
“Tidak, ibu, tidak! Aku tidak mau menikah dengan bang Danni! Aku tidak mencintai bang Danni, ibu jangan memaksaku...” tangis Rosaline meledak saat ibu memberitaunya bahwa mereka sudah memutuskan untuk menerima permintaan ibu Nila.
“Tapi Rosaline, dengar dulu, nak...Perutmu makin lama akan makin membesar, apa kata orang – orang nanti? Apa kamu mau anak itu lahir tanpa ayah?” bujuk ibu.
“Tapi aku tidak mau menikah dengan bang Danni, bu? Aku mohon...Aku cuma mencintai Grey, bu...” rintih Rosaline disela – sela tangisnya.
“Ibu tau, nak, tapi papa Grey tidak menyetujui pernikahan kalian, kita harus bagaimana? Sementara keadaanmu tidak bisa menunggu lagi.” kata ibu mencoba bersabar menghadapi Rosaline yang sedang penuh emosi. “Kita harus bersyukur keluarga Danni mau bertanggung jawab, nak.“
“Pokoknya aku tidak mau!”
“Dek, bukankah dulu kamu mencintai Danni? Kenapa tak kamu coba buka hatimu lagi untuk Danni?” Reyna kakak Rosaline ikut membujuk. “Lagipula ingat, dek, Danni ayah biologis dari anak yang kamu kandung.”
“Oh kenapa tidak digugurkan saja kandunganku ini? Selesai, habis perkara! Aku tak perlu menikah dengan siapa – siapa!” jerit Rosaline.
“Rosaline, tak bisa begitu, nak! Menggugurkan kandungan itu dosa besar, nak! Karena itu berarti sama saja kita menghilangkan nyawa seseorang...” ibu mengingatkan Rosaline, tapi gadis itu cuma menutup telinganya dan terus menangis.
*******
Rosaline begitu gundah melihat ibu Nila berserta suaminya, ayah Danni dan Sheila datang ke rumah. Gadis itu tau mereka pasti ingin membicarakan pembatalan tuntutan keluarga Rosaline terhadap anak mereka Danni dan rencana pernikahan. Oh Tuhan, bagaimana ini? Aku tidak mau menikah dengan bang Danni, rintih Rosaline. Karena cuma Grey, satu – satunya yang aku inginkan di dunia ini...Cuma Grey...Tak ada yang lain...
Hari demi hari terasa begitu cepat bagi Rosaline, proses pembatalan tuntutan pada Danni sudah selesai, pemuda itu akhirnya bebas, dan itu berarti hari pernikahannya dengan Danni sudah semakin dekat.
“Rosaline, please forgive me...Gara – gara aku...” kata Grey malam itu, saat mereka melakukan video call dengan smartphone baru yang dibeli Grey untuk mereka berdua, pemuda itu masih saja berulang kali menyesali perbuatannya membuat Rosaline terjatuh di taman, setiap kali mereka saling berkomunikasi baik lewat telepon ataupun bertemu langsung, yah bertemu langsung yang kini sudah sulit karena orang tua Rosaline mulai melarang gadis itu bertemu Grey karena Rosaline akan menikah dengan Danni.
“Aku sudah nggak apa – apa, Grey, kamu tidak perlu merisaukan itu lagi...” Rosaline berusaha tersenyum untuk menenangkan Grey yang saat itu sedang menatap dengan tatapan risau lewat layar smartphone.
Sesaat mereka cuma saling bertatapan tanpa bicara lewat layar smartphone itu. Layar itu seolah cuma pembatas yang tiada berarti, karena sorot mata mereka begitu penuh rasa dan gejolak hati yang begitu mendalam seolah menembus segala pembatas, rasa cinta bercampur rasa kecemasan yang luar biasa. Karena kedua remaja itu tau, hubungan mereka berada dalam posisi sulit sekarang, sejak papa Grey tidak menyetujui pernikahan mereka. Dan Ayah - ibu Rosaline yang sudah menentukan hari pernikahan Rosaline dengan Danni.
“Apa yang harus kita lakukan Grey?” tanya Rosaline memecah kesunyian diantara mereka. Grey menghela nafas berat, seolah pertanyaan itu sangat membebani pikirannya.
“I don't know, Rosaline...” sahut Grey muram.
“Hari pernikahanku dengan Danni semakin dekat...” lanjut Rosaline sedih. “Kita harus bagaimana? Aku tak ingin menikah dengan bang Danni, aku cuma ingin bersamamu, Grey...”
“I wish I can take you away and go as far as we can.” Grey setengah berbisik mengatakan itu.
“Seandainya bisa, aku senang sekali, Grey...” balas Rosaline dari balik layar smartphone.
