Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Bab 14 : Ikrar Persahabatan itu Sudah Berubah...


__ADS_3

Kelas sepuluh sunyi sejak lima belas menit yang lalu ketika ulangan matematika dimulai pagi itu. Kegelisahan tanpa kata menyelimuti siswa – siswi di kelas itu, terpana menatap angka – angka persamaan kuadrat yang seolah bagai momok yang menakutkan bagi siswa – siswi penganut SKS ( Sistim Kebut Semalam ). Mungkin itu tak berlaku bagi siswa – siswi berotak cemerlang seperti Sheila atau beberapa yang lain, tapi yang jelas kelas itu sunyi bagai terhipnotis oleh ulangan matematika itu. Rosaline entah terrmasuk golongan yang mana pagi itu, karena gadis itu menatap kertas ulangan tanpa gerak, tapi seandainya bu Susi bisa melihat apa yang dilihat Rosaline pastilah beliau mati berdiri, karena bukan soal – soal ulangan yang dilihat Rosaline saat itu, melainkan bayangan wajah Grey, Grey dan Grey. 


Grey yang menatap Rosaline dengan tatapan yang membuat gadis itu ingin menangis penuh penyesalan. Grey yang cuma membelai rambut Rosaline tanpa kata sebelum mereka berpisah dari depan pohon beringin di taman hari itu. Walau Rosaline tau Grey sudah memaafkannya, tapi pemuda itu tampaknya masih belum mempercayai dirinya sepenuhnya.


“I’m just a lil bit unwell, the voices still annoy me, membuat kepalaku sakit tak tertahankan, so aku butuh ketenangan dulu....” begitu alasan Grey ketika Rosaline meneleponnya menanyakan kenapa sahabatnya itu tidak masuk sekolah keesokan harinya.


“The voices apa?” Rosaline tak mengerti. Grey terdengar mengeluh mendengar pertanyaan itu.


“Sudahlah, ku jelaskan juga, kamu nggak akan mengerti...Well, I think I have to take a rest, right now, ok? My pills are working...” sahut Grey yang lalu memutuskan percakapan sebelum Rosaline sempat menjawab lagi.


Rosaline menghela nafas, menggigiti ujung penanya, pasrah. Soal ulangan baru selesai setengahnya dikerjakan gadis itu ketika bu Susi mengatakan waktu habis dan mengumpulkan kertas – kertas ulangan siswa – siswi.


Dengan langkah gontai gadis itu melangkah ke toilet saat pergantian jam pelajaran. Tidak ada sedikitpun kekuatiran terbersit dipikiran Rosaline bagaimana nasib nilai ulangannya kelak, sukses atau kemungkinan besar jeblok karena dia tak selesai mengerjakannya. Karena yang ada dibenaknya saat ini cuma Grey. Gadis itu begitu galau memikirkan sahabatnya, dan yang pasti nasib hubungan mereka. Grey, pasti dia down lagi gara – gara aku. Apa yang bisa kulakukan untuk mengembalikan kepercayaannya? Rosaline menggigit bibirnya penuh rasa bersalah.


Mata Rosaline terhenti saat melewati kantin sekolah. Terlihat olehnya kue – kue jualan ibunya yang dipajang ibu kantin di meja – meja kantin. Ah begini saja, hari ini kan Grey tak masuk sekolah, aku pergi ke apartemen Grey sepulang sekolah nanti, menjenguk Grey sambil membawakan kue pastel favoritnya. Dia pasti suka. Ya, itu ide baik...Rosaline tersenyum kecil merasa mendapat jalan.


Siang itu sepulang sekolah, Rosaline menjadi sedikit bersemangat, memesan ojek online, pergi ke apartemen Grey. Segudang harapan memenuhi kepala gadis itu, Grey pasti gembira dan mungkin...Mungkin mau menerimaku sepenuhnya, batin Rosaline sambil mengayun - ayunkan kantong plastik berisi bungkusan kue pastel memasuki lift gedung apartemen menuju lantai lima. Tapi setibanya di depan apartemen Grey, Rosaline justru bertemu dengan wajah kuatir pak Hendro.


