Abnormal Metamorfosa

Abnormal Metamorfosa
Part 16 : Trauma Rosaline


__ADS_3

Rosaline membuka matanya dan merasakan seluruh tubuhnya sakit, terutama dibagian bawah perutnya. Gadis itu merintih, dan mencoba merangkak bangun. Sekilas dilihatnya sesosok tubuh bergerak terburu – buru meninggalkannya.



“Bang Danni?!” Rosaline masih dapat mengenali sosok itu, walau cuma sempat melihat punggungnya. Dinginnya cuaca membuat Rosaline menggigil dan baru menyadari kalau hampir seluruh pakaiannya terbuka acak – acakan. “Oh tidaaaaak!!!!”



Pekikan Rosaline menggema membelah kelamnya langit yang berangsur malam. Ditengah derasnya hujan. Gadis itu begitu shock, merasa dunianya runtuh, hancur dan gelap...



Entah sudah berapa lama Rosaline pingsan lagi, ketika akhirnya gadis itu siuman dan menemukan dirinya terbaring diatas tempat tidur yang beralaskan serba putih. Bau obat menguar dimana – mana, menandakan tempat itu adalah sebuah rumah sakit. Bagaimana bisa dirinya sampai ke rumah sakit? Siapa yang telah menolongnya? Rosaline melihat ayahnya mondar – mandir dengan wajah sangat gusar, Reyna kakaknya memandangnya dengan wajah pucat - pasi, dan ibunya...Ibunya tampak menangis berlinang – linang air mata ditepi tempat tidurnya.



“Ibuuu!!” tangis Rosaline meledak, wajah sedih ibunya membuat perasaannya menjadi rapuh, gadis itu menghambur ke pelukan ibunya. Rasanya tak ada yang dapat terpikir saat itu kecuali mencari kehangatan pelukan ibunya, mencari perlindungan untuk jiwanya yang begitu kacau, kalut, sedih berkecamuk bercampur jadi satu, menusuk – nusuk pilu hatinya begitu dalam, apa yang sudah terjadi pada dirinya sore itu? Apa yang sudah terjadi? Kenapa dia seperti tak bisa mengingat apa – apa setelah kena jambret itu...Kenapa Tuhan? 



“Siapa yang melakukannya? Siapa, Rosaline?!” terdengar jerit ibunya histeris, menghentak pikiran Rosaline. Si..Siapa? Ya siapa yang melakukannya? Siapa yang sudah merenggut kehormatannya?! Gadis itu terjengit menggigil karena teringat sesuatu yang membuatnya sangat shock, sosok itu! Yang dilihatnya di warung kosong itu! Sosok itu!...Bang Danni?!..Apakah bang Danni yang....Tak mungkin...Oh, Tuhan, tak mungkin...



Pintu kamar tempat Rosaline dirawat, tiba – tiba menjeblak terbuka. Grey menerjang masuk, walau beberapa perawat rumah sakit berusaha menahannya.



“Biarkan aku masuk! Aku Grey Adinegoro, tak ada yang bisa melarang aku masuk, ini rumah sakit milik papaku!” teriakan Grey membahana keras.



“Tapi tuan...Keluarga pasien...” sia – sia perawat – perawat itu mencoba mencegah.



“Rosaline!” Grey memburu ke tempat tidur Rosaline dengan wajah penuh kekuatiran,



Rosaline terbelalak ketakutan memandang Grey. Grey? Tidaak! Ya Allah, kenapa Grey harus datang?! Grey tidak boleh tau! Tidak boleh tau!



“Oh, tidaak! Grey! Grey keluar!!! Keluaar!!” jerit Rosaline kalap sambil makin menyuruk di dalam pelukan ibunya, seolah tak ingin terlihat oleh Grey.



“Rosaline, kenapa?” Grey tercengang dan sama sekali tak mengerti kenapa Rosaline malah mengusirnya.



“Grey keluaaar!!” Rosaline masih menjerit panik. Tapi jeritan ibu Rosaline lah, yang paling menghentak Grey saat itu, hingga pemuda itu termundur beberapa langkah ke belakang karena memdengarnya.



“Apakah Grey??! Apakah Grey pelakunya, Ros? Katakan pada ibu?!” jeritan itu membuat semua orang menoleh pada Grey.



“Melakukan apa, tante? Saya melakukan apa?” Grey kebingungan. Ayah Rosaline menerjang Grey, dan hampir saja hendak melayangkan tinjunya ke wajah Grey kalau saja tidak ditahan oleh pak Hendro, bodyguard Grey.



