Academy Zone

Academy Zone
Emang Aku Cantik!


__ADS_3

“… Para penduduk yang mencintai tanah mereka menolak mentah-mentah untuk tunduk pada penjajah. Karena itulah, mereka dengan tekad kuat mengemasi barang terpenting mereka. Mereka memilih membakar rumah mereka dibanding menyerahkannya untuk dimanfaatkan oleh musuh.


Dengan berbondong-bondong, mereka beriringan menapaki bukit dengan sebuah obor di tangan. Para anak muda menggandeng lengan orang tua, membantunya berjalan. Anak-anak kecil juga, berlarian, dan digendong. Mereka kehilangan harta dan tempat tinggal. Dan harus mengungsi jauh ke dalam hutan. Melewati jalan terjal dengan jarak yang tidak dekat.”


Miss Mona, guru sejarah yang merupakan salah satu guru favoritku itu tengah bercerita.


Mimiknya tenang, namun suaranya yang dalam dan penuh penghayatan membuat anak-anak sangat tenang saat mendengarnya. Terutama aku, yang dengan antusias juga mencatat satu dua poin penting, seperti tahun atau tempat, atau nama tokoh pahlawan. Sedangkan inti cerita yang disampaikan beliau pasti sudah selalu otomatis membekas dalam ingatan.


“Malam itu, peristiwa bersejarah itu disaksikan oleh seorang wartawan dari puncak bukit seberang. Ia melihat ular api yang berjalan mengiringi bukit seperti sungai merah bercahaya. Dan lautan api yang membentang luas membakar pemukiman penduduk, seperti danau. Sebuah mahakarya besar yang bersejarah, dari pengorbanan atas rasa cinta untuk tanah air.” Miss Mona menatap kami semua dengan lekat.


“Anak-anak, mari kita mengheningkan cipta sejenak. Bayangkan dengan baik kejadian tersebut dalam benak kalian.” Ucap Miss Mona kemudian.


Anak-anak pun patuh, mulai menutup mata.


Ya, dalam bayangan ku, itu adalah waktu yang benar-benar memilukan. Para orang tua yang hanya menyelamatkan satu bungkusan kecil barang yang di ikat dalam kain. Mereka menatap rumah mereka, mereka harus merelakan segala barang mereka yang tertinggal di sana, membakarnya dengan tangan sendiri. Meninggalkan kenangan dan hasil kerja keras mereka dengan hati yang terpaksa harus lapang.


Mereka menggandeng anak mereka, menapaki jalan terjal pada malam hari. Membawa obor hingga tangan mereka kebas. Menggendong putra mereka yang masih balita hingga punggung mereka terasa sakit dan pegal. Apalagi para orang tua yang sudah payah, tetap harus berusaha melangkah. Mereka lelah, namun mereka tetap beriringan menapaki setapak demi setapak lereng gunung, menuju tempat peristirahatan mereka di dalam hutan.


Tak!


Suara itu menandai berakhirnya sesi mengheningkan cipta. Perlahan, aku mulai membuka mata. Anak-anak lain pun dengan pelan membuka mata. Lantas, dengan nada yang penuh penghayatan, kami mulai menyanyikan bait-bait lagu syukur.


Irama yang rendah, membuat suasana semakin khusyuk, dan lagu itu terasa semakin menyayat hati. Semua anak menyanyikannya dengan segenap hati mereka. Menciptakan suasana syahdu yang mengharu biru. Sebuah suasana yang tercipta secara alami berkat pengajaran Miss Mona.


Dari yakin ku teguh


Hati ikhlas ku penuh



Syukur aku persembahkan


Ke hadirat-Mu, Tuhan


“Baiklah.. sekian dulu anak-anak. Bel akan berbunyi 10 menit lagi. Jangan lupa tugasnya. Sebagai bonus, kalian bisa ke GOR bagi yang penasaran sidangnya.” Ucap Miss Mona, tersenyum ramah.


“Yeaaaaaaayy..”


“Miss Mona terbaik!!” seru anak-anak.

__ADS_1


Mereka semangat sekali. Dengan segera merapikan barang mereka. Ini memang jam pelajaran terakhir. Namun yang membuat anak-anak se-antusias itu adalah karena sidang dewan akan segera diadakan. Apa semenarik itu?


Pasti akan sangat ramai. Para anak laki-laki yang tertarik pada Ares karena mereka mengakuinya sebagai anak terkuat. Para siswa perempuan yang pasti heboh karena Ares memang mempesona. Dan juga, anak kelas satu yang pasti sangat penasaran. Aku menghela nafas, menggendong tasku di punggung.


“Queen.. fight!!” sapa salah satu temanku. Memberikan semangat. Sungguh berbeda sekali dengan mereka yang sebelumnya mengejek karena meragukan kemampuan ku.


“Figh, Queen..”


“Fight..” satu demi satu teman lain mulai menimpali. Aku hanya membalasnya dengan senyum dan anggukan singkat.


Kami pun akhirnya keluar kelas bersama. Bahkan Miss Mona tampak mengikuti kami si belakang sembari mengobrol santai dengan Rimas. Bagi beliau, mungkin ini juga sebuah kejadian bersejarah. Haha..


Kami pun tiba di GOR yang masih sepi, meski sudah ada beberapa orang yang di sana. Aku menatap sekitar. Bangku yang tersusun rapih, pasti akan sangat ramai ketika sudah penuh nanti.


