
Luka – luka Grey tidak terlalu parah karena cuma terserempet, tapi Rosaline menangis penuh penyesalan, karena gadis itu tak dapat menemui Grey di Rumah Sakit, walau sekedar membezuk, pesan Grey untuknya yang disampaikan lewat pak Hendro membuat Rosaline begitu terpukul.
“Tuan muda Grey tak ingin ditemui oleh siapapun, nona. “ begitu kata pak Hendro.
“Termasuk aku?” tanya Rosaline mencoba meraih sisa - sisa harapan.
“Ya, nona. Termasuk nona.” jawaban pak Hendro terdengar begitu menusuk hati Rosaline, walau raut wajah bodyguard itu tampak tak enak hati saat mengatakannya pada Rosaline.
“Kenapa pak? Kenapa Grey tidak mau menemui aku?” tanya Rosaline setengah mati berusaha menyembunyikan air matanya yang hendak berjatuhan lagi.
“Saya tidak tau, nona. Tapi itu pesan tuan muda Grey.” jawab pak Hendro.
Rosaline mencoba menelepon Grey,
tak diangkat,
kirim WA
tak pernah ada balasan.
Grey, Grey, seberapa besar marahmu padaku? Tidakkah kamu mau memberiku kesempatan sekali saja untuk berbicara padamu, menjelaskan semua ini? Batin Rosaline sedih. Apa yang harus kulakukan?
Satu – satunya Reyna kakaknya lah yang menjadi tumpuan Rosaline menumpahkan semua tangisnya, malam itu. Walau gadis itu tak sanggup menceritakan tentang apa yang dilakukan Danni padanya di Villa Mira dengan kakaknya.
“Sabar, dek...Sekarang Grey sedang dalam keadaan penuh amarah, sebaiknya jangan diusik dulu, percuma. Tunggu sampai Grey tenang dulu, baru pelan – pelan kamu bicara padanya...” nasehat Reyna sambil membelai kepala adiknya yang sedang bersandar di bahunya ketika mereka berdua berada di atas tempat tidur Rosaline.
“Tapi aku kuatir Grey kenapa – napa, kak. Kan kakak tau dia menderita bipolar disorder...” Rosaline mengangkat wajahnya.
“Grey kan sedang di rumah sakit, pasti aman lah dek, dokter – dokter disana pasti tau apa yang harus diperbuat pada pasien seperti Grey.” Reyna mencoba menenangkan hati adiknya. Tapi Rosaline tetap risau memikirkan Grey.
Siang itu, sepulang sekolah, Rosaline menemui pak Hendro yang setia berjaga di depan kamar rawat – inap Grey yang berada di lantai tiga rumah sakit, membujuk bodyguard itu, tujuannya agar dia bisa masuk menjenguk Grey. Akhirnya karena iba dengan Rosaline, pak Hendro mengizinkan juga gadis itu masuk ke kamar rawat - inap Grey. Itupun karena Grey tampak sedang tertidur.
Gadis itu menggigit bibirnya, terpana melihat Grey tertidur, meringkuk, dalam keadaan tangan dan kaki yang terikat di tempat tidurnya. Raut wajah pemuda itu tampak begitu pucat, dengan perban dikepalanya, seolah dia tertidur karena sangat kelelahan. ‘Pasien terpaksa diikat karena kemarin mencoba melompat dari jendela rumah sakit...’ begitu kata suster yang merawat Grey ketika ditanyai Rosaline.
Dengan rasa bersalah begitu menghantui perasaannya, gadis itu mendekati tempat tidur Grey. Lama Rosaline menatap sahabatnya itu, sahabat yang sudah menganggap dirinya sebagai ‘my girlfriend'-nya, sahabat yang begitu menggantungkan perasaan padanya. Maafkan aku Grey, aku berjanji tak akan mengulangi lagi kejadian di villa kak Mira itu...Sungguh, Grey, aku tak pernah berniat menyakiti perasaanmu...Aku cuma.....Yah aku cuma tak bisa menahan diri...Aku tau aku salah, tapi sungguh aku tak bermaksud apa – apa...batin Rosaline galau, perlahan gadis itu meraih tangan Grey, tangan itu begitu dingin, digenggamnya tangan itu erat – erat seolah ingin menyatakan penyesalannya yang terdalam walau dia sangat tau Grey bahkan tak bisa menyadari kehadirannya saat itu.
