Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Bab 20 : Begitu Banyak Masalah Menerpa


__ADS_3

“Aku tidak apa – apa, Grey...Paling cuma masuk angin...” kata Rosaline yang menganggap Grey terlalu berlebihan menyuruh seorang perawat memeriksanya. Tapi Grey tetap bersikukuh kalau Rosaline harus diperiksa. 



“Saya nggak apa – apa kan mbak perawat?” tanya Rosaline ketika perawat selesai memeriksa dirinya. Yakin mual – mualnya cuma penyakit sepele seperti masuk angin biasa. Tapi Rosaline heran melihat perawat itu menatapnya dengan tatapan yang membuat perasaan Rosaline tidak enak.



“Nona tidak apa – apa, cuma...”



Cuma apa, mbak?”



“Nona kemungkinan hamil...”



Rosaline ternganga mendengarnya. Apa,?! Ha...Hamil? Dirinya hamil?! Oh, tidak mungkin! Ini mustahil! Terbersit pikiran mengerikan itu di benak Rosaline. Tunggu...Apakah..Apakah aku hamil karena perkosaan itu? Rosaline jatuh pingsan.



Grey yang mendapat laporan dari perawat yang memeriksa Rosaline tentang kehamilan itu, cuma bisa terpekur, tak percaya.



Rosaline siuman dan menemukan Grey sedang menatapnya dari atas kursi rodanya - yang membantunya untuk menjenguk Rosaline. Grey tidak berkata – kata, cuma menggenggam tangan Rosaline seolah ingin memberi kekuatan pada gadis itu.



“Grey...Aku...”



“I know...”



“Apa yang harus kulakukan, Grey? Aku tidak mau hamil anak hasil perkosaan...Aku...Aku...” air mata Rosaline meleleh tak sanggup menahan ketakutannya. “Aku sudah dituduh yang tidak – tidak oleh kedua orang tuaku...Aku sudah kabur dari rumah nenek...Dan..Dan sekarang? Aku...Aku hamil?!...Aku takut, Grey...Orang tuaku pasti marah besar padaku...Mereka pasti tak akan sudi menerimaku sebagai anak lagi...”



Grey seperti tak mampu menjawab kata - kata Rosaline, pemuda itu cuma merentangkan tangan memberi kesempatan agar gadis itu leluasa menopangkan tubuhnya dan menumpahkan tangisnya. Grey membelai rambut Rosaline berusaha menenangkan kekasihnya itu sebisanya.



“Cuma...Cuma kamu tumpuanku sekarang...Tolong aku, bawa aku pergi, Grey...” tangis Rosaline tersedu – sedu. Raut wajah Grey begitu gundah mendengar itu.



******



Dua remaja berusia belasan tahun itu begitu bingung, tak tau harus melakukan apa, untuk semua masalah yang menimpa mereka. Setelah diizinkan keluar dari rumah sakit, Grey cuma bisa mengajak Rosaline untuk tinggal di apartemennya, karena Rosaline begitu ketakutan untuk pulang ke rumah neneknya, apalagi ke rumah orang tuanya. Mereka pasti akan dipisahkan lagi jika Rosaline pulang, atau bahkan mendapatkan masalah lebih besar karena kehamilan Rosaline.



“Apa yang harus aku lakukan, Grey? Bagaimana kalau orang tuaku mencariku ke sini? Kamu pasti mendapat kesulitan kalau aku tinggal disini, Grey.” kata Rosaline kuatir, ketika Grey menyuruh mbak asisten rumah tangga mempersiapkan kamar untuk Rosaline.



“No problem, Rosaline...”



“Lalu apa kata orang nanti kalau perutku semakin membesar? Kita bukan pasangan yang sudah menikah, Grey, kamu nanti yang bakal dituduh...Atau sebaiknya kugugurkan saja...”



“Shh...No Rosaline, don't do that!” Grey mendekatkan jemarinya ke bibir Rosaline agar gadis itu tidak melanjutkan kata – katanya. “Listen, aku akan menemui orang tuamu, Rosaline, akan kukatakan kalau aku yang bertanggung – jawab atas semua ini, dan aku yang akan menikahimu...Atau paling tidak kita akan bertunangan dulu...”