“Ah syukur nona Rosaline datang, mungkin nona bisa...” kata pak Hendro segera setelah melihat Rosaline datang.


“Bisa apa, pak?” Rosaline tiba – tiba jadi berdebar tak keruan mendengar kata – kata bodyguard itu. Ada apa dengan Grey? Spontan itu yang langsung terpikir oleh Rosaline. Pak Hendro tak menjawab, pria kekar itu cuma membukakan pintu apartemen dan mempersilahkan gadis itu masuk.


Begitu melangkah ke dalam apartemen Grey, segera saja Rosaline terjengah dibuatnya. Gadis itu menemukan betapa lantai apartemen itu hampir penuh tertutupi belasan mungkin puluhan helai kertas – kertas HVS, yang ketika Rosaline memungut satu diantaranya, ternyata berisi coretan – coretan puisi.


Little butterfly


Tidakkah kamu lihat


Aku yang lemah tanpamu


Aku yang rapuh tanpa cintamu


Kamu biarkan aku sia – sia mengharapkanmu


Karena cinta itu ternyata tidak untukku


Little butterfly


Tidakkah kamu tau


Kutemukan hidupku darimu


Kutemukan semangatku darimu


Tapi ternyata kamu lebih suka berpaling padanya


Kamu lebih suka terbang bersamanya


Meninggalkan aku sunyi dalam gelapku


Membiarkan aku patah dalam asaku


Rosaline mendekap mulutnya, terkesiap, memungut satu kertas HVS lagi, dan menemukan puisi lagi. Sebuah puisi patah hati yang lain.


Aku sayang dia


Aku rindu dia

__ADS_1


Sangat merindukannya


My little butterfly


Semua rasa ini cuma untuknya


Andai aku harus mati sekalipun


Semua nafas ini cuma untuknya


Tapi kenapa?


Kenapa dia memilih yang lain?


Tak suka kah dia?


Muakkah dia?


Dengan aku yang tak sempurna ini


Dengan aku yang tak berguna ini


Dikertas lain, Rosaline menemukan puisi depresi lagi.


Aku tersenyum


Aku tertawa


Cuma untuk sebuah kepalsuan


Sebuah dusta untuk menutupi


Yang berputar – putar didalam kepala


Bekecamuk


Kadang menyeretku ke dalam jurang kegelapan tak berdasar


Kadang melambungkan aku ke langit benderang tak berujung


Aku tak mampu menahannya melompat


Menerjang


Merobek – robek nalarku


Sungguh


Aku tak mampu


Tangan Rosaline bergetar memegang kertas – kertas HVS itu, perasaannya berkecamuk, galau tak menentu saat membacanya. Gadis itu merasa matanya mulai kabur karena air mata, tapi buru – buru dihapusnya lagi sebelum pak Hendro melihatnya, sebegitu sedih kah perasaan Grey sehingga dia menulis puisi yang begitu depresi? Sebegitu rindukah dia denganku? Rosaline membatin, tapi kenapa sikapnya begitu dingin padaku? Kenapa? Masih marahkah dia denganku? Masih belum percayakah dia denganku?


“Sudah dari tadi malam, tuan muda Grey seperti itu, bahkan sampai tidak tidur, nona...Saya sudah berusaha mengingatkan tuan muda untuk berhenti dan beristirahat, tapi tidak berhasil, saya kuatir...Mungkin nona bisa menghentikannya.” kata pak Hendro berharap. Rosaline menggeleng lemah.


“Aku tak tau, pak Hendro, apakah Grey mau bicara denganku saat ini...” sahut Rosaline tak yakin, tapi melihat pak Hendro yang menatapnya dengan raut wajah memohon, gadis itu tak sampai hati. Maka diberanikannya untuk mendekati Grey yang saat itu tampak sedang duduk menghadap meja belajarnya, masih sibuk menulis di kertas – kertas HVS itu, tanpa mempedulikan sekelilingnya, bahkan pemuda itu tak sadar Rosaline datang. 