Selama hampir satu minggu Grey di rumah sakit, Danni bukannya merasa menyesal atas kejadian yang menimpa Grey, pemuda itu justru merasa semakin memiliki kesempatan untuk mendekati Rosaline.
“Ros, sudahlah, apa yang kamu harapkan dari Grey yang cuma menyusahkan dirimu?...Apa? Karena Grey anak konglomerat? Kaya – raya? Sampai dimana sih harta itu? Kamu kan tau.” kata Danni ketika mengiringi langkah Rosaline keluar gerbang sekolah, saat jam pulang sekolah. “Jangan bohongi dirimu, Ros, aku tau kamu tak sepenuh hati menyukai Grey, iya kan? Ayolah...”
Rosaline cuma membisu, tidak menggubris Danni, gadis itu malah makin mempercepat langkahnya.
__ADS_1
“Rosaline, dengar aku, Grey itu sakit jiwa, tau?! Nanti kamu bisa celaka kalau bersamanya...” kejar Danni, suaranya sedikit keras karena Rosaline seperti tidak mendengarkannya. Dan kata – kata itu ternyata cukup manjur untuk membuat gadis itu berhenti, dan menoleh pada Danni.
“Asal bang Danni tau, karena hal itulah aku memilih Grey...Dan kejadian di pesta kak Mira kemarin adalah suatu kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan!” kata Rosaline membuat Danni terdiam mendengarnya.
“Kesalahan terbesar?” Danni tercengang.
“Ya...Jadi please jangan ganggu aku lagi...” vonis Rosaline sambil setengah berlari meninggalkan Danni, buru - buru menghentikan angkot yang lewat dan melompat masuk ke dalamnya.
“Kamu memang gadis aneh yang sulit dimengerti...” Danni cuma bisa memandangi kepergian Rosaline dengan kecewa.
Di dalam angkot, Rosaline diam – diam mengintip Danni dari balik kaca jendelanya, memandangi pemuda itu, yang makin lama makin jauh dari pandangannya.
Maafkan aku, bang Danni, untuk kesekian kalinya, maafkan aku...Tapi aku sudah memutuskan sekarang, sejak kejadian di villa kak Mira itu, aku sudah memutuskan...batin Rosaline, matanya tak terasa berkaca – kaca. Walau bang Danni adalah sosok yang sempurna untukku, tapi aku memutuskan memilih Grey. Bang Danni seorang bintang basket, pintar dan yang penting sehat jiwa, pasti banyak gadis yang bisa membuatmu melupakan aku...
Sesungguhnya, aku tak bisa
Jalani waktu tanpamu
Perpisahan bukanlah duka
Meski harus menyisakan luka
Tidurlah, selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang
Tidurlah, selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang
Lupakan diriku
Lupakan aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang
( teks lagu : Bersama Bintang, Drive )
Saat – saat gundah seperti ini membuat Rosaline tiba – tiba jadi merindukan ikrar persahabatan yang pernah mereka ukir di pohon beringin besar yang berdiri kokoh di tengah taman bunga, taman yang biasa dikunjunginya bersama Grey semasa kecil dulu. Seperti yang pernah ditunjukkan Grey ketika mereka pertama kali bertemu tempo hari.
‘Grey – Rosaline, setia dalam susah dan senang'
__ADS_1
Karenanya turun dari angkot, Rosaline tidak segera melangkahkan kakinya menuju rumah, melainkan berbelok menuju taman bunga tersebut.
Gadis itu melangkahkan kaki di jalan setapak taman itu, matanya mengawasi pepohonan yang besar – besar di tengah taman, berusaha mengingat letak pohon beringin tersebut.
Ah, ikrar persahabatan itu, Rosaline membatin. Akankah masih bisa menjadi ikrar mereka sekarang?...Rosaline menghela nafas, matanya berhenti pada sebuah pohon beringin besar yang berdiri tak jauh di depannya. Gadis itu mendekati pohon itu, meraba kulit pohon tua itu dan berjongkok, karena sadar tulisan itu pasti diukir rendah secara waktu itu dirinya dan Grey belum setinggi sekarang.
Rosaline terharu ketika menemukan kembali ukiran itu, gadis itu tak terasa mengulurkan tangan untuk membelainya. Tapi tangannya terhenti diudara, karena sepasang kaki bersepatu kets menyita perhatiannya, kaki – kaki bersepatu itu menjulur menandakan pemiliknya sedang duduk di tanah, diatas serakan daun – daun pohon beringin itu. Rosaline menoleh ke arah pemilik kaki itu.
