
Genap seminggu Grey tak masuk sekolah. Baru hari ke delapan, Rosaline melihat Grey muncul di pelataran parkir sekolah, turun dari motor Kawasaki Ninja H2R nya. Saat itu hari masih pagi, siswa – siswi baru berdatangan memasuki halaman sekolah. Rosaline - dengan seabrek bawaan seperti biasa, tas sekolahnya, keranjang kue jualan ibunya. - segera mendekati Grey.
“Hai, kemana saja kamu? Katanya sakit ya?” sapa Rosaline. “Aku meneleponmu, kirim WA, kenapa tak dibalas?”
“Oh hi, butterfly kecil? Sorry...Very Sorry but..Yeah, I was sick.” jawab Grey dengan sikap tak nyaman diburu pertanyaan Rosaline. “By the way, kue apa yang kamu bawa, baunya seperti lezat sekali?”
Rosaline merasa Grey sengaja mengalihkan percakapan.
“Mau? Ini ambillah...Tak usah dibayar, ini gratis untukmu. Tapi temani aku ke kantin menitipkan kue yang lainnya dengan ibu kantin ya?” kata Rosaline sambil membuka keranjang kuenya dan membiarkan Grey mengambil kue pilihannya.
“Thanks, I miss this pastel a lot!” kata Grey sambil menggigit kue pastel yang diambil dari keranjang Rosaline.
“Eh tunggu...Kena apa pergelangan tanganmu Grey?” Rosaline spontan terkejut, baru terlihat olehnya pergelangan tangan kiri Grey yang dibalut perban putih.
“No...Pergelangan tanganku tidak apa – apa...Cuma luka kecil saja kok.” jawab Grey sambil lalu. “Yuk cepat, antar kue – kuemu, nanti keburu bell masuk lho?”
“Grey, ada apa sebenarnya?” Rosaline tak terima dengan jawaban Grey begitu saja, gadis itu merasa Grey menyembunyikan sesuatu darinya. “Aku tau kamu sampai masuk ke rumah sakit kemarin...Please, aku sahabatmu, aku sangat mengkuatirkanmu, Grey!”
Grey sedikit terjengah dengan kata – kata Rosaline, lama dia menatap Rosaline dengan mata coklat mudanya itu, seolah sulit baginya untuk mengumpulkan kepercayaan pada gadis sahabatnya itu
“Kamu...Mengkuatirkan aku?” tanya Grey terdengar surprise.
“Tentu saja, Grey! Aku sahabatmu, tentu saja aku peduli denganmu.”
“Sungguhkah itu?”
“Iya...Kan sudah pernah kukatakan, kapan saja kamu ingin bercerita, beri tau aku, telepon aku...”
“Thanks a lot, butterfly kecil...I do appreciate that..” jawab Grey. “Mungkin...Mungkin nanti sepulang sekolah, aku ceritakan.”
“Mungkin?” Rosaline menaikkan alisnya karena mendengar ada keraguan pada kata – kata Grey, tapi bell masuk kelas yang berbunyi membuat Rosaline harus buru – buru menyelesaikan urusannya dengan ibu kantin, sebelum berdua dengan Grey bergegas masuk kelas masing – masing.
*********
Pada saat jam pelajaran hampir memasuki jam istirahat, tiba – tiba HP Rosaline bergetar – secara nada deringnya sengaja di silent – tanda ada notifikasi WA yang masuk. Rosaline mengintip HP nya. Dari bang Danni. Sepertinya bang Danni mengirim foto. Wah foto siapa ya yang dikirim bang Danni? Pikir Rosaline penasaran. Gadis itu sembunyi – sembunyi melihat layar HP nya, membaca WA dari bang Danni.
__ADS_1
“Grey?!” Rosaline terpekik tertahan ketika melihat foto yang dikirim bang Danni. Untung bersamaan dengan bell tanda istirahat berbunyi, pak Rangga guru agama sudah hampir mengayunkan roll panjangnya ke meja Rosaline karena gadis itu mengejutkannya dengan pekikan tadi.
“Ada apa Ros?” tanya Sheila melihat Rosaline sepertinya galau menatap HP nya.
“Eh nggak...Nggak kok...” Rosaline buru – buru memasukkan HP nya ke saku seragamnya. “Aku duluan ya? Mau ke toilet dulu, nanti aku menyusul ke kantin!”
Rosaline melambai pada Sheila, juga Tika, sebelum berlari keluar kelas, menuju toliet.
Di dalam toilet, Rosaline mengeluarkan HP nya lagi dan membuka WA dari bang Danni sekali lagi. Ada foto yang dikirim bang Danni padanya yang sudah membuatnya terkejut. Dan itu foto Grey.
Foto ini kudapat dari teman ku yang sedang magang di rumah sakit jiwa...
Begitu bunyi WA bang Danni sebagai pengantar foto kirimannya. Di dalam foto itu tampak Grey sedang duduk di kursi roda, di dorong oleh suster dan disampingnya tampak lelaki bertubuh kekar yang pernah dilihat Rosaline di apartemen Grey, sedang membawa tas besar mengiringi Grey. Dibelakang mereka tampak jelas plang nama rumah sakit jiwanya terpampang megah di ruangan yang sepertinya di lobi rumah sakit itu.
