Academy Zone

Academy Zone
Mantan?!


__ADS_3

Academy, sekolah yang tanpa ampun memberikan putusan DO terhadap muridnya. Nyatanya, akademi memiliki prosedur resmi sebelum seorang murid dikeluarkan dari sekolah. Yaitu melalui sidang dewan. Sebuah konferensi terbuka yang digelar saat terjadi pelanggaran luar biasa oleh salah satu siswa.


Sidang dewan digelar setelah jam pelajaran usai dengan melibatkan 3 kubu, dipandu oleh seorang narrator, dan boleh dihadiri oleh siapa pun. 3 kubu yang terlibat itu terdiri dari para dewan hakim sebagai perwakilan para guru, leader Kings Killer sebagai perwakilan siswa, dan tersangka yang memiliki kesempatan mengajukan komplain.


Dewan hakim sendiri terdiri dari Kepala Keamanan SMA Academy (KAMSA), Kepala Departemen Konseling (KARLING), Dan Ibu Pengawas (setara kepala sekolah), hakim utama yang menjadi pemegang keputusan akhir.


KAMSA, KARLING, Leader Kings Killer, dan tersangka, masing-masing akan memberikan pernyataan mereka mengenai kasus dan hukuman yang mereka ajukan. Lalu, sebuah putusan akhir yang dinilai paling benar akan diumumkan.


Begitulah Sidang Dewan berjalan.


...***...


Sementara itu, Kings Killer adalah pelopor yang menjadi panitia penyelenggara Sidang Dewan. Itu sebabnya aku berangkat sangat pagi ke sekolah, karena aku harus mempersiapkan segala berkas tertulis yang di perlukan. Para anggota lain juga berkumpul tepat sesuai waktu janjian.


“Wah, kereen. Berkasnya lengkap sekali. Masalah ini bener bakal selesai sehari setelah kejadian?” Komentar Mayor, melihat berkas yang terkumpul.


Biasanya, Sidang akan diadakan 3 hari sampai seminggu setelah kejadian. Namun dengan berkas yang sudah lengkap ini, kami bisa mengajukan sidang tepat sehari setelah kejadian.


“Ini berkat profesionalitas dan efektivitas kerja kalian. Aku sangat berterimakasih.” Ucapku.


“Aku juga berterimakasih. Setidaknya kamu menyelesaikan 60% dari keseluruhan berkas. Lalu 40 persen sisanya yang dibagikan untuk kami juga berkas yang mudah. Seperti daftar nama, daftar property, daftar pelanggaran, atau lainnya semacam itu.” Binner tersenyum tipis. Sepertinya dia cukup puas dengan kinerjaku.


“Kamu salah, kamu membantu cukup banyak. Aku menyelesaikan sekitar 28%. Feli membantu 18%. Mayor 12%. Kamu 12%. Sedangkan Jero, Selena, Jefri, Hesa, dan Teguh masing-masing sekitar 6%.” Aku balas menyeringai.


“Wow.. Queen, aku tak menyangka kamu sebaik itu dalam menghitung.” Ucap Hesa antusias.


“Benar, aku mulai bertanya-tanya hal keren apalagi yang bisa kamu lakukan.” Sambung Selena, membuat Jero mengerutkan dahinya.


“Apa kalian semudah itu tertipu? Jelas sekali bahwa Queen hanya melakukan perhitungan sederhana. Dan juga, jangan lupa bahwa masalah ini sebenarnya adalah ulah Queen itu sendiri.” Protes Jero, membuat seisi ruangan diam dan menatapnya tajam.


Aku tersenyum kecil.


“Baiklah. Sekarang kita kembali ke kelas karena istirahat nanti, kita harus menyiapkan GOR yang akan menjadi ruang konferensi.” Ucapku, menutup pertemuan.


Setelah sedikit basa-basi, kami mulai kembali dengan kesibukan kami masing. Termasuk juga kesibukan kami bersama saat jam istirahat, membersihkan dan menata ruangan GOR yang sangat luas itu. Semua benar-benar bekerja dengan baik. Kami beristirahat sembari kembali mengobrol, mengakrabkan diri.


