Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Bab 18 : Penderitaan Rosaline


__ADS_3

Rosaline semakin terpuruk dan hancur, apalagi keluarganya kini malah berbalik mencurigai kalau dirinya bukan diperkosa tapi memang melakukan atas dasar suka sama suka dengan Grey. Rumah nenek yang seharusnya nyaman, kini bagaikan penjara buat Rosaline, setelah ayahnya melarangnya menggunakan handphone karena dicurigai akan berhubungan lagi dengan Grey.



“Ternyata memang tepat kita mengirimnya kesini, nenek bisa mengajarinya adat ketimuran yang mungkin sudah dilupakan anak itu...” terdengar percakapan ayah – ibunya dengan nenek di ruang keluarga rumah nenek.



“Ini akibat pergaulan bebas anak muda zaman sekarang...Apalagi si Grey itu lama tinggal di Amerika, pasti memberi pengaruh buruk pada anak kita...”



“Ini benar – benar menjadi aib kekuarga! Ah, padahal saya pernah mengenal baik almarhumah ibunya....Sungguh tak diduga...Saya kira Grey adalah anak yang baik, tapi ternyata...”



Rosaline menutup telinganya rapat – rapat dengan bantal, gadis itu merasa lebih baik pura – pura tidur di kamar yang disediakan nenek untuknya daripada mendengar percakapan yang tidak menyenangkan baginya itu.



Kenapa? Kenapa orang dewasa suka cepat menuduh yang tidak – tidak, padahal dia tidak seperti yang mereka kira. Perasaannya sudah begitu hancur, remuk redam, karena perkosaan itu kini malah dituduh sudah melakukan atas dasar suka sama suka dengan Grey, hanya karena melihat pertemuannya dengan Grey di stasiun itu. Ah aku tak mengerti dengan ayah, aku tak mengerti dengan ibu! Kak Reyna yang biasa membelanya pun kini seperti ikut berpihak pada ayah dan ibu, sesal Rosaline dalam hati, penuh kekecewaan. Aku benci semuanya! Oh Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi pada diriku? Rosaline terbayang dengan Grey yang berlari – lari mengejar keretanya, ‘I can’t live without your spirit...’ teriakan Grey seolah begitu menoreh hatinya. Dia tak dapat hidup tanpa semangatku...Ah Grey, Grey..Apa yang terjadi dengan Grey sekarang? Tuhan, semoga Grey tidak kenapa – kenapa, semoga Grey bisa berpikir jernih untuk tidak melakukan hal - hal yang membahayakan dirinya sendiri, ya Tuhan...Jagalah Grey, Tuhan...Kasihan dia...Rosaline menangis mengingat Grey, dia tau betul kondisi psikis kekasih hatinya itu.



Sekarang aku tidak punya handphone dan dilarang untuk punya, bagaimana aku bisa tau apakah Grey baik – baik saja atau tidak, isak Rosaline sedih. Untuk meminta dibelikan pada nenek sudah tidak mungkin, apa aku membeli sendiri saja ya? Gadis itu kemudian membongkar tasnya, memeriksa buku tabungannya. Hanya ada lima ratus ribu. Sejak kena jambret kemarin, uangnya memang menipis. Mungkinkah cukup untuk membeli sebuah handphone sederhana?



Maka setelah seminggu yang sangat menyiksa perasaan Rosaline, tibalah saat ketika keluarganya harus pulang ke kota asal dan meninggalkannya di rumah nenek, gadis itu berharap dia bisa lebih mendapatkan kesempatan untuk pergi membeli handphone, karena terus – terang pengawasan nenek tidak seketat ayah – ibunya. Aku harus tau keadaan Grey, aku tak bisa risau begini terus, batin Rosaline.



Dan kesempatan itu datang dengan cepat, saat neneknya meminta bantuannya untuk berbelanja di mini market yang terletak tak jauh dari rumah. Rosaline tak menyia – nyiakan kesempatan itu untuk sekalian pergi membeli handphone. Selesai berbelanja barang – barang yang dipesan neneknya di mini market, dan mengambil uang tabungannya di bank terdekat – secara ATM nya ikut hilang karena peristiwa penjambretan itu - Rosaline menghentikan angkot yang lewat dan melompat naik ke dalamnya.



Di sebuah toko handphone terdekat, yang dia ketahui dari hasil tanya – tanya dengan supir angkot, Rosaline berhasil membeli sebuah handphone sederhana, yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan sms. Tak apa, yang penting aku bisa menghubungi Grey, pikir Rosaline sambil memasukkan nomor telepon yang baru dibelinya, satu paket dengan handphone.



“Grey...Dijawab ya? Ini aku...” dengan berdebar – debar, Rosaline mencoba menelepon Grey.