Kamu segalanya
Tak terpisah oleh waktu
__ADS_1
Biarkan bumi menolak
Ku tetap cinta kamu
Biar mamamu tak suka
Papamu juga melarang
Walau dunia menolak ku tak takut
Tetap ku katakan ku cinta dirimu
Karena kamu Bintang di hatiku
Takkan ada yang lain...
Lirik lagu Judika, ‘Papa Mama Larang' yang terdengar mengalun dari dalam kamar Rosaline seolah cuma kamuflase agar percakapan mereka tak didengar oleh ayah – ibu Rosaline dan Reyna.
Grey...Grey...Kamu memang bintang di hatiku, apapun alasannya, kamu segalanya buatku...Aku tak bisa berpisah darimu, Grey...Bahkan jika harus meninggalkan keluargaku sekalipun...Aku rela...batin Rosaline gundah.
“Papaku punya Villa di Bali...” Grey tiba – tiba berbicara setelah lama mereka terdiam.
“Maksudmu?” Rosaline terbelalak mendengar kata – kata Grey yang seolah tidak ada hubungannya dengan percakapan mereka saat itu.
“Lalu?”
“Tapi aku masih ingat alamat villa itu...”
“Apa maksudmu Grey? Kamu kan tidak hendak mengajakku kesana...Atau...Kamu mengajakku?” Rosaline hampir membeku dingin ketika mengatakan itu, apalagi melihat Grey mengangguk membenarkan kata – katanya yang terakhir.
“Rosaline...Aku tau papaku tidak setuju, aku juga tau ayah – ibumu sudah memutuskan agar kamu menikahi Danni...”
“Grey?”
“Will you marry me with or without our parents agreement? Kita akan menikah di Bali dan tinggal di Villa yang ku maksud...”
Kata – kata Grey membuat Rosaline mendekap mulutnya, terpana. Tidak salahkah yang aku dengar ini?
“Kamu benar – benar nekad, Grey...” cuma itu yang terucap dari bibir Rosaline
Gadis itu tak sanggup rasanya memikirkan akan pergi bersama Grey ke Bali...Pergi yang bukan cuma sekadar pergi... Oh mungkinkan itu?
__ADS_1
******
Tapi kedua remaja belasan tahun yang belum mengenal resiko akibat perbuatan mereka, tak berpikir panjang lagi, saat kebuntuan menghantui pikiran mereka, saat orang tua mereka tidak lagi mendukung gejolak hati mereka yang menggebu tak tertahankan. Maka seminggu sebelum hari pernikahan Rosaline, pada suatu kesempatan saat gadis itu sedang sendirian di rumah, Grey mengajak gadis itu menyelinap kabur, mengelabui pak Hendro bodyguard yang selalu mengiring pemuda itu, berbelok di tikungan rumah Rosaline, melompat masuk ke dalam Taxi yang sudah dipesan Grey, dan segera melaju membawa mereka ke bandara.
Keduanya saling berpandangan dan tertawa bersama saat kaki – kaki mereka melangkah disepanjang lantai bandara menuju pintu keberangkatan pesawat yang akan membawa mereka ke pulau dewata, pulau impian yang akan memenuhi gejolak cinta darah muda mereka. Lepas dari semua masalah.
“Grey, kamu memang nekad!” kata itu berulang – ulang keluar dari mulut Rosaline, tapi wajah gadis itu begitu berbinar penuh kebahagiaan, lega, riang, seolah semua beban terlepas dari benaknya. Disamping Rosaline, Grey cuma tersenyum lebar sambil mempererat gandengan tangannya pada tangan Rosaline.
Tuhan, biarkan kami bersatu
Biarkan kami tertawa bahagia
Merajut cinta kami
Menggapai mimpi kami
Izinkan kami...
Karena jiwa kami sudah saling merindu
Maafkan kami...
Karena kami tak ingin dipisahkan lagi.
Rosaline bahkan tak memperdulikan lagi dirinya yang sudah berbadan dua, mendekap erat lengan Grey saat mereka sudah duduk didalam pesawat.
Kugantungkan semua hidupku padamu Grey, kemanapun kamu membawaku, aku akan ikut menyertaimu...bisik Rosaline dalam hati. Grey bergerak mengubah posisi duduknya, melingkarkan tangannya ke bahu gadis itu dan membiarkan Rosaline bertumpu pada dadanya. Tanpa memperdulikan, pramugari yang tersenyum simpul melihat sikap duduk mereka yang begitu mesra, tanpa menghiraukan tatapan jengah penumpang lain pada mereka.
Cinta kami tulus
Ikrar setia kami sudah terukir
Kami tak peduli, biar orang berkata apa.
Kami tak peduli apapun yang terjadi.
Kami cuma ingin kebahagiaan
Kami cuma ingin bersama selamanya
Itu saja...
__ADS_1