpurukanku...Karena itu, jangan pernah tinggalkan aku, Grey, karena aku juga berjanji tak akan pernah membiarkanmu sendirian menghadapi sepinya duniamu...


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2