Academy Zone

Academy Zone
Pesona Sang Queen


__ADS_3

Genderang perang ditengah pembelajaran?


Astaga, ayolaaah. Hanya tinggal setengah jam lagi dan kelas akan selesai.


Tidak mungkin hari ini pulang gasik. Bahkan guru saja tampak bingung.


Kelas mulai berisik. Aku langsung berdiri, menunduk pada guru sebagai izin dan keluar kelas, mencari tahu situasi. Aku berhenti saat di depan kelas force.


Drrtt.. teleponku berdering, dan kagetnya aku melihat nama di sana.


Ibu pengawas?! Dengan segera aku mengangkatnya.


“Maaf bu, apakah ada sesuatu yang terjadi?” aku menyeruak bertanya.


Ibu pengawas diam sejenak sebelum menjawab dengan helaan nafas beratnya.


“Haah.. entahlah.. Ini ulah raja iblis. Ibu percayakan padamu..”


Tuut.. tuut..


Eh??


"Ha.. Hallo?? Bu???"


Ap..


Whatt the??!!!


Tu.. tunggu..


Si Gila!!


Ugh..


“CEK.. HALO.. AH, SUARANYA OKE..”


Uugh.. apalagi?? Kenapa ada suara Ares dari speaker sekolah??


Masalah apa pula ini? Dari balkon lantai 2 itu, aku beranjak, hingga mataku menatap si anjing gila itu yang berdiri di tengah lapangan di bawah.


"BAPAK IBU GURU SEKALIAN DI KELAS, YANG TERHORMAT, INFORMASI DARI DEWAN SEKOLAH PASTI SUDAH DIDAPAT. JADI.. HARAP AKHIRI KELAS SESEGERA MUNGKIN. AH, DAN HADIAH SPESIAL UNTUK SEMUANYA.. GERBANG SEKOLAH AKAN TERUS TERTUTUP SAMPAI PERTUNJUKKANKU SELESAI.."


“SELAMAT MENIKMATI..”


“Oiiii…” suara di kelas-kelas mulai ramai.


"Eeeeeiii"


"Huuuuuuu"


“Weeiiiiii..”


Ah.. suara yang bersahut-sahutan dari satu kelas dan kelas lain mulai terdengar dengan hebohnya.


Sial!!


Kelas benar dibubarkan?


Anak-anak lain mulai berhamburan berlari keluar lapangan. Uh.. Aku melihat dari kejauhan tampaknya keamanan King juga mulai maju, ikut menengahi keributan lapangan. Anggota kings killer tentu juga mulai bersiap.


Apasih yang anjing gila itu lakukan? Bagaimana bisa dia membuat seluruh sekolah menghentikan jam pelajaran? Agh.. aku menarik ucapan ku sebelumnya yang bilang kalo MSP mengganggu jam pelajaran itu hal sepele.


Apa Ares sudah tak waras? Inikah hadiah yang ia sebutkan sebelumnya??


Drrtt.. vc group.. aku  mengangkatnya, headphone di leherku kupasang dan kukenakan.


“Cek.. Semuanya cepat berkumpul di depan Force." ucapku begitu panggilan tersambung.


"Queen, kita akan berusaha menyelesaikannya dengan King, tapi kurasa akar masalahnya ada padamu. Kita langsung turun ke bawah saja. Dan kamu bisa turun bersama Mayor. Jika nanti masalahnya semakin besar, kamu harus menyelesaikannya sendiri." balas Binner. Sebagai orang yang bertugas dalam perencanaan, instingnya sangat bagus.


"Setuju"


"Setuju"


"Setuju"


"Setuju"


Aku menghela nafas. Bagaimanapun aku juga akan setuju jika bukan aku yang jadi pembuat masalahnya, Sial.


"Baiklah" ucapku, lantas mematikan sambungan.


Sial, semua sudah setuju. Suaraku kalah. Ah, yang benar saja. Jadi ini, salahku ya..

__ADS_1


Orang-orang masih berlarian keluar kelas mengerubungi aula dalam sekejap. Aku memilih mengamati dari tempatku berdiri. Ini lantai dua, dan lapangan luas itu tepat dibawah. Ada banyak juga yang memilih dikelas dan menonton forum. Yah, di lapangan pasti penuh dan gak kelihatan.


Anggota king tampak dibantu oleh tokoh lain di bawah sana, mengamankan tempat utama untuk pertunjukkan sang raja iblis. Haha..


Kenapa pula harus jadi terkesan mendukung raja iblis ya..?


Keamanan king masuk, ketua king lama, dan anggota kings killer turun. Ugh.. sementara para guru lepas tangan. Tapi aku yakin mereka juga ikut kepo dan melihat dalam forum. Beberapa guru ikut berdiri berkumpul, tapi tak ikut turun tangan.


Aturan hidup akademi. Ini adalah bagian dari kepemimpinan dan tanggung jawab. Dalam masa percobaan, semua masalah ditangani kings killer.


“Queeen.."


Aku menoleh, tersenyum pada mereka. Tentu saja senyum ramah palsu.