Tut...Tut...Tut..( terdengar nada sambung telepon )



Tapi ternyata Grey tidak menjawab.



Rosaline mencoba sekali lagi.



Tetap tidak ada jawaban.



Gadis itu menggigit bibirnya, mungkinkah karena aku pakai nomor baru? Ah coba ku sms ya?



Lelah Rosaline menunggu, sms itupun tak kunjung dibalas. Grey, Grey apa yang terjadi dengan kamu? Please jawab aku, Grey..



Rosaline memeluk lututnya, dan menangis dalam diam di dalam kamarnya, ketika akhirnya dia pulang ke rumah neneknya. Kenapa tak menjawab teleponku, Grey?...Aku kesepian disini, dan aku sangat kuatir padamu...



Gadis itu dengan putus – asa mencoba menelepon sekali lagi.



Tut...Tut...Tut..( terdengar nada sambung telepon )

__ADS_1



“Halo?” terdengar suara berat yang menjawab.



Deg, Rosaline serasa ada es batu yang mencelos hatinya, teleponnya dijawab!



Tapi...Suaranya kok beda? Ini bukan suara Grey! Rosaline terkejut. Apa aku salah menekan nomor? Tu...Tunggu, suaranya seperti aku pernah dengar...



“Ini siapa ya? Bisa bicara dengan Grey?” Rosaline memberanikan diri bertanya.



“Nona Rosaline? Ini saya Hendro...” jawab suara berat itu.



“Pak Hendro? Iya ini saya Rosaline, mana Grey? Bisa saya bicara dengan Grey?” bagai hilang semua beban dikepala Rosaline, gadis itu tak dapat menahan rasa gembiranya setelah tau ternyata dia tidak salah nomor, dan yang menjawab itu adalah pak Hendro bodyguard Grey.



“Syukurlah nona menelepon, saya sudah mencoba menghubungi nona tapi nomor nona tidak aktif...”



“Handphone saya hilang, kena jambret, pak. Ini nomor baru saya.”



“Tuan Grey sepertinya sangat membutuhkan nona, beberapa hari ini tuan terus memanggil – manggil nama nona, dan sekarang kondisinya tiba – tiba drop, tuan Grey sedang kritis, nona...”



“Apa?!” Rosaline hampir saja menjatuhkan handphonenya. “Apa yang terjadi, pak?! Grey kenapa? Grey sakit apa?”




Rosaline mendekap mulutnya mendengar cerita pak Hendro. Astagfirullah, Grey...Grey...Kenapa, Grey? Kamu membuatku sangat kuatir, Grey...Oh Tuhan, andai aku bisa terbang, aku akan segera menemuimu saat ini juga, Grey...Tapi bagaimana? Uangku sudah habis untuk membeli handphone, sedangkan untuk pulang ke kotaku tentu butuh biaya



“Nona?” tegur pak Hendro karena Rosaline cuma diam saja.



“Ya...Ya pak Hendro? “



“Bisa nona ke rumah sakit menemui tuan Grey? Siapa tau dengan mendengar suara nona, tuan Grey bisa melewati masa kritisnya...Saya kuatir, nona...Tuan Darmawan tidak terlalu peduli dengan tuan Grey tampaknya, beliau cuma menyuruh dokter dan perawat memberi pengobatan dan pelayanan yang terbaik untuk tuan Grey, lalu beliau pergi, menyuruh saya yang menjaga...”



Aduh pak Hendro membuatku semakin gundah saja, keluh Rosaline sedih. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku membujuk nenek agar mau meminjamkan aku uang? Tapi nenek pasti mengadu pada ayah dan ibu kalau aku pergi menemui Grey.



“Boleh Saya menyuruh orang untuk menjemput nona?” lanjut pak Hendro membuat Rosaline terjengah.



Bisa mati berdiri nenek jika melihat aku dijemput oleh orang – orang pak Hendro, ah lebih baik jangan deh...



“Jangan...Maksud saya, tak usah pak...Lebih baik saya pergi sendiri saja, tapi...”



Ini sebenarnya memalukan, tapi..Yah, aku terpaksa..Rosaline membatin.

__ADS_1



Sore itu Rosaline akhirnya mengambil keputusan nekad - rasa kuatirnya, rasa cintanya telah mengalahkan segala - galanya - dengan meminjam uang pak Hendro, yang ditransfer ke rekeningnya, gadis itu membawa pakaian sekedarnya di dalam ransel, dan kabur dari rumah nenek.



“Maafkan aku, nek...Tapi aku harus melihat Grey...” bisik Rosaline sebelum meninggalkan rumah neneknya, dan masuk ke dalam angkot yang membawanya menuju stasiun kereta api.