Hingga sebuah fakta yang terungkap membuat suasana kembali memanas.


Terutama aku.


“What?? Seriuss?? ” Binner yang tampak kaget, membenahi kacamatanya.


“Wow.. gak heran sih. Raja iblis kan emang pujaan satu sekolah..” celetuk Mayor.


Astaga! Aku juga sangat terkejut.

__ADS_1


Jadi Feli pernah menjalin hubungan dengan Ares? Sialan. Aku kan jadi merasa bersalah.


“Dulu.. sekarang gak lagi kok. Yah, dulu aku sempat pacaran dua minggu kayaknya deh..” Feli yang tengah menjadi tokoh utama tampak santai menanggapi. Ia memakan cemilan dengan acuh.


“Serius sekarang dah enggak punya perasaan apa-apa?” Tanya Jefri. Wajahnya yang terkesan ramah membuatnya tampak sedang peduli. Entahlah itu nyata atau hanya khayalan para pemirsa.


“Hm.. Masih sedikit kagum sih, tapi cuma itu.” jawab Feli. Aku jadi semakin gak enak hati.


“Jadi, apa kamu merasa sakit hati karena aku?” tanyaku, menghela nafas panjang.


“Haha.. sedikit. Soalnya dia heboh banget nembaknya. Dia emang sejak dulu perusuh, tapi kali ini kan udah keterlaluan. Mungkin, kali ini dia serius.” Jawab Feli, membuat anak lain mulai menggodaku dengan sorakan-sorakan kecil.


Ish. Ares tuh hanya main-main, cuma level mainnya beda.


“Ngomong-ngomong.. Gara-gara itu sekarang sedang ramai soal dongeng buatan tentang kerajaan yang dipimpin oleh Raja Singa dan Ratu semut. Konyol banget.” Ucap Mayor, menyela.


“Gak nyambung..” jawabku.


“Eh, yang digosipin malah gak tahu? Itu kan tentang kalian berdua. Karena kamu sekarang adalah Queen. Sedangkan Ares adalah Raja Iblis.” jelas Selena.


“Dan Ratu semut itu karena kamu selalu dianggap kecil tapi ternyata punya kekuatan yang cukup hebat.” Sambung Jero.


“Mereka lagi ngehina kamu Queen. Gak sadar sama sekali? Rame banget loh..” sambung Teguh. Bahkan Teguh tahu??


Ck. Apa maksudnya coba?


“Wehh.. Bakal pacaran? ‘bakal’ pacaran nih yee.. Ehem ehem.. Ciyee..” Mayor menggodaku, menekankan kata ‘bakal’. Aku menatap tajam ke arahnya.


“Ugh!!” Keluhku, memijat kepalaku yang entah kenapa pusing. Mayor tertawa kecil.


“Oi Mayor. Kamu tuh dingin banget ya.. Feli masih disini loh. Lagipula dia baru saja bilang dia masih kagum sama Ares.” Hesa menginterupsi, entah kenapa dia merasa simpati pada Feli.


“Hei Fel.. Kalo mereka pacaran beneran, kamu sama Queen bubar aja. Atau berantem gitu biar rame.” Ucap Jero dengan nada serius. Aku hanya mendengus sebal, lelah menanggapi.


“Haha.. Move on aja. Banyak cowok lain yang suka sama kamu kan?” Mayor menanggapi.


“Emang gitu? Siapa contohnya? Ada yang oke gak??” Tanya Feli kemudian.


“Uum.. Aku sungguh minta maaf karena mengganggu. Tapi, mungkin aku dan Ares memang akan benar-benar pacaran. Aku akan terus berusaha bersikap professional. Jadi, ku harap kalian juga begitu.” potongku.


Untuk beberapa saat, mereka membeku dan menatapku. Mencoba menelaah makna kalimatku dengan baik.


