Academy Zone

Academy Zone
Munculnya Tokoh-tokoh Perusuh


__ADS_3

"Oi.. Queen. Good job... keren.." sapa teman sekelas ku sembari menepuk pundak, segera setelah aku duduk di bangku.


Aku tersenyum padanya.


Ah, malas rasanya aku menanggapi. Tapi syukurlah, semua baik.


Hari sudah berganti. Pagi pertamaku setelah masalah kemarin terselesaikan. Hari kedua aku bertugas sebagai leader Kings killer. Dan hari ketiga tahun ajaran baru. Aku harus terbiasa.


Selama yang terjadi bukan masalah dengan anjing gila, Ares dari kelas last, aku percaya diri dapat menyelesaikannya.


"Thanks.. Mohon dukungannya di masa aku butuh lain kali.." jawabku.


Mungkin karena dia masih cukup canggung, dia pergi begitu saja.


Setelah kejadian kemarin, forum sekolah ramai. Mereka cukup puas dengan kinerjaku. Meski masih kontroversi sih.


Teman sekelas ku semakin akrab. Bahkan anak kelas lain juga kadang menyapaku. Padahal sampai kemarin aku masih menjadi orang yang duduk menyendiri dan diabaikan semua orang.


Perhatian yang sudah lama tak ku rasakan.


Panggilan Queen juga masih terasa asing. Itu panggilan khusus, sejak aku menduduki tahta Kings Killer, aku dipanggil Queen. Jika sang leader laki-laki, dia akan dipanggil 'Dai' . Dan begitulah, aku mewarisi panggilan ini begitu saja.


Pamor Kings Killer memang sebesar itu. Jika King/OSIS wadah untuk pemikiran anak muda yang yang sedang panas-panasnya, maka Kings Killer adalah ajang pamer dan unjuk pesona. Karena anak-anaknya selalu menjadi artis, sorotan publik, dan mereka selalu sok cool.


Sementara itu.. soal masalah kemarin sudah ku selesaikan. Kaca pecah di kelas last sudah dibereskan, meski belum dipasang yang baru. Aku juga sudah membuat surat hukuman untuk Gara dan Ezril. Mereka ku tugasi mencatat dan membuat data anak yang melakukan pelanggaran.


Lumayan bukan, aku memiliki anak buah tambahan sementara sekaligus mata-mata. Tentu saja, mereka berdua tetap tak boleh melanggar aturan lain. Yah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.


Di Academy, anak-anak tidak wajib mengikuti kelas. Kebanyakan dari mereka akan mengejar materi karena standar nilai yang cukup tinggi. Dan sebagian yang lain akan mengisinya dengan poin bakat atau kontribusi terhadap sekolah.


Academy keras dalam hal kenaikan kelas dan kelulusan. Hal yang wajar jika setiap tahun ada anak yang tinggal kelas atau dropout. Karena itu, sekolah swasta ini bisa menjadi top nasional kedua, mengalahkan sekolah negeri. Bahkan kalo soal populer, SMA Nasional yang menjadi top 1 juga masih kalah. Academy kan jagonya bikin berita viral terupdate.


"Queen.. Bagaimana pendapatmu tentang masalah kemarin?"


Suara itu membuatku menoleh. Ara, teman sekelas yang masuk klub jurnalistik duduk di sampingku, membawa topik obrolan. Kurasa jiwa wartawan dalam dirinya bangkit.


"Cukup merepotkan. Mereka kan orang yang cukup disorot karena sama-sama jago kelahi dan tukang bikin onar." jawabku, membuat Ara tersenyum simpul.


"Karena itu, kamu keren bisa menyelesaikan masalah kemarin dengan mudah banget. Gak ada kehebohan juga." puji Ara.


"Well, masalah kemarin masih cukup sepele juga sih." ucap Elang, menimpali percakapan kami.


Emang sepele kok. Andai salah satu top 20 melerai juga bisa. Tapi mereka yang bukan anggota King atau Kings Killer lebih tertarik menjadikan hal semacam ini sebagai tontonan umum.


