
Malam itu Rosaline gelisah. Baru saja dia mematikan kembali smartphonenya yang tadi dia coba aktifkan. Berapa puluh notifikasi tanda ada panggilan masuk dari ayah dan ibunya menghiasi layar smartphonenya. Perasaan gadis itu tidak enak, antara merasa bersalah sudah membuat orang tuanya kuatir dan ketakutan akan dipisahkan dari Grey. Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Jika aku menuruti ayah – ibuku, Grey pasti akan terpukul dan penyakit bipolarnya akan kambuh, aku takut dia akan bertindak yang bukan – bukan, Rosaline menggigit bibirnya. Aku sayang dengan Grey, aku tak ingin dia kenapa – napa. Tapi ayah - ibuku?
Entah sudah berapa lama, mungkin Rosaline sudah jatuh tertidur atau bagaimana, gadis itu membuka mata, merasa seperti sedang berada di dalam apartemen Grey yang bertingkat lima itu, dan sedang melihat Grey, tapi dengan penampilan yang berbeda. Rambut Grey terlihat gondrong tak terurus, meringkuk di tempat tidur, raut wajahnya begitu pucat, dan tampak lebih tua dari Grey yang sekarang.
"Rosaline...Rosaline...Kamu pulang..." Grey menyentak bangkit dari tempat tidurnya, menghembus nafas terputus-putus ditengah gigilan tubuhnya yang bersimbah keringat, matanya nyalang seperti sedang mencari-cari sesuatu.
Rosaline melihat jam menunjukkan sudah pukul dua dini hari, Grey tampaknya tidak bisa tidur, akhirnya terhuyung – huyung turun dari tempat tidurnya, seperti orang yang sedang terpengaruh obat - obatan, berjalan perlahan mendekati jendela kamarnya. Semilir angin dingin dini hari segera menerpa tubuhnya ketika Grey membuka jendela itu.
“Grey! Apa yang hendak kamu lakukan?!” jeritan tertahan Rosaline seolah tidak berarti bagi sosok Grey.
"Rosaline sayang, aku tau kamu pasti kembali...Aku tau kamu tak betah berdiam bisu ditanah merah itu, yang sudah memisahkan cinta kita...Aku tau.." Tapak kaki telanjang Grey memanjat tepi jendela kamar gelap di tingkat lima apartemen itu. "Rosaline...Butterly kecilku..Aku tau..."
“Grey, aku disini Grey! Aku tidak kembali darimana – mana, karena aku memang selalu bersamamu! Please, turun dari jendela itu Grey, aku mohon!” Rosaline kalap dan mulai menangis karena Grey seperti tidak melihat bahkan tidak menyadari kehadiran dirinya disitu. Rosaline tidak tau apa artinya semua ini, menyaksikan Grey memanjat tepi jendela, seperti hendak...Hendak...
Tak ada yang bisa menahan, ketika angin malam menderas laju mengiringi tubuh Grey yang melompat dari jendela apartemen.
“Greeey!!! Tidaak!!” jeritan Rosaline membahana, segera memburu ke jendela, terbelalak ngeri memandangi tubuh Grey yang melayang melewati jendela demi jendela gedung apartemen itu, bagai sedang menyaksikan adegan film horror yang sangat mengerikan,
"Papa?"
Tiba – tiba sebuah suara mungil terdengar dari belakang Rosaline, membuat gadis itu tersentak dan segera menoleh.
“Siapa?” Rosaline mendekap mulutnya dan terpana memandangi si pemilik suara, sesosok bocah laki – laki yang berusia sekitar 2 tahun, yang segera saja berlari ke jendela apartemen dan menangis. Mulut mungilnya terbata – bata memanggil nama ‘papa’. Rosaline terkesiap, papa? Siapa yang dimaksud papa? Apakah Grey? Bocah itu?Anak siapa?Oh jangan bilang dia adalah anak yang...Rosaline meraba perutnya. Apa yang sebetulnya terjadi sekarang? Apakah ini mimpi?
“Rosaline? Rosaline?” sayup – sayup terdengar suara seseorang memanggilnya. Perlahan – lahan gadis itu seperti tersadar dan membuka matanya dan segera saja bertemu pandang dengan Grey yang sedang menatapnya kuatir.
“Grey? Kamu...Kamu masih...” Rosaline langsung memeluk Grey erat – erat penuh dengan rasa lega, ternyata dia cuma bermimpi buruk.”Grey, Grey jangan pernah melakukan itu ya? Jangan pernah! Aku tak kan sanggup melihatnya!”
“What’s wrong, Rosaline? Ssh..Tenanglah. Kamu bermimpi buruk ya?” Grey membalas memeluk Rosaline, membelainya, berusaha menenangkan kekasihnya.
“Grey, Grey...” Rosaline masih memeluk Grey.
“It's alright, It's ok, tenanglah.” Hibur Grey lembut. “Memangnya mimpi apa sih kamu?”
