
“Jadi ini alasannya kenapa kamu tak bisa menjawab pertanyaanku kemarin, Rosaline?” sindir Danni setelah mobil Mercedes Benz Grey sudah jauh dari pandangan.
“Apa maksudmu bang?” Rosaline terkejut mendengar sindiran itu.
“Jangan pura – pura tak mengerti maksudku, Rosaline. Karena Grey kan?” serang Danni segera.
“Oh please, bang, kan sudah berulang kali kubilang, Grey itu sahabat ku, kami sudah kenal baik dari dulu. Aku cuma ingin membantu meringankan penyakitnya. Cuma itu.” tukas Rosaline berkilah.
“Grey cuma sahabat masa kecilmu, Ros! Sudah sembilan tahun berpisah katamu, persahabatan itu sudah lama, sudah basi! Tak mungkin persahabatan di masa kecil masih membekas sampai sekarang? Yang pasti – pasti saja, Ros, Grey anak konglomerat yang kaya – raya, punya mobil mewah, apartemen mewah, sedang aku? Aku cuma anak orang biasa – biasa saja yang cuma punya motor butut! Pasti itu alasanmu yang sebenarnya kan? Karena itu kamu tak bisa menjawab pertanyaanku! Yah...Gadis mana sih, yang tidak tergila – gila dengan Grey?” lanjut Danni sedikit emosi. “Aku yang salah, sudah begitu berani meminta jawabanmu atas perasaanku, padahal aku seharusnya tak perlu bertanya lagi.”
“Bang! Jangan menuduh sembarangan! Aku tak pernah mementingkan status ekonomi seseorang dalam bergaul!” balas Rosaline segera. “Bang Danni sudah salah paham! Lagipula perasaan tidak bisa dipaksakan terburu – buru seperti itu...”
“Oke, aku salah paham, terserahmu. Tapi yang aku paham sekarang, kamu tak menerimaku sebagai kekasihmu...Aku benar kan?”
“Apa?!”
“Ya aku mencintaimu, Ros! Sudah sejak pertama aku melihatmu di barisan siswa – siswi kelas sepuluh baru saat hari pertama masuk sekolah...”
Rosaline cuma ternganga mendengar kata – kata Danni. Oh, kenapa bang Danni harus mengatakan itu? Batin Rosaline serasa jantungnya bagai berhenti berdetak. Aku...Aku harus menjawab bagaimana? Sebenarnya aku juga menyukai bang Danni seandainya Grey tak ada...Yah seandainya Grey tak ada...Tapi kenyataannya Grey ada, dan apa yang terjadi kalau aku menerima bang Danni? Tentu tak mungkin aku menemani Grey lagi dan Grey akan terpuruk dalam penyakitnya semakin dalam...Rosaline mempermainkan ujung rambut panjang- ikalnya dengan gelisah. Terlintas pikiran egois itu dibenaknya. Oh tapi untuk apa tanggung – jawabku pada Grey? Seperti kata bang Danni, dia cuma sahabat masa kecilku, kenapa harus aku yang bertanggung jawab? Gadis itu menghela nafas, terbayang olehnya wajah Grey...Mata coklat muda itu...Mata yang begitu bahagia saat menatapku, gelak – tawanya, keceriaannya...Tegakah aku merenggutnya? Cuma karena aku ingin pacaran dengan bang Dannil? Aku punya ayah, punya ibu yang selalu mencintaiku, aku punya kakak yang selalu ada buatku, tapi Grey?
“Bang Danni...Maafkan aku, tapi jawabanku masih sama dengan yang kemarin, aku belum siap...” Rosaline akhirnya bersuara lagi, jawabannya terdengar begitu klise. Gadis itu begitu galau melihat Danni menatapnya dengan tatapan putus – asa. Rosaline tau abang Sheila itu sangat kecewa dengan jawabannya.
“Yah, kalau itu jawabanmu...” Danni bangkit dari kursinya. “Sepertinya aku harus permisi pulang, sampaikan salamku pada ibumu, Ros, terima kasih untuk teh manisnya.”