Rosaline mendekap mulutnya, apa maksudnya ini? Grey berobat di rumah sakit jiwa?!! Tak mungkin! Ini pasti salah!
Rosaline tak bisa menahan diri untuk tidak mencari Danni, dan gadis itu menemukan abang Sheila itu tengah mengobrol dengan teman – temannya di depan kantin.
“Mau bicara apa?...Oke, kita bicara ditempat lain yuk?” Danni melihat wajah serius Rosaline sehingga merasa lebih baik mengajak gadis itu menjauh dari teman – temannya.
“Apa maksudnya ini bang?” Rosaline tak bisa menunda – nunda lagi dengan pertanyaan itu ketika mereka sudah berada di belakang bangunan sekolah yang sepi. Gadis itu menyodorkan HP nya ke depan hidung Danni memperlihatkan foto kiriman Danni itu.
“Oh itu....Ya seperti yang ku kirimkan padamu, aku dapat dari temanku yang magang di rumah sakit jiwa...Yah seorang Grey Adinegoro anak konglomerat Darmawan Adinegoro, sudah pasti menarik perhatian siapa saja.” jawab Danni menjelaskan. “Lagipula sekarang terjawab pertanyaanmu kan? Ternyata Grey menderita sakit jiwa...”
“Ah tak mungkin! Belum tentu bang...” bantah Rosaline tak terima.
“Belum tentu bagaimana? Kalau berobat biasa, masa harus di rumah sakit jiwa? Apa sudah tak ada rumah sakit lain?” kata Danni sambil tertawa sedikit mencemooh.
Rosaline terdiam mendengar itu.
“Bukannya aku berniat apa – apa...Saranku sih, jauhi Grey, daripada kamu diganggu dengan dia kalau lagi kumat...Yah namanya orang sakit jiwa...Kamu tau kan?” lanjut Danni memperingatkan.
“Grey tak mungkin sakit jiwa! Kalau dia sakit jiwa mana mungkin dia bisa sekolah?” Rosaline mencoba mencari pembenaran.
__ADS_1
“Sakit jiwa kan ada bermacam – macam jenis. Mungkin Grey yang masih tergolong ringannya?” kata Danni. “Ingat nggak dengan artis Marshanda yang divonis menderita bipolar disorder? Toh dia masih bisa beraktivitas seperti biasa, main sinetron dan sebagainya.”
Rosaline teringat dengan percakapannya dengan Grey tadi pagi, bagaimana sikap Grey yang sepertinya menghindar setiap kali ditanya tentang sakitnya. Apakah Grey tak ingin penyakitnya diketahui karena dia sebenarnya menderita sakit....Yah seperti yang dibilang bang Danni tadi? Batin gadis itu galau. Kasihan Grey...
“Bang?” Rosaline tiba – tiba berpikir sesuatu yang membuatnya merasa tidak enak.
“Ya?” Danni mengangkat alisnya melihat begitu seriusnya wajah Rosaline.
“Please...Demi aku, dan demi nama baik Grey...Foto itu jangan disebar ya?” Rosaline terdengar memohon.
Apa jadinya jika foto itu sampai tersebar dan diketahui oleh teman – teman satu sekolah? Grey pasti malu sekali, pikir Rosaline kuatir.
Danni cuma membelalakkan matanya mendengar itu.
“Oke tidak akan aku sebar, tapi kamu harus berjanji untuk menjauhi Grey. Itu demi kebaikanmu juga, bukan demi aku.” sahut Danni sambil beranjak pergi dari tempat itu, meninggalkan Rosaline ditengah kegalauan.
Ketika gadis imut itu akhirnya mengikuti jejak Danni beranjak dari tempat itu, Rosaline hampir bertabrakan dengan seseorang yang tiba – tiba muncul dari belokan lorong sekolah.
“Grey!” Rosaline spontan berseru, karena ternyata yang hampir menabraknya adalah Grey.
“Oh hai, butterfly kecil....Sedang apa di belakang situ?” tanya Grey sambil tersenyum.
Rosaline merasa Grey tak memperhatikan Danni yang baru melintas keluar dari belakang bangunan sekolah.
“Grey...” gadis itu memandang wajah Grey yang sedang tersenyum itu dengan perasaan tak menentu, terbayang olehnya foto yang dikirim oleh Danni tadi, juga percakapan itu. Apakah benar? Apakah benar Grey menderita...Sakit jiwa?
“Yeah? What's up?” sahut Grey sedikit heran melihat wajah serius Rosaline. “Ada yang penting?”
“Eh anu...Grey...Kamu baik – baik saja kan?” suara Rosaline bergetar ketika menanyakan itu.
“Ya...Aku baik – baik saja...Kenapa?” tanya Grey. “What's wrong, Rosaline? You look nerveous...Are you OK?”
Rosaline jadi terlihat begitu galau dan sangat ragu – ragu ditanyai begitu oleh Grey. Aku harus tau kebenaran foto itu, tapi bagaimana? Haruskah aku menanyakan langsung dengan Grey? Karena sumber yang pasti adalah dengan orangnya langsung. Cuma Grey tersinggung nggak ya aku tanyai tentang penyakitnya?
__ADS_1