“Apa?! Tapi kan bukan kamu pelakunya Grey...Kenapa kamu yang mengaku?” Rosaline terjengah, tak mengira Grey akan mengucapkan kata – kata itu, oh Tuhan, Grey...Grey akan menanggung resiko amarah orang tuaku? Grey mengorbankan diri dengan mengaku sebagai pelakunya? Bahkan Grey mau menikahiku? Padahal anak yang bakal ada diperutku ini jelas – jelas bukan anaknya, Grey, Grey...Kenapa Grey? Kenapa kamu begitu baik padaku?



“Lalu? Apa kamu lebih suka menikah dengan pelaku yang sebenarnya?” Grey balik bertanya ketika melihat ada keraguan di mata Rosaline.



“Bu..Bukan begitu Grey...”

__ADS_1



“Lagipula, kamu tak pernah mau menyebutkan siapa pelakunya, why, Rosaline? Apa yang kamu sembunyikan dariku?”



“Aku...Aku bukan menyembunyikan...Aku cuma masih meragukan siapa yang melakukan, karena sore itu aku cuma...”



“Please, tell me, Rosaline...Ceritakan pada ku bagaimana kejadiannya sore itu...”



Lama Rosaline menatap Grey, entah kenapa begitu sulit rasanya gadis itu hendak mengatakannya pada Grey. Apa yang akan Grey lakukan kalau aku menyebut bang Danni yang kulihat sore itu meninggalkan aku di warung kosong itu? Aku takut...Takut Grey akan gelap mata dengan bang Danni...Padahal aku cuma menduga....



“Please?”



“Hmm...Baiklah...Aku...Aku akan cerita...” kata Rosaline dengan penuh keraguan, gadis itu menggigit bibirnya, benarkah tindakanku menceritakan ini?



Tapi belum sempat Rosaline akhirnya memutuskan untuk memulai ceritanya, tiba – tiba terdengar suara ribut – ribut di depan apartemen Grey, membuat keduanya serentak menoleh ke arah pintu apartemen. Terdengar suara keras pak Hendro diselingi suara – suara lain yang tak kalah kerasnya.



Pintu apartemen menjeblak terbuka, beberapa orang menyeruak masuk dengan paksa, membuat Rosaline dan Grey terpana melihatnya.



“Ayah?” gadis itu mendekap mulutnya dengan wajah pucat – pasi melihat ternyata ayahnya yang masuk bersama dua orang polisi.



“Ternyata benar informasi dari abang temanmu Sheila, kamu disini Rosaline?!” kata ayah Rosaline ketika melihat Rosaline di dalam ruangan apartemen bersama Grey. Ayah Rosaline segera menarik tangan Rosaline agar menjauh dari Grey. “Pak polisi, pemuda itu yang sudah membawa kabur anak saya!”



Ayah Rosaline langsung menuding Grey, yang tentu saja membuat pemuda itu terjengah mendengarnya.




Gadis itu serasa ingin menangis dan marah sekaligus, rasa itu bercampur – aduk dihatinya. Sungguh tega bang Danni, dia sudah mengadukan keberadaanku pada ayah dan ibuku! Ini berarti membuat Grey dalam kesulitan, karena ayah – ibuku pasti akan menyalahkan Grey! Oh Tuhan, bang Danni benar – benar sudah menghancurkan aku dan Grey! Bang Danni benar – benar tidak punya perasaan!



“Ayo pulang! Akibat ulahmu, ibumu jadi ribut dengan nenekmu, ibu sangat panik ketika mendengar kamu kabur!” kata ayah gusar.



“Maafkan aku ayah, mungkin aku salah, tapi aku pergi dari rumah nenek karena ingin menjenguk Grey yang masuk rumah sakit...”



"Pemuda itu sudah memperkosamu, Rosaline! Kenapa kamu masih juga menemuinya?”



