Academy Zone

Academy Zone
Admirable Lx


__ADS_3

“APA?! Admirable Lx?!!” Seru anak-anak lantang, betapa terkejutnya mereka mendengar penuturan ku.


“Gila itu kan mahal banget semua di sana!! Beneran??” seru Selena


“Serius?? Traktiran beneran nih?” Jefri sangat bersemangat.


“Sekarang??” Jero ikut bertanya.


“Bener-bener sekarang??” Bahkan Hesa juga antusias.


Sementara..


“Hei..!!” Ares melirikku dengan wajah kesal. Nada suaranya penuh penekanan.


Dia marah karena diabaikan? Atau karena aku mencuri pusat perhatian?


Aku menatapnya.


“Ah, maaf.. Queen perlu mengurusi para menteri sekaligus menenangkan mereka. Aku merasa bersalah karena membuat mereka bekerja sangat keras. Alangkah baiknya jika anda turut membantu dan bukannya kesal.. Ra- Ja- Ku..!” ucapku ketus, menyeringai ngeri.


“Cih..” Ares memalingkan wajah.


Tapi lucu juga, melihat Ares bertingkah seperti anak kecil. Padahal dia biasanya sok menakutkan.


“Apa kamu serius?” tanya Mayor, menatapku.


“Tentu.” Jawabku singkat.


“Ini memang bagus untuk mendekatkan dan merilekskan diri sejenak. Jika Queen bilang tak masalah dengan harga dan lainnya, maka tak masalah.” Ucap Binner, dan aku hanya mengangguk tersenyum.


“Ada yang tidak bisa ikut?”


“Aku bisa..”


“Oke..”


“Ikut aja..”


“Siap!!”


“Semangat 45!!”


“Oke bisa semua ya? Kalo gitu aku akan pesen 2 mobil secara online dulu.” Ucapku santai.


Aku pun memesan mobil. Sedang anak-anak tampak sangat semangat dan antusias. Mereka masih tak percaya akan mendapat traktiran di Restourant termahal itu.

__ADS_1


“Oi Ares, kamu gak merasa bersalah sama sekali setelah membuat semua kegaduhan?” Mayor membuka topik baru, bertanya pada Ares.


‘Ah, jika aku ingat-ingat, dulu mereka satu kamar di asrama akademi pas kelas 1. Mereka kan sempat terkenal banget gara-gara itu’.


“HA! Padahal kamu juga enjoy banget tuh pas berhasil mukul aku, juga pas lihat aku dalam masalah. Ck! Minggiran dikit, capek berdiri tahu gak?!” Ares memaksa ikut duduk di sofa, Mayor pun bergeser. Aku yang juga lelah berdiri ikut duduk di tepi sofa di samping ares.


“Kamu juga santai banget pas mukul aku.. Padahal katanya gak tega. Tapi kurasa malah asik banget tuh..” sambung ku.


“Wah, iya benar. Aku juga kaget. Itu masa sih masih bercanda? Kelihatannya serius banget.” Binner menanggapi.


“Ku rasa, kalian malah menikmati banget waktu kalian berkelahi.” Jero menimpali.


“By the way, kamu gak papa Queen? Gak kelihatan sih, tapi barangkali kamu terluka.” Hesa menatap ku.


“Fine.” Jawabku singkat.


“Terus-terus.. Ares, menurut kamu, Queen tuh gimana?” Selena bertanya antusias.


Drrt!!


Perhatianku pun teralih oleh dering ponsel.


“Hem.. Queen-ku pasti-”


“OKE Geess.. Mobilnya sudah datang, kita lanjutkan nanti aja..” potong ku.


Begitulah, mereka mulai ribut soal makanan di dalam mobil. Sangat antusias sampai lupa soal masalah Ares. Aku memilih duduk diam di bangku depan, samping sopir. Menatap keluar jendela.


‘Haah.. ini hari yang melelahkan. Pulang nanti enaknya ngapain ya? Mungkin lebih baik aku istirahat.’


‘Ngomong-ngomong, pacaran ya? Ini pertama kalinya aku pacaran. Dan sayangnya, aku pacaran hanya karena Ares menarik. Interesting.. kah??’


‘Yang jelas, ini bukan cinta. Aku gak jatuh cinta sama Ares. Dia juga pasti sama sepertiku.’