"Sepele? Padahal kalo kamu yang ngadepin bakal babak belur." Lagi-lagi ada yang menimpali. Kali ini Verrel, laki-laki yang mendapat rangking paralel semester kemarin.


"Menurutku memang belum masuk bahaya." Rimas ikut menimpali, perempuan yang mendapat rangking 2 paralel.


Astaga, kenapa tiba-tiba banyak tokoh figuran merapat begini? Lagipula mereka belum tentu jadi tokoh penting di episode selanjutnya. Tiba-tiba malah ada ajang diskusi sebelum kelas dimulai.


Padahal sejak kelas 1 sampai hari kemarin gak ada yang cukup berminat mengajakku mengobrol. Memang, inilah kekuatan pamor Kings Killer.


"Menurut kamu gimana, Queen?" (Elang.)


"Emang, belum MSB. Yang dianggap Most serious problem di sekolah ini kan gak banyak. tapi kalo hal itu terjadi, aku pasti akan kewalahan." Aku akhirnya menanggapi.


"Mm.. contoh kecilnya, mengganggu jam pelajaran. Padahal gak ada wajib ikut kelas, tapi kalo mengganggu jam belajar hukumannya akan berat. Aneh memang." (Ara.)


"Dengan begitu, gak ada yang berani meremehkan hal itu. Semua aktivitas dan kenakalan yang riuh pasti di luar jam resmi pelajaran atau di luar radius ruang kelas." (Rimas.)


"Berkat itu juga, anak berandal tetap punya etika." (Verrel.)


"Yah, kalo MSB masih sebatas itu masih hal mudah." ucapku. Ucapan yang nantinya sangat ku sesali.


"Haha.. kalau begitu, contohnya MSB yang dilakukan Queen dulu, yang melibatkan anak satu sekolah?" Ucap Elang, membuat semua menatapnya sembari mengingat kejadian yang ku sebabkan di masa lalu.


"Ah!! Astaga, benar!! Ada kejadian itu!!" seru Ara, begitu pula yang lain, tampak seperti anak yang teringat hal yang sangat penting yang mereka lupakan.

__ADS_1


Ck. Bukankah sebenarnya semua orang mulai lupa kejadian itu? Aku merasa kesal (alias malu) jika diingatkan lagi.


Aku menyisir rambutku dengan jemari ke atas, lantas menatap Elang dengan sangat tajam. Membuat suasana seketika canggung. Dan satu persatu dari mereka akhirnya memilih pergi. Karena mereka memang sebelumnya jarang sekali mengajakku bicara.


Aku kembali menunduk, melihat kertas putih buku catatan ku dan memegang pena. Hal yang penting sekarang adalah memikirkan mengenai progres Kings Killer. Dan juga-


Sreett...


Eh??


Bolpoin yang ku pegang direbut oleh seseorang.


Membuyarkan lamunanku.


Aku pun mendongakkan kepala.


"Hai.. manis!!"


Deg!!


Senyuman lebarnya yang indah, suaranya yang sangat menawan, wajahnya yang tampan, tubuh tinggi tegapnya yang membungkuk, wajahnya yang condong mendekat denganku, lalu.. darimana wangi yang seksi ini menguar??


Aku yakin takkan ada yang tidak terpesona. Setidaknya dalam sekian detik, orang pasti akan ..


??


Ah!! SADARLAH!!


Dan aku sadar kembali setelah bergeming terpaku terpana sekian detik. Sial, aku bahkan sempat berdebar.


Aku tersenyum canggung.


"Ada masalah?" tanyaku, sedikit memiringkan kepala, masih dalam senyum canggung ku.


Kenapa juga aku malah sempatnya speechless???


(Bahaya, aku bisa tersihir).


Tebak.. siapa orang ini?


Dia adalah orang yang.. paling bebas, paling gila, paling berbakat dalam membuat masalah, sekaligus memeriahkan acara.


