
"Dan aku bisa menuntut balik kamu, Grey, karena sudah menganiayaku!" serang Danni sambil menggedikkan wajahnya yang lebam. "Kamu jangan kira aku tak bisa melawanmu! Ingat?! Aku sudah pernah bicara padamu dulu, kalau aku tidak akan menyerah!!"
"Silahkan saja tuntut aku! With my pleasure! Dan aku akan menuntutmu sudah memperkosa Rosaline!" balas Grey tanpa gentar. "Rosaline tak mungkin salah melihatmu di warung kosong itu, kamu yang sudah memperkosanya!"
"Dasar bodoh! Sudah kukatakan, apa ada saksi?!"
"Ada!"
Tiba – tiba terdengar suara lain yang menjawab, mengejutkan semua yang ada disitu. Rosaline mendekap mulutnya, terbelalak menyaksikan betapa Tika dan Sheila teman – teman dekatnya di sekolah, masuk ke halaman rumahnya.
"Bang! Aku sangat kecewa denganmu, aku sebagai adikmu, merasa sangat kecewa!" Sheila yang bersuara, menatap abangnya dengan mata berkaca – kaca karena dipenuhi emosi. "Ternyata abangku adalah seorang pengecut!"
Danni cuma bisa ternganga memandang adiknya, yang tiba – tiba saja datang bersama Tika.
"Sheila, ba..Bagaimana mungkin kamu bisa tau aku disini?"
"Semua bisa melihat waktu Grey menghajar abang di pelataran parkir sekolah!" kata Sheila nyaris histeris ketika mengatakannya. "Aku yakin abang pasti dibawa ke rumah Rosaline oleh Grey...Tika sudah memberitau aku semuanya! Tika saksinya!"
Sheila mendorong Tika agar semua bisa melihatnya.
"Aku...Aku.." Tika tergagap begitu ketakutan, tak berani mengangkat wajahnya.
"Tika?! Beraninya kamu?!" Danni berteriak panik pada Tika yang tampak gemetar berdiri disamping Sheila. Wajah Danni langsung memucat.
"Tak usah kamu dengarkan bang Danni, Tik, kamu ceritakan saja...Selagi ada aku, kamu tidak perlu takut..." Sheila membesarkan hati Tika.
"Sheila, Tika...Ada apa ini? Apa maksudnya Tika saksinya?" Rosaline bersuara setelah pulih dari rasa terkejutnya.
"Ya, Rosaline, Tika saksi kejadian itu...Kejadian yang menimpamu. Maafkan aku yang selama ini sudah berburuk sangka padamu, mengira kamu sudah begitu tega melukai abangku, tapi ternyata abangku sendiri yang lebih tega padamu..." kata Sheila, yang tak dapat menahan diri untuk tidak memeluk Rosaline yang datang mendekatinya, menyatakan rasa simpati dan menyesal telah berburuk sangka pada Rosaline, yang menyebabkan pertemanan mereka menjadi renggang selama ini.
"Sheila? Ja..Jadi kalian sudah tau?...Dan Tika...Bagaimana bisa Tika menjadi saksi, kan waktu itu...Waktu itu tidak ada siapa - siapa..." tanya Rosaline dengan suara bergetar, bingung dipeluk Sheila.
"Kami sudah tau semuanya...Kami sudah tau.." Sheila mempererat pelukannya, seolah ingin memberi dukungan pada Rosaline yang mulai berlinangan air mata dalam pelukannya.
"Jadi kalian sudah tau..." ulang Rosaline sambil menangis seolah trauma perkosaan itu terbayang lagi dimatanya, malu dan minder menerpa batinnya.
"Jangan menangis dong? Kami ini kan teman – temanmu, Ros...Kamu tak perlu kuatir, kami akan melindungimu, Ros...Kamu tak sendirian lagi menghadapi musibah ini." Sheila berusaha menenangkan temannya itu. "Dengan kesaksian Tika, bang Danni tak akan bisa menghindar lagi..."
"Tapi bang Danni itu abangmu, Sheila..."
"Memang dia abangku, tapi kalau dia bersalah ya tetap salah, Ros...Aku tak mau membela yang salah..."
"Bagaimana dengan orang tuamu, Sheila? Apakah mereka juga sudah tau?"
"Ya, aku sudah memberitau mereka, dan ayahku sangat marah mendengarnya." sambil berkata begitu, Sheila menatap Danni, abangnya dengan sinis, membuat pemuda itu semakin terpojok.
"Oh, shit...Dasar adik yang tak tau diuntung!" Danni mengutuk mendengar kata – kata Sheila. Beberapa kali dia berusaha memberontak dari pitingan pak Hendro tapi gagal.
"Apa abang bilang?! Aku tak tau diuntung?!" Sheila mendelik.
