
Aku menatap kericuhan di depanku, aku tetap tak ingin menarik perhatian dan membuat suasana makin heboh. Mustahil mungkin, namun aku tetap akan mencobanya.
"Permisi, saya pemimpin kings killer." Ucapku sambil mengangkat satu tangan, seperti siswa polos yang hendak bertanya pada guru dengan senyum ramah.
Dan tentu saja, diabaikan.
Sudah pasti sih, aku kan bertingkah layaknya anak culun yang goblok banget sekarang. Alangkah baiknya anak-anak yang berkumpul sedikit mengecilkan keriuhan agar suaraku terdengar.
"Apa hah? Emang lo tahu apa? Diem aja Bajingan!!"
"Lo yang gak tahu apa-apa!! Emang kenapa kalo aku ikut campur?
Dua orang pembuat masalah itu sibuk sendiri dengan aksi tawuran mereka. Mengabaikan ku sepenuhnya. Astaga, sepertinya aku dianggap makhluk tak kasat mata.
"Oi bacot.. Ja-"
Sreet..
Aku memotong ucapan itu dengan mengambil langkah. Menarik salah satu lengan Gara dengan sedikit kasar, mencoba meraih perhatian.
"Permisi.." aku berucap dengan senyum ramah. Bener-bener persis orang bodoh.
"Apa lo? Lo pikir gue takut, minggir.!!"
Gara mengibas tanganku dengan kasar. Membuatku mundur. Itu sakit tahu. Coba saja sendiri di rumah. Kibasan laki-laki bodoh yang sedang bertengkar, jika gadis lain mungkin sudah terlempar jatuh.
"Wah.. kasihan ya, dia kek nya gak bisa lawan"
"Itu serius leader kings killer?"
"Gak ada auranya, payah banget."
Ah, sudah mulai berisik ocehan anak-anak. Ck.. apakah emang gak ada cara baik-baik di dunia akademi?
Mustahil sih. Akademi kan emang melegalkan perkelahian secara gak langsung.
"Wiiih.. kings killer bakal kalah deh. Keajaiban nih nanti.."
"Kok kings killer gitu doang tahun ini? Gak keren sama sekali. Kayaknya gak bisa apa-apa deh.."
"Mungkin karena itu, dia kan ratu semut.. maksudnya bukan si anjing gila atau kenapa gak mayor aja ya yang jadi ketua?"
"Hahaha.."
Haa.. Aku menghela nafas. Mayor melirikku, berbisik..
"Oi Queen, butuh ban-"
"NGGAK!!" suaraku rendah, tapi tegas dan penuh tekanan. Aku menatap mayor tajam, lalu kembali tersenyum dalam sekejap.
"Aku belum butuh, makasih!"
Mayor mengiyakan, lalu diam mengamatiku.
Aku juga sedang mengawasi dua lelaki yang tengah bertengkar di depanku. Sekarang, aku adalah ketua baru kings killer. Dan dalam masa awal peninjauan, sebagai bentuk menunjukkan kelayakan. Jika aku dinilai tidak layak, siswa boleh mengajukan petisi untukku dikeluarkan dari kings killer dan diganti orang lain.
Dan sayangnya, aku gak suka lari dari tanggungjawab. Sekalipun aku gak suka melakukannya, tetap saja aku lebih gak suka lari dari tanggungjawab.
Aku selama ini tak dikenal, sampai saat aku memiliki julukan penyendiri berwajah suram sebelumnya. Belum lama sih, baru beberapa bulan terakhir pada akhir kelas 2. Dan, sejak sehari lalu malah aku dinobatkan sebagai kings killer bos.
Saat itu aku juga bingung dan menolak. Terutama karena semua ini merepotkan.
"Maaf bu, saya rasa saya tak cocok sama sekali. Kings killer ituu-"
"Apa kamu tak percaya keputusan ibu?" kata ibu pengawas tersenyum sambil memancarkan karisma lembut. "Yah, menolak pun tak ada gunanya. Buktikan dan tunjukkan saja. Ini justru adalah taktik perang terbaik pilihan ibu." ibu pengawas tersenyum manis, senyum khas yang sukses membuat punggungku berkeringat dingin.
__ADS_1
Kembali ke saat ini. Gara vs Ezril. Mengingat aku yang barusan diabaikan, aku jadi sedikit naik darah.