“Ehm...Grey...” tegur Rosaline hati – hati.

__ADS_1


Grey tidak menjawab.


“Grey...Ini aku bawakan kue pastel favoritmu...” sekali lagi Rosaline menegur. Gadis itu perlahan menyentuh bahu Grey karena pemuda itu tidak menunjukan tanda – tanda akan menjawab.


“Yeah?!” Grey tersentak, dan menoleh. “Ro...Rosaline?!”


Jelas – jelas pemuda itu tampak terkejut melihat kehadiran gadis sahabatnya disitu.


“Aku baru datang Grey...Ehm...Ini kubawakan kue pastel untukmu...” ulang Rosaline sambil menyodorkan kantong plastik berisi bungkusan kue pastel ke depan Grey.


Pemuda itu menatap bungkusan kue yang disodorkan Rosaline kemudian berganti menatap gadis itu, lama, ada gejolak yang menggebu di sorot mata coklat muda itu ketika menatap Rosaline, gejolak kerinduan yang mendalam, gejolak hasrat yang membuat jantung Rosaline serasa menggelepar ditatap sedemikian rupa, membuat Rosaline ingin menghambur memeluk Grey saat itu juga, menghibur Grey kalau saja sorot mata itu tidak tiba – tiba berubah, ada keangkuhan yang mendadak menguasai begitu membara. Grey berdiri dengan sikap seolah sedang mencari – cari sesuatu.


“Kenapa Grey?” Rosaline risau menyaksikan itu.


“Mana Danni? Dia yang mengantarmu kesini?”


“Bang Danni?...Aku datang sendirian, Grey...Aku datang karena ingin membawakan kamu kue pastel ini, aku tau ini kue favoritmu...” Rosaline terbelalak mendengar pertanyaan Grey. “Please, Grey...Jangan menyindirku...”


“Yeah, siapa tau begitu..” sahut Grey tanpa memandang Rosaline.


“Tidak Grey, kan sudah aku katakan, aku sudah memilihmu...” tukas Rosaline segera. “Percayalah padaku, Grey...”


Pemuda itu tidak menjawab kata – kata Rosaline, dia cuma mengangkat bahunya, lalu mengambil bungkusan kue pastel dari tangan Rosaline, membukanya, dan memakan satu kuenya dengan lahap seolah dia sudah lama tidak makan.


“Grey...Apa yang sedang kamu kerjakan? Sibuk benar, sampai lupa makan kelihatannya...” komentar Rosaline mau tak mau, miris melihat cara makan Grey.


“What do you care?” Grey mendengus mencemooh.


“Grey, please?” Rosaline menghela nafas mendengar jawaban Grey, mencoba menggamit Grey tapi pemuda itu mengangkat tangannya. ”Grey, aku tau kamu masih belum percaya padaku. Tapi asal kamu tau, aku kesini sejujurnya karena ingin memperbaiki salahku padamu, tak peduli orang berkata aku gadis murahan yang mengorbankan harga diriku sebagai perempuan, memohon kepada seorang lelaki, aku tak peduli, karena aku tau aku salah, karena aku tau aku sudah menodai ikrar persahabatan kita...Tapi yah...Jika kamu masih tidak bisa menerimanya, aku paham, Grey...Mungkin tidak sekarang, mungkin nanti, besok, lusa...Aku cuma ingin kamu tau kalau aku akan selalu menunggumu, Grey...”


Kedua alis mata Grey saling bertaut mendengar itu.


“Well...I don't know...” kata Grey lambat - lambat seolah sedang memikirkan sesuatu. Rosaline menunggu pemuda itu meneruskan kata – katanya, tapi ternyata tak ada tanda - tanda Grey hendak berbicara lagi, pemuda itu cuma mengambil satu kue pastel lagi dan memakannya sambil mencoret – coret kertas HVS. Gadis itu menghela nafas lagi.


