Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Bab 17: I Can't Live Without Your Spirit...


__ADS_3

“Tidak! Aku tidak mau...Aku tidak mau pindah ke rumah nenek!” pekik Rosaline dengan mata berkaca – kaca. Gadis itu bagai terhenyak mendengar keputusan ayah dan ibunya yang akan membawanya ke rumah nenek di kota tetangga, dan bermaksud menyekolahkan Rosaline disana.


“Rosaline? Kenapa? Ini demi kebaikanmu, nak?!” kata ibu sambil mendekati Rosaline dan duduk disamping anak gadisnya. “Ini semua kami lakukan untuk menyelamatkan masa depanmu, jika kamu pindah ke rumah nenek kamu bisa meneruskan sekolahmu tanpa harus menanggung malu. Disana tak ada yang tau musibah ini kecuali nenekmu. Kamu paham, sayang?”


“Tapi aku tidak mau pindah, bu...” kata Rosaline lemah, sia - sia dia berusaha membantah, ibunya tetap keukeuh dengan keputusan itu tampaknya.


Jika aku pindah, itu berarti aku harus berpisah dengan Grey! Aku tidak mau...ibu...Ayah...Aku tak akan sanggup menghadapi semua ini tanpa Grey...tangis Rosaline dalam hati. Jangan pisahkan kami...Aku mohon...


“Apa yang menyebabkan kamu tak mau pindah?” tanya ibu tak paham jerit hati Rosaline. “Nak, semua orang sedang menyorotmu sekarang. Apa kamu mau sembunyi terus di rumah? Sampai kapan, Rosaline? Ibu rasa pindah ke rumah nenek adalah jalan yang terbaik.”


“Jangan kuatir, di rumah nenek kamu akan aman, sayang, kami pun akan sering mengunjungimu nanti.” hibur ayah. “Urusan melapor polisi, biar ayah yang handle, kamu tenang saja ya nak?”


Polisi? Apakah ayah akan melaporkan Grey? Rosaline merasa lidahnya begitu kelu untuk mengatakan bukan Grey pelakunya, tapi Danni. Aku ingin sekali mengatakannya, tapi...Bagaimana jika aku salah?


“Sudah, yuk kita berkemas, hari ini kamu sudah boleh keluar dari rumah sakit, Ros...” kata ibu sambil membelai rambut Rosaline lembut. Dibantu Reyna, akhirnya ibu mengemasi pakaian Rosaline karena Rosaline hanya terdiam, tak beranjak untuk berkemas.


Rosaline begitu gundah, bagaimana caranya dia memberitau Grey kalau dia akan dibawa ke rumah neneknya sore ini dengan naik kereta api bersama keluarganya, sedangkan handphonenya hilang akibat kena jambret waktu itu. Apakah aku bisa meminjam handphone kak Reyna? Tapi bagaimana caranya aku meminjamnya ya? Apa alasanku meminjam? Rosaline berpikir keras. Apa aku bilang saja aku akan menelepon Tika? Atau Sheila?


“Kak...Aku boleh pinjam handphone kakak?” tanya Rosaline hati – hati. “Handphoneku kan hilang kena jambret kemarin...”


“Mau menelepon siapa, dek?”


“Hmm...Tika...Atau Sheila..”


“Oh, kamu mau pamitan ya?”

__ADS_1


“Iya kak, soalnya kita perginya mendadak begini, aku belum sempat pamitan dengan mereka...”


“Oke...”


“Terima kasih kak...” Rosaline begitu lega menerimahandphone dari kakaknya. Hampir saja dia menekan nomor Grey ketika tiba – tiba dia berpikir, oh tidak, jika aku menelepon, kak Reyna atau ayah - ibu pasti akan mendengar percakapanku dengan Grey...Hmm, sebaiknya aku WA saja deh, setelah itu pesannya aku hapus lagi biar aman.


Dengan tangan bergetar, Rosaline mengetik pesan untuk Grey lewat WA,


‘Keluargaku membawaku ke rumah nenek sore ini dengan naik kereta api. Aku akan pindah sekolah kesana. Noted : jangan balas pesan ini karena aku memakai handphone kak Reyna.’


