Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Bab 19 : Mukjizat itu...


__ADS_3

“Nona, bangun nona...Tuan Grey, nona...Tuan Grey...” 



Samar – samar Rosaline mendengar ada yang memanggilnya, gadis itu tersentak bangun, dan melihat ternyata pak Hendro sudah berdiri dihadapannya dengan wajah penuh kekuatiran.



“Ada apa pak? Ada apa dengan Grey?”



“Kondisi tuan Grey semakin memburuk...Tuan Grey...” 



“Apa?! Grey?!” bagai hilang nafas Rosaline mendengar itu, wajah gadis itu langsung pucat – pasi. Tanpa ada yang bisa menahan, Rosaline berlari hendak menerobos ruang ICU, tapi di depan pintu, dia nyaris bertabrakan dengan seorang lelaki berusia sekitar 40-an, berpakaian necis, mengkilap, yang menatapnya sinis seolah Rosaline adalah seorang gadis gembel yang tidak tau diri masuk seenaknya. Hampir saja lelaki itu mengusir Rosaline, jika pak Hendro yang menyusul, tidak memberitahu lelaki itu.



“Maaf tuan Darmawan, dia Rosaline yang saya ceritakan itu, dia teman masa kecil tuan Grey..”



“Oh ok...Rosaline...Tapi tidak ada yang boleh masuk ruang ICU karena akan mengganggu dokter melakukan tindakan...” kata lelaki necis yang ternyata adalah papa nya Grey itu akhirnya. Lelaki itu mengizinkan Rosaline melihat Grey walau cuma dari balik kaca ruang ICU saja.



“Grey...Grey...Bertahanlah, Grey...” bisik Rosaline begitu gundah, melihat dari balik kaca ruang ICU betapa dokter dan para perawat sedang berjuang mempertahankan nyawa Grey. "Selamatkan Grey, Ya Allah..."



Menit demi menit berlalu bagaikan sedang menonton adegan slow motion sebuah film horror yang sangat menyiksa. Rosaline merasa begitu lemas, gadis itu membalikkan tubuh, tak sanggup melihat kepanikan di ruang ICU itu, saat tubuh Grey terhentak - hentak oleh alat kejut jantung yang digunakan dokter untuk memicu detak jantung Grey, saat para perawat mondar - mandir dengan wajah tegang, membantu dokter bekerja, sesekali menyuntikkan obat - obatan pada botol infus, atau memeriksa kestabilan peralatan medis yang terpasang. Rosaline melihat tuan Darmawan juga tak dapat menyembunyikan kegelisahannya, berkali - kali menjenguk ke kaca ruang ICU, menelepon entah siapa, lelaki itu sedikit banyaknya menunjukkan juga rasa kuatirnya akan kondisi anak dari istri pertamanya itu, walau Rosaline tau lelaki itu boleh dikatakan tidak pernah memberi perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan Grey, entah karena kesibukannya atau karena permintaan istri keduanya yang bule itu. Rosaline tak pernah mengerti tabiat tuan Darmawan - papanya Grey itu.



Rasanya lama sekali ketika akhirnya Rosaline melihat dokter keluar dari ruang ICU, berbicara dengan tuan Darmawan dengan wajah muram. Berdebar jantung Rosaline dibuatnya. Semoga...Semoga...Tidak...



“Maafkan kami, tapi anak bapak tidak mampu bertahan...Kami sudah berusaha semaksimal mungkin...” terdengar dokter berkata pada tuan Darmawan.



“A..Apa?!” Tidak...Tidak mungkin!..." Rosaline bagaikan tersambar petir mendengarnya. "Ini pasti bohong! Grey tidak mungkin meninggalkan aku, tidak mungkin!"



Gadis itu begitu shock, tanpa peduli apapun dia tiba – tiba menerjang masuk ke dalam ruang ICU. Walau masih ada perawat – perawat yang sedang mencopot satu demi satu peralatan medis yang melekat di tubuh Grey, Rosaline menubruk tubuh Grey dan menangis sejadi – jadinya.



“Grey! Grey! Jangan menakutiku Grey! Bangun Grey! Bangun...” gadis itu memeluk tubuh Grey begitu erat seolah tak ingin dilepaskan lagi, seolah tak rela Grey pergi. Beberapa perawat mencoba menenangkan Rosaline dan membujuk gadis itu agar melepaskan Grey, mengikhlaskan kepergiannya.



"Mbak perawat bohong! Katanya berusaha sebaik mungkin menyembuhkan Grey? Tapi kenapa Grey tak bangun - bangun?" tangis Rosaline, yang kemudian menuding tuan Darmawan yang berdiri mematung di depan pintu ruang ICU. "Om, ini salah om! Om tak pernah menyayangi Grey, om membuat Grey putus asa dan pergi!"