Omong-omong, kings killer memiliki wewenang yang besar, tepatnya sangat besar. Di dalamnya, termasuk memukul, memberi hukuman, dan mengajukan skorsing sampai DO ke sekolah. Itu karena dasarnya Kings Killer lebih tinggi daripada King, OSIS sekolah. Ngeri bukan? Tapi tentu saja, anggota tak layak kings killer juga punya potensi besar diturunkan atau di DO.
Karena fair system itulah, kejadian ini terjadi. Tak paham maksudku? Singkatnya..
Aku dinilai tak layak. Maka aku diabaikan oleh mereka.
Aku tersenyum lebar, lalu..
Baiklah.. senyumanku pun hilang begitu saja pada detik selanjutnya.
Sekarang aku sudah serius. Ah, aku bosan. Senyuman basi itu sudah cukup membuatku ingin mati. Wajahku rasanya kaku. Aku menatap dua orang di depanku dengan satu alis terangkat, kepalaku sedikit miring. Ocehan orang-orang makin ramai, kritikan, dan sebagai mengasihaniku, membuat kepalaku pening.
Aku sama sekali, tidak sedang tersenyum lagi sekarang!!
Aku sangat, serius, sekarang!
Fyuuh..
"SEMUA YANG MERASA TIDAK TERLIBAT, TOLONG MINGGIR!!" teriakku kencang.
Seketika kebisingan itu mulai hening. Mereka shock karena aku yang selama di akademi sangat jarang mengobrol atau meninggikan suara dapat berteriak dengan sangat tegas dan bergema begitu. Sebelum mereka mulai sadar, aku menatap mereka tajam dan bengis.
"DIAM, DAN PERHATIKAN SAJA DENGAN TENANG!!" kataku tegas.
Bahkan Gara dan Ezril masih dalam keadaan terkejut. Aku tahu mereka takkan takut. Terkejut, itu sudah cukup.
"Mayor, tolong giring para semua orang keluar kelas dalam sepuluh hitungan mundur. Aku semakin jengkel melihat mereka." Ucapku, memberi perintah. Mayor masih diam. Aku mempertegas dengan menatapnya tajam. Mayor pun tersentak. Terutama karena jarak kami yang dekat, membuat Mayor dapat melihatku dengan jelas.
"SEMUA KELUAR DALAM HITUNGAN, 10.. 9.. 8.. 7.. 6.." Teriak Mayor.
Anak-anak pun keluar segera. Mayor orang yang terkenal. Dia tegas dan dia keamanan OSIS alias King sebelumnya.
Tersisa sekitar 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Masih sangat lama? Jangan kaget, akademi memang sangat luang memberi waktu istirahat para siswa.
"2.. 1.."
Anak-anak lain sepenuhnya keluar, kecuali satu orang. Masih ada orang kelima diantara kami yang tersisa disana, diam, dan tidak pergi.
Orang yang tak terusik oleh Mayor, ataupun Kings Killer. Salah satu penghuni kelas "last" ini.
Satu yang terburuk, dan yang paling buruk dalam 3 generasi selama 3 tahun ia menjadi siswa Academy.
Dingin, dan serampangan. Orang yang menakutkan, sekaligus paling ditakuti. Tidak ada yang berani mengusiknya, bahkan para dewan guru pun hati-hati. Orang yang tidak waras, dan sangat gila.
Ia melihatku malas, dengan dua tangan bersedekap. Tatapannya merendahkan. Yah, aku menatapnya sejenak karena spontan.
Auranya menguasai seisi kelas. Dia dijuluki..
Anjing Gila, Sang Raja Iblis.
Ares.
Entah kenapa, sudut bibirku tertarik begitu saja mengingat julukan itu. Padahal aku ingin menampakkan wajah serius. Aku malah jadi tersenyum meski tak niat.
Ah, fokuslah astagaa..
Aku memilih mengabaikan orang itu.
Akan jadi bencana jika mengusik dia.
Aku membuka ponselku, mencari sebuah nomor telepon dan mulai melakukan panggilan.
Dan beruntungnya, panggilan itu segera dibalas.
__ADS_1
"Permisi Pak Nuri, saya ketua kings killer masa percobaan. Anda akan mengisi kelas last setelah ini bukan? Karena masalah yang terjadi, tolong mengajar di rumah panggung. Saya akan memastikan izin sekaligus keadaan disana.
(....)
Terimakasih, maaf mengganggu."
Aku menatap dua kombinasi pembuat masalah itu.
