Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Bab 6 : Beri Aku Waktu


__ADS_3

Hampir empat hari, Grey tidak muncul di sekolah, sejak terakhir ketemu Grey di taman, Rosaline mau tak mau jadi kepikiran juga dibuatnya. Ada apa dengan Grey? Sakit apa dia? Apa yang terjadi dengan Grey? Pertanyaan – pertanyaan itu yang selalu berputar – putar di kepala Rosaline. Suara besarnya bu Susi yang sedang menjelaskan pelajaran Matematika di depan kelas cuma bagai dengung lebah di telinga gadis itu.



Percuma menelepon atau kirim WA dengan Grey, tak ada satupun yang dibalas. Aku tidak bisa begini terus, kepikiran dengan Grey dari hari ke hari, aku harus mencari tau dimana Grey tinggal, di apartemen mana? Atau paling tidak rumah orang tuanya. Siapa tau Grey sedang sakit keras atau apa? Hmm....Tapi dimana aku bisa tau alamat Grey yang sekarang ya? Rosaline berpikir keras sambil mengetuk – ngetuk penanya ke atas meja.Oh ya, di bagian tata usaha sekolah pasti punya data alamat para siswa – siswi di sini. Tapi bagaimana cara aku masuk kesana ya?



“Rosaline!” tiba – tiba suara bu Susi sudah berada dekat sekali dengan telinga Rosaline, membuat gadis itu menjatuhkan penanya karena terkejut.



“Eh iya bu...” Rosaline menjawab gugup, siap – siap kena semprot bu Susi karena melamun di kelas.



“Tolong ambilkan buku – buku tugas kalian yang ada di meja ibu di ruang guru. Kita akan coba mengerjakan latihan tentang persamaan dan fungsi kuadrat yang sudah ibu jelaskan tadi.” kata bu Susi. Rosaline menarik nafas lega, ppff...Kirain aku kena tegur, ternyata disuruh ambil buku tugas...



Rosaline bangkit dari tempat duduknya dan keluar kelas menuju ruang guru. Setibanya di sana, sepi, tak ada satu orang pun di ruang guru tersebut, karena semua guru rata – rata sedang mengajar di kelas. Rosaline masuk ke ruangan itu dengan hati – hati. Di sebelah ruang guru adalah ruang tata usaha sekolah. Disana juga sepi. Tiba – tiba Rosaline menjentikkan jarinya, ini namanya pucuk dicinta ulam tiba! Aku bisa melihat data siswa di ruang tata usaha kalau begini...batin Rosaline gembira.



Dengan berjingkat – jingkat, Rosaline masuk ke ruang tata usaha, matanya mulai bergerilya mencari lemari atau rak tempat penyimpanan data – data siswa di sekolah itu. Di belakang deretan meja – kursi ada filling cabinet besar. Apa itu tempat data para siswa ya? Rosaline pernah melihat bu Dewi staf tata usaha yang mengurus administrasi para siswa – siswi di sekolah itu membuka – buka filling cabinet itu. Gadis imut itu perlahan mendekati filling cabinet dan membuka laci – lacinya dengan hati – hati. Berderet map – map dengan label – label abjad memenuhi laci- laci itu. Rosaline menarik beberapa map dengan label huruf G.



“Gerry, Gita, Gischa, Guntur...Nah ini dia, Grey Adinegoro!” desis Rosaline dengan jantung berdebar. Cepat ditariknya map yang bertuliskan nama Grey. Dibukanya, benar saja itu map berisi data – data siswa. Jari Rosaline menelusuri data pribadi Grey. “Ini alamatnya, Apartemen Menara Gading....Jalan Sudirman ....”



Gadis itu mengeluarkan HP nya dan memotret bagian alamat Grey supaya tidak lupa. Setelah itu dimasukkannya kembali map bertuliskan nama Grey itu ke laci filling cabinet. Laci ditutup. Selesai. Dengan lega, Rosaline hendak melangkah keluar ruang tata usaha, sekarang tentunya ke ruang guru untuk mengambil buku – buku tugas yang diminta bu Susi tadi.



Aku harus buru – buru nih, nanti bu Susi kelamaan menunggu, bisa curiga dia nanti, batin Rosaline. Tapi baru saja dia hendak keluar, tiba – tiba terdengar suara orang mengobrol yang kian lama kian mendekat.



“Oh tidak!” Rosaline mendekap mulutnya, gadis itu dengan panik masuk lagi ke ruang tata usaha. “Bagaimana nih? Apa yang harus kulakukan?”