“Grey?!” pekik gadis itu tertahan ketika menyadari ternyata sipemilik kaki itu adalah Grey. Tidak disangka – sangka ternyata Grey ada disitu, entah kapan pemuda itu keluar dari rumah sakit. Grey tampak duduk sembarangan di atas tanah, dengan balutan perban masih menghiasi kepalanya, sendirian, mungkinkah pemuda itu sedang merindukan ukiran ikrar persahabatan mereka di pohon itu juga? Mungkinkah dia duduk disitu, karena sedang merindukan kenangan indah persahabatan mereka dulu?
Jantung Rosaline berdegup keras saat matanya beradu pandang dengan mata coklat muda Grey. Sesaat mereka berdua sama – sama sungkan karena kepergok mencari sesuatu yang sama di pohon itu. Lama keduanya cuma saling bertatapan dalam kebisuan, secara keduanya juga masih dihantui dengan kejadian di villa Mira. Tapi seandainya pohon beringin itu bisa tersenyum, pasti pohon itu akan tersenyum saat itu menyaksikan betapa bias - bias kerinduan yang tampak bergejolak, menggebu – gebu, memenuhi sorot mata, baik Rosaline maupun Grey.
Tapi keangkuhan yang masih menguasai, membuat Grey tiba – tiba berdiri dan memalingkan wajahnya kearah lain, mengambil ranselnya yang tergeletak didekat situ dan beranjak pergi. Tanpa kata.
“Grey, please jangan pergi...” tahan Rosaline segera, meraih tangan Grey. Tapi ditepis pemuda itu. Grey cuma menatap Rosaline dengan mata coklat mudanya. Mata itu jelas menyatakan kalau dia masih kecewa dengan Rosaline. “Grey, aku tau kamu masih marah denganku, aku minta maaf Grey...Ya..Aku...Aku tau aku salah...Aku minta maaf...Sungguh, waktu itu aku sama sekali tak bermaksud untuk...”
“Apa arti hubungan kita selama ini bagimu, Rosaline?” potong Grey akhirnya bersuara, membuat Rosaline tertegun.
“Hubungan kita?”
“Oh yeah, I know...Aku ini cuma sahabat masa kecilmu, right? Seharusnya aku tau saat di kantin, kenapa Danni mengatakan kalau dia tak akan menyerah...Dia mencintaimu kan? Dan kamu juga...”
“Grey, tidak...Bukan begitu...”
“Rosaline, kamu bilang kamu akan selalu ada untukku, kamu akan selalu mendengarkan ceritaku, aku dapat meneleponmu kapan saja...”
“Ya itu memang benar, Grey...Aku peduli denganmu, aku selalu mengkuatirkan keadaanmu...Karena...Karena aku...”
“Karena aku sahabat masa kecilmu, karena kamu kasihan dengan aku, seorang sahabat yang sakit jiwa...that's all, itu maksudmu kan?”
Grey mendengus, seolah mencemooh. Pemuda itu kemudian bergerak, meninggalkan tempat itu, karena menganggap tak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Rosaline, membuat gadis imut itu, seperti terhenyak tak percaya melihat Grey hendak pergi begitu saja.
“Grey!! Tunggu!...Please, dengarkan aku, Grey!..Iya aku jujur padamu, aku memang mengagumi bang Danni sebagai kakak kelasku...Tapi aku sudah memutuskan untuk memilihmu! Aku memilihmu, karena aku tak pernah bisa berhenti memikirkanmu! Aku tidak tau, tapi aku tak pernah bisa meninggalkanmu...” Rosaline hampir memekik ketika mengatakan itu, karena Grey semakin menjauh. “Bukan karena aku kasihan padamu, bukan karena kamu sahabat masa kecilku, aku juga tak mengerti, Grey, tapi aku...Aku tak sanggup berpisah darimu untuk yang kedua kalinya!”
Grey berhenti melangkah, seperti tertegun dengan kata – kata Rosaline yang terakhir, dan ketika pemuda itu memutuskan untuk berbalik, tak terasa ranselnya sampai terjatuh, karena Rosaline tiba – tiba saja sudah menubruknya, memeluk tubuhnya erat – erat, seolah gadis itu sangat takut kehilangan dirinya.
“Aku cuma ingin bersamamu, Grey...Seperti ikrar kita, 'Grey – Rosaline, setia dalam susah dan senang'...” tangis Rosaline meledak dalam pelukan Grey.
__ADS_1