“Bang....” Rosaline mencoba menahan Danni. Tapi pemuda itu mengangkat tangannya, dan melangkah keluar dari teras rumah Rosaline.
Rosaline cuma bisa memandang kepergian Danni dengan perasaan tidak menentu. Semua tampak tak semudah yang diinginkannya. Gadis itu masuk ke dalam rumahnya dengan wajah lesu.
“Ada apa Rosaline?” tegur Reyna kakaknya yang baru keluar dari kamar. “Mendung benar wajahmu, dek? Padahal baru pulang dari pergi rekreasi dengan Grey kan? Ohya, ketemu dengan Danni di teras tadi? Perasaan kakak tadi dia datang kan?”
“Iya kak, tadi ada bang Danni...” jawab Rosaline tak bersemangat.
“Kenapa sih dek?” kejar Reyna penasaran melihat wajah lesu Rosaline.
“Kak, apa seseorang itu tak bisa punya dua keinginan yang dijalankan sekaligus ya?” tanya Rosaline sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. Reyna ikut duduk disamping Rosaline karena melihat adiknya seperti perlu tempat curhat.
__ADS_1
“Keinginannya apa dulu? Kadang memang tak semua keinginan kita bisa kita dapatkan, kadang dalam hidup kita diharuskan untuk memilih.” sahut Reyna sambil membelai kepala adiknya.”Memangnya apa keinginanmu, kalau kakak boleh tau?”
“Kak, kalau harus memilih, mana yang harus kupentingkan? Sahabat yang butuh pehatian kita atau seseorang yang kita sukai?” tanya Rosaline sambil memandang kakaknya.
“Wah, wah, pilihan yang sulit ya?” Reyna membelalakkan mata mendengar pertanyaan itu. “Hmm...Ini pasti soal Grey dan Danni kan?”
Reyna sudah tau semua cerita tentang Grey dan Danni, karena Rosaline memang sering curhat padanya tentang dua pemuda teman sekolah Rosaline itu.
“Eh iya kak...Bagaimana menurut kakak?” Rosaline berharap kakaknya punya solusi yang baik dari masalahnya, karena dari lubuk hatinya yang paling dalam, gadis itu ingin sekali menerima Danni, tapi dia juga tak tega melihat penderitaan Grey sahabatnya.
“Tergantung kamu, lebih mementingkan perasaanmu dengan Danni? Atau niatmu membantu Grey? Apa benar – benar tulus kamu mau membantu? Coba pikirkan dulu baik – baik...” kata Reyna.
“Ooh....” hanya itu yang keluar dari mulut Rosaline.
“Pilihan seperti ini butuh pemikiran dan ketegasan dari kamu sendiri lho? Grey atau Danni? Kamu harus berani melepas salah satunya, karena nggak mungkin kan kamu pacaran dengan Danni sementara kamu jalan dengan Grey?” lanjut Reyna. “Kita juga tak boleh menggantung- gantung perasaan seseorang kan?”
“Begitu ya kak?” kata Rosaline sambil berpikir – pikir. “Berat juga ya kak?”
Kak Reyna benar, aku tak boleh egois, aku tidak boleh menggantung perasaan bang Danni atau Grey, aku harus tegas, ya aku harus kuat, batin Rosaline. Baiklah, aku harus menentukan pilihanku...
********
Siang itu, saat jam istirahat Rosaline menemani Grey duduk di kantin sekolah, menikmati mie goreng pesanan mereka. Gadis itu melihat Danni juga ada di kantin itu, duduk bersama teman – teman sekelasnya. Rosaline tau Danni juga sembunyi – sembunyi memandang ke arahnya, tapi saat pandangan mereka bertemu, Danni seperti sengaja, menarik tangan Fita teman sekelasnya yang kebetulan lewat di dekatnya.
“Hai, Fita...Kok sendirian?” sapa Danni sambil tersenyum pada Fita.
Tanpa terasa wajah Rosaline merah – padam menyaksikan itu. Gadis itu merasa Danni sengaja berusaha membuatnya cemburu atau mungkin juga karena sakit hati melihatnya duduk berdua dengan Grey. Ah bang Danni, maafkan kalau aku sudah menentukan pilihanku, batin Rosaline dengan perasaan tak menentu. Berat memang tapi aku harus!