“Ah, Mayor, Feli.. ayo turun bersama.” Ucapku sambil mulai melangkah, Mayor dan Feli mengikuti di belakang.


“Wajahmu pucat..” Ucap Mayor.


“Terimakasih, tentu saja. Dalam masa percobaan, kings killer bertugas menyelesaikan semua masalah yang menabuhkan genderang perang, benar bukan?” aku masih tersenyum.


“Yups..” Mayor dan Feli tampak sepakat.


“Bukankah lucu? Kali ini ketua kings killer lah penyebab utama most problem, sekaligus yang bertanggung jawab meyelesaikannya..”


Jujur. Senyumanku terasa sepat sekali sekarang.


ANJING GILA SIALAN!!


Aku sudah tiba di bawah, dengan bantuan sigap Mayor aku menyibak kerumunan dan kini berada fi tengah lapangan. Bukan, tepatnya area perang. Aku memperhatikan situasi dari belakang brikade King. Nampaknya Ares mencari masalah baru dengan memulai perkelahian melawan keamanan King. Ah, memang khas akademy dan segala reportnya. Mungkin 90% masalah selalu berakhir dengan ajang bela diri.


Aku menghela nafas. 7 lawan 1, dan Ares justru tampak sangat menikmatinya. Tentu saja dia menang. Sementara King sudah ambruk. Aku tak sempat melihat, tapi aku bisa menyimpulkan seberapa pantasnya julukan raja iblis dan anjing gila yang seringkali ditujukan untuk Ares di belakang layar. Lihat saja para anggota King yang sudah tersungkur itu.


4 laki-laki anggota lain dari Kings Killer mengerubungi ku segera setelah mereka tiba.


“Haruskah aku turun tangan?” tanya Mayor.


“Haa.. kau dan 4 kings killer lain bahkan hanya bisa mengulur waktu..” jawabku, menghela nafas panjang.


Ares mendekatiku dengan santai. King yang ambruk menyingkir ke samping dibantu temannya.


Sungguh, elegan sekali dia berjalan.. setelah membuat semua kekacauan ini..


Aack.. aku malah sedang apa sih? Terpesona?


“Hai.. Kenapa rambutmu selalu saja berantakkan?” sapanya dengan santai dan sok manis.


Berantakan...


Ya.. itu benar. Aku jadi memikirkannya.


Kenangan yang membuatku sempat menonjol sebentar. Namun waktu itu aku berhasil mengembalikan julukan penyendiri berwajah suram. Sayangnya, sepertinya kali ini aku benar-benar harus keluar dari zona nyaman itu.


...(Flashback)...


Selama 2 tahun, aku selalu tak pernah mencolok. Belajar seadanya, mengobrol seadanya, pintar seadanya. Aku tak pernah menata rambutku dengan benar. Rambut itu selalu berantakkan dan memberikan aura suram padaku. Aku super biasa.


Aku bukannya jelek, aku percaya diri aku cukup cantik. Tapi semua itu tertutupi kesuramanku. Aku sengaja tak menepikan rambutku ke telinga, membiarkannya menutupi separuh wajahku. Aku memakai masker dan topi, dan kadang bahkan memakai kacamata. Mereka pasti tak menyangka. Rambut ini justru sangat kurawat, agar aku tak merasa risih karena aku sengaja tak menepikannya. Akupun mulai memiliki julukan itu.


Lalu, pada pertengahan tahun keduaku, terjadi sebuah insiden. Saat itu ada siswi dari sebuah sekolah elit, dan dia adalah anak seorang menteri tinggi yang sedang dalam kunjungan. Dan wanita itu, menumpahkan sejenis minuman kaleng ke wajahku, mengotori rambut dan pakaianku. mengotori wajah dan masker ku, aku pun terpaksa melepas masker ku. Rambut yang sangat ku rawat jadi lengket dan kotor.


Yah, singkatnya dia membullyku.


Dia tertawa menjijikkan. Beberapa orang berkumpul dan aku yakin forum sedang mengunggah siaran langsung. Ada anggora komite siaran disini. Dengan sigap King hendak segera bertindak agar tak terjadi kericuhan. Karena siswa Academy sangat bar-bar. Wanita tak waras itu mulai mengatakan omong-kosong. Dan kalimat terakhirnya, membuatku naik darah.


Maaf saja, tapi.. Aku sudah terlanjur merasa muak terlebih dahulu.


King? Aku tidak butuh!!


Aku bisa memberi dia pelajaran secara langsung.


Aku merebut botol berisi air putih milik salah seorang dari siswa yang berkumpul disana, lalu menyiram kepalaku sendiri. Tidak.. maksudku hanya membersihkan rambutku yang dikotori gadis itu kok. Aku menghela nafas.


Haa.. aku mengambil gelangku, itu adalah ikat rambut yang juga kupakai sebagai gelang. Aku mengikat rambutku seadanya dibelakang.


Dalam kesempatan sangat jarang, aku menunjukkan wajah asli dibalik kata suram, julukan yang melekat padaku.


Aku mendekati putri menteri itu. tepat di depan wajahnya, aku menyeringai lebar. Lalu,


Plaakkk..


ku tampar wajah sombongnya sembari tersenyum. Meski aku selalu tampak culun, bahkan anak Academy tak pernah membully ku.


“A.. apa yang..”

__ADS_1


Plakk..


kutampar pipi sebelah lainnya. Dia pun sangat jengkel dan mengangkat tangannya, hendak balas menampar.


“Beraninya anak rendahan..


Plakk.. Aku memotong ucapannya dengan menepis tangannya dan kembali menampar, untuk yang ketiga kalinya.


Aah.. rasanya memuaskan sekali.. Sebuah senyuman lebar ku tunjukkan.


“Anak rendahan kau bilang?! Yang benar saja.. Jika ada orang rendahan disini, jelas kamu bukan?” kataku, berbisik tajam di telinganya.


“Kau.. ini kekerasan!! Kau bisa masuk penjara tahu!!” wajahnya tampak ketakutan. Cih, pembully bermental kapas.


Lucu sekali. Serangga sepertinya berani menumpahkan minuman, mengatakan omong-kosong, menghina, lalu sekarang mengancam penjara padaku?


Aku tersenyum padanya.


“Ah.. begitu.. penjara ya?..”


Aku lantas berbalik, mengabaikannya, mendekati komite siaran yang sedang merekamku, lalu mengambil ponsel yang sedang merekam kami. Aku tersenyum sumringah di depan kamera yang menayangkan live streaming itu.


“Teman-teman akademi sekalian.. aku dengan ini akan mengambil tanggung jawab penuh jika terjadi komplain dan masalah-masalah lain sebagainya. Bahkan jika harus dipenjara, aku tak peduli sama sekali.


Skorsing atau dropout, sama sekali bukan masalah. Aku sungguh, tidak sakit hati jika dibully. Tapi, barusaja akademi tercinta kita dicoreng namanya. Sampah itu baru saja menghina akademi tercinta kita.


Maka..


SIAPAPUN.. YANG BANGGA ATAS AKADEMI INI, TOLONG KELUARLAH….


Setidaknya, kehadiran kalian di sekelilingku memberiku keberanian bahwa aku tidak salah.


Dan, bantu aku.. membuang sampah pada tempatnya..”


Aku tak berharap banyak. Niatku hanya memprovokasi pendatang sampah tak tahu malu yang menumpahkan susu di atas kepalaku dan beraninya merendahkan sekolah ini..


Tapi, Academy adalah sekolah yang bar-bar. Dan respon yang ku terima sungguh mengejutkan.


Seperti rombongan semut, suara sorakan datang dari kelas-kelas. Dan, seperti rombongan semut, teman-teman se-akademi keluar. Ah, mereka mendukungku?? Mereka, sungguh sangat bangga atas akademi ini!!


Itu sungguh diluar dugaan. Melihat orang-orang bersorak keluar kelas mendukungku seperti pawai para semut. Tapi aku benar-benar jadi sangat menikmati suasana ini. Dengan seringai lebar, aku mendekati para pendatang sampah itu. Wajah sampah-sampah itu pucat.


“HUUUU…”


“HUUUUU….”


Sorakan yang indah.


Seolah sedang bersorak atas kemenanganku. Dan itu adalah sorakan hinaan untuk para sampah yang membullyku..


Ha.. dengan bangga dan bahagia, kutumpahkan sisa air di botol itu pada sampah yang tadi mengotori rambutku.


Aku menyeringai senang.


Aku lantas berteriak dengan amat sangat semangat..


“TEMAN-TEMAAAN.. AYO, KITA BUANG, SAMPAH, SIALAN, KOTOR, KELUAR, DARI AKADEMI, TERCINTAA KIITAAA!!”


“YUHUUU…” Jawab mereka dengan serempak. Benar-benar sekolah yang gila.


Ah.. mereka semangat sekali..


“Jam pelajaran terakhir.. jam pelajaran..


“ABAIKAAAN….”


Eh.. entah siapa yang meneriakkan kata itu. Itu bukan aku, sungguh!!!


“.. terakhir, akan sege


“YUHUU..”


“.. ra dimulai.. seluruh sisw..


Yah, aku tak menduga akan sampai sejauh ini, tapi akhirnya terjadi cekcok cukup lama untuk mengusir para sampah.


Bahkan king jadi kerepotan. Saat semua sibuk di halaman aula mengiringi kepergian sampah, aku justru pergi dari sana, menyelinap, dan menuju kamar mandi. Itu karena kamar mandi adalah tempat sepi pastinya.


Sudahlah, haa.. aku harus membersihkan rambutku dan mengganti pakaian sekarang. Kebetulan ada kaos olahraga di lokerku. Aku melepas ikatan rambutku. Membiarkan rambutku tak beraturan dan berantakan, kembali menjadi kamuflase aku yang selama ini dikenal. Enak sekali rasanya.


Setelah membuat kekacauan, aku kabur sendiri.


Keren bukan..

__ADS_1


Hehe..


__ADS_2