“Haha.. gak janji deh.. kalo putus terus galau, ya mau gimana lagi..” Hesa tampak tertawa. Mencairkan suasana yang sempat kaku.


“Oh iya, kamu kan punya pacar.” sambung Selena.

__ADS_1


“Kriiing.. udah-udah Ayo bangkit, masih ada beberapa hal yang harus kita siapkan.” Teguh mengingatkan. Kami pun melihat jam, lantas segera bangkit dan menyiapkan sisa keperluan untuk Sidang dewan yang akan diadakan nanti sepulang sekolah.


Setelah kemarin Raja Iblis membuat masalah sebesar itu, entah bagaimana nanti hasil sidangnya. Tapi sesuai janji, aku akan berusaha membantunya.


Tak lama, persiapan selesai. Kings killer tampak berkumpul menunggu instruksi selanjutnya.


Aku menepikan rambutku ke belakang telinga, lantas tersenyum lebar. Aku memang sudah memutuskan untuk berpenampilan normal dan merapikan tatanan rambutku sejak hari ini. Aku lantas menatap para anggota Kings Killer yang hendak bubar.


“Teman-teman..” Panggilku dengan ceria. Sebuah senyum lebar terpatri di wajahku.


“Tunggu..” Mayor mengangkat tangan, memotong pembicaraanku.


“Entah sejak kapan, ada kalanya aku merinding tiap kali kamu tersenyum deh. Lagipula, kenapa kamu merapikan rambut segala? Jangan bilang.. Mau bikin masalah lagi?


Hei.. kalian inget gak, waktu dulu bikin kerusuhan pas sidang dewan, pas masalah di kelas Last, dan masalah kemarin juga.. Ketika Queen menepikan rambut, entah kenapa aku merasa ada rambu bahaya gitu dalam firasat ku.” Ucap Mayor. membuat senyumanku semakin lebar.


“Haha.. Aku cuma mau bilang. Yang rasanya sangat gila itu, bukan hanya raja iblis doang..” Ucapku. Membuat mereka tampak sedikit bingung.


“Yah, intinya.. terimakasih, kalian bisa bubar. See you nanti saat sidang.” Aku tersenyum kecil, lantas mulai beranjak, melangkah menuju kelas.


“Hei..” panggil Feli, kemudian mengikuti langkah ku.


Ah iya. Dia di kelas Force kan ya? Meski ku dengar ia lebih sering di studio music dibanding di kelas. Kami pun akhirnya melangkah bersama, kelasnya tepat di sebelah kelas ku. Mayor juga mengikuti di belakang.


“Ada apa?” tanyaku ramah.


“Kamu tampak cantik jika menepikan rambutmu.” Jawabnya. Membuatku terkejut untuk sesaat.


“Haha.. makasih.” Ucapku kemudian.


“Omong-omong, gak masalah kok. Maksudku, gak masalah kalau kamu pacaran sama Ares. Aku masih sedikit kagum, tapi itu aja. Bukan berarti aku masih suka sama dia. Duluan, bye..” sambungnya. Feli lantas melangkah masuk ke kelasnya begitu saja. Aku berhenti sebentar, sedikit tertegun.


“Hei Queen.. mau barengan gak?” Suara Mayor menyadarkan ku, membuatku menoleh.


“Eh, iya. Ayok..” jawabku sedikit gugup. Padahal dia bisa meninggalkanku saja.


“Ini sidang dewan pertama kita, kamu gak deg-degan?” tanya Mayor, memecah lengang. Aku pun tertawa kecil.


“Ini sidang keduaku. Kamu pasti lupa. Yah, amunisi ku selalu penuh dan udah siap. Tenang aja.” Jawabku.


“Semakin kesini, kamu semakin menarik ya.. ” gumam Mayor.


“Eh, apa?”


“Nggak.”

__ADS_1


“Hm, ya udah. Aku dah sampe kelas, thanks dan byee..”


“See ya..”


__ADS_2