“Hey, what's up, little butterfly? Kok melamun? Lagi memikirkan apa?” tegur Grey melihat Rosaline diam saja dari tadi.
“Haa?...Eh nggak kok... “ Rosaline tergagap.
“Kamu melihat siapa sih?” Grey penasaran dan ikut menoleh ke arah dimana Rosaline memandang tadi, tentu saja terlihat oleh Grey pemandangan Danni dan Fita yang sedang asyik mengobrol di meja yang tak jauh dari meja mereka. “Danni ya?”
__ADS_1
“Bang Danni?...Ah enggak kok...” tukas Rosaline buru – buru, dia tak ingin Grey salah paham. “Aku cuma melihat kerupuk yang di meja situ kayaknya enak ya?”
Jelas – jelas Rosaline cuma asal bunyi supaya tak ketahuan kalau dia memang sedang memandangi Danni.
“Oh, kerupuk? Kamu mau? Biar kuambilkan ya?” tawar Grey sambil bangkit dari kursinya untuk mengambil kerupuk yang dimaksud Rosaline.
Kerupuk itu ada di meja yang ditempati Danni dan teman – temannya. Waktu Grey mengambil kerupuk, Danni seperti sengaja menyenggol gelas teh esnya, sehingga gelas itu terguling di meja, dan isinya tumpah mengenai seragam Grey. Teman – teman Danni langsung terjengah dan saling berpandangan satu sama lain, melihat kejadian itu, karena mereka tau Grey anak orang berpengaruh di sekolah mereka, dan Danni sudah begitu berani membuat gara – gara dengan Grey.
“Oh shit!!” spontan Grey mengutuk terkejut. “Look what have you done?!”
“Oh maaf, maaf...Aku nggak sengaja...” Danni bangkit dari kursinya, menegakkan lagi gelasnya, dan membersihkan seragam Grey sekenanya. Tapi hal itu sengaja dilakukan Danni agar dia bisa berbisik pada Grey.
“Aku tak peduli kamu anak siapa, tapi aku tak akan menyerah!” bisiknya dengan nada penuh ancaman, yang membuat Grey mendelik mendengarnya.
“Apa maksudmu?!” balas Grey kesal.
Danni hampir saja hendak membalas lagi kata – kata Grey kalau tidak ditahan oleh teman – temannya.
Rosaline yang memandang kedua pemuda itu dari mejanya, cuma bisa mendekap mulutnya dengan kuatir...Kuatir Grey ribut dengan Danni. Grey sekilas melihat reaksi Rosaline tersebut, pemuda itu lalu setengah mati berusaha menahan emosinya yang tiba – tiba seperti menderu – deru hendak melompat keluar, Grey mengepalkan tangannya kuat – kuat.
“Well...Aku sedang tak mau bikin keributan sekarang...Lain kali jaga kelakuanmu!” kata Grey menggertak Danni sebelum kembali ke mejanya. Danni cuma melengos menanggapi kata – kata Grey, seperti sedang meremehkan.
“Grey, kamu tak apa – apa? Seragammu basah...” tanya Rosaline langsung begitu Grey sudah duduk dikursinya. Grey mengangkat tangannya.
“It's okay...Don't you worry...” sahut Grey sambil menyerahkan kerupuk yang diambilnya pada Rosaline. Tapi wajah Grey jelas – jelas tampak masih kesal karena kejadian tadi, cuma tak diungkapkannya pada Rosaline.
Keduanya kembali meneruskan menikmati mie goreng mereka ketika Danni akhirnya keluar dari kantin, bersama teman – temannya.
“Bang Danni tadi bilang apa denganmu?” tanya Rosaline membuka suara, masih kuatir.
“I don't know, dia bilang dia tak akan menyerah. Tak akan menyerah apa?” sahut Grey sambil mengangkat bahu, tak terlalu paham dengan maksud kata – kata Danni tadi.
Tapi Rosaline, gadis imut itu paham benar apa maksud Danni mengatakan itu. Dia cuma bisa menghela nafas panjang menanggapinya.
__ADS_1