Sesaat suasana menjadi hening dan kaku di ruangan apartemen itu, yang terdengar cuma bunyi goresan - goresan pena Grey di kertas HVS. Rosaline pun tak tau harus berbicara apa lagi ditengah kekakuan itu.


“Baiklah...” kata Rosaline akhirnya, merasa tak ada gunanya lagi mencoba berbicara dengan Grey yang belum bisa membuka hati. “Sepertinya aku harus pamit. Jaga kesehatanmu, Grey, jangan sampai lupa makan...”


Sampai gadis itu keluar dari gedung apartemen, Grey tetap tak menanggapi kata – kata Rosaline. Kaki Rosaline serasa tak mampu berjalan karena menahan kegalauan hatinya. Dengan mata berkaca – kaca gadis itu sekali lagi menatap ke arah gedung apartemen, dia tau Grey memperhatikan kepergiannya dari balik jendela, tapi pemuda itu tak bereaksi sedikitpun, memanggilnya kembali, menyusulnya, atau apalah. Grey cuma membisu dan membisu di jendela itu. Dengan putus asa, Rosaline menyusuri jalan meninggalkan gedung apartemen, tak ada angkot atau bus yang lewat siang itu. Sepi. Langit tampak mendung, semendung perasaan Rosaline.


Petir yang menggelegar dimendungnya langit, hujan yang mulai turun membasahi memaksa Rosaline untuk berteduh di sebuah halte bis. Gadis itu duduk di bangku halte sambil memeluk tubuhnya sendiri, seolah ingin menahan tangisnya yang begitu mendesak ingin ditumpahkannya. Grey..Grey..Tidakkah kamu mau membuka hatimu lagi untukku? Begitu susahkah?


Suara deru motor Kawasaki Ninja yang melambat, mendekati halte itu, membuat Rosaline mengangkat wajahnya dan menoleh.


“Grey?!” Rosaline terpana ditengah rinai hujan yang menetes dari pinggiran atap halte, melihat sosok Grey menghentikan motor Kawasakinya, melihat sosok Grey turun dari motor tersebut. Grey...Grey menyusulku? Apa aku tidak salah lihat? Benarkah ini? Batin gadis itu seolah tak mempercayai penglihatannya.


“Rosaline, aku menyusulmu cuma karena membawakan payungmu yang tertinggal...” kata Grey kaku, sambil mengulurkan sebuah payung berwarna hitam pada Rosaline.


“Payung?!” Rosaline tercengang. “Ta...Tapi aku tidak membawa payung, Grey...”


Grey tak menjawab kata – kata Rosaline. Rinai hujan membasahi tubuh Grey yang berdiri terpaku di depan halte, menatap gadis itu tanpa kedip.


“Rosaline...Aku...”


“Grey!!” Rosaline tak sabar menunggu Grey melanjutkan kata – katanya, tak peduli dengan berapa banyak mata yang melihatnya di halte itu, gadis itu menubruk pemuda itu dan memeluknya erat – erat. “Aku tau kamu pasti menyusulku, Grey, aku tau...”


“Berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkan aku...” pinta Grey dengan suara nyaris berbisik, pemuda itu mencium kening Rosaline dan membalas pelukan gadis sahabatnya itu. Erat. Seolah tak ingin dilepaskan lagi.

__ADS_1


Begitu banyak mata yang melihat di halte itu, begitu banyak senyum simpul dan bisik – bisik di halte itu, begitu derasnya hujan yang membasahi seolah tak berarti apa – apa bagi dua remaja itu. Dua remaja yang sudah terlarut dalam rindu, dua sahabat yang sudah tak mampu lagi memendam rasa. Biarlah orang berkata apa, tapi ikrar persahabatan itu kini sudah berubah...


__ADS_2