Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Bab 27 : The Wedding


__ADS_3

Tukang rias pengantin itu tampak begitu penuh perjuangan, saat berusaha merias sang pengantin perempuan, Rosaline, yang tak henti – hentinya menangis, membuat make up yang baru saja di pasang luntur dan luntur kembali. Membuat wajah Rosaline berlepotan eyeliner tak keruan.


“Rosaline berhenti lah menangis, nak!” ibu akhirnya tak sabar. “Pak KUA sudah setengah jam menunggumu diluar, jadwal beliau padat!”


“Aku tidak mau menikah, bu, aku mohon! Grey pasti mencariku sekarang, katena aku pergi tanpa sempat bicara dengannya! Ibu tak kasihan dengan Grey?” tangis Rosaline putus – asa.


“Ibu lebih kasihan pada perutmu yang semakin membesar, Ros!”


“Tapi bu...”


“Sudahlah, Ros, ini demi kebaikanmu juga! Jangan membuat semua jadi susah, nak.”


Reyna, kakak Rosaline duduk disisi adiknya. Membelai kepala Rosaline.


“Ayolah, dek, ini cuma pernikahan untuk menyelamatkan status bayi yang ada dalam perutmu. Tak lebih.”


“Tapi tetap saja ini namanya menikah, kak! Aku mau menikah, tapi bukan dengan bang Danni! Aku cuma ingin menikah dengan Grey!”


Sia – sia saja Rosaline bicara, ibu Rosaline tetap pada pendirianya. Acara akad nikah itu akhirnya berlangsung, walau Rosaline masih terisak.


“Saya terima nikahnya Rosaline binti Tony Adriansyah, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai” suara Danni terdengar bagai menusuk - nusuk perasaan gadis itu, begitu menyakitkan. Grey, Grey, maafkan aku, dimana kamu sekarang? Tangis Rosaline dalam hati.


“Bagaimana bapak, ibu? Sah?” Pak KUA bertanya sambil memandang para saksi.


“Sah.”


“Sah.”


Empat saksi mengatakan sah dengan mantap tanda mulai detik itu Rosaline sah menjadi Nyonya Danni Feradis. Menetes air mata gadis itu dibuatnya.


“Rosaline?” sebuah suara bergetar, yang menyebabkan semua tamu disitu ribut berbisik – bisik, memaksa Rosaline mengangkat wajahnya.


“Grey??!” Rosaline mendekap mulutnya, pucat – pasi menatap sosok pemuda kekasihnya, diantara tamu – tamu yang sedang duduk digelaran karpet rumah Rosaline, berdiri membalas tatapannya dengan sorot mata begitu terluka.

__ADS_1


“Rosaline, ini baju pengantinmu sudah siap...” Grey mengulurkan gaun pengantin berwarna pink yang masih terbungkus plastik. Gaun itu jatuh melayang kelantai dari tangan Grey, karena pemuda itu segera membalikkan tubuhnya tanpa menunggu Rosaline mengambil gaun itu.


Bagaikan sebuah adegan slow motion dalam sebuah film horror, Rosaline melihat Grey berlari keluar rumahnya, tanpa menoleh lagi.


“Grey!! Tunggu!!” Rosaline begitu kalap mengejar pemuda itu. Tidak ada yang lebih hancur daripada melihat Grey yang sangat dicintainya berlari meninggalkannya setelah menyaksikan dirinya sah menjadi nyonya Danni Feradis.


Kondisinya yang sedang berbadan dua, menyebabkan Rosaline tak bisa mengejar dan membuat Grey berhenti. Air mata Rosaline berderai menyaksikan Grey menaiki Kawasaki Ninjanya dan melaju begitu kencang menembus jalanan.


Oh Tuhan, tidak, kenapa ini harus terjadi? Kenapa? Tangis Rosaline. Sebuah mobil mewah yang berhenti di depan pagar rumah segera menyentakkan gadis itu.


“Pak Hendro?” Rosaline terpekik melihat bodyguard Grey membuka kaca mobil. “Pak Hendro, Grey pak! Grey! Kita harus mengejar Grey!”


Rosaline seperti mendapat bantuan dengan datangnya Pak Hendro yang sebenarnya mungkin sedang menyusul Grey ke rumah Rosaline. Tanpa memperdulikan ayah – ibunya yang berteriak – teriak memanggil, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Danni yang menyusulnya, Rosaline masuk ke dalam mobil mewah yang segera melaju ke arah kemana Grey pergi.


Rosaline dan pak Hendro akhirnya menemukan motor Kawasaki Ninja milik Grey yang diparkir sembarangan di dekat pelataran rel kereta api. Keduanya turun dari mobil dan berpencar mencari Grey. Mereka yakin Grey masih ada disekitar situ.


“Grey?!” Rosaline terkesiap setelah akhirnya menemukan Grey, seperti orang yang sedang bingung, duduk memeluk lutut ditengah rel kereta. “Grey! Apa yang kamu lakukan disitu?!”


“Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk terus hidup dalam sepi,” suara Grey hampir – hampir tidak terdengar saat mengatakan itu.


“Grey, please, jangan bicara seperti itu, pasti ada cara...”


“Saat aku kehilangan mama, dan papa lebih memilih memperhatikan perempuan bule itu, aku kira kamu yang dapat menarikku keluar dari rasa sepi yang menyakitkan ini, tapi ternyata, kamu juga bukan untukku...” kata – kata Grey membuat perasaan Rosaline bagai teriris mendengarnya.


“Lihat aku Grey, aku disini sekarang, datang untukmu, tubuhku mungkin sudah milik orang lain, tapi hatiku akan selalu untukmu, Grey,” hampir menangis rasanya Rosaline saat berusaha membuat Grey memandangnya.


“Percuma Rosaline, aku sudah mendengar ijab qabul itu terucap, sah, dan itu berarti kamu bukan milikku lagi,” Grey menepis tangan Rosaline yang memegangi wajahnya. “Pergilah, butterfly, biarlah aku disini sampai kereta itu menjemputku...”


“Apa maksudmu, Grey? Kereta apa?”


Grey menunjuk rel kereta, ke arah deru yang mulai terdengar dari kejauhan.


“Nona Rosaline, tuan Grey, lekas menyingkir dari rel, sepertinya ada kereta yang akan lewat!” terdengar suara pak Hendro yang sedari tadi berdiri tak jauh dari situ, berteriak kuatir.

__ADS_1


“Ayo Grey, kita harus pergi dari sini!” Rosaline menarik tangan Grey agar pemuda itu segera bangkit dari rel.


“Kamu saja, Rosaline! Go! Leave me, quick!” Grey justru mendorong Rosaline.


“Tidak Grey, kamu juga!”


“No!”


“Pak Hendro! Tolong aku!” Rosaline akhirnya menjerit putus asa pada Pak Hendro. Kereta api yang sudah muncul di depan mata, membuat Rosaline begitu panik, karena Grey bersikukuh tak mau beranjak dari rel.


Jika saja pak Hendro terlambat beberapa detik menarik paksa Grey dari rel, kereta api bewarna silver itu sudah pasti menghancurkan tubuh Grey. Keduanya terguling ke tanah, bersamaan dengan Rosaline yang juga melompat dari rel.


“Kenapa kalian menolong aku?! Kenapa?!” Grey berteriak - teriak kalap.


“Please, Grey! Please jangan lakukan itu!” Rosaline dengan tubuh gemetar, berusaha memeluk Grey yang sedang emosi. “Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah! Percayalah, Grey! Pasti ada cara!”


“Cara apa lagi?! Tell me?!”


“Dengar Grey, aku menikah dengan bang Danni karena orang tuaku, cuma untuk memenuhi permintaan mereka untuk memperjelas status anak yang ada dalam kandunganku ini. Setelah anak ini lahir, aku janji akan segera menceraikan bang Danni, dan kembali padamu!”


“Menceraikan Danni?”


“Ya, Grey, itu janjiku. Karena aku, selamanya, cuma mencintaimu, tak mungkin sanggup aku hidup bersama bang Danni yang sudah menghancurkan hidupku, kamu tau itu! So Please,tunggu aku Grey,”


“Ta..Tapi itu berarti aku harus menunggumu selama sembilan bulan, Rosaline...”


“Kita sudah menunggu pertemuan ini sembilan tahun lamanya, dan sekarang cuma sembilan bulan, Grey, kita pasti bisa,”


“Itu berbeda, Rosaline, waktu kita berpisah dulu kita masih kecil. Sekarang aku..Aku tak yakin bisa bertahan, menunggu sembilan bulan lagi,  itu terlalu lama untukku..”


“Grey, yakinkan dirimu, kita pasti bisa melaluinya, kita pasti bisa...” Rosaline akhirnya tak bisa menahan tangisnya dipelukan Grey, karena gadis itu juga sebenarnya merasakan hal yang sama dengan Grey, sembilan bulan, begitu menyiksa rasanya, Rosaline membatin. Dirasakannya Grey membalas pelukan begitu erat seolah pemuda itu begitu takut kehilangan dirinya, seolah dia tak ingin melepaskan pelukan itu untuk selamanya. Grey, Grey, aku sayang kamu melebihi apapun, aku juga tak sanggup kehilangan kamu...


Deru kereta api yang menjauh, pak Hendro yang menatap mereka prihatin, menjadi saksi  Grey dan Rosaline yang sedang berpelukan begitu erat, seolah saling menguatkan diri masing - masing agar bisa menunggu sembilan bulan lagi untuk kembali bersama, untuk kembali merajut kebahagiaan yang begitu mereka dambakan.

__ADS_1


__ADS_2