Ada belasan kursi guru yang terletak di tengah ruangan, dan 3 kursi dengan meja di tengahnya untuk guru yang menjadi Dewan Hakim. Kursi untuk narrator terletak tepat di samping kursi Dewan Hakim. Lalu, kursi Kings Killer terletak di sebelah kiri kursi para guru. Dan kursi perwakilan departemen King di sebelah kanannya. Di sisi tengah yang lain, terdapat satu meja yang cukup besar dan 2 kursi, untukku sebagai leader Kings Killer, dan untuk Ares, sebagai orang yang akan akan disidang.


Dan di sekelilingnya, kursi-kursi tersisa dari inventaris sekolah tertata rapi untuk para audiens. Teman-teman sekelasku tampak mulai mencari tempat duduk di deret paling strategis. Aku pun mendatangi mereka. Ada baiknya aku memanfaatkan segala sumber daya yang ada.


“Em.. Teman-teman, bisa minta waktunya?” Ucapku kemudian. Anak kelasku pun menoleh, menunggu ucapan ku selanjutnya.


“Untuk sementara, tolong bantu aku. Bagi anak kelas menjadi dua kelompok. Yang satu mengamankan tempat duduk untuk kalian, kelompok lain tolong bantu aku menghandle agar anak yang datang tak membuat kekacauan dan duduk dengan tertib. Apa kalian bisa?” tanya ku.


“Maybe”


“Oke..”


“Bisa aja kok..” jawab yang lain juga, tidak keberatan.


“Makasih..” ucapku. Aku tersenyum, berbalik dan hendak beranjak menuju tempat ku.


“Eh, Queenn!!”


Aku menoleh saat mendengar satu temanku memanggil. Menghentikan langkahku sebentar. Ada apa?


“Yah.. gak, Anu.. Btw, kamu cantik kayak gitu. Lain kali lebih baik tepikan rambutmu saja.”


“Ya, makasih.”


“Itu benar, Queen. Kamu sungguh cantik saat rambutmu ditata dengan baik. Apa kamu tak sadar, banyak orang sejak tadi menatap kagum dan heran sekaligus takjub.” Miss Mona, tiba-tiba ikut menanggapi.

__ADS_1


“Terimakasih banyak, saya akan mengingatnya. Saya mohon permisi dulu.”


Miss Mona mengangguk.


Aku pun melanjutkan langkah ku. Menuju kursi ketua kings killer lalu duduk. Mulai mengeluarkan lembaran kertas berkas yang sudah ku siapkan sebelumnya.


“Woi..”


Panggilan itu membuatku menoleh, suara yang ku kenal. Meski baru saling mengenal orang ini sebentar, aku sudah hafal suaranya. Aku tersenyum mengejek.


“Yo, sepertinya sang Raja Iblis sedang gugup. Haha..” ledekku, berbisik.


“Yo.. apakah sang Ratu sedang menghibur Rajanya?” Ares balas berbisik. Membahas gosip yang kini tengah panas. Jika anak Kings Killer tak membahasnya sebelumnya, aku pasti tak paham apa yang tengah dibicarakan anjing gila ini.


“Hah?! Maaf, seekor semut akan langsung mati jika bertemu bangsa iblis.”


“Oh, gitu kah? Omong-omong, tahu gak? Ratu semut itu emang gak punya raja. Dia adalah pemimpin dengan ribuan selir laki-laki dan selalu digilir tiap malam. Entah berapa lelaki yang melayani dalam satu malam. Lagipula, dia kan emang tugasnya tuh cuma berte- Aakkh!!” Ares meringis kesakitan, memegang pinggangnya yang ngilu setelah ku cubit.


“Jaga kata-kata anda jika tidak mau saya persulit, yang mulia!!” Ucapku dingin, menatapnya tajam. Dasar bajingan sialan.


“Haha.. Btw sekarang kamu cantik banget, imut, manis. Pokoknya, sering-seringlah menepikan rambut-”


TENG…


Bel sidang berbunyi, menghentikan obrolan kami. Astaga, aku bahkan tak sadar kalau ruangan sudah seramai ini. Aku menatap kursi para anggota Kings Killer. Mereka juga sudah berkumpul semua. Kenapa mereka tak menyapaku dulu sih.


Aku juga melirik Feli sekilas. Ah, dia yang melihatku di sini, apa benar dia tak marah pada ku? Bagaimanapun, dia kan mantan Ares.


Memang Ares sialan! Apa kamu berniat menbuat seluruh siswi Akademi ini menjadi mantan? Namun sayangnya, kebencianku ini harus tertunda. Karena orang yang akan memberi putusan hukuman sudah datang.


Para Dewan Hakim dan Guru mulai memasuki ruangan. Saatnya sidang dimulai.


Sisi baiknya hanya satu. Aku jadi tak perlu mendengar ocehan tak bermutu Ares. Sekarang saja, rasanya aku jadi tak karuan karena omong kosong manisnya. Ugh. cantik katanya?! Emang aku cantik kok sejak dulu.


Padahal aku tidak gugup soal sidang ini sama sekali.


Memang, wajah tampan itu yang paling bahaya.


Pokoknya bahaya!!

__ADS_1


__ADS_2