“Ah aku...Pokoknya sangat buruk, Grey, aku seperti melihat masa depan...Aah..Mungkin karena aku terlalu kuatir ditelepon terus – menerus oleh ayah – ibuku, jadi aku bermimpi.” Keluh Rosaline.
“Ayah – ibumu? Kamu menghidupkan smartphonemu?”
“Ya Grey, maafkan aku...”
__ADS_1
Rosaline melihat Grey mengerutkan keningnya mendengar itu. Lama pemuda itu terdiam.
“It’s ok, Rosaline...Aku juga menghidupkan smartphoneku, walau nothing different, tak ada satupun yang meneleponku...Yah, kecuali telepon dari pak Hendro...” ada nada cemburu tersirat pada suara Grey, cemburu karena dirinya tidak sedikitpun dikuatirkan oleh papanya, tidak seperti Rosaline yang tampak begitu diperhatikan oleh orang tuanya. Rosaline menangkap nada suara itu dan buru – buru mengalihkan percakapan.
“Mungkin kamu benar, Grey, kita tidak bisa bersembunyi terus – menerus.”
“Yeah, suatu saat, kita memang harus kembali, tapi nanti, setelah kita menikah baru kita menemui mereka, sehingga mereka tidak bisa berbuat apa – apa lagi dengan hubungan kita.”
“Ya Grey.”
Sesaat mereka kembali terdiam dan hanya saling menatap. Rosaline menggenggam tangan Grey dengan galau.
“Hey, look, I made a good poem, do you wanna take a look?” tiba – tiba Grey berkata, seperti tak ingin terlarut dengan kemuraman. Pemuda itu memperlihatkan secarik kertas yang baru saja ditulisi puisi olehnya. “Aku tak bisa tidur, jadi kubuat puisi ini, it's good, isn't it?”
Rosaline setengah hati melihat puisi yang diberikan Grey padanya.
\=Puisi Ingin Mati=
Tiada lagi
Tiada lagi Butterfly yang berterbangan
Menari – nari menghangatkan hidupku
Rindu mengirim bayangmu ke dalam mimpi - mimpiku
Janji setia kita merajut kasih selamanya
Janji kita merangkai waktu bersama
Hilang!
Pupus!
Bersama keranda.
Sungguh!
Aku ingin menjengukmu di liang kubur.
__ADS_1
Kita tidur berselimutkan kematian.
Bukankah kenangan itu menyakitkan?
Rosaline terkesiap ketika membacanya. Apa maksud Grey membuat puisi itu? Bukan puisi yang bisa dikatakan good seperti kata Grey, itu puisi menyeramkan, itu puisi tentang kematian!
*****
Hari telah berangsur senja saat mereka tiba di depan gerbang villa, kembali dari mengunjungi boutique untuk memantau perkembangan baju pengantin pesanan mereka. Baju itu sudah hampir selesai. Rosaline begitu berdebar melihatnya, membayangkan dirinya memakai baju itu kelak. Pasti seperti putri dalam dongeng rasanya!
“Kita juga harus memesan tempat tidur pengantinnya, kurasa,” usul Grey, ketika mereka turun dari taxi yang mereka tumpangi. Rosaline merasa usulan itu terlalu berlebihan.
“Ah tak usahlah, aku tak suka yang berlebihan. Aku suka kita melewatinya dengan kesederhanaan saja, Grey!” tolak Rosaline.
“Untuk kamu, harus yang terbaik, little butterfly!”
“Tapi, Grey...”
“Sebentar ya? Itu ada penjual ice cream, do you want some?”
Rosaline hendak mencegah, tapi Grey sudah beranjak dari depan gerbang villa, menyusul tukang ice cream yang mangkal tak jauh dari tempat mereka berdiri. Grey, grey, Rosaline menggelengkan kepalanya.
Baru saja, gadis itu memalingkan kepala ke arah lain, ingin melihat – lihat pemandangan jalan yang sore itu tampak begitu damai. Tiba – tiba sebuah mobil berhenti mendadak di depan Rosaline. Dua lelaki berbadan tegap, dengan potongan rambut cepak, mengenakan jaket hitam, turun dari mobil dan segera mendekati gadis itu.
“Maaf, nona Rosaline? “
“Ya? Bapak siapa?”
“Nona harus ikut pulang bersama kami!”
“Ta..Tapi bapak siapa? Pulang kemana?”
“Jangan takut, kami dari kepolisian, orang tua nona yang melapor pada kami, ini surat tugas kami.”
“Oh tidak!” Rosaline hanya terkesiap, menatap nanar surat tugas yang diacungkan salah seorang lelaki itu.
Grey yang baru kembali dari membeli ice cream, cuma bisa terpana dan menjatuhkan ice cream yang dibawanya, ketika melihat Rosaline dibawa masuk kedalam mobil oleh dua orang lelaki dan mobil itu segera melaju tanpa sedetikpun memberi kesempatan pada Rosaline ataupun Grey untuk saling berbicara.
“Rosaline?”
__ADS_1