Akhirnya Rosaline tergesa merunduk dan bersembunyi dia bawah salah satu meja. Sementara orang yang mengobrol itu masuk ke ruang tata usaha. Bu Dewi dan satu orang staf tata usaha sekolah yang lain, bu Nina.



“Kalau saja bapaknya bukan salah satu dewan komisaris di sekolah ini, siswa baru kelas sebelas itu pasti sudah lama kena skors karena sering tak masuk sekolah.” cerita bu Dewi pada bu Nina.



“Iya, katanya sih sakit...Sakit apa ya anak itu?”



“Entahlah, keluarganya tidak mau memberi tau, kesannya seperti ditutup – tutupi gitu...”



Rosaline yang dibawah meja, menajamkan telinganya mendengar itu. Siapa yang dimaksud bu Dewi ya? Apakah Grey?



Ada sekitar sepuluh menitan, bu Dewi dan bu Nina berada di ruangan tata usaha, sebelum akhirnya keduanya keluar lagi. Rosaline sudah stress menunggu dibawah meja, takut bu Susi menyusul karena dia sudah terhitung cukup lama kalau cuma mengambil buku tugas saja.



Begitu kedua ibu – ibu itu keluar, Rosaline pun bergegas keluar dari bawah meja dan menyambar tumpukan buku – buku tugas dari meja bu Susi di ruang guru dan dengan setengah berlari kembali ke ruang kelas. Dan betul juga, wajah bu Susi sudah merah padam menunggu kedatangan Rosaline.



“Kemana saja kamu? Perlu waktu lama ya kamu untuk mengambil buku tugas saja?” sindir bu Susi.



“Maaf bu, tadi saya ke toilet dulu...Sakit perut bu.” jawab Rosaline asal bunyi, sambil meletakkan buku – buku tugas di meja bu Susi dan duduk di kursinya kembali. Sheila mencolek Rosaline dengan pandangan ‘kamu darimana?’ Rosaline cuma mendekatkan telunjuknya ke bibir sebagai jawaban.



**********



Siang itu sepulang sekolah, Rosaline menelepon ibunya minta izin untuk pulang terlambat.

__ADS_1



“Menjenguk teman yang sakit, bu.” begitu jawab Rosaline memberi alasan pada ibunya. Setelah itu Rosaline melangkah keluar gerbang sekolah dan berdiri di halte yang ada di depan sekolahnya. Selagi gadis itu sedang menunggu bus untuk pergi ke Apartemen tempat tinggal Grey, Danni datang menghampiri dengan motor Hondanya



“Hai, Ros...Mau pulang ya? Mau kuantar?” tegur Danni sambil tersenyum.



“Eh bang Danni...Aku mau ke rumah Grey dulu, mau menjenguknya. Kalian kan satu kelas, apa sudah ada yang menjenguk Grey? Kan sudah hampir empat hari Grey tidak masuk sekolah.” kata Rosaline.”Kalian tidak bertanya – tanya dia kenapa?”



“Kalau dari surat izinnya sih katanya dia sakit. Kami baru mau menjenguknya besok.” sahut Danni. “Btw...Yuk, kuantar?”



Akhirnya Rosaline setuju diantar Danni ke Apartemen Grey. Ditengah perjalanan mereka berhenti sebentar di kios buah – buahan untuk membeli jeruk dan pisang sebagai bawaan menjenguk Grey.



“Ros?” kata Danni ketika mereka sedang memilih – milih jeruk.



“Ya?” Rosaline menoleh.



“Kok sepertinya kamu perhatian sekali dengan Grey? Memangnya ada hubungan apa kamu dengan Grey? Kalau boleh aku tau?”



“Grey itu sahabat ku waktu kecil, bang. Dulu kami bertetangga, sehingga orang tua kami pun sudah saling mengenal. Kan nggak enak kalau ternyata dia sakit, aku tak menjenguk?”



“Ooh gitu...Btw kalau aku sakit, dijenguk juga nggak ya?”



“Ih apaan sih bang Danni? Ya dijenguk dong! Kan Sheila teman dekatku di kelas, masa abangnya sakit tak dijenguk?”




“Jadi cuma karena aku abang Sheila?”



“Lho? Maksudnya?”



“Maksudku...CD itu...Gandengan itu...Tak berarti apa – apa buatmu?” Danni akhirnya tak bisa menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan itu pada Rosaline, membuat gadis itu tertegun mendengarnya.



Apa maksud bang Danni? CD?..Jadi CD yang bertuliskan ‘Will you be my girl?’ itu sungguhan? Maksudnya pertanyaan itu sungguhan ditanyakan bang Danni padanya? Gadis itu menggigit bibirnya, perasaannya tiba – tiba jadi tak menentu.