“Sabar pak, sabar! Belum tentu tuan muda saya yang mencelakai anak bapak. Jangan main hakim sendiri, saya mohon pak?” kata pak Hendro menenangkan ayah Rosaline yang tampak geram.



“Saya akan lapor Polisi, saya tak peduli apakah Darmawan itu konglomerat pemilik rumah sakit, pemilik sekolah, atau bahkan pemilik negara ini sekalipun, harus ada keadilan untuk anak saya!” ayah Rosaline berkata penuh emosi pada pak Hendro. “Tuan mudamu itu sudah membuat malu keluarga kami!”


__ADS_1


“Om, tapi saya tidak melakukan apa – apa pada Rosaline! Saya bahkan tau Rosaline di rumah sakit dari tetangga rumah om, ketika akan menjemput Rosaline!” Grey sia – sia mencoba membantah, karena keluarga Rosaline sedang dalam keadaan emosi dan terkejut akan kejadian yang menimpa gadis itu hingga tak bisa menerima alasan atau bantahan siapapun saat itu. Pak Hendro menarik tuan mudanya agar keluar saja dari ruang rawat inap itu. Karena sia – sia saja membela diri.



Grey sekilas menoleh pada Rosaline yang bahkan tidak mau memandangnya. Pemuda itu akhirnya keluar dengan bingung dan terkejut, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.



Maafkan aku Grey, tapi aku tak pantas untukmu lagi...Maafkan aku...Kamu tak boleh tau...Kamu tak boleh tau...Rosaline membatin penuh linangan air mata di dalam pelukan ibunya.



Rosaline tidak tau berapa lama dia di rumah sakit itu, karena baginya hari – hari seperti hampa, sudah tidak berarti lagi, dia sudah tidak bersemangat melakukan apapun, entah sudah berapa kali Grey mencoba datang menjenguknya di rumah sakit itu dia usir. Gadis itu tak sanggup bertemu Grey sejak kejadian itu, dia begitu malu, merasa dirinya begitu kotor, begitu hina, tak pantas rasanya Grey yang sudah begitu baik padanya menerima dirinya lagi. Apalagi jika Grey tau kalau bang Danni yang sudah...Rosaline menangis setiap kali mengingat sosok di warung kosong itu yang dikenalinya sebagai Danni. Rasanya sulit dipercaya, bang Danni kakak kelasnya yang selalu baik padanya selama ini, bang Danni yang sangat dikaguminya, yang selalu membantunya mengerjakan tugas Matematika, kini tiba – tiba saja seperti sudah bermetamorfosa menjadi monster tidak bermoral yang mencabik – cabik kehormatannya tanpa belas kasihan...Apakah sakit hati karena cinta bisa mengubah tabiat seseorang?



Tapi sikap Rosaline yang menolak Grey terus – menerus justru membuat Grey sangat frustasi dan tidak terima kenapa dia yang dituduh sebagai pelakunya oleh orang tua Rosaline, padahal dia bahkan tidak tau apa yang telah menimpa Rosaline. Gadis itu sangat terkejut saat melihat Grey nekad menyelinap ke kamar rawat inapnya malam itu, saat dia sedang sendirian. Ayahnya sedang keluar mengantarkan ibunya pulang ke rumah, dan Reyna kakaknya sedang turun membeli makanan di lantai satu rumah sakit.



“Grey?! Untuk apa kamu kesini? Kan sudah berkali – kali kukatakan, tinggalkan aku?! Tak usah menjengukku lagi!” Rosaline langsung panik melihat Grey, gadis itu seperti ketakutan, segera menyembunyikan dirinya ke dalam selimut.



“Rosaline...Wait...Kenapa kamu tak mau bertemu denganku lagi? Kenapa kamu selalu mengusirku? Apa salahku? What have I done?” Grey terjengah. “Rosaline, please??!”



“Cepat tinggalkan aku! Tinggalkan aku, Grey!!” jerit Rosaline dari balik selimut. 



“Kenapa? I'm begging you, please give me some explanation about this!” Grey berusaha menyibakkan selimut yang menutup Rosaline, tapi gadis itu berkeras mempertahankan selimutnya. “Rosaline?!”



Rosaline begitu terkejut ketika Grey tiba - tiba menyentakkan selimutnya dengan keras hingga terbuka, spontan Rosaline memukuli tubuh Grey bertubi – tubi, sehingga pemuda itu terpaksa memeluknya untuk menahan pukulan – pukulan itu. Gadis itu meronta sekuat yang dia bisa didalam pelukan Grey.