Rosaline menaikkan kerudung jaketnya, membenamkan wajahnya dibalik kerudung itu ketika tiba di kotanya lagi, dan turun dari kereta api. Takut ada yang mengenali. Hari sudah malam ketika gadis itu akhirnya tiba di rumah sakit tempat Grey dirawat.



Setibanya disana, Rosaline segera dibawa pak Hendro ke ruang ICU. Sedih rasanya Rosaline ketika melihat Grey dari balik kaca ruang ICU, pemuda itu tertidur dengan segala peralatan medis yang melekat ditubuhnya. Grey...Grey apa yang sudah kamu lakukan, Grey, hingga harus dirawat sedemikian rupa?



“Terima kasih nona sudah mau datang.” kata pak Hendro yang berdiri disamping Rosaline.



“Ah saya yang harus berterima kasih pada Bapak, saya malu sebenarnya sampai harus meminjam uang bapak...” kata Rosaline tak enak hati.



“Nggak masalah nona...Bagi saya keselamatan tuan Grey adalah yang utama...” kata pak Hendro memberi isyarat pada Rosaline, setelah dia berbicara dengan salah satu perawat yang bertugas di ruang ICU. “Ehm...Mungkin sekarang nona bisa masuk menjenguk tuan Grey...”



Gadis itu menggigit bibirnya, perlahan mendekati tempat tidur Grey dan duduk dikursi yang disediakan disana, dengan hati – hati digenggamnya tangan Grey. Lama dia menatap Grey. Ini aku, Grey...Aku sudah di dekatmu sekarang...Please, bukalah matamu, Grey...Lihat aku...Kita tak akan berpisah lagi, aku janji...Aku janji...Sungguh...tak terasa air mata Rosaline jatuh satu – satu.



Melihat wajah pucat Grey yang diam saja tak bergerak. Melihat nafas pemuda itu yang tampak sesekali tersengal diantara alat medisnya. Membuat perasaan Rosaline begitu hancur, gadis itu merasa jiwanya bagai tersayat – sayat sembilu melihat pemuda yang dicintainya tampak menderita, dan Rosaline tak kuasa menahan diri untuk tidak memeluk Grey.



“Grey...Grey...Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa? Aku membutuhkan kamu, Grey... Please, Bangun, Grey...” rintih Rosaline terisak. “Jangan diam saja, kumohon...Grey...Aku tau kamu kuat, aku tau kamu bisa mengalahkan rasa sakitmu...Demi aku, Grey, aku tak bisa menghadapi semuanya sendiri, Grey...Please bangun...”



“Nona, mohon jangan terlalu dekat dengan pasien...” seorang perawat mengingatkan Rosaline, membuat gadis itu terjengah.



“Maafkan saya...” Rosaline buru – buru duduk kembali, menghapus air mata dengan punggung tangannya. “Mbak perawat, Grey akan sembuh kan? Dia akan baik – baik saja kan?”



Perawat yang ditanyai, cuma tersenyum berusaha menghibur Rosaline.



“Kami akan berusaha sebaik mungkin, nona...”



Berat rasanya ketika kemudian mendengar perawat mengatakan kalau dia tak bisa berlama – lama di ruang ICU. Dipandanginya Grey ditengah linangan air matanya, sebelum gadis itu akhirnya dengan enggan keluar juga. Aku akan menunggu Grey disekitar sini, siapa tau Grey bangun dan membutuhkan aku, batin Rosaline.



Walau pak Hendro sudah menawarkan Rosaline untuk bermalam di apartemen Grey, tapi gadis itu keukeuh menunggu di rumah sakit itu saja. Rosaline menyandarkan diri dikursi panjang rumah sakit yang ada tak jauh dari ruang ICU. Memang dia tidak sendiri disitu, ada satu – dua keluarga pasien yang lain juga menunggu di ruangan yang sama.



Sedih dan tak tau bagaimana nasibnya kelak akibat kabur dari rumah nenek, tak sanggup dipikirkan lagi oleh gadis itu. Rosaline sudah pasrah, sekarang cuma Grey tumpuannya, walau tidak tau sampai kapan Grey bisa menjadi tumpuannya...Sedangkan tiap detik nafas Grey kini cuma tersambung oleh peralatan medis. Apakah Grey bertahan atau tidak... Air mata Rosaline meleleh dipipinya. Cuma Allah yang tau, cuma Allah yang punya kuasa, kupasrahkan semuanya pada Mu Ya Allah...



Entah berapa lama, akhirnya Rosaline jatuh tertidur di kursi panjang itu karena kelelahan. Gadis itu tidur meringkuk sambil memeluk ranselnya, begitu pulas, dan sudah pasti tidak menyadari betapa sibuknya perawat – perawat yang bertugas malam itu di ruang ICU karena kondisi Grey tiba – tiba memburuk...




__ADS_1



__ADS_2