“CD?...Pertanyaan di cover CD itu maksud bang Danni?” tanya Rosaline memastikan.



“Tentu saja, Ros...Will you be my girl?” Danni seolah balas bertanya, pandangan abang Sheila itu penuh pengharapan, memandang ke arah Rosaline, membuat jantung gadis itu berdebaran tak keruan. Rosaline terdiam membalas pandangan itu, lama, sebelum akhirnya gadis itu bersuara lagi.



“Aku...Aku belum bisa menjawabnya sekarang, bang...Bisa beri aku waktu?”



“Apakah karena Grey, Rosaline?”



“Bu...Bukan begitu, bang...Aku..Aku...”



“Aku bisa menerima kok seandainya kamu menolakku dan lebih memilih Grey...” jawab Danni, walau kata – katanya terdengar tidak sepenuh hati diucapkan pemuda itu. “Aku...Aku cuma ingin kepastian darimu...”

__ADS_1



“Bang Danni, please?Aku...Terus terang aku memang sudah sejak lama mengagumimu, bang...Ta..Tapi...”



“Tapi karena ada Grey kan?”



“Bukan karena Grey, tapi karena aku belum siap...”



“Maksudmu?”



“Pokoknya aku belum siap, please beri aku waktu...Please?” Rosaline memohon, mengisyaratkan kalau dia tak ingin percakapan itu diteruskan.



Dalam perjalanan menuju ke apartemen Grey, setelah dari kios buah, kedua remaja itu jadi saling berdiam diri akibat percakapan tadi, tenggelam dalam pikiran masing – masing.



Aku memang sudah sejak lama mengagumi bang Danni yang baik hati, pintar, jago basket dan...Ganteng...Tidak bisa kupungkiri itu...Tapi sejak kemunculan Grey, entah kenapa aku selalu kepikiran Grey terus...Entah kenapa aku selalu merasa iba dengan Grey...Batin Rosaline galau. Aku sendiri tak mengerti dengan perasaanku...Maafkan aku bang Danni, aku belum bisa memberi jawaban sekarang...



Akhirnya mereka tiba di kawasan apartemen Menara Gading tempat tinggal Grey. Sebuah Apartemen mewah di tengah kota. Motor Danni mendadak tampak buruk diantara mobil – mobil mewah yang terparkir di halaman bangunan apartemen maupun yang terparkir di basement bangunan apartemen. Setelah melewati pos satpam, kedua remaja itu masuk ke bangunan apartemen dan menuju lantai lima dengan menggunakan lift.



“Grey di lantai lima?” tanya Danni membuka percakapan, karena melihat Rosaline cuma diam saja sedari tadi, bolak – balik mencoba menelepon seseorang, yang diduga kuat oleh Danni, yang dicoba telepon oleh Rosaline itu pastilah Grey. “Sudah berhasil menghubungi Grey? Apa dia betul ada di apartemen ini?”



“Grey memang tinggal disini, cuma dari tadi belum bisa kuhubungi.” jawab Rosaline dengan nada kuatir.



Ketika mereka tiba di depan pintu apartemen Grey, mereka bertemu dengan seorang lelaki bertubuh kekar dan tegap baru keluar dari dalam apartemen tersebut. Lelaki itu tampak membawa sebuah tas besar.



“Maaf, pak? Apa benar Grey Adinegoro tinggal disini?” tegur Rosaline sopan. “Kami teman sekolahnya Grey...”



“Ohya benar, ini tempat tinggalnya Grey, tapi Grey nya lagi tidak disini.” jawab lelaki itu ramah.



“Grey nya dimana ya pak?”



“Grey sedang di rumah sakit, ini saya kesini untuk mengambil baju gantinya. Saya bodyguardnya, ini tanda pengenal saya.”



Bodyguard? Rosaline dan Danni serentak saling berpandangan mendengar itu. Tidak perlu sampai menunjukkan tanda pengenal juga kami tau bapak seorang bodyguard! Btw kalau orang kaya itu perlu ya menyewa bodyguard? ( ck..ck..ck)



“Rumah sakitnya dimana ya pak? Grey sakit apa, kalau boleh kami tau?”



“Maaf, kalau itu coba adik tanyakan saja pada keluarganya, saya tidak ada wewenang untuk menjawabnya.”



“Haa?...Tapi pak?”



Tapi lelaki yang mengaku bodyguardnya Grey itu cuma buru – buru pamit dan pergi meninggalkan Rosaline dan Danni yang terheran – heran mendengar jawabannya.




__ADS_1


__ADS_2