"Urusanku selesai.. Silahkan lanjutkan pertarungan tak berguna kalian. Jadwal kelas akan dipindah. Ah, aku akan meminta ganti rugi nanti. dua kali lipat." Kataku santai.
"HA!! Yang benar saja." Gara menarik kerah ku, setelah sebelumnya diam. Aku tak jadi berbalik dan tertahan di sana. Ezril tampak setuju saja dengan itu. Padahal sebelumnya mereka masih bertengkar, sekarang mereka bersekutu melawanku begitu?
"Kau pikir kau keren dengan melakukan itu? Jangan sok cuma karena jadi ketua Kings Killer."
Aku jadi ikut naik darah. Memang siapa yang sedang mencoba-coba ingin berlagak keren? Aku menaikkan tanganku, menyentuh tangan sialan yang menarik kerahku itu.
"Kau bahkan tak bisa apa-apa kan sekarang.. Ketua kings kill-"
BRUAAGHH
"Aagrrh..!!"
Aku membantingnya keras ke depan. Bagusnya tubuhnya tak mengenai kursi atau meja saat kubanting tadi. Sekarang sikuku menekan dadanya ke leher dengan keras. Tanganku mengunci tangannya. Kaki kiriku mengunci tangan yang lain, dan kaki kananku ada di atas tubuhnya. Semua itu terjadi dalam sekejap saja. Dan sekarang, aku yang unggul. Mataku menatapnya tajam dari dekat.
"Bajingan sialan..!" Rambutku bergelantungan tak beraturan. Aku menepikan sebelah ke belakang telinga. "Aku sama sekali tak berniat melakukan ini.. tapi apa boleh buat."
"Ugh.." dia sedikit merintih. Yah, bagian yang ditekan siku pasti sakit.
"Ah, aku tak boleh lebih dari ini ya? Bersyukurlah, jika ini sudut gang di luar sekolah, aku akan membuatmu tak sekedar babak belur. Paling tidak, akan ku buat kau tidak akan berangkat sekolah dua minggu, Gara Pradana" Aku mengendurkan diri, lantas berdiri. Gara tampak masih sedikit kaget.
"Sekarang, kalian berdua.. Gara Pradana, Ezril Sulla.. pilihlah.. Pulang dan dinginkan kepala kalian, atau mendapat sanksi hukuman dariku sekarang juga!!"
Mereka memilih diam. Tentu saja itu respon positif.
Sekarang masalahnya selesai.
Aku menatap orang kelima yang masih berdiri di depanku, Ares. Yang dijuluki Anjing gila. Orang yang tidak ada kaitannya dengan ini. (Itu sebenarnya tak sengaja, karena dia di depanku, aku otomatis menatapnya.) Eh?!!
Kali ini, dia yang menarik sudut bibirnya.
Ares.. menyeringai? Kenapa??
?!!
Ugh.. Tapi, Aku sudah terlalu lelah. Sudahlah.. aku pergi saja. Mayor mengikutiku dengan ekspresi yang entahlah apa artinya.. kami mulai melewati koridor kembali ke kelas.
"Kau tahu nama mereka?"
"Yang aku tak tahu hanya semua nama anak baru tahun sekarang."
"Ha ha.. aku meremehkan mu, Queen-ku. Bukankah julukanmu penyendiri berwajah suram? Kau bahkan ternyata bisa beladiri?"
"Aku bukan Queen milikmu!! Aku akan mengubah julukan sialan itu segera. Ah.. Sayang sekali, aku akan sulit untuk terus tersenyum bodoh mulai sekarang."
"Ngomong-ngomong, kau tahu namaku?"
"Mayor Arka Wijaya. Kuharap, kau tak akan pernah cari tahu namaku."
"Haha.. Kau tahu, tak penting bagi orang lain tahu apakah kau masih suka mengompol atau tidak. Tapi saat orang lain tahu, itu menjadi hal yang mengejutkan, dan terkadang menakutkan. Itulah kamu saat ini, yang tahu nama asli kami."
Kalian tahu kenapa nama lengkap orang sangat spesial di sini? Karena ini adalah Academy. Semua--
(jam pelajaran ketiga.. jam pelajaran ketiga, segera dimulai dalam lima menit, setiap siswa harap segera memasuki ruangan.)
Suara itu membuyarkan lamunanku. Lagipula aku sudah berada di depan kelas.
__ADS_1
"Aku akan urus sisanya." Kataku, lalu masuk kelas meninggalkannya begitu saja.