Dia adalah orang paling tidak terduga, kadang sangat mahir menarik khalayak (dalam melakukan hal-hal bodoh), juga paling handal berkata manis.


Playboy sejati.


Orang yang kemampuan beladirinya paling tidak bisa diremehkan.


Dia ditakuti, sekaligus dikagumi.


Para siswa sempat berpikir dia paling cocok di posisi ketua kings killer.


Dia mungkin sangat sulit diatur dan semaunya. Tapi, ada kalanya dia sangat bisa diandalkan serta tahu waktu dan suasana. Meski hanya beberapa kali sih.


Yah, karena dia sangat disegani itulah, semua orang berpikir dia yang paling cocok sebagai ketua kings killer. Aku juga mungkin sempat setuju dengan itu.


Dan yang paling penting, lihatlah wajah tampannya yang sangat sempurna dan mempesona itu..


Bajingan!!


Itulah kata paling pas yang ku persembahkan untuknya. Karena dia terlalu manis, juga terlalu memabukkan.


Aku mendengar bisik-bisik lirih dari teman sekelas karena kehadiran tokoh tak terduga ini. Dan aku bisa merasakan ada yang merekam diam-diam sejak dia datang. Berbeda dengan kemarin yang heboh seolah kehadiranku lelucon, saat ini suasana justru mencekam karena kharismatik orang ini.


Dia duduk di kursi seberang mejaku, saling berhadapan denganku, menopang wajahnya dengan satu tangan, memainkan bolpoin ku dengan tangan lain, dan masih tersenyum, dengan sangat menawan.


Anjing Gila, Ares.

__ADS_1


Dia menghembuskan nafas, lalu meletakkan bolpoin yang tadi diambilnya dariku.


Dia menepikan rambutku ke belakang telinga.


??


??????


"Cantik.." dia menatapku.


Senyumannya yang manis seolah sedang merayu, Apa sih yang dia lakukan di sini sekarang? Menggombal pula.


"Maaf??" aku sungguh tak mengerti, aku memiringkan kepala, tersenyum bodoh saja lah..


Satu alisnya naik menanggapi sikapku.


"Mau kencan denganku?"


??


Hah?!!!


Apa?


Kencan???


Ugh.. Para siswi di kelasku sontak heboh.. aku juga sangat terkejut. Apa-apaan?!! Aku berusaha kembali tersenyum.


"Maaf??" Aku sungguh sama sekali tak mengerti. Lelucon apa yang sedang dia buat? Senyuman bodohku semakin lebar kutujukan pada permintaannya yang gila.


Ia meraih tanganku. Lalu, mengecupnya pelan.


Cup..


HAH??!!


Gi.. Gila!!


Di.. Dia mengecup punggung tanganku?!


Semuanya berlangsung begitu saja dalam sekian detik.


Jeritan tertahan semua orang mengiringiku yang tengah speechless di tempat, membeku.


Tapi, yang jauh lebih menghawatirkan adalah, iblis.. ah, maksudku, Raja Iblis di depanku ini!


"Maukah kau jadi pacarku??" Ucapnya lagi. Dia tersenyum begitu menawan dan masih menggenggam tanganku.


I...


Iblis bajingan!!!


Suara bisik-bisik makin riuh rendah, diiringi kata "ssstt.." yang saling menyahut.


G I L A ! !


HA!! Harus bagaimana aku merespon si tidak waras ini? Melihat senyuman di wajah tampannya membuatku semakin kesal bahkan entah kenapa rasanya mual.


Eh, tunggu!! Haha..


Smirk..


Senyumku melebar. Tidak, aku menyeringai. Aku menatap dua matanya intens. Baiklah, santai. Mari kita lihat saja.


Aku balik menarik tangannya yang menggenggam ku, lalu..


Cup..

__ADS_1


Aku ikut mengecup punggung tangannya, tersenyum sebaik mungkin. Sejak aku seorang leader Kings Killer, mana mungkin aku diam tanpa membalasnya.


__ADS_2