Rosaline merosot terduduk dilantai ruang ICU, menutup wajahnya dengan kedua tangan, gadis imut itu merasa dunianya hancur dan gelap, dia tak bisa terima kalau Grey harus pergi secepat itu. Ini bagaikan sebuah mimpi buruk...Kenapa Ya Allah, kenapa? Sembilan tahun kami sudah berpisah, kini pada saat kami bisa bertemu kembali, pada saat kami mulai merajut benih – benih cinta kami, kenapa Engkau begitu cepat mengambil Grey dari sisiku, Ya Allah?



Seorang perawat yang iba melihat Rosaline begitu sedih, memeluk bahu gadis itu dan membujuknya agar berdiri.



"Ikhlaskan dia ya, dia sudah tenang sekarang, tidak menderita lagi. Dia pasti sedih jika adik menangisinya terus...Sekarang ciumlah keningnya, karena kami harus mencopot peralatan medisnya dan menutup jenazahnya..." bisik perawat itu lembut.



Air mata Rosaline menetes membasahi pipi Grey ketika gadis itu untuk yang terakhir kali mencium kening Grey. Air mata itu, air mata yang penuh rasa kesedihan yang mendalam, air mata seorang gadis yang tidak pernah rela kehilangan cinta sejatinya, air mata itu mengalir perlahan menyentuh bibir pucat Grey. Oh Tuhan, seandainya aku bisa memutar balikkan waktu...Batin Rosaline putus asa.


__ADS_1


“Dokter! Ya Tuhan, coba lihat itu dokter!” Seorang perawat tiba – tiba berseru terkejut, menunjuk mesin detektor detak jantung yang masih terhubung dengan tubuh Grey. Mesin itu tiba – tiba bekerja lagi, menunjukkan tanda – tanda ada denyut jantung yang berdetak.



“Apa?! Ini tidak mungkin! Ini mukjizat!” pekik yang lain.



Rosaline terpana, tak mampu berkata – kata, cuma bisa membiarkan dirinya ditarik seorang perawat, menjauhi tubuh Grey agar dokter bisa segera memeriksa Grey.



Ya Allah, benarkah yang kulihat ini? Benarkah? Batin Rosaline sambil mendekap mulutnya.



*******



“Nona, tuan Grey sudah sadar...” kata pak Hendro pagi itu, ketika datang sambil membawakan sarapan untuk Rosaline.



“Sungguhkah? Sungguhkah Grey sudah sadar?" Rosaline bagai tak percaya, begitu surprise mendengar kabar yang dibawa pak Hendro. "Bo...Bolehkah saya menemui Grey sekarang?”



“Sabar nona, kita tunggu izin dari dokter dulu...” kata pak Hendro sambil tersenyum melihat Rosaline tak sabar. “Benar kan yang saya bilang? Ini berkat kehadiran nona, membuat tuan Grey mampu melewati masa kritisnya..”



“Iya pak, syukurlah...Saya berharap Grey cepat pulih kembali...”



Rosaline hampir – hampir tak bisa menelan sarapannya, tak sabar menunggu diperbolehkan bertemu Grey. Gadis itu serasa ingin melompat dan berlari menemui Grey dengan segera, hatinya bergejolak, penuh harapan. Terima kasih Ya Allah, Engkau sudah mendengar do'a - do'aku.. Semoga, semoga Grey bisa cepat sembuh...Aku berjanji tak akan meninggalkannya lagi walau ayah – ibuku memenggal kepalaku sekalipun, aku tak peduli...




“Bang Danni!! Oh tidak...” Rosaline bagai membeku melihat Danni. Terbayang lagi olehnya kejadian na'as sore itu, di warung kosong itu, saat dia melihat sosok Danni meninggalkannya dalam keadaan pakaiannya terbuka tak keruan. Apakah memang bang Danni? Apakah memang bang Danni, sosok yang sudah menghancurkan hidupnya...Sosok yang sudah membuat hidupnya menderita...



“Lho ada Rosaline disini? Katanya kamu pindah?” tegur Fita yang ikut dalam rombongan itu. “Sedang menjenguk Grey ya?”



Sementara teman – teman satu kelas Grey yang lain sibuk berbisik – bisik sambil memandangi Rosaline, membuat gadis itu risih dan merasa sangat gugup, kenapa mereka memandangi aku seperti itu? apakah mereka tau kejadian yang menimpaku di warung kosong itu? Apakah mereka tau kalau aku diperkosa?



Rosaline cuma bisa tertunduk tak berani membalas tatapan Fita dan yang lainnya. Tapi perhatian Rosaline kemudian tertuju pada Danni yang berdiri di belakang rombongan teman – temannya, memalingkan wajah seolah tak mau bertatapan dengan Rosaline.



Bang Danni tidak mau melihatku...Atau tidak berani melihatku? Apakah karena dia merasa bersalah? Apakah memang dia pelakunya? Gadis itu menggigit bibirnya, bertanya – tanya gundah di dalam hati.



Rosaline cuma terpaku melihat Danni melewati dirinya begitu saja ketika akhirnya rombongan teman – teman satu kelas Grey berlalu. Sekilas gadis itu merasakan Danni sembunyi - sembunyi melirik ke arahnya.



