Academy Zone

Academy Zone
Pacar?


__ADS_3

Sementara itu..


Sejak siaran Queen dimulai, Ibu pengawas dan Mr Madelas berhenti kala tengah rapat. Mereka memperhatikan kejadian yang tengah melanda Akademi.


“Queen.. sepertinya dia adalah badai jenis baru yang akan melanda sekolah ini.” Ucap Mr Madelas.


“Benar!! Mr Madelas, sebagai orang yang memperhatikan jalannya akademi sejak awal dibangun, kamu akan menyaksikannya. Sebuah badai baru yang bersejarah.” Ibu pengawas berdiri di ruangannya. Menatap ke arah jendela, mengamati anggota King yang kini tengah dihukum.


“Tapi, mengenai Prestasi Khusus. Setelah mendengarnya, aku jadi tahu kenapa anda memilih gadis itu sebagai Queen. Meski Ares adalah pusat perhatian akademi, namun dia bukan orang yang dapat diatur. Dia orang yang tidak mengikuti aturan. Menjadikannya sebagai seorang Dai justru akan menyulitkan.”


[Queen, julukan untuk leader Kings Killer apabila perempuan. Dai, julukan untuk leader Kings Killer apabila laki-laki]


“Sedangkan Queen ibarat sebuah tabung kaca yang didesain sempurna. Tabung yang akan melipatgandakan setitik cahaya menjadi berkali lipat lebih terang. Lalu memantulkannya ke seluruh penjuru. Mr Madelas.. Bahkan jika Ares berada dalam sisi paling gelap di ruangan itu, ia pasti tetap akan melihat cahaya yang dibawa Queen.”


“Dan kini, kita juga mendapatkan Ares. Dan Ares sepertinya akan menjadi pusaran badai Sang Queen.”


“Benar. Sang Anjing Gila yang menggemaskan itu sepertinya sudah memilih seorang tuan untuk diikuti. Lalu kini ia menjelma menjadi Anjing Pemburu yang patuh dan paling berbakat.”


“Luar Biasa.”


...***...


Aku tersenyum lebar. Sudah 24 menit siaranku berlangsung. Dan lagu terakhir yang ku putar juga telah berakhir.


“Baiklah. Lagu tadi mengakhiri sesi siaran hari ini.” Ucapku kemudian.


“Terimakasih kepada kalian yang mengikuti siaran sampai akhir.”


“Salam cinta untuk kalian semua.”


“Oh Queen, kamu memiliki pacar sekarang. Bukankah salam cinta itu seharusnya hanya untukku?”


“Haha.. Tapi aku yakin sudah ada salam cinta dari seluruh jajaran mantan untukmu, Ares.”


“Tapi aku pasti akan terkena masalah jika berani menerimanya..”


“Tidak kok, aku cukup berbesar hati. Meski tentu saja, pacar idamanku adalah laki-laki yang penuh perhatian dan setia.”


“Haha.. Baiklah. Sebaiknya kita segera akhiri siaran ini sebelum para gadis semakin jatuh cinta pada ku. Sekian untuk siaran hari ini, dan..


“Sampai jumpa kembali!!”


Aku pun mematikan sialan dengan mode auto, dimana siaran akan otomatis mati setelah sebuah music penutup. Kami lantas mulai melangkah keluar, menuju lapangan tempat Kings Killer tengah menghukum King.


“Apakah performaku bagus? Tidakkah kamu akan memberikan pujian?” tanya Ares, tersenyum lebar.


“Apa kamu bercanda?” aku bertanya balik.


“Jadi aku tidak melakukannya dengan benar? Setidaknya itu pasti cukup baik untuk pengalaman pertama bukan?”


Aku tersenyum.


“Kamu salah. Itu terlalu baik untuk sebuah pengalaman pertama. Sampai aku tak henti-hentinya takjub dalam hati.”

__ADS_1


Ares diam, menatapku tak percaya.


“Ah, kita sudah sampai.” Ucapku lagi.


Kini, King tengah melakukan scout jump dalam barisan panjang yang rapi, berteriak menghitung.


“Satu!! .. Dua!!”


Aku tersenyum.


“Ayo-


“Ayo ke sana.” Potong Ares, menggandeng tanganku. Membuat wajahku terasa panas.


‘Ap-apa yang.. Duh, dasar Ares!’ Batin ku kesal. Aku terkejut sekali.


'Bagaimana bisa Ares menggandeng tangan ku begitu saja?! Di halaman lapangan pula. Lebih parahnya lagi, ada sangat banyak anak-anak yang menonton.'


“Pfft..” Ares menutup mulutnya, menahan tawa.


“Ap-apa sih!!” Tanya ku sangsi. Ares malah menari tanganku, agar langkah kami sejajar. Sontak anak-anak bersorak ria.


“Woooii!!”


“Iihiiirr!!”


“Ciye ciyeeeeee!!”


“Kamu lucu sekali saat sedang malu.” Bisiknya lirih.


Sorakan anak-anak semakin ramai. Bahkan anak-anak di lantai dua keluar dan bersorak keras dari balkon. Bahkan anak-anak King juga berhenti dari sesi hukuman, kini malah ikut menikmati tontonan. Membuatku semakin naik pitam.