“Ada apa Rosaline? Apa yang terjadi? Orang tuamu sudah menuduh aku sebagai pelakunya, pelaku apa? Tidak ada kah yang bisa menjelaskan padaku apa yang sudah terjadi sebenarnya?” Grey setengah mati berusaha menahan Rosaline yang sedang meronta histeris.



“Aku sudah kotor, Grey! Aku tak pantas untukmu lagi...Sudah!! Lepaskan aku!” Rosaline tiba – tiba menyentakkan pelukan Grey dengan kasar dan menatap pemuda itu dengan penuh emosi. “Oke, baiklah, jika kamu terus bertanya, akan kukatakan padamu! Aku sudah diperkosa, Grey! Aku diperkosa!”



“Apa?!” Grey terhenyak, bagaikan tersambar petir mendengarnya. “No...No way, Rosaline...No way...”



Grey begitu terkejut, kalut membuat pemuda itu mendadak mondar – mandir tidak jelas, sambil sesekali memegangi kepalanya seolah menahan sakit. Grey jelas – jelas tampak sulit menerima kata – kata Rosaline yang terakhir.



“Kamu puas sekarang?” tandas Rosaline. “Kamu puas?!”



“Si..Siapa yang melakukannya, Rosaline?” Grey memandang Rosaline tapi raut wajahnya terlihat begitu frustasi.



“Sudahlah, jangan basa- basi, tinggalkan aku, Grey!”



“Siapa yang melakukannya?”

__ADS_1



“Pergilah, Grey! Lebih baik lupakan aku! Tinggalkan saja aku!”



“Rosaline, please tell me...”



“Pergi! Kataku, Pergiii!! Pergii!!”



“Rosaline, stop talking like that, will you?!!” Grey akhirnya tak bisa menahan diri melihat Rosaline cuma menjerit – jerit histeris tanpa menggubris pertanyaannya, pemuda itu mencengkram lengan Rosaline kuat – kuat, memaksanya untuk diam.



“Grey!”



“Can you listen to me?!”



“Grey?! Lepaskan! lenganku sakit...” Rosaline merintih, membuat Grey tersadar perbuatannya sudah menyakiti Rosaline dan buru – buru melepaskan cengkramannya.



“Rosaline...Please?” Grey menatap Rosaline dengan putus - asa.. “Kamu lupa? Kita punya ikrar, dan kamu sudah berjanji tak akan mengkhianatinya, remember? Grey – Rosaline, setia dalam susah dan senang...Dalam susah dan senang, do you know that? Jadi kamu tak perlu menghindari aku seperti ini, Rosaline, apapun yang terjadi pada dirimu, aku tak akan meninggalkanmu, kita akan tanggung semua masalah bersama – sama, so please, tell me who did it to you? I should know...”



“Apa gunanya kuberi tau siapa yang melakukan, aku toh sudah ternoda! Tetap saja kehormatanku hancur! Jangan munafik, pemuda mana yang mau menerima gadis yang sudah kotor seperti aku?!” tukas Rosaline dengan suara bergetar.



“Demi Tuhan, aku yang akan menerimamu, Rosaline! Aku yang menerimamu, karena aku...Aku sangat mencintaimu melebihi apapun, I need you so much...” kata Grey membuat Rosaline terpana mendengar kata – katanya.



“Ka...Kamu?”



“Ya, aku sungguh – sungguh, Rosaline...Apapun akan kulakukan demi untukmu.” Grey meraih tangan Rosaline dan mendekatkan tangan itu ke dadanya, seolah ingin membiarkan gadis itu merasakan detak jantungnya. “Selama jantungku berdetak, tak kubiarkan kamu sendiri menghadapinya...”



“Grey...Aku...Aku...” air mata Rosaline jatuh lagi, tak kusangka begitu dalam perasaanmu padaku, Grey...Aku yang sudah begini hina, masih juga mau kamu terima...Aku memang tak salah memilihmu...Kamu begitu mulia ditengah kekurangan psikismu...Aku tau susah buatmu untuk menahan semua ini...



“Dan aku berjanji, akan kuseret orang yang sudah menodaimu itu kedepan orang tuamu untuk diberi pelajaran...” lanjut Grey. “So help me, I should know who the guy is...”



Rosaline menangis karena bingung dan galau, Grey...Grey, terima kasih Grey, tapi haruskah aku mengatakannya padamu kalau aku mencurigai bang Danni yang melakukan? Aku takut, Grey, aku takut...



Tiba - tiba pintu kamar rawat inap itu terbuka, Reyna yang masuk sambil menjinjing bungkusan makanan membuat Grey terjengah.



“Grey?! Apa yang kamu lakukan disini?! Kamu mengganggu Rosaline lagi?!”



__ADS_1



__ADS_2