Jika benar bang Danni yang melakukan perbuatan bejat itu, bagaimana mungkin dia bisa dengan tenangnya melewatiku begitu saja, tanpa ada rasa bersalah sedikitpun? Jika benar bang Danni, apakah dia tidak tau perbuatannya sudah menghancurkan aku dan Grey sekaligus?



“Nona...Tuan Grey sudah diizinkan keluar dari ruang ICU, dan segera dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Nona sudah bisa menjenguk tuan Grey sekarang...” pak Hendro yang datang lima belas menit setelah rombongan teman – teman Grey pergi,  memberi kabar baik pada Rosaline.



“Sa..Saya sudah bisa menemui Grey sekarang, pak?” tanya Rosaline tergagap.

__ADS_1



“Ya...”



“Tapi tadi ada rombongan teman – teman satu kelas Grey...”



“Mereka belum diizinkan menjenguk tuan Grey karena terlalu ramai, paling mereka cuma bisa melihat tuan Grey dari balik kaca ruang perawatan saja, nona...” terang pak Hendro. “Mari nona?”



Rosaline ragu – ragu hendak melangkah mengikuti pak Hendro karena tak ingin menjadi pusat perhatian teman – teman Grey jika melihat cuma dia sendiri yang diizinkan masuk ke ruang rawat inap Grey. Untung saat dia tiba di depan ruang rawat inap Grey, rombongan itu sudah tidak ada. Rosaline menarik nafas lega.



“Itu tuan Grey...” kata pak Hendro sambil membukakan pintu ruang rawat inap, mempersilahkan Rosaline masuk.



“Grey?” berdebar rasanya Rosaline ketika pandangannya bertemu pada sosok Grey yang sedang terbaring ditempat tidur, masih mengenakan infus.



“Ro..Rosaline? Is that really you?” Grey langsung berusaha bangun ketika melihat Rosaline. Oh God, betapa rindunya aku dengan suara itu...Mata Rosaline langsung berkaca - kaca dibuatnya.



“Ya Grey, ini aku! Ini aku!” bagaikan anak kecil yang begitu ceria berlari menyambut hadiah dari orang tuanya, Rosaline akhirnya tak dapat lagi menahan rasa haru dan gembira yang meluap – luap melihat Grey sudah sadar, langsung di tubruknya tubuh Grey yang sedang berusaha bangun sehingga tubuh itu kembali terguling di tempat tidur, membuat perawat – perawat yang ada disitu semua mendelik melihat ulah Rosaline. Tapi melihat betapa cemerlangnya wajah Grey yang dipeluk Rosaline, membuat perawat – perawat itu tak tega untuk menegur Rosaline.



“Rosaline, please?”



“Haa?” Rosaline baru tersadar ulahnya sudah membuat Grey meringis kesakitan, buru – buru dilepaskannya tubuh Grey. ”Eh sakit ya? Maaf, maaf...”



Senyum Grey mengembang– untuk pertama kalinya pemuda itu tersenyum setelah perpisahan mereka di stasiun – meraih tangan Rosaline yang begitu dirindukannya dan menggenggamnya begitu erat seolah takut kehilangan gadis itu lagi. Membuat jantung Rosaline berdegup begitu kencang, tak mampu berkata – kata, dan tak terasa membalas genggaman itu juga. Terima kasih ya Allah, terima kasih, Engkau sudah berkenan mengembalikan Grey padaku...Ini benar - benar keajaiban yang tak terkira  yang pernah aku dapatkan...Terima kasih ya Allah...Rosaline ikut tersenyum, begitu bahagia, sehingga air matanya tak terbendung lagi, berlinangan membasahi pipinya.



Tak ada satu perawatpun yang ada di ruangan itu, termasuk pak Hendro, yang bersuara menyaksikan pertemuan kedua remaja itu, semuanya terdiam penuh haru melihat betapa bersinarnya raut wajah Rosaline dan Grey saat keduanya saling menatap, mereka tidak bicara, cuma saling menatap, tapi begitu banyak rasa yang terlukis dimata mereka, seolah rindu keduanya sudah begitu menyesakkan dada, seolah perpisahan yang menjebak mereka selama ini sudah begitu menyiksa. Grey membelai wajah Rosaline dengan lembut, menghapus air mata gadis itu.



“I miss you, little butterfly, a lot...” bisik Grey sambil mendekatkan wajahnya hendak mencium kening gadis itu, ketika tiba - tiba Rosaline memalingkan wajahnya, membuat Grey terjengah.



“Maafkan aku...” entah kenapa Rosaline mendadak merasa seperti ada yang bergejolak diperutnya sehingga dia ingin muntah.



Grey terkejut melihat Rosaline berlari ke washtafel yang ada di ruangan rawat inapnya, dan muntah – muntah disana.



“Rosaline kenapa? Are you sick?”



“Nggak tau, Grey, tiba – tiba aku merasa mual – mual...Hmm...Mungkin aku masuk angin...”



“Masuk angin?”



__ADS_1



__ADS_2