"Awas kamu!" Danni berusaha memberontak lagi, ingin menerjang Sheila.
"Sudah, sudah! Kalau begitu, segera kita bawa saja dia ke kantor polisi..." kata ayah Rosaline menengahi. "Saksi sudah ada sekarang...Kita bisa melaporkannya..."
Grey dengan senang hati memberi isyarat pada pak Hendro bodyguardnya untuk segera menyeret Danni ke kantor polisi. Ya, saksi sudah ada, apa lagi yang bisa meloloskan Danni?
__ADS_1
******
Rosaline bagaikan bermimpi ketika dirinya, bersama keluarganya, Grey, Sheila dan Tika membawa Danni ke kantor polisi. Sorot mata Danni yang penuh amarah dan sakit hati tak dapat dielakkannya, saat melihat pemuda itu digiring kehadapan polisi. Dingin rasanya seluruh tubuh Rosaline ditatap sedemikian rupa oleh Danni. Tapi Grey terus menggenggam tangan Rosaline, berusaha menguatkan gadis itu.
"Ba..Baiklah..." terdengar Tika yang dengan gugup hendak memulai kesaksiannya, di hadapan polisi, juga dihadapan keluarga Rosaline serta orang tua Sheila dan Danni yang belakangan ikut hadir di kantor polisi itu.
"Ayo ceritakan saja, Tik.." Sheila menepuk bahu Tika karena melihat temannya itu begitu ketakutan untuk memulai.
"Baiklah..." kata Tika sekali lagi, menguatkan dirinya untuk bercerita memberi kesaksian.
"Mulailah nona, ceritakan dari awal..." kata salah seorang polisi yang menerima laporan mereka, sambil menyalakan rekaman untuk merekam cerita kesaksian Tika.
"Sore itu aku dan Rosaline sama – sama ikut extrakurikuler seni teater...Memang Rosaline yang duluan keluar dari sekolah, ketika kami usai latihan, karena waktu itu aku masih mengobrol dengan yang lainnya..." Tika mulai.
Setelah itu Tika yang akhirnya beranjak juga dari sekolah, dengan mengendarai motor scooter nya keluar dari kawasan sekolah. Ketika hujan turun kian melebat, arah rumah Tika yang melewati warung tempat Rosaline berteduh, membuat Tika juga memutuskan hal yang sama, menghentikan motor scooternya dan berniat berteduh disana.
"Eh itu seperti motor bang Dani?" gumam Tika ketika turun dari motor scooternya dan melihat motor Danni yang terparkir tak jauh dari warung kosong yang dituju Tika. Gadis itu hampir saja bertabrakan dengan seseorang yang keluar dari warung itu terburu – buru, sambil sibuk membetulkan pakaiannya yang tampak acak – acakan. Itu Danni!
"Tika?!"
"Bang Danni? Sedang apa..." belum sempat Tika menyelesaikan kata – kata, Danni sudah menariknya agar menjauh dari warung kosong itu.
"Apapun yang kamu lihat disini, tutup mulut, jangan ada yang tau, awas kalau sampai bocor, itu berarti dari kamu!" ancam Danni mencengkram lengan Tika.
Sebuah suara jeritan yang tiba – tiba terdengar melengking tinggi dari dalam warung, segera menyentakkan Tika.
"Eh itu..Itu seperti suara Rosaline? Kenapa dia di dalam situ?" Tika begitu risau mendengarnya. Gadis itu hendak berlari masuk ke dalam warung, tapi Danni masih menahannya kuat – kuat.
"Kalau sampai kamu lapor, aku tak segan – segan mencelakaimu! Awas saja!" Danni membuat gerakan seperti sedang menyembelih.
"Aku..Aku.." Tika ketakutan memandang Danni, belum pernah dilihatnya sang kakak kelas yang selalu menjadi idola sekolah itu, yang seorang bintang basket itu, kini menatapnya dengan sorot mata yang begitu garang dan menakutkan.
"Aduh sakit, bang! Lepaskan...Iy..Iya iya, aku bersumpah!" Tika meringis kesakitan.
Setelah yakin sudah membuat shock therapy menakut – nakuti Tika, sehingga gadis itu benar – benar akan bungkam tak akan membocorkan rahasia, Danni baru melepaskan Tika, buru – buru menaiki motornya dan melesat pergi. Meninggalkan Tika yang menggigil ketakutan, masuk ke warung kosong dan menemukan Rosaline yang pingsan dalam keadaan pakaian terbuka tidak keruan.
Rosaline cuma terpana mendengarkan cerita Tika, gadis itu baru tau ternyata Tika lah yang memanggil warga sekitar untuk menolong dan membawa dirinya ke rumah sakit. Rosaline berlinangan air mata karena tak dapat menahan rasa harunya, mengetahui itu.