“Ayah...” Rosaline tak berdaya ketika ayah tetap bersikukuh menyeretnya keluar apartemen sementara dua orang polisi yang datang bersama ayahnya serentak mendekati Grey, walau segera dihadang oleh pak Hendro.



“Rosaline?” Grey berusaha meraih Rosaline, tapi ditahan oleh salah seorang polisi. Rosaline melihat Grey tampak begitu frustasi menatapnya, mungkin dia trauma teringat kejadian waktu di stasiun tempo hari, oh Tuhan...Jangan terulang lagi, jangan sampai kejadian di stasiun itu terulang lagi...



“Grey...Grey...”



“Tunggu, om!” tiba – tiba Grey berseru, menepis polisi yang menghalangi dirinya dan berusaha menyusul Rosaline dan ayahnya.



“Grey? Apa yang kamu lakukan?” Rosaline terkejut melihat keberanian Grey memanggil ayahnya.



“Om, jangan bawa Rosaline...Saya akan bertanggung – jawab, saya...Saya bersedia menikahi Rosaline dan menjadi ayah dari anak yang dikandung Rosaline!”

__ADS_1



“Apa?!” ayah Rosaline terhenyak, bagai tersambar petir mendengar kata – kata Grey yang terakhir. “Rosaline hamil?!”



“Ya om...”



PLAAK!!



Sebuah tamparan dari ayah Rosaline melayang ke pipi Grey tanpa sempat dicegah oleh siapapun.



“Kamu! Sudah memperkosa anak saya, membuat anak saya hamil, lalu dengan entengnya mengatakan akan bertanggung jawab? Apa kamu kira ini main – main? Mentang – mentang kamu anak orang kaya, seenaknya saja kamu bicara?!”



“Sa..Saya serius om...” kata Grey sambil meringis kesakitan, mengusap – usap pipinya yang memerah karena tamparan itu.



“Kamu?” hampir saja ayah Rosaline melayangkan sebuah tamparan lagi kalau tak dicegah oleh pak Hendro.



“Maaf, pak...Bisa kita bicarakan ini dengan baik – baik?” tawar pak Hendro.



“Baik – baik bagaimana? Anak gadis saya sudah diperkosa, pak?” sergah ayah Rosaline pada pak Hendro. “Bapak pikir, anak majikan bapak itu sedang main dokter – dokteran? Selesai main, terus dibereskan, begitu? Ini soal harga diri kami, pak?”



“Maaf pak, bukan begitu?”



“Saya pokoknya tidak mau tau, urusan ini tetap saya serahkan pada polisi agar orang kaya seperti kalian kapok mempermainkan orang bawahan seperti kami...” vonis ayah Rosaline.



“Tapi pak? Apa tak bisa kita cari jalan damai saja? Lagipula saya rasa bukan tuan Grey yang...” pak Hendro mencoba membantah.



“Saya tetap pada pendirian saya!”



“Ehm...Mungkin lebih baik ini diselesaikan dikantor kami saja, bapak – bapak??” salah seorang polisi menengahi. “Bagaimana, pak?”



“Dengan senang hati, pak polisi..” kata ayah Rosaline segera. Rosaline begitu panik melihat polisi – polisi itu mencengkram lengan Grey, dan hendak menggiring paksa pemuda itu keluar apartemen.



“Stop, jangan tangkap Grey!” pekik Rosaline akhirnya, membuat semua orang menoleh padanya. Gadis itu membalas tatapan semua orang dengan mata berkaca - kaca. “Oke, oke! Aku katakan yang sebenarnya! Bukan Grey pelakunya!! Bukan Grey!!”



“Apa maksudmu? Jangan membelanya, Ros?!” sergah ayah tak sabar.



“Bukan Grey pelakunya, ayah, tapi bang Danni!!”



“Apa?!!”



Bukan saja ayah Rosaline yang terbelalak, terkejut mendengarnya, tapi juga Grey. Rosaline merasakan betapa mata coklat muda pemuda itu begitu gusar menatapnya dari balik tubuh – tubuh polisi yang menggiringnya.




__ADS_1


__ADS_2