Dan Ares justru tersenyum begitu lebar.


Kami akhirnya sampai. Hanya Mayor dan Teguh yang masih berdiri. Enam anggota Kings Killer yang lain tengah duduk menikmati cemilan. Sedangkan angggota King tengah duduk kelelahan. Berbeda dengan anak-anak yang ramai bersorak menggoda, King justru bersorak mengejek.


“Huuuuuu!!”


“Huuuuuuuuuu!!”


“Cih Malah Sok Mesra!!”


Aku pun melepas tangan Ares dengan paksa, kemudian berjongkok di depan King yang duduk menyelonjorkan kaki di latar. Aku menatap mereka dingin, dan entah kenapa mereka tiba-tiba berhenti bersorak. Aku melirik sekilas ke belakang. Benar saja, Ares kini tengah bersedekap sambil menatap mereka dengan tajam.


Aku hanya bisa menghela nafas, kembali berdiri. Padahal tadinya aku mau mengancam King. Tapi ternyata ancaman dalam diam dari Ares saja sudah cukup.


“Kalian semua, hukuman selanjutnya adalah mempersiapkan acara Jumat bersih. Kings Killer yang akan membuat jadwalnya. Kalian semua akan disebar ke dalam kelompok. Dan tugas kalian adalah memastikan anak-anak bekerja dengan baik. Sedangkan Kings Killer akan mengurus anak baru. Apa kalian paham?” tanyaku.


Mereka tidak menjawab, justru saling berbisik sambil merutuk.


“Apa Ada Yang Merasa Keberatan?!” Aku kembali bertanya dengan dingin, menatap mereka tajam. Namun lagi-lagi mereka hanya acuh dan tidak menjawab.


“Baiklah. Aku mengerti.” Ucapku, lantas beranjak mendekati Mayor.

__ADS_1


Jujur, aku tak tahu cara terbaik menghadapi mereka. Ancaman ku juga takkan mempan. Mereka tak takut dan tak segan padaku. Yang bisa ku lakukan mungkin hanya sebatas ini.


“Mayor, apa hukuman untuk mereka sudah selesai?” tanyaku.


“Sudah. Bukankah hukuman terakhir adalah membantu jumat bersih nanti?” tanya Mayor.


Aku tersenyum tipis. Aku merasa terbantu dengan pertanyaan itu.


“Tentu. Kalian mendengarnya bukan? Jadi silahkan kembali ke kelas. Toh sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.” Jawab ku.


Anak-anak King pun mulai beranjak berdiri.


“Tunggu!!”


Semua orang menoleh ke arah suara yang dingin dan menusuk itu. Siapa lagi yang bisa mendapat perhatian sebesar ini kecuali Ares.


“Erlan, kemari!” perintah Ares.


Erlan, salah satu anggota King itu pun mendekat. Sedangkan yang lain merasa lega tidak dipanggil. Ekspresi Ares tampak sangat menakutkan.


“Apa kalian berniat pergi saat aku belum selesai bicara?” tanya Ares dengan sinis, membuat anak-anak King lagi-lagi urung pergi.


“A-ada apa kak?” tanya Erlan gugup.


“Kak? Apa aku kakakmu?” Ares balik bertanya dengan kesal, membuat Erlan semakin gugup.


“Ma-maaf..” jawab Erlan singkat. Ares melipat kedua tangannya di depan.


“Apa kamu tahu siapa Queen?” tanya Ares dingin.


Aku pun mengerutkan dahi, bertanya-tanya dalam hati. Apa lagi yang Ares rencanakan sekarang?


Sedangkan Erlan tampak ketar-ketir. Dalam sekejap ia langsung bisa menangkap maksudnya, Ares marah karena King bersikap tak sopan pada Queen. Erlan menelan ludah, bingung harus menjawab apa. Begitu pula anggota King, mendadak mereka ikut cemas.


“Qu-queen.. adalah.. pa-pacar kamu?” ucap Erlan dengan gugup. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri.


Ares menyeringai kecil.


“Kamu pintar memikat orang juga ya..” ucap Ares dengan senyumnya yang mengembang sempurna.


‘Ah, sial!! Bahkan aku yang berada jauh dari Ares saja merasa malu. Apalagi kalo aku tepat di sampingnya. Apa aku akan tersipu? Entahlah. Tapi, ini benar-benar perasaan yang menyebalkan.’


“Kamu tahu dia pacarku, tapi tetap berani sekali mengabaikannya begitu? Apa kamu memiliki masalah dengan pacarku? Ah, bukan hanya kamu. Maksudku, kalian!” Ares menatap bosan ke arah anggota King, membuat bulu kuduk mereka merinding.


...**...


...Maaf karena baru sempat update...


...Jujur aku lagi sibuk banget sampe mikir buat drop projek ini meski udah agak jauh...


...Terutama mungkin karena projek ini bukan karya kontrak, jadi aku kaya gak merasa punya tanggung jawab buat selalu update...


...Tapi ya ku usahakan terus update sebisaku...

__ADS_1


__ADS_2