"Terima kasih ya Tik, ternyata kamu yang sudah menolongku...Ternyata kamu..." kata Rosaline pada Tika, setelah polisi menyudahi rekamannya. "Aku tak tau apa yang terjadi pada diriku, jika tidak ada kamu..."
"Ah itu cuma kebetulan, Ros...Justru aku harus minta maaf padamu, karena baru sekarang memberi tau semua ini padamu...Aku takut, Ros...Sebetulnya beberapa kali aku tak tahan menyimpan rahasia itu, dan mencoba memberitau Sheila, tapi bang Danni ternyata tidak main – main dengan ancamannya. Dia menerorku dengan mengirim bangkai tikus yang putus kepalanya ke depan rumahku, membuat ibuku menjerit – jerit ketakutan. Kamu tau ibuku lemah jantungnya." mata Tika berkaca – kaca saat mengatakannya. Rosaline cuma bisa menggenggam tangan Tika erat – erat menanggapi kata – kata teman dekatnya itu. Lidahnya terasa kelu untuk bersuara, matanya terasa kabur karena sudah begitu banyak air mata yang keluar.
"Sekarang semua sudah berakhir...Semua sudah berakhir..." Sheila merentangkan kedua tangannya memeluk bahu Rosaline dan Tika, seolah ingin memberi penghiburan pada teman – temannya. Rosaline dan Tika membalas pelukan itu. Ketiganya kemudian saling berpelukan haru, saling berbagi rasa.
Rosaline memandang Sheila, juga Tika.
Terima kasih ya Allah, akhirnya Engkau tunjukkan juga kebenaran itu... Terima kasih ya Allah, Engkau pun sudah memberikan teman – teman yang baik ini untukku...Hilang sudah keraguanku selama ini...Ternyata memang bang Danni...Bang Danni yang sudah menghancurkan kehidupanku...Ah, sungguh tega....Bagaimana bisa aku begitu mengaguminya dulu? Batin Rosaline, rasanya begitu miris memikirkannya...
Sudah terungkap sekarang siapa sebenarnya yang memperkosa Rosaline. Keluarga Rosaline bisa sedikit menarik nafas lega. Mereka begitu berterima kasih pada Tika, juga Sheila yang akhirnya memiliki keberanian mengungkap semua itu. Danni kini akan segera diproses untuk mendapatkan hukumannya.
******
Untuk menghindari trauma dan tekanan batin akibat gunjingan dan prasangka tidak baik dari warga di lingkungan tempat tinggal Rosaline, gadis itu akan kembali ke rumah nenek dalam beberapa hari ke depan setelah urusan dengan polisi selesai, dan akan membesarkan kandungannya disana hingga waktu persalinan tiba. Setelah itu Rosaline juga akan melanjutkan sekolah di kota tempat tinggal nenek. Sore itu ketika mereka duduk di ruang tamu bersama Grey, ayah Rosaline menyatakan penyesalannya telah berprasangka buruk pada Grey.
"Tak apa, om tidak perlu minta maaf, saya paham om, waktu itu kita semua sedang terkejut akan musibah yang menimpa Rosaline. " kata Grey buru – buru. "Saya juga harus minta maaf dengan om, mungkin kata – kata saya waktu itu terlalu terburu – buru, tapi saya sungguh – sungguh, om... "
__ADS_1
Mendesir darah Rosaline mendengarnya, karena dia tau betul kemana arah kata – kata itu. Pernikahan. Itu kan yang akan disampaikan Grey pada ayahnya? Juga pada ibu, dan kak Reyna yang sekarang sedang ada dihadapannya? Tak sanggup rasanya Rosaline menatap keluarganya, serta melihat reaksi mereka atas kata – kata Grey.
"Maksudmu...Kamu akan menikahi Rosaline?" ayah memastikan kata – kata Grey.
"Ya, om..."
"Kamu...Kamu mau menikahi Rosaline?" ibu yang baru tau hal itu, begitu surprise mendengar itu. "Tapi kan bukan kamu yang melakukannya, nak?"
"Ya tante, memang bukan saya, tapi saya...Saya tak sanggup melihat Rosaline terus bersedih karena musibah ini...Saya sangat menyayangi Rosaline, tante... Bagaimanapun keadaannya, saya tetap menyayanginya..." sahut Grey pelan. "Saya sangat suka melihat senyum ceria Rosaline...Dan saya ingin senyum itu kembali, tante..."
Rosaline melihat ayah, ibu dan kakaknya Reyna saling berpandangan mendengar itu, ada sorot mata keharuan dimata mereka. Ah Grey...Grey..Rosaline membatin. Kamu membuatku tersanjung...
"Sungguh mulia hatimu, nak..." mata ibu tampak berkaca – kaca.