Waktu berlalu dengan cepat. Dan tanpa sadar kami pu sampai di Resto.


Ruangan yang besar, megah, luas, dan bersih itu menyapa, membuat anak-anak menganga lebar. Tata tempatnya juga sangat bagus. Ada beberapa kamar pribadi yang biasanya dipesan khusus. Anak-anak pun semakin kaget saat aku mengajak mereka masuk ke dalam sana.


Suasana yang terasa damai, sepi, dan privat. Aku sengaja memesan tempat yang lesehan. Agar lebih enak saja ketika semuanya duduk melingkar. Aku pun masuk terakhir, setelah memesan beberapa menu pada seorang waitress.


“Hei pacarku.. Duduk sini di sampingku!” Ujar Ares tersenyum, namun penuh otoriter.


“Ciyeee.. Ehem ehem..”


Aku yang masih berdiri menatapnya dengan wajah datar. Seringkali aku lupa fakta bahwa kita pacaran. Aku pun duduk di sampingnya.

__ADS_1


“Ares.. Kamu ingat rumor ketika aku dijuluki ratu semut? Sebenarnya julukan itu lumayan pas. Kamu juga tahu kan, Ratu Semut itu pada dasarnya bertanggung jawab atas satu koloni, bukan satu individu.” Ucap ku, menatapnya datar. Ares balas menatapku kesal.


“Apa kamu sekarang sedang membuat batasan untukku? Ratuku.. kau harusnya tahu arti dari peribahasa yang bunyinya, mati semut di tumpukan gula?” Ares menyeringai kecil. Namun entah kenapa malah tampak menakutkan.


“Maksudnya?”


“Aku kan sangat manis..” ucap Ares, tersenyum lebar.


“Ah, kalian berdua gak waras semua. Bi-”


“Gula memang sangat menggoda untuk para semut. Baik semut pekerja, prajurit, ataupun sang ratu semut, semua sama-sama semut. Bagaimanapun juga mereka harus berhati-hati. Jangan sampai terlena oleh bujuk dan rayuan. Terbiasa, tersentuh, terharu, terpesona, atau mungkin.. jatuh cinta.” Feli memotong ucapan Mayor, berkata dengan nada datar.


“Eh.. kamu..” Ares tampak mengernyit, menatap Feli lekat.


“Jangan bersikap seperti itu. Apa kamu sungguh tak sadar jika dia mantan pacarmu?” ucapku ketus. Entah kenapa aku kesal. Sikap Ares menunjukkan bahwa dia melupakan Feli. Padahal Feli dan Aku bersitegang secara tidak langsung sejak kemarin.


Tok tok..


“Permisi..” dua orang waitress datang dengan membawa beberapa nampan pesanan.


Ah, sungguh waktu yang tepat.


“Waah.. Makanan di resto mahal memang beda!!” Selena tampak riang. Yang lain juga terlihat senang.


“Oke, mumpung pesanannya belum datang semua, kenapa kita tak berbagi cerita? Bagaimana dengan tempat tinggal?” Aku segera mencari topik bahasan baru.


“Hem.. aku masih tinggal di asrama sih.. Kebanyakan juga masih begitu.” Binner yang menjawab. Di akademi, 80% siswanya dari luar kota. Jadi ada asrama sekolah. Namun sekitar 25% siswa tinggal di kost atau kontrakan.


“Aku di kost sekarang.. tapi jalannya searah kok.” Mayor menimpali. Benar-benar seperti Mayor.. Dia kan memang suka keluar-keluar dan sibuk kegiatan.


“Aku juga di kost. Searah kalau dari sini. Aku akan tunjukkan nanti.” Feli menambahkan.


“Iya juga. Sepertinya aku beberapa kali lihat Feli.” Ujar Mayor.


“Aku tinggal di rumah. Biasanya aku ikut bus sekolah. Aku akan pesan motor aja untuk pulang nanti.” Hesa ikut menjawab.


“Kau asli daerah sini? Dimana rumah mu?” tanya Jero.


“Dekat dengan Taman Arumba, kamu tahu?” Hesa balik bertanya.


“Ku rasa.” Jawab Jero singkat.


“Baiklah, nanti akan ku pesankan ojek.” Ucap ku kemudian.


“Bagaimana denganmu?” Ares melirik ke arah ku.

__ADS_1


“Aku??”


__ADS_2