Jauh dilubuk hatinya gadis itu ingin sekali menambahkan pesan itu dengan kata – kata meminta Grey untuk menyusulnya, kalau perlu menculiknya agar dia tak jadi pindah ke rumah nenek. Tapi sekuat tenaga ditahannya agar tak dilakukan karena itu pasti akan membuat posisi Grey semakin tersudut.


Rosaline menekan tombol Send. Selesai. Setelah itu Rosaline buru – buru menghapus pesan dan nomor telepon Grey dari handphone Reyna kakaknya.


“Ini kak...” Rosaline mengembalikan handphone itu pada kakaknya.


“Tidak, aku kirim WA saja...”


Rosaline begitu cemas, ketika taxi yang akan mengantarkan mereka ke stasiun kereta api datang. Mudah – mudahan Grey sudah membaca pesanku, semoga...


Gadis itu memandang sekali lagi kearah rumahnya sebelum masuk ke dalam taxi bersama keluarganya, begitu banyak kenangan masa kecilnya dengan Grey di rumah itu. Kenapa Tuhan? Kenapa kejadian sembilan tahun yang lalu harus terulang lagi sekarang? Dulu dia menangis karena Grey meninggalkannya, dan sekarang? Dia yang harus pergi meninggalkan Grey. Ah, Grey, aku sebenarnya tak sanggup berpisah denganmu...Sungguh aku tak sanggup...Tapi aku tak berdaya menolak keputusan orang tuaku. Oh Tuhan, please tolonglah aku...


Didalam perjalanan ke stasiun, berdegup jantung Rosaline ketika mendengar Reyna kakaknya bertanya – tanya heran, karena ada nomor handphone yang tak dikenal meneleponnya berkali – kali. Tapi ketika hendak dijawab, telepon itu terputus. Duh, jangan – jangan itu Grey yang mencoba menelepon...batin Rosaline galau. Gadis itu menggigit bibirnya, aku tau Grey pasti sangat terkejut membaca pesanku itu...Mudah – mudahan dia tidak bertindak gegabah...Mengingat psikis Grey yang sangat labil...Rosaline terus terang begitu kuatir.


Setibanya di stasiun kereta api, sudah pukul setengah empat sore, stasiun itu sangat ramai, Reyna kakaknya membantunya mengangkat koper - koper mereka ke troli, sementara ayah mengurus tiket - tiket mereka. Mata Rosaline mau tak mau mencari – cari juga diantara keramaian stasiun kereta api itu, mencari siapa tau Grey datang menyusulnya. Ah tidak, tidak, lebih baik Grey tak usah menyusulku, masalah akan bertambah runyam kalau Grey menampakkan diri di depan kedua orang tuanya dan kak Reyna. Walau itu...Walau itu berarti aku tak bisa melihat Grey lagi untuk yang terakhir kali...Rosaline berusaha keras agar air matanya tak jatuh, walau perasaannya begitu gundah dan perih saat itu.

__ADS_1


Kaki Rosaline begitu berat rasanya untuk melangkah mengikuti keluarganya memasuki gerbong kereta api yang akan membawa mereka ke kota tempat tinggal nenek. Grey...Grey...Dimana kamu? Tidakkah kamu mau melihatku untuk yang terakhir kali? Tidakkah kamu akan merindukanku? Lama lho kita tidak akan berjumpa? Tangis Rosaline di dalam hati. Siapa nanti yang akan menemani kamu konsul ke psikiatermu? Siapa nanti yang menemani kamu pergi sekolah? Siapa nanti yang akan membawakan kue pastel kesukaanmu? Dan ikrar setia kita? Akankah berakhir menjadi sekedar kenangan? Air mata Rosaline berlinangan juga akhirnya, tak mampu ditahan lagi oleh gadis itu. Rosaline menggenggam erat kalung imitasi berliontin dua kupu – kupunya yang dikembalikan Grey padanya tempo hari. Kalung itu satu – satunya kenangan dengan Grey yang sempat dibawanya karena kepergian yang terburu – buru ini.


“Rosaline!!!” sesaat sebelum pintu kereta tertutup, Rosaline mendengar teriakan keras memanggil namanya.


“Grey?!!” Rosaline segera berbalik dan melihat Grey berlari – lari ditengah keramaian stasiun, berusaha menyusulnya. Pintu kereta tertutup tepat saat tangan Grey hampir berhasil meraih pintu itu. Sehingga tangan itu hanya mampu menyentuh kaca – kaca pintu kereta yang segera saja membatasi mereka berdua, membuat keduanya terpana memandanginya, seolah pintu itu bagaikan monster kejam yang begitu teganya memisahkan mereka, memisahkan cinta mereka.


Rosaline merasa begitu hancur dan pilu melihat wajah Grey dari balik kaca pintu itu. Grey seperti mengatakan sesuatu tapi Rosaline tak bisa mendengarnya. Tampak jelas pada raut wajah pemuda itu kalau dia juga begitu sedih dan panik.


"Oh jendela..." gadis itu seperti tersentak dan segera berbalik berjalan tergesa melawan arah kereta yang mulai bergerak, mencari jendela yang terbuka agar dia bisa berbicara dengan Grey.


“Grey!! Greey!!” pekik Rosaline begitu menemukan jendela terbuka.


“Rosaline?! Why?!...Kenapa kamu meninggalkan aku?!” Grey berteriak putus asa. “Bukankah sudah kukatakan, semua masalah akan kita tanggung bersama? Kamu tak perlu pergi...Kamu tak perlu....”


“Maafkan aku, Grey...Tapi aku tak berdaya menentang keputusan orang tuaku...” Rosaline hanya bisa menangis memandang Grey dari balik jendela kereta. “Grey...Simpanlah kalung kupu – kupu ini kembali, Grey...Kalung itu akan membawa kita untuk bertemu lagi suatu saat, aku harap. Seperti dulu waktu kamu ke Amerika...”


Gadis itu melempar kalung berliontin dua kupu – kupu yang sedari tadi ada dalam genggamannya ke arah Grey dengan harapan pemuda itu menangkapnya. Tapi Grey tampak tak peduli dengan kalung itu, mata coklat mudanya hanya tertuju pada Rosaline.


“Don't leave me, Rosaline, I can’t live without your spirit, my...Butterfly...” suara Grey tak dapat didengar lagi karena gemuruh dan semakin lajunya kereta api itu meninggalkan stasiun.


Rosaline terjengah ketika melihat Grey terus saja berlari seolah ingin mengejar kereta yang makin lama makin melaju itu. Oh tidak, jangan kejar kereta ini Grey, nanti kamu bisa celaka...batin Rosaline panik. Beberapa kali Rosaline melihat Grey hampir terjatuh karena bertabrakan dengan orang - orang yang ramai berlalu - lalang di peron. Gadis itu buru – buru menyusuri gerbong, mencari jendela terbuka lagi dengan terus bergerak berlawanan dengan arah laju kereta, dia berusaha menyamakan posisi dengan Grey yang berlari diluar kereta.


“Greey!! Berhentii!! Greeyy!!” jerit Rosaline begitu berhasil menemukan jendela terbuka, tapi gadis itu lalu ditarik oleh ayahnya agar tidak terlalu menjulurkan badan keluar jendela.


Sekilas gadis itu melihat pak Hendro, bodyguard Grey, yang berhasil menyusul tuan mudanya, segera menangkap tubuh Grey sehingga keduanya jatuh terguling di lantai terakhir peron stasiun. Bodyguard itu tampak setengah mati menahan tuan mudanya agar tidak mengejar kereta api yang sudah semakin menjauh itu.

__ADS_1


Di dalam kereta, Rosaline hanya terduduk mematung  dikursinya saat semua keluarganya menatapnya penuh kecurigaan.


“Apa maksudnya itu, Rosaline?” tanya ayah.


__ADS_2