"Kami sangat berterima kasih pada niat baikmu...Tapi usia kalian masih muda dan kalian masih sekolah...Ayah rasa sebaiknya pernikahan ini untuk menyelamatkan status janin yang ada dikandungan Rosaline saja dulu. Pernikahan yang sesungguhnya tentunya pada saat kalian sudah lulus sekolah nanti, bagaimana?" saran ayah kemudian.
"Saya setuju saja, om..."
"Ohya, apakah orang tuamu sudah tau tentang niatmu ini?"
"Eh belum, om...Saya..."
"Sebaiknya kamu minta persetujuan mereka dulu...Apalagi ini bukan pernikahan biasa, kalian masih sekolah, tentu harus dibicarakan baik – baik dulu, karena kami tak ingin dikatakan memanfaatkanmu untuk menyelamatkan Rosaline..."
"Ah benar juga, kamu harus bicara dulu dengan papamu, nak Grey..." tambah ibu membenarkan.
"Oh.."
Kata – kata orang tua Rosaline membuat raut wajah Grey mendadak berubah. Rosaline melihat perubahan itu dengan perasaan kuatir.
"Saya paham, om, tante...Saya akan mencoba bicara dengan papa saya mengenai masalah ini...." lanjut Grey, tapi kedua alis mata Grey tampak saling bertaut saat mengatakannya.
Rosaline tau, Grey sangat membenci papanya. Pasti sulit bagi Grey untuk berbicara dengan sang papa. Tapi bagaimanapun, untuk hal seperti ini papamu harus tau, Grey...Rosaline memandang Grey.
Tangan Grey tampak mempermainkan smartphonenya, memutar – mutar benda itu berulang kali dengan gelisah, ketika akhirnya mereka tinggal berdua saja di ruang tamu.
"Grey..." Rosaline mencoba membuka percakapan setelah sekian lama mereka cuma terdiam. Grey menoleh, tapi tak menjawab, dari raut wajahnya seolah ada yang ingin disampaikan pemuda itu pada Rosaline tapi tak mampu diucapkannya. Lama Grey cuma menatap Rosaline tanpa kata.
Ada apa Grey? Apa yang sedang kamu pikirkan? batin Rosaline bertanya - tanya gundah melihat sikap Grey.
******
Setelah mengantarkan Grey yang pamit pulang, sampai ke depan pagar, Rosaline yang berniat untuk memasuki kamarnya, melihat pintu kamar ayah – ibunya tampak terbuka sedikit. Sekilas gadis itu mendengar percakapan ayah – ibunya di dalam kamar.
“Ibu dengar dari Reyna, Grey itu punya penyakit kelainan jiwa...Apa itu namanya? bipolar...Ah ibu juga kurang paham...Apa nanti tidak membahayakan Rosaline?” terdengar suara kuatir ibu.
“Yah...Ayah juga sudah mendengar tentang itu...Tapi bagaimana kita menolaknya, bu? Niat anak itu begitu baik sebenarnya...Siapa lagi yang mau menerima Rosaline yang sudah berbadan dua?”
“Iya ibu sangat paham itu...Tapi terus - terang ibu kuatir juga anak kita nanti celaka jika bersama dengan si Grey itu...”
“Ah semoga tidak, bu...Semoga tidak...Lagipula anak itu sudah berobat di Amerika, pasti tak ada masalah lagi...”
“Semoga...”
Rosaline terkesiap mendengarnya. Diam – diam ayah – ibunya sebenarnya meragukan Grey, ini seperti yang aku takutkan, gadis itu menggigit bibirnya. Oh Tuhan, semoga ayah – ibunya bisa menepis anggapan negatif tentang penyakit Grey, semoga...
__ADS_1
Rosaline masuk ke kamar dan duduk di atas tempat tidur, memandangi foto selfie-nya bersama Grey yang dipajang dalam figura berbentuk hati, terletak membisu di meja belajarnya. Grey tampak tersenyum di foto itu. Ah Grey...Grey...
Semoga semua berjalan baik – baik saja...Semoga...Karena..Karena janin diperut ini membutuhkan seorang ayah...Walau ini bukan anak Grey..Walau ini anak bang Danni...batin Rosaline tercekat. Bagaimanapun, yang aku harapkan menjadi pendampingku saat melahirkannya, merawatnya, membesarkannya, adalah Grey...Cuma Grey... Rosaline terbayang wajah risau Grey saat pamit pulang tadi. Semoga kamu bisa melawan rasa benci pada papamu, Grey, dan bisa membicarakan pernikahan kita secepatnya, bisik gadis itu gundah. Aku butuh kamu, Grey untuk menghadapi semua ini... Karena sejujurnya aku tak tau apakah kelak aku